Memandangmu

Memandangmu
13


__ADS_3

"Ikut gue" Biru menarik tangan Lina menuju keluar ruangan saat Lina sudah turun dari panggung


"Bang, mau kemana?" teriak Tiwi karena melihat temannya yang di bawa kabur


"Udah biarin aja Say, ada yang mau aku bicarakan sama kamu, kita ke taman aja ya!" ucap Dion sambil menggenggam tangan Tiwi


"Apaan sich bang, lepasin, nanti ada yang liat" Tiwi merasa risih dengan tindakan Dion, dengan terpaksa dia mengikuti Dion


"Gila, beruang jantan mulai menunjukkan aksinya" ucap Dika yang membuat seseorang merasakan sesak di dadanya


"Sepertinya gunung es mulai mencair" Tama pun menyadari perubahan sikap Biru


"Haruskah aku menyerah? Ternyata sesakit ini mencintaimu" Alea yang sedari tadi menyaksikan kejadian tersebut pun menahan air matanya sekuat tenaga agar tidak keluar dari matanya


Mereka yang berada di ruangan melanjutkan acara tersebut tanpa terganggu dengan kejadian tadi. Sementara Biru membawa Lina ke sebuah kamar yang masih berada di dekat villa tersebut


"Masuk" perintah Biru, namun Lina masih mematung di depan pintu

__ADS_1


"Masuk Lina" Biru menahan diri agar tidak berbuat kasar pada Lina


"Ya" Lina berusaha melangkahkan kakinya masuk ke kamar itu dengan pikiran yang berkecamuk


Biru langsung mengunci pintu kamar setelah Lina masuk. Dia berjalan ke arah sofa yang berada di kamar itu dan merebahkan dirinya


"Duduk" Lina berjalan ke arah sofa dengan kaki yang gemetar


"Ahhh,,," Biru menarik tangan Lina dan membuat tubuh Lina jatuh di pangkuan Biru


"Abang mau ngap,,," ucapan Lina pun terhenti saat bibir Biru sudah menempel di bibir Lina


"Maaf" ucap Biru setelah melepaskan bibir Lina dan dia masih memeluk Lina dengan erat


"Aku nggak suka kamu ngelakuin yang tadi" Biru pun jujur dengan perasaanya


"Hai, sejak kapan dia pakai aku kamu?" Lina bingung dengan keadaan yang terjadi antara dia dan Biru. Lina berusaha turun dari pangkuan Biru, namun tak bisa, karena tangan itu memeluknya dengan erat

__ADS_1


"Bang,,," Biru menatap wajah Lina, dan dengan refleks Lina menutup mulutnya


"Katakan" sambil menarik tangan Lina dan meletakkan melingkar di lehernya


"Kasih Lina kepastian, apa yang sebenarnya terjadi di antara kita?" Lina berharap jawaban Biru tidak membuatnya kecewa


"Apa yang kamu inginkan? Yang jelas aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain, cukup sahabat ku saja, tidak ada yang lain lagi, dan aku juga nyaman dekat dengan kamu, kamu tidak harus perduli dengan keadaan sekitar, yang jelas aku hanya untukmu" Biru pun menjelaskan


"Bisakah aku anggap abang adalah calon suami ku?" Lina yang masih belum puas dengan jawaban Biru mencoba memastikannya dengan cara lain


"Calon suami,,," Biru mengerutkan dahi


"Ah, kalau abang tidak nyaman tidak apa², bagaimana kalau pacar?" ini adalah jurus terakhir Lina


"Aku suka yang pertama" seperti berada di taman bunga dengan sejuta kupu² yang indah, itulah yang Lina rasakan saat ini. Meski tak ada ungkapan apapun, namun Lina senang saat Biru ingin di anggap sebagai calon suami


"Jangan berbuat seperti itu lagi, atau aku akan menciummu lebih dalam dari yang ku lakukan tadi, mengerti" Lina pun mengangguk

__ADS_1


"Good girl"


__ADS_2