MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU

MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU
21. TIDAK SEMUDAH ITU


__ADS_3

***Sekalipun terkunci tertutup rapat tanpa udara yang cukup dan bahkan dalam ruang gelap yang sempit aku tetap akan pada pilihanku, melepas belenggu ini tanpa tapi.


_Alisia***_


“Dalam mimpimu, kau kira aku akan melepaskanmu, tidak semudah itu. Apa yang aku terima harus mendapat balasan yang setimpal.


Dan aku tidak pernah berpikir akan memberikan tumpangan dan mengantar kerumahmu. Diam dan tenanglah” mendorong hingga Alisia tak seimbang mendarat dikursi bagian penumpang diikuti Ardan yang duduk disampingnya.


Mobil yang melaju dalam kecepatan maksimal dan mereka yang tak kalah maksimalnya dalam adu mulut tanpa ujung. “Tidak aku tidak mau keluarkan aku!”.


Cukup tinggalkan alamatmu dan aku akan menebusnya tapi tidak sekarang” balas Alisia lugas. “aku tidak suka penolakan” tutup Ardan tak terbantahkan.


“Kau lupa apa yang telah aku lakukan untukmu? Alisia terheran “bukannya aku sudah mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu.


Lagian aku tidak meminta atapun memaksamu bahkan aku tidak mengenalmu, dan sejarahnya menolong itu tanpa pamrih om” ejeknya membalas. “Itu menurutmu dan tidak bagiku” balas Ardan Sarkas.


“Kau harus melakukan apa yang sudah ku lakukan padamu, jadi supaya ini semua lancar kau harus ikut denganku terlebih dahulu, balas dengan cara yang aku siapkan” jelas Ardan.


“Aku tidak mau, jangan seenaknya saja, aku punya orangtua yang menungguku dirumah” rutuk Alisia sambil berteriak.


Oke supaya semuanya terkendali hubungi orangtuamu dan jangan bicara yang tidak perlu atau aku akan membuatmu lebih menyesal dari sebelumnya” ancam Ardan menusuk. “aku tidak mau, apakah kau tidak paham maksudku turunkan aku sekarang juga atau aku akan lompat sendiri” ancam Alisia.


Sambil menarik sebelah tangan Alisia dia berusaha membuat pandangan Alisia tertahan dimatanya “lompat lah dan nikmati apapun yang kamu lakukan, tapi aku tidak akan menjamin kau akan baik-baik saja.”

__ADS_1


“William tambah kecepatannya dan lepskan handle otomatisnya.”


William sang sekretaris pribadinya melakukan apa yang didengarnya tanpa memberikan jawaban “silahkan aku ingin tau seberani apa kau menantangku” sambil melepaskan sebelah tangan Alisia Ardan menunggu gerakannya.


“Atau kau butuh panduan dari ku, aku bersedia menghitungnya untuk membantumu satu…dua… kenapa kau masih diam saja Alisia atau kau berubah pikiran?”


“Kleekkk..” seiring dengan ucapan Ardan pintu sebelah Alisia terbuka disaat betul-betul ingin mengakhiri semua dia yakin “tidak akan terlalu sakit jadi sambil memejamkan mata dia berusaha membuat kesimpulan ini akan baik-baik saja”


Dan tanpa terencana Ardan menariknya hingga Alisia terbentur pada dada bidang yang kokoh “apa kau gila haaa, atau kau memnag tidak tau caranya berterima kasih dan rela mempertaruhkan nyawamu.


Meskipun jalanan ini sepi tapi tidak menutup kemungkinan kau akan celaka” Ardan terheran perempuan kecil ini lebih memilih membahayakan dirinya sendiri.


“Aku bilang turunkan aku, aku ingin pulang orangtuaku menungguku. Jadi tolong lakukan hal yang wajar, apa yang kau lakukan untukku tidak mungkin aku melupakannya aku juga tau kok hutang budi itu apa tapi bukan berarti kau seenaknya” bentak Alisia


Mobil yang membawa mereka perlahan memasuki halaman rumah yang Alisia sendiri tidak tau tepatnya ini dimana, “rumah yang bagus” ucapnya dalam hati tapi buakan ini yang paling penting.


