Memandangmu

Memandangmu
04


__ADS_3

"Bang Tama, liat dech adek bawa apaan?" Tiwi menghampiri Tama sambil membuka kotak yang berisi kue pemberian bu Aira


"Beli dimana?" tanya Tama yang merasakan kue itu sangat enak


"Calon mertua bang Biru" seketika tatapan tajam Biru menatap Tiwi


"Becanda kali bang,,, tapi aminin aja dech! Biar Lina dapet pacar"


"Koq Lina dek, emang lo nggak mau punya pacar?" Dika yang sedari tadi hanya sibuk memakan kuenya akhirnya membuka suara


"Gue udah punya calon bang" celetuk Tiwi


"Dek,,," tegur Tama yang tidak suka dengan kalimat adiknya


"Tenang bang, adek nggak akan pacaran sampai adek lulus SMA, minimal adek harus kuat nahan perasaan adek sampai UAN nanti, saat adek dinyatakan lulus, disaat itu adek baru akan terima cintanya, kalau dia mau nunggu sich!" Tiwi menjelaskan pada abangnya


"Emang dia mau nungguin lo ya dek?" tanya Tama

__ADS_1


"Ya bang, khan dia bilang sama abang sendiri, kalau dia mau nungguin adek sampe lulus SMA, udahlah, koq jadi bahas masalah adek, pulang yuk!" ajak Tiwi pada abangnya


"Bentar², emang siapa yang udah ngelamar adek lo? Koq gue nggak tahu! Wi, lo anggep gue abang lo nggak sich sebenernya?" Dika yang merasa tidak tahu masalah ini pun akhirnya bertanya


"Pak Doni" sahut Biru singkat


"Guru kimia gue, serius dek?" Dika memandang heran pada Tiwi


"Awas ya dek,,, entar tiap hari lo di kasih makan ion² atom dan juga molekul²" ledek Dika


"Biarin, dari pada bang Dika, cuma bisa mengejar tanpa bisa dikejar, weeeee" sambil mengejek Dika, Tiwi melangkahkan kakinya keluar


"Beresin" satu kata yang keluar dari mulut Biru mampu menambah kekesalan pada Dika


"Kampret lo pada, bantuin napa? Dasar si kulkas, nggak pernah ngomong sekalinya ngomong nyebelin, kenapa juga gue busa temenan sama dia" Dika terus saja mengumpat sambil merapikan sisa pekerjaan mereka


"Nyesel" tanpa Dika sadari Biru sudah berada di belakang Dika sambil membawa es jeruk

__ADS_1


"Tadinya ya, untung lo bawain es jeruk, lumayan dech!"


"Thanks ya, gue pulang dulu dech, bye" Dika pamit karena hari juga memang sudah sore


Setelah kepulangan para sahabatnya, Biru memutuskan untuk pergi ke bengkel miliknya yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Bengkel yang dia bangun dengan usaha sendiri, awalnya hanya sebuah bengkel pinggir jalan, namun kini sudah lumayan berkembang, dan menjadi salah satu bengkel yang terkenal di kota itu. Karena hanya di bengkel itu Biru merasa nyaman


"Bang, gimana bengkel hari ini?" tanya Biru pada Yudi yang menghandle bengkel itu


"Lumayan untuk hari ini Ru, lo udah makan?" tanya Yudi yang sudah membuka kotak makan


"Belum" jawab Biru singkat


"Itu masih ada satu kotak, makan aja kalau mau, tapi sudah dingin, nggak ada yang punya, tadi di kasih bonus sama pemiliknya karena sudah langganan disana" tunjuk Yudi pada nasi kotak yang masih berada di atas meja


"Boleh dech!" Biru mengambil nasi kotak tersebut, namun dia tampak berpikir saat membaca identitas pemilik nasi kotak


"Beli dimana bang? Enak rasanya" tanya Biri saat sudah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya

__ADS_1


"Warung nasi depan, karena hanya buka sampai jam dua, makanya beli double, habis enak banget, nggak kalah sama masakan restorant, terus ya pemiliknya itu adem banget kalau di liat, apalagi anak gadisnya" Yudi bercerita dengan semangat yang membara seperti api yang di tambah minyak tanah


"Lah, lo naksir yang mana bang?"


__ADS_2