MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU

MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU
16. -ROLI RAMANSYAH- (Perantara)


__ADS_3

Yang pernah aku genggam serumit apapun tak akan aku biyarkan lepas. Dan teristimewa padamu, hanya padamu aku ingin untuk lebih egois.


Ardan masih senantiasa mengikuti mobil yang membawa Alisia dan Reyhan hingga berhenti pas didepan halaman rumah Alisia.


Dia tahu persis dengan rumah itu, rumah sederhana yang dua tahun lalu selalu menjadi pemandangan terbaiknya. Yang dilengakapi dengan semua kehangatan dan senyuman kasih sayang.


Disana tersaji pemandangan yang selalu membuat Ardan secara tidak langsung merasa iri kepada Alisia dalam artian baik.


Dia iri akan kasih sayang yang tercurah dan yang diterima Alisia. Ayah ibu dengan senyum hangat menyambut kedatangan Alisia, dua orang adik-adiknya yang sedang bermain lemparan bola dan seorang remaja laki-laki yang duduk didekat ibunya sedang sibuk mengetik sesuatu dibalik layar laptopnya dengan serius.


Roli ramansyah seorang remaja laki-laki akrab disapa Roli, Ardan tentu saja mengetahui itu. Dia memang saudara pemberani yang bertanggung jawab, dulu tanpa rasa takut mencari dimana tepatnya Alisia berada.


Mengesampingkan semua gusar yang ditanggungnya hanya untuk menemukan kakaknya. Dan Ardan ingat betul betapa dia sangat dibenci oleh saudara laki-laki Alisia tersebut.


“jika sampai kau menyentuhnya sedikitpun akan ku pastikan nyawamu sebagai gantinya bahkan seujung rambutpun aku akan mencarimu keujung dunia sekalipun” ucapan adik Alisia yang masih terngiang ditelinganya, dengan tatapan benci yang kental dalam pandangan yang langsung tertuju pada Ardan.


Ardan pun yakin bahkan sendainya dia muncul sekarangpun, posisinya tak akan pernah berubah baik bagi Alisia apalagi saudaranya. Kenangan itu dan tatapan saudara Alisia sama-sama membekas nyata di ingatannya.


Dan secara bersamaan Ardan sangat-sangat membenci makhluk asing yang berada disamping Alisia. Disana Reyhan juga ikutan turun dan menyapa semua keluarga Alisia.


Menyalami orangtua Alisia satu persatu yang dibalas dengan pelukan hangat dari ayah Alisia sendiri.

__ADS_1


Dari kejauhan Ardan memandangi mereka dan itu samakin membuat tangannya terkepal erat. Disatu sisi dia ingin menjadi Reyhan untuk saat ini dan disisi lain dia seakan ingin menarik Reyhan dan membungkusnya agar menghilang sepenuhnya dari pandangannya.


Dia sendiripun tak habis pikir. Seorang Ardan mau jauh jauh hanya untuk menjadi penguntit yang jelas tak kekurangan apapun, tapi hanya untuk seorang gadis yang membuatnya selalu saja mencari alasan alasan yang jelas dibuat-buat dan sebaik apapun Ardan berusaha mengekspresikannya itu tetap tak pernah berjalan sesuai rencananya.


Disinilah dia memandang dari kejauhan keharmonisan yang seharusnya dia yang berperan. Senyum simpul yang maksimal Reyhan tunjukkan dan balasan senyum canggung yang Alisia berikan.


Mereka selayaknya sejoli yang sedang malu-malu dan itu membuat mata Ardan memanas. Dia tidak bisa terima situasi itu. Perbincangan hangat yang bahkan secara angan tak bisa ia lakoni langsung.


Sebetulnya apa yang tejadi dimasalalu tak sepenuhnya salah Ardan. Tapi apa yang diperbuatnya berbanding terbalik dengan anggapan yang didapatnya.


Dulu dia berpikir itu yang paling terbaik mangkanya dia berbuat seperti inginnya. Tapi semua apa yang dia maksimalkan berbanding dengan apa yang ingin ia wujudkan.


