MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU

MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU
23. KAU CURANG


__ADS_3

Maju dan berbalik aku tetap kembali, tempat yang sangat-sangat ingin aku lenyapkan. Dan ibarat dalam perang aku menjadi tawanan. Tawanan paling menarik baginya.


_Alisia_


Sambil ragu-ragu menaruh handphone kedalam tasnya Alisia tiba-tiba tersadar ini mengarah kemana “tuan lebih baik kita cari restoran terkenal saja saya punya tabungan dan itu pasti akan cukup untuk membalas semua kebaikan tuan” dia sudah mulai mencari alasan untuk bisa melarikan diri.


“Kamu pikir aku pengangguran hingga me-malak anak SMA?” bentak Ardan berusaha sinis, dia ingin agar tak diremahkan dan segera menggenggam gadis disebelahnya dengan caranya sendiri.


“Aku tidak akan tertipu lagi Alisia” seiring dengan mobil yang membawa mereka ke halaman rumah yang kemarin Alisia kenali “sekarang waktunya” tanpa menghiraukan jawaban Alisia dia menarik dan menyeret Alisia supaya mensejajarinya


“Selamat datang aku punya banyak hal untukmu” dan dengan langkah pasti mereka memasuki rumah tersebut diiringi langkah kecil Alisia yang berusaha menyeimbangi langkah Ardan, dia ketakutan.


William yang mengikuti dari belakangpun ikut masuk, didalam rumah mereka disambut oleh seorang ibu yang paruh baya dan dua orang laki-laki, satu orang kira-kira seumuran dengan ayahnya dan satu lagi seperti berjarak beberapa tahun diatasnya “duduklah” putus Ardan mengalihkan perhatian Alisia”


Alisia berusaha menjaga jarak untuk melindungi dirinya “aku menyuruhmu duduk didekatku bukankah aku menunjuk disini sambil memainkan matanya” Alisia yang sadar itu ditujukan untuknya berusaha menggeser tubuhnya sambil menguatkan diri.


“Sepertinya seragam ini yang menjadi pengahalang” gumam Ardan sambil menimbang semua kemungkinan yang ada.


Aku sudah memutuskannya dua tahun lagi kamu harus membayarnya dan tanpa bantahan apapun tanda tangan surat perjanjian ini, karna aku tau kamu bagaimana Alisia jadi agar ini berjalan lancar hingga waktu yang ditentukan kamu terikat dengan ku!


Ardan punya caranya sendiri, bagaimanapun Alisia harus dengannya tapi dengan umurnya dia merasa tidak pantas membelenggunya sekarang.


Jadi dia berusaha untuk bermain peran, memperhatikan dari jauh tapi mengikat secara pasti.

__ADS_1


“Ingat Alisia dua tahun kemudian kamu harus membayar semua kebaikan ini, kamu tau kan hukum hutang budi itu dibawa mati.”


Tatapan membunuh yang Ardan ciptakan memang ampuh membuat perhatian Alisia sepenuhnya kepadanya.


Alisia yang merasa ini akan semakin mengancamnya tanpa pikir panjang langsung menyanggupi dan berucap “aku ingin tau apa isinya serahkan” tantang Alisia tidak mau kalah.


“Cukup tanda tangan saja dan jangan banyak tingkah” tutup ardan menghentakkan pena dibagian akhir halaman kertas, disini!” tunjuknya menuntut.


“Aku tidak mau, kau fikir aku akan percaya begitu saja. Meskipun kau punya penampilan yang menawan begini tapi siapa yang bisa tau apa sebetulnya jalan pikirmu!” Balas Alisia menajamkan matanya.


“Oh jadi begitu menariknya aku dalam pandanganmu, ya aku tak perlu menyombongkan diri toh kamu sadar sendiri jugakan Alisia” ejek Ardan puas.


“Jangan terlalu berbangga hati tuan tidak semua sampul menggambarkan isi, dan diumur segini anda paham betulkan apa maksud saya!” tutup Alisia tak terbantahkan.


Pandangan mata yang mengarah kepadanya, meskipun dilingkupi rasa takut sang gadis ini tetap tak mau terlihat lemah.


“Perlihatkan kepadaku semua isinya terang Alisia, kalau tidak jangan harap aku akan menyetujuinya. Aku bagaimana bisa tau atau jangan-jangan kau sudah menyewa seorang dokter spesialis dirumah ini.”


“Bila aku tanda tangan kau akan segera membuatku pingsan karna aku disini hanya sendiri dan berpikir aku akan mengalah hingga disaat akau terkapar kau akan menjaminkan ginjalku kepadanya. Ucap Alisia sambil celingak-celinguk memastikan keadaan dokter tersebut berada.


Ucapan Alisia tanpa sadar membuat Ardan tersenyum sekilas yang ditangkap oleh William “bagaimana mungkin gadis ini bisa berpikir demikian, atau dia salah satu korban novel telenovela, tapi aku akan coba bermain-main sebentar.” Gumam Ardan merasa senang.


“Sepertinya itu ide bagus, Will masukkan apapun yang dikatakan gadis ini tambah di poin terakhir dari pada kemudian hari kita rugi” ucapnya menantang balik Alisia.

__ADS_1


“Alisia yang mendengar itu menjadi gelagapan sendiri, jika bukan membayar dengan cara begitu jadi tuan asing ini mau apa?” pikirnya.


“Tunggu” cegah Alisia setengah berteriak dan Ardan menyukai kegelisahan gadis tersebut. “Aku ingin melihat yang sudah ada, jangan melampaui batas.” Alisia sudah mulai tak sabar.


Ardan dengan gerakan matanya menyuruh William secara tak langsung yang dibalasnya dengan anggukan.


Alisia yang menerima berkas tersebut membaca perbait kata dan berusaha menenangkan pikirannya, tapi ternyata ini justru membelenggu dan bahkan merantai lehernya. Benang merah yang secara tak langsung mengikat mati tangannya.


“Bagaimana, kau menyukainya atau kau merasa ada yang kurang aku akan dengan senang hati menambahkannya dan menajadikan poin yang tak kalah penting dari yang ada” goda Ardan tanpa berpaling.


“Kau..kau..” Alisia berusaha menahan geram melalui kepalan tangannya “kau si*lan, hantu belawu, ku kumakamkan kau sekarang juga” teriaknya didalam hati. Laki-laki yang didepannya sekarang betul-betul menguji kesabarannya.


“Bagaimana bisa menjadi begini, aku bahkan tak mengenalmu tuan asing. Bisa jadikan kau om-om mesum atau apa aku mana tau. Kenapa malah jadi utang piutang begini. Aku bahkan tidak meminta tolong padamu kau kan yang datang sendiri” berusaha memposisikan diri pikiran Alisia sejalan dengan apa yang tertulis dan itu menjadi ketakutan tersendiri baginya.


Yang digenggamnya sekarang ini menjeratnya bahkan hingga ke-akar. Semua mimpi jika ini disetujui akan melebur hilang begitu saja. Tabungan yang mati-matian dia kumpulkan akan lenyap tak tersisa. “Kau menjebak ku kan!”


Alisia betul-betul hilang kendali “aku tidak mau semuanya bahkan tanpa terkecuali hanya menguntungkan sebelah pihak dan itu semua untukmu tuan, aku mungkin masih kecil tapi untuk ini aku tau kau curang!”


Alisia tanpa pikir panjang langsung menghempaskan berkas tersebut dengan geram walau takut ia tak gentar.


Huwaaa😭😭 ini terlalu memalukan.. tapi inspirasinya kembali lagi. jadi man teman mari kembali nikmati ceritaku. Bagaimana sebetulnya ardan dan Alisia dan bagaimana dengan Rey? Mari kita "bongkar" bersama😍


see you kesayyangannyahhh akuh💓 luph pull 💖 aku padamu 💖

__ADS_1


__ADS_2