MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU

MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU
13. JANGAN HARAP!


__ADS_3

\=”***Bahkan sekecil apapun kemungkinan itu jangan harap aku akan melepaskanmu. Sebab sekalipun mengelilingi dunia ini dimanapun itu aku pasti menemukanmu. Dan tali merah yang pernah tercipta aku mengikat mati ujungnya. Sampai kapanpun hanya aku kamu dan masa depan kita yang boleh mengisinya”\=


-Ardan Arditia***-


Disudut kota bagian lainnya..


Aku bilang berhenti!! Tidak kah kau mengerti bahasa manusia.


Berhenti!! Alisia geram setengah mati menahan gejolak dan menekan habis-habisan rasa takutnya.


Semua pertimbangan apapun tak kan mampu membuatnya surut atau bahkan menjarak sedikitpun. Sebab dia kenal siapa sebetulnya manusia disampingnya.


Rasa takut kesal dan juga merinding menjalar senada ditubuh kecilnya.


Alisia tak mampu memikirkan apapun selain bayangan masalalunya dan bagaimana supaya itu semua bisa dicegahnya dan lari sejauh-jauhnya. Dari mausia ini dan dari semua malapetaka diwaktu berikutnya.


Sebab baginya sekali bertemu dengan manusia ini sudah dipastikan tak akan ada hal baik apapun yang akan terjadi.


Semuanya pasti berbalik menyakiti bahkan melukai pikiran dan kenangannya.


“Turun kan aku, turunkan! Apa karena terlalu lama tidak di Negara ini kau jadi tidak mengerti dengan apa yang aku ucapkan? Aku bilang turunkan aku! Atau aku akan lompat sendiri” ancamnya sinis.


“Aku bahkan tidak ingin melihat wajahnya apa lagi terkurung didalam ruangan yang sama begini” rutuknya dalam hati.


Aku bilang berhenti dan turunkan aku!” Alisia berusaha menahan semua kegusaran dan airmatanya pura-pura kuat itu yang akan menjadi jalan aman menurut pikirannya.


Dan dengan pemikiran begitu dia berusaha meninggikan suaranya, terlepas dari bagaimanapun reaksi manusia disebelahnya.

__ADS_1


Yang dipikirkannya Alisia untuk saat ini hanya satu bagaimana supaya bisa lepas dan lari sejauh-jauhnya.


Ardan hanya memandang sekilas kesebelahnya dengan senyum yang tak bisa dijelaskan.


Perempuan kecilnya ternyata tidak pernah berubah. Selalu berusaha melawan dan mengancam meski sebetulnya Ardan ataupun Alisia sendiri paham itu sama sekali tidak ada gunanya.


Ardan kembali fokus dengan kemudinya, sementara Alisia yang merasa seakan tidak ada respon dari manusia disebelahnya berusaha memprovokasi keadaan.


“Baiklah kau pikir aku tidak berani? Aku sudah berubah dan kamu bukan apapun lagi bahkan dari kenangan buruk ku pun kamu tidak pantas.” Ungkap Alisia ambisius.


Ucapan itu berhasil membuat Ardan mengalihkan perhatiannya dan menepikan mobilnya.


Setelah pas berhenti dia memandang Alisia datar. Dan tanpa permisi serta mengesampingkan semua rasa ketakutannya Alisia berusaha membuka suara lagi.


“Jadi karna kita tidak ada urusan apapun lagi tolong turunkan aku atau aku betul-betul akan lompat dari sini”. Takut?


Tentu sebetulnya Alisia sangat takut. Bahkan walaupun sudah lewat bertahun-tanuh lamanya kenangan itu tetap hangat dalam ingatannya.


Semua sangat-sangat membuatnya sedih sekaligus kecewa. Kecewa terhadap dirinya sendiri yang tak mempunyai kekuatan apa-apa untuk membalikkan keadaan.


Alisia berusaha mencari ganggang pintu mobil dan menariknya.


Tapi itu tidak membuat Ardan merubah posisi pandangnya, sebab keadaan mobil sekarang berada dalam kendalinya.


Semua sudah diantisipasinya sebab dia tau berhadapan dengan perempuan kecil yang seperti apa.


Tiba-tiba Ardan berpaling dan itu maksimal membuat Alisia membuka matanya lebar-lebar hanya dengan satu gerakan halus. “Cup… sebuah ciuman mendarat dibibir merah muda Alisia.

__ADS_1


Dia kenal bagaimana rasanya. Manis dan membuat candu dan Ardan tersenyum khas dengan cirinya tersendiri.


Alisia membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Laki-laki ini kembali melakuakn apapun yang dia mau tanpa memikirkan Alisia dan Alisia sangat benci itu.


“apa yang kau lakukan, aku akan menuntutmu, jangan mentang-mentang kau punya segalanya dan kau merasa bangga akan itu.


Aku tidak terima!! Dan dengan kekuatan terakhir yang dia miliki Alisia berusaha mencari titik lemah dari Ardan “Bhuuugh… tepat mengenai pundaknya Ardan dan itu sukses menyusul kesadarannya menghilang sepenuhnya.


Alisia kaget sendiri “mampus bagaimana kalau dia mati”. Dengan sigap dia memeriksa mengulurkan telapak tangannya untuk memeriksa aliran nafas Ardan memalui hidung, tapi anehnya Alisia tidak merasakan apapun.


"kenapa tidak ada nafas dari hidungnya? Alisia yang panik berusaha menetralisir semua kemungkinan terburuk yang berputar dikepalanya.


Apakah betulan dia mati bagaimana ini? Gusarnya dengan cemas. Tanpa berpikir panjang Alisia berusaha untuk menggoyangkan tubuh Ardan.


Oiya bagaimana dengan pergelangan tangannya mungkin tadi karna aku terlalu gugup mangkanya tidak merasakan apapun, sambil menepuk dahinya pelan.


Alisia secara perlahan berusaha ingin menarik tangan Ardan agar tidak membangunkan si-batu es.


Dan dengan penuh ke hati-hatian dia ingin memeriksa apakah betul tidak bernafas lagi atau bagaimana.


Dengan rasa takut yang maksimal memenuhi gejolak ditubuhnya Alisia menggenggam tangan Ardan dan baru seperkian detik Ardan langsung sadar dan berusaha mencengkram balik tangan Alisia.


“kamu akan menyesal tidak memanfaatkan keadaan, seharusnya kamu berlari sajauhnya dari ku tapi ini sungguh mengagumkan.


Apa kamu berfikir aku selemah itu. Bahkan kalaupun kamu berlari menjauh dariku dan seterpencil apapun tempat yang tertuju karna ketakutanmu, jangan berharap lebih. Aku akan tetap menemukanmu!


hayyy man temannnn jumpa lagi kitanyaa.. udah mulai muncul ya intrik nya satu-satu😍

__ADS_1


semoga siapapun terhibur🤩


salam hangatt ❣️❣️Putri Andini❣️❣️


__ADS_2