
Jangan pura-pura kuat lagi, sekarang ada kami yang akan menjagamu bagaikan tembok yang tinggi gagah menjulang. Ingatlah seperti apapun luka kami tidak akan meninggalkanmu, sekalipun terpaksa.
Alisia berlari sambil sesegukan. Airmata pun berhenti tertahan mengingat apa yang dia alami. Semuanya sangat memporandakan hatinya.
Dia berusaha mencari tempat persembunyian yang bisa untuk menumpahkan semua kekesalannya.
“Apa yang akan terjadi kedepannya, haruskah aku kembali terjebak dengannya.” Alisia sangat ketakutan membayangkan masalalu dan bahkan apa yang baru dialaminya.
Ardan Arditia terkutuklah kamu. Aku membencimu sampai ke-nadiku.
Dan baru akan berbelok ingin memasuki sebuah taman untuk berusaha meredakan hatinya tiba-tiba sebuah tangan dingin menariknya tanpa bisa Alisia kondisikan.
Dan jatuhlah dia dalam dekapan dada bidang yang hangat yang dulu sangat dia kenali.
Tapi dengan rasa takut yang lebih dominan dia berusaha menyadarkan diri dan menarik badannya kembali.
Tapi apa yang dilihatnya diluar dugaan. “Ca apa kamu baik-baik saja” terang kak Rey penuh rasa bersalah.
“Apa ada yang terluka, kenapa sendirian begini, apa dia berbuat yang tidak baik lagi kepadamu, kenapa menangis lagi” Tanya Rey beruntun dan berusaha menggenggam tangan Alisia.
Tapi melihat Alisia meringis perhatian Rey ter-alihkan ke pergelangan tangan Alisia.
Disana membekas ungu terang yang kontras langsung dengan kulit Alisia yang putih. “Ca kemarilah” Rey menarik Alisia lagi kepelukannya berusaha untuk menenangkan gadisnya.
Tapi Alisia dengan kesadaran pasti menolak pelukan Rey dan langsung berkata
__ADS_1
“bawa aku pulang kak ini tidak benar” sambil melirik sekeliling dengan malu. Tentu mereka menjadi pusat perhatian, bagaikan sepasang sejoli yang sedang bertengkar dan berbaikan lagi.
Reyhan yang menyadari itu hanya mengelus pelan kepala Alisia dan menarik tangannya
“Baiklah, mari kita kemobil kakak disana ada Jenni yang pasti juga tak kalah paniknya”. Alisia hanya mengangguk tanda dia setuju dan berjalan sambil bergandengan tangan menuju mobil Rey yang tak jauh menepi.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan tajam sambil menggenggeng tangannya sampai memutih.
“Kau lagi, selalu saja! Ardan yang berjarak beberapa meter dari mereka memandang penuh tak suka sebab Alisia bisa dipeluk begitu.
Dari dulu selalu saja Reyhan menjadi penghalang untuknya mendekati Alisia dan sekarang seakan semua peluang lebih berpihak pada Reyhan dan Ardan tidak mau terima kemungkinan itu.
Jika bukan aku jangan harap kau akan bisa menjangkau lebih. Dia lebih dulu menjadi gadis-ku. Walau lebih dulu mengenalmu, tapi aku tidak akan tinggal diam rutuk Ardan penuh kejengkelan.
Alisia masuk kemobil bagian belakang dan langsung memeluk Jenni.
“Tenanglah Ca, semua akan baik-baik saja. Dimasa mendatang semua tidak akan terjadi lagi. Percayalah.
Aku sangat cemas memikirkanmu. Tapi setidaknya sekarang semua baik-baik sajakan” tanpa adanya jawaban dari Alisia Jenni menepuk pelan-pelan punggung Alisia sambil meyalurkan ketenangan agar airmata Alisia bisa segera berhenti.
Reyhan yang melihat semua itu hanya diam tanpa kata, dan tanpa aba-aba dia langsung melajukan mobilnya untuk segera mengantar anak-anak ini kerumah masing-masing.
Dipertengahan jalan Alisa berhenti menangis dan membuka percakan
“Jen baju mu sudah kering dengan sendirinya, bagaimana jika kita demam masal nantinya, ejeknya berusah terlihat baik-baik saja. “Kamu tenang aja Ca selagi ada kamu semua akan baik-baik” saja goda Jenni berusaha untuk meyakinkan Alisia.
__ADS_1
Kemudian Alisia menundukkan pandangannya dan berkata lirih,
“maaf masih saja selalu memebani kamu Jen dan kak Rey. Terimaksih tetap selalu peduli kepadaku, aku betul sangat-sangat ketakutan.” Dan kata itupun sukses membuat Jenni meneteskan airmata.
Tidak ada kata seperti itu. Kami menyayangimu, dan kami takut kalau sampai terjadi apapun terhadapmu Ca, tenanglah ya.
Aku Janji Ca ini cukup terakhir kalinya, kedepan bagaimanapun aku akan selalu disampingmu” janji Jenni sambil menghapus airmatanya.
Reyhan hanya bisa terdiam dan fokus pada kemudinya. Dia tidak ingin membuat suasana semakin suram.
Lima menit berlalu dan sampailah didepan rumah Jenni.. “Bagaimana apa kalian mau mampir dulu, kebetulan mama ada dirumah” sambil menunjuk mobil merah yang terparkir.
Alias langsung menggelengkan kepalanya dan menggigil berusah untuk menunjukkan bahwa dia kedinginan juga.
“Baiklah kak Rey aku titip Alisia padamu ya. Langsung bawa dia pulang jangan keman-mana lagi. Sepertinya dia butuh berendam air panas” ejek Jenni menggoda. Dan Reyhan pun menganggukan sebagai jawaban.
“kita lansung pulang ya Ca” tanpa aba-aba Reyhan kembali melajukan mobilnya dan Alisia menjawab semangat sambil melambaikan tangan pada sahabatnya.
“Bbe…byee jen nanti aku menghubungimu” dan balsan ibu jari Jenni mengakhiri percakapn sekilas mereka.
“makasih ya kak untuk hari ini dan semua yang terjadi, terimakasih tetap peduli” dengan wajah yang tertuntuk menahan tangis dia paksakan tersenyum.
Rey yang memperhatikan dari kaca depan etrsenyum sebagai balasan seakan mampu mengatasi masalah untuk hari ini.
Sebetulnya dia terluka sangat dalam lebih terluka dari gadisnya. Rasa takut yang mendominasi sebab dia tahu bagaimana perilaku sebetulnya dari penerus Arditia Company tersebut.
__ADS_1
Dan dengan rasa bersyukur yang disorak kan dalam hatinya, Rayhan berusaha untuk tidak membuat semua menjadi semakin runyam dan tetap fokus pada kemudinya.
salam hangatttt ❣️❣️Putri Andini❣️❣️