
Sekarang hiduplah dengan menikmati rasa bersalahmu, jangan berharap bahwa aku akan melepaskanmu. Mustahil dan bahkan aku ragu itu bisa terjadi.
_ArdanArditia_
“Rumah Keluarga Arditia, kau tentu tidak lupakan itu dimana?” kekehan Wanda terputus karena Rey mengakhirinya sepihak. “Bre****k kau Ardan lihat bagaimana aku akan membereskanmu kali ini. Geram Rey langsung meninggalkan tempat tersebut.
Dulu mereka famousnya sekolah, tampan dan memukau, yang satu dingin yang satu hangat dan mereka punya daya tarik masing-masing. Reyhan Ardan mereka mewakili semua imajinasi adik dan kakak kelas tanpa terkecuali guru juga.
Tapi Ardan tak pernah menganggap itu penting. Baginya bagaimana dia bersikap tak harus atas apa yang didengar berbanding terbalik dengan Reyhan sendiri, dan iri yang Rey pelihara mengakabut hitamkan semua kemungkinan apapun atas dasar Ardan. Secara samar dia kental membencinya.
Rey pasti tak akan pernah lupa dimana alamat tepatnya, dia masih ingat jelas bagaimana dulu membuntuti kekasihnya yang tergila-gila kepada anak Arditia tersebut dan itupun juga ikut mengekspor emosinya kuat.
“Mereka tak cukup dan kau ingin menjerat yang paling aku jaga, jangan harap Ardan Arditia” dengan sekuat tenaga seiring mengingat apa yang dijelaskan Wanda ia tak mempu membentengi lagi dirinya.
Menerobos pagar yang terbuka dan tanpa meng-indahkan satpam yang bertugas Rey menghantam kuat pintu yang dulu juga pernah dirusaknya.
“Keluar atau aku yang akan menyeretmu Ardan!” dia ingat dimana letak kamar sang penerus tersebut. Dengan dibaluti emosi Rey melangkah pasti mengacuhkan teriakan orang yang dulu juga sangat-sangat dia Kenal "William".
“Aku akan menyelesaikan urusanku, dan kau kenalkan bagaimana aku dulu ataupun sekarang. Milikku tetap milikku.” Tanpa menoleh lagi Rey meninggalkan William yang berusaha untuk menghalanginya. “Jangan memancingku William!” dengan pukulan pas disudut bibir Rey menyeringai “Aku bukan berurusan denganmu jadi diamlah” sambil melangkah Rey membuka sebuah pintu dengan paksa.
__ADS_1
Tapi William masih berusaha menahannya “tolong ingat batasanmu” tegas William tak kalah dingin. “Kau tak perlu mencemaskan apapun termasuk gadis itu, jika dia menginginkannya aku tidak akan tinggal diam kepada orang yang ingin merusak rencananya.
Sambil menahan leher Rey kedinding dingin tersebut “dari dulu atau sekarang harusnya kau cukup mecemaskan dirimu sendiri, kau tau kan bagiamana sebetulnya tuan muda bertindak dia tidak akan mau buang-buang waktu terhadap hal yang tak berguna” sambil menekan kuat lengannya William menyeringai.
Reyhan yang tak terima akan alur dan tujuan yang menyentakkan semua kejadian ini, seiring masalalunya yang juga kembali menyeruak “Kau pikir aku akan terpancing lagi dia berbeda dan perlu kau garis bawahi itu” melayangkan kepalan tangannya mengarah keperut William Rey berbalik meninggalkan William.
“Kau akan tau sendiri bagaimana dia berbeda atau sama, aku yakin sebetulnya gadis yang kau bilang milikmu lah yang merangkak kepada tuan mudaku persis beberapa tahun lalu” balas William telak, bersiaplah bangun dari tidurmu Reyhan Kusuma!!
Meski sebetulnya William tau bagaimana polosnya gadis kecil yang diseret paksa kerumah tuan mudanya dia tetap ingin menutupi rapat rapat itu semua.
Rey tak mengubris omongan William lagi, yang terpenting sekarang dia