“Turun atau aku yang menurunkanmu” suara Ardan membuat Alisia sadar dan berhenti dari rasa kagumnya.


“Aku bukannya lumpuh jadi aku bisa sendiri dan pendengaran ku masih sangat sangat baik jadi pelankan suaramu itu hanya akan menjadi polusi udara” sinis Alisia sambil keluar dari mobil tersebut.


Entah kenapa dari yang awalnya Alisia merasa takut dengan tatapan mata Ardan menjadi jengkel tak tertolong, sikap pongah dan apapun itu bagi Alisia semua dari seleranya. “memang benar inilah contoh nyata wajah tak menjamin apapun” ejeknya dalam hati.


Ardan yang posisinya pas pada bagian depan rumah melanjutkan langkahnya “masuk kita harus membahas satu persatu perihal hutang budimu” tanpa menoleh dia melangkah mantap.

__ADS_1


Alisia tentu mendegar itu, tapi lain dari yang Ardan kira Alisia berusaha lari menuju gerbang arah keluar pekarangan “kau pikir bisa semudah itu aku percaya padamu, senyum licikmu aku bisa membacanya, dan keahlianmu untuk menindas yang lebih lemah darimu aku juga punya pengalaman, dan kita tidak akan bertemu lagi tuan asing, aku punya duniaku sendiri” gumam kemenangan yang memenuhi ruang pernapasan Alisia.


Ardan yang ingin menarik handle pintu utama dan William yang masih nyaman didalam mobil sepertinya dia lagi berbicara di telephonnya dan gerbang yang tanpa penjagaan maksimal membaut langkah Alisia beralih sempurna dan seiring Ardan menoleh kebelakang Alisianya sudah berada didalam taksi yang melaju maksimal.


“William apa yang kau lakukan” sambil berusaha menyusuri gerbang halaman dia membentak penjaga yang hanya melongo tanpa sadar “kau ingin dipecat ya, begitu saja tidak bisa mencegahnya, akan aku potong gajimu bulan ini” tuntutnya emosi.


William yang paham maksudnya langsung menyalakan mobil dan melaju menghampiri Ardan “ikuti taksi tersebut” “kau tak akan lepas dari genggamanku Alisia” sambil menggenggam tangannya penuh emosi.


Diujung sana entah mengapa Alisia merasa tengkuknya merinding hebat, dan benar saja ada yang mengikutinya “maaf bapak, bisa tolong tambah kecepatannya mereka tetap mengikuti kita” sang sopir yang sudah mendengar cerita Alisia sebelumnya hanya mengangguk.


Dia merasa bertanggungjawab untuk melindungi gadis tersebut yang sepertinya seumuran dengan anak gadisnya. “baik nona tolong tenang saya akan berusaha” dan di persimpangan taksi yang Alisia tumpangi berhasil menjauh dari mobilnya Ardan karna lampu merah yang memisahkan mereka.


“Awas saja kau Alisia jangan harap akan bisa lepas begitu saja dariku,” bersamaan dengan dering telephone nya Ardan menjawab “cepat bicara, kalau tidak penting kau ku pecat” dan seperkian detik Ardan langsung mematikan benda di genggamannya “putar arah” perintahnya dingin dan William menyetujui tanpa jawaban “kau mungkin merasa menang sekarang tapi tidak dengan besok apalagi besoknya jadi nikmati saja sisa waktumu” gumamnya Ardan mentap lurus kedepan.


Sementara ucapan yang tanpa sengaja Ardan lontarkan semakin membuat William penasaran “ada apa dengan boss nya dan siapa gadis itu” dia perlu penjelasan rinci.


💗


💗


💗


salam hangatt❣️❣️Putri Andini❣️❣️

__ADS_1


__ADS_2