Dan pemadangan itu selalu mampu membuat Ardan tertarik kala itu. Hampir setiap selesai istirahat dia dengan mengkambing hitamkan ayahnya membuat berbagai alasan kalau harus mengunjungi beliau.


Ardan berusaha seakan tanpa disengaja selalu memutar jalur yang lebih jauh dengan teman-temannya, dia bosan dengan jalan yang biasa mereka lewati kilahnya. Padahal jalan yang dibilangnya biasa adalah jalur yang sebetulnya paling benar dari pilihan antara jalur yang lain.


Yang ada jalur yang sekarang kali ketiga berturut-turut dalam minggu itu adalah yang terjauh, teman-temannya tentu merasa aneh dengan sahabatnya. Tapi ada yang berbeda yang mulai bisa mereka baca.


Ardan seakan menemukan dunia baru, itu yang mereka tangkap. Jalur baru dan tujuan baru itu sebetulnya yang benar terjadi. Dan untuk membuktikan itu mereka menuruti keinginan Ardan.


Kembali dari kantin dan ini minggu ke lima dihari kedua Ardan tertangkap tanpa bisa mengelak. Kantin sekolah memang selalu membuat sipapan diantara mereka merasa rindu, selain terjangkau dan koneksi yang mereka punya pilihan yang menunjang selera juga tersedia. Tapi lain mereka sudah jelas pasti lain juga inginnya Ardan.

__ADS_1


Senyuman yang selalu membuat dunianya terbalik sedang mengarah kepadanya dan tanpa dia sadari membalas balik senyuman siswa perempuan yang sedang melambaikan tangan kanannya.


Dalam imajinasi Ardan itu adalah untuknya dan tanpa sadar dia bergumam “cantik” dan itu tak lepas dari pendengaran keempat sahabatnya yang ikutan melongo terheran.


“kak Rey” itu kalimat pertama yang membuat Ardan tersadar seakan secara paksa ditarik lagi keduanianya yang pasti membuat keempat temannya mengejeknya “jadi ini ayah barumu ya Ar cantik” ungkap sahabat-sahabatnya kompak diselingi dengan tawa renyah mereka.


Ardan yang tiba-tiba terbawa suasana menjawab jengkel “diam kalian, itu tidak ada hungannya dengan apapun. Kita kan betulan akan keruangannya” jelasnya berjalan lebih dulu.


“Padahal setiap kita akan kesana dan sampai didepan pintu kau selalu saja membuat alasan alasan aneh sehingga semenjak kita setiap makan siang kesini baru hanya kemaren kita menjumpai beliau dan itu tidak ada penting-pentingnnya sedikitpun” sangkal seorang sahabatnya sambil menarik bahu Ardan.


Dan ditambah dengan jurusan silat lidahnya “dia cantik Ar” godanya yang sukses membuat kepala Ardan memanas “jangan kau ikutan memandanginya” sambil menoleh kebelakang kearah siswa seragam abu-abu yang dimata Ardan sedang tersenyum sangat mempesona. “efek Ardan mengalahi sinarnya matahari berseri-seri gitu deh”


“tetaplah tersenyum dan bahagia aku sekarang memang tak berada dalam duniamu bahkan hanya sebatas bayangan. Tapi senyuman itu aku harap kau tetap memilikinya serumit apapun yang terjadi Alisia-ku” jedanya dalam hati sambil melangkah memalingkan wajah dan menyipitkan mata tanda tak suka kepada lawan bicara Alisia-nya yang melambai meninggalkan Alisia sendiri.


Entah kenapa aku sangat tidak menyukai anak yang satu itu gumam-gumamnya tak jelas..


Hayyyy man-teman kita berjumpa lagi..


Mari berperan didunia yang aku ciptakan. Imajinasi ambigu yang tertahan. Maaf up nya tak menentu ini semua karna mood yang tak karuan. Aku padamu ❣️❣️


Salam hangat 💗💗Putri Andini💗💗😇🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2