MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU

MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU
20. ANAK KECIL


__ADS_3

"Seinci semili aku tak akan pernah berpaling, tubuh darah apapun akan aku gantikan. Walau berwujud ambisi sekalipun, aku akan tetap menjebak dan mengurungmu untukku!"


_Ardan_ đź’— đź’—


Aku tidak yakin kau akan sepongah ini, kau kira aku akan menyerahkan diri dan seakan berterimakasih seolah-olah kau menampungku, oh jangan harap.


Kau ******** sial*an menjauh dari ku! Alisia tetap akan memperjuangkan harga dirinya. Bahkan apapun itu dia tidak boleh lengah.


“Nathan semakin terpancing dan berusaha meraih bahu Alisia, tapi seperkian detik saat tangan kiri Nathan berhasil meraihnya, Alisia langsung menggigit lengan yang terulur kearahnya.


“Kau…” teriakan Nathan seakan menyadarkan Alisia dan meleburkan keberaniannya entah kemana.


Dan disaat Nathan ingin mendaratkan kembali tamparan tangannya, keadaan tiba-tiba berubah..


Sekali lagi.. sekali lagi kau berani menyentuhnya jangan harap kau akan keluar hidup-hidup dari sini..


Nathan menoleh dan mencari asal suara tersebut. Seorang laki-laki dewasa yang mungkin memiliki bentuk tubuh yang hampir sama dengannya meskipun lebih menawan “dia mengakuinya didalam hati” tapi sorot mata yang dia miliki seakan mencengkram Nathan secara tidak langsung.


Tapi kembali lagi keposisinya, dia memiliki apapun ditempat ini karna memang kebetulan ini sudah hampir seperti markas besar mereka.


Apapun yang mereka butuhkan ada disini dan dengan anggota tambahan tiga orang lagi dengan rasa angkuh yang memuncak dia yakin dialah yang akan menguasai situasi disini.


“Urusi urusanmu sendiri, dan perlu kau ingat dari segi manapun akulah yang seharusnya memerintahmu” kau siapa kau tidak punya hak disini jadi sebelum teman-temanku yang lain menghajarmu lebih baik kau lari sebelum aku kehilangan akal sehatku.”


“Kehadiran satu orang pengganggu ini tak akan mengusik rencana yang sudah dia susun sempurna” lirihnya dalam hati.


“kau yakin bisa mengharapkan mereka, dan laki-laki apa yang mengganggu anak kecil sampai menangis seperti ini?”


Sontak itupun membuat Alisia balas menatap kearah laki-laki asing tersebut “anak kecil” itu yang Alisia ingat.


Dari semua siswa dia hanya bermasalah pada tinggi badan dan itupun tidak terlalu keterlaluan tapi entah kenapa jawaban yang dilontarkan laki-laki asing ini mengusiknya, namun untuk saat ini hanya laki-laki asing ini sajalah pilihan satu-satunya. Yang jelas dia bisa keluar dari situasi ini dulu sambil mengusap airmatanya.


Nathan yang merasa tersinggung menjauhkan diri langsung dari Alisia dan perlahan mendekati asal suara yang mengganggunya “sikap angkuh biasanya akan menguburmu duluan, dan tak perlu mereka aku jadi semakin ingin menghabisimu langsung dengan tanganku sendiri.”


Keangkuhan yang Nathan miliki mengubur rasa ragunya, awalnya dia yakin menang karna dia mempunyai kekuatan tambahan.

__ADS_1


Tapi entah kenapa teman-temannya yang diharapkannya tak muncul juga sampai sekarang. Tanpa memeperdulikan apapun dia semakin maju.


Aku angkuh karna aku memilikinya apapun itu bahkan dia tunjuknya menantang kearah Alisia dengan senyum menggodanya.


Alisia yang awalnya tak terlalu memahami situasi menganga tak percaya sambil bergumam “mereka ternyata satu tipe, sama-sama sok”


Tapi aku benci dengan tikus-tikus yang berusaha mengusiknya, sepertinya aku harus mengajari tikus tersebut bagaimana caranya bertahan agar tak kapalang tanggung pandangnya kembali kearah Nathan.


Kata itu langsung membuat Nathan mempercepat langkahnya “kau bilang apa, sepertinya aku yang harus menyadarkanmu betapa tak terpelajarnya mulutmu bersuara dan mereka langsung terlibat baku hantam yang tak bisa Alisia tengahi sedikitpun.


Alisia yang masih diselimuti rasa takut yang kental sekarang berubah dengan berusaha membaca situasi, sambil sesegukan dia meyakinkan diri “ini semua menyangkut keselamatannya kedepannya.”


Dan dengan sikap yang bisa Alisia tangkap dari orang asing tersebut dia berniat untuk melarikan diri secara diam-diam.


“Dia tidak sebaik penampilannya Alisia, bagaimanapun caranya toh kita tidak akan berjumpa lagi jadi aku harus menjauh dulu dari mereka”.


Alisia berusa berdiri meskipun sudut bibirnya perih tapi kakinya masih baik-baik saja.


“Nikmati acara kalian dan kepadamu yang seperti tuan muda tak dikenal secara tidak langsung aku berterima kasih, tapi kita tidak akan bertemu lagi dan aku pastikan tidak ada lagi kedepannya” seakan menjadi doa penutup yang Alisia ucapkan dia berlari meninggalkan ruangan yang hampir merenggut semua kehidupanannya.


Baginya meskipun anak sulung dia tetap dimanja apalagi oleh ayahnya jadi selain warna pink dia beranggapan tidak ada satupun yang menarik.


“Selamatlah kamu Alisia dan dikemudian hari kamu harus baik kepada siapaun dengan begitu secara tidak langsung bisa membayar hutang mu kepada tuan muda tak dikenal itu”


Sambil meredam kepiluan hatinya dia berusaha memperbaiki rok dan tetap menggenggam kemeja bagian atasnya “aku harus menjauh terlebih dahulu.


Sedikit lagi dia melihat seberkas cahaya seakan-akan hanya tersorot khusus untuk kakinya melangkah.


“Ayo Alisia kita akan bebas dan tak akan terlibat dengan siapapun yang dengki lagi” dan langkah terakhir sampai diambang pintu menuju keluar dia dikejutkan dengan pemandangan ngeri.


Tiga orang terkapar pingsan besimbah darah dari hidung dan sudut mulutnya, Alisia tak habis pikir badan-badan sebesar ini bisa ditaklukkan oleh satu orang hanya sendirian.


Wahh.. secara tidak langsung dia merasa kagum tapi fokus lagi kerencananya semula. “Aku harus menjauh” tekatnya.


Tanpa menoleh dia berusaha berlari seolah-olah memejamkan matanya, “Alhamdulillah terimakasih tuhan aku bisa selamat meski sedrama di film-film” rasa syukur yang seakan menggema dilorong melalui hatinya dengan usapan halus disudut matanya.

__ADS_1


Meski cahaya matahari sudah mulai meredup selagi dia bisa lepas dari ini semua itu tidak akan jadi masalah walau tengah malam dan setakut apapun dia melangkah. “Memang benar taktik mengulur waktu itu menguntungkan” angguknya yakin.


Langkah pastinya yang terulur untuk meninggalkan semua kenangan yang hampir mengelabukan masadepannya Alisia memperlebar gerakannya “beginikah caramu berterimakasih”” tarikan kuat dipergelangan Alisia sontak membuat wajahnya pias seketika.


“lepas-lepaskan tanganku atau kau akan menyesal” ucap Alisia gugup, “beginikah cara terimakasih yang kamu pelajari diusiamu, apakah ini sebanding dengan apa yang aku dapat, perhatikan orang yang berbicara kepadamu Alisia Wardana!”


Suara lantang itu membuat Alisia langsung beralih dan menatap sang pemiliknya dalam hati dia terheran sendiri dari mana laki-laki ini mengatahui namanya.


Perhatian Alisia tertuju pada sudut pipi kiri yang meng-ungu, sudut bibir yang membekas darah.


Alisiapun merasa agak takut-takut “tuan terimakasih telah membantu saya, bisa tolong lepaskan tangan tuan saya harus segera kembali kerumah.”


Dengan acuh laki-laki tersebut langsung mendial telephon seperti menungggu seseorang menjawab “aku sudah kirim lokasinya kau harus segera sampai dalam sepuluh menit” angkuhnya menutup sepihak.


“Ikut aku atau bermain disini dengan permainan yang jauh lebih menarik denganku” jawaban yang mengintimidasi dan sorot mata yang membunuh secara spontan berputar di benak Alisia bahkan dari suaranya saja jauh lebih menegangkan dari kejadian yang beberapa saat dia alami.


Alisia berusaha ingin melepaskan genggaman ditangannya tapi nihil laki-laki ini seakan ingin adu kekuatan secara tidak langsung dengannya. Delapan menit kemudian Tiiin..tiinnn… tanpa aba-aba dia menarik tangan Alisia dan mendorongnya masuk lebih duluan.


Tapi Alisia tetap dengan tekadnya “tidak, aku tidak butuh tumpanganmu, aku bisa berjalan sendiri, lepaskan atau aku akan teriak” sambil menajamkan matanya Alisia menantang balik lawan bicaranya.


đź’—


đź’—


đź’—


Biyane untuk jadwal yang acak-acak ini. Tolong tetap cintai aku ya.


Selamat berperan didunia yang aku ciptakanđź’ž


❣️


❣️


Salam ter+ter terhangatt ❣️❣️Putri Andini❣️❣️

__ADS_1


__ADS_2