MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU

MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU
14. AKULAH WUJUD SESUNGGUHNYA


__ADS_3

-***Ini perintah bukan tawaran, dan ini harus tanpa penolakan. Dan segigih apapun kamu, sadarlah itu tidak berguna. Duniaku harus kamu dan kamu tidak dalam kondisi bisa memilih.


-Ardan Arditia***-


Jadi dengan begini aku mengartikan sendiri bahwa kamu Alisia setuju untuk tak akan lepas lagi dariku” dengan seringai tajam menghujami mata Alisia.


“Bodohnya aku bagaimana ini kenapa seakan kembali ke masalalu, dan tanpa persetujuan airmata Alisia runtuh tak tertahan.


“Tolong sekali ini tolong berpura-puralah dengan pertemuan ini. Semua diluar kuasa ku, kau yang muncul tiba-tiba. Bahkan ini tak sesuai dengan janji yang disepakati.


Jadi tolong.. tolong lepaskan dan biyarkan aku pergi. Isak Alisia menggema ditelinga Ardan.


Tapi jawaban Ardan bahkan menjadi hantu disiang bolong bagi Alisia.


Sambil menggenggam tangan Alisia semakin erat dia berucap “kamu pasti lupa bahwa perwujudan dari janji itu apa sebenarnya kan” Alisia Wardana?


Haruskah aku ingatkan lagi dengan caraku? ancamnya tersenyum miring.


Seketika Alisia langsung pucat pasi. Itu ketakutannya yang sesungguhnya.


Bukan takut bertemu lagi ataupun ketahuan berada dimana atau bahkan janji ini telah selesai, dimasalalu Alisia tanpa pikir panjang meng-iyakan semuanya.


Meski terbaca sekilas tapi dia tak menghiraukannya, karna menurutnya sendiri bahkan takdir sekalipun tidak akan mempunyai alasan untuk mempertemukan mereka kembali.


Dan ini jelas sangat diluar kendalinya.


“Jadi sebetulnya apa yang kamu inginkan” gusarnya membentak keras. Seharusnya ini berakhir habis dalam beberapa bulan lagi.

__ADS_1


Apa sekarang kamu ingin membodohiku tuan Ardan Arditia yang terhormat. Ejekan khasnya Alisia tanpa sengaja keluar dari bibir mungilnya dan itu langsung membuat Ardan tertawa.


“Ya, nyonya Arditia aku akan menyeretmu keduniaku, merantaimu kalaupun perlu mengurungmu tanpa celah. Berminat? tawar Ardan mencemooh.


“Kau silahkan menikmati mimpimu, aku tidak tertarik. Bahkan seandainyapun itu takdir aku akan terang-terangan menghindarinya.


Paham kau Ardan!” sambil berusaha melepaskan tangan Ardan dari pergelangannya yang mulai terasa sangat perih.


“Wah sudah berani melawannya, haruskah aku tunjukkan sekarang bagaimana seandainya jika aku bertindak? Apakah mulut ini masih bisa membentakku.


Tangan Ardan yang bebas sebelah lagi menarik dagu Alisia tanpa melepaskan genggamannya yang dari tadi semakin erat mencengkram pergelangan Alisia.


“atau bagaimana kalau aku memberi pilihan lain, yang pasti jauh lebih menggoda.


Apakah kau ingin mendengarnya?” dengan seringai tajamnya Ardan mendominasi keadaan seakan Alisia adalah kelinci kecil yang menggiurkan.


“Kelaut saja kau bahkan ada berapapun pilihan akua kan tetap dengan pendirianku. Aku membencimu Ardan sangat-sangat jadi lepaskan aku.”


Itu sendiri bisa terbaca langsung dari sorotan mata Alisia yang benderang. Seakan menghunuskan pedang permusuhan secara langsung kepadanya.


Hilang sudah semua katakutan Alisia seiring dengan genggaman dipergelangannya yang mulai melonggar. Ardan mulai melepaskannya.


Dan tanpa pikir panjang Alisia hendak keluar sebab tadi dia sudah hampir lepas dan tak ingin mengulangi kesalahan lagi. Tapi mobil tetap dalam keadaan terkunci jadi bagaimana mengatasinya.


“Lepaskan Aku Ardan kita tidak ada urusan apapun lagi, Aku sangat membencimu tatapnya tajam pas menghimpun pandangan Ardan. Dan “Klik…..” kunci otomatis terbuka.


Sebelum Alisia betulan menghilang Ardan sudah menyiapkan semua yang seharusnya bisa dia bicarakan baik-baik namun siatuasi tidak berpihak kepadanya.

__ADS_1


Akhirnya yang terlontar pun secara langsung juga kembali menjadi luka untuk Alisia dan sekaligus kenangan terburuknya.


“Ingatlah Gadis kecil, aku akan kembali. Disaat kita berjumpa lagi mau tidak mau apapun alasan mu aku tidak akan melepaskanmu.


Sekarang larilah kamu sejauhnya. Sebab kemanapun kamu pergi aku punya mata dimanapun itu.”


“Kamu akan tetap dalam jeratku.” Dan tanpa permisi sekali lagi Ardan menarik tengkuk Alisia dan…. “Cuup…. Ini yang ke-tigakan?


Ungkapnya tanpa rasa bersalah. Jaga ini karna aku tidak suka apapun bentuk penolakan darimu sambil menyentuh bibir Alisia lagi. Manis sinisnya menusuk.


Satu hal lagi terlepas bagaimanapun yang dulu disepakati kamu harus menyadarinya.


Bahkan berakhir sekalipun janji sesungguhnya adalah aku. Aku wujud yang nyata. Dan kamu bukan dalam kondisi bisa menawarnya.


Jangan sampai tetangkap lagi. Karna jika iya kamu akan aku ikat tanpa celah. Paham!


Ardan betul betul semakin menguatkan ancamannya dan Alisia tanpa pikir panjang langsung mencari ganggang pintu sambil tetap memperhatikan Ardan karna dia takut kalau sampai laki-laki itu berbohong lagi.


Tapi semua tidak seperti ketakutan Alisia bahkan disaat Alisia sudah keluar berlari terbirit-birit dan mulai menjauhi mobilnya pun Ardan tetap diam ditempat.


Terpaku dan teringat ternyata gadisnya tetap ketakutan padanya. Kenangan itu, sebetulnya bukan begitu tujuannya tapi cara Alisia selalu saja membuatnya melakukan cara yang lain meski tujuannya sama dan itu tidak ada manisnya.


Yang ada setiap kata yang keluar dari mulutnya semakin membuat Alisia ketakutan kepadanya.


Sungguh ironi yang membuatnya semakin terpuruk. Kenyataan gadisnya membencinya bahkan dengan hidupnya sungguh membuatnya sangat terganggu.


Kita lihat saja Alisia Wardan. Jika tidak bisa mengikatmu aku punya caraku untuk mengatasi sikap keras kepalamu. Sinisnya dengan senyum mematikan.

__ADS_1


hayy man temannnn temuanyaaaa🤩 selamatt menikmati😍 mari berperan langsung di dunia yang aku ciptakan😀


salam hangat ❣️❣️Putri Andini❣️❣️


__ADS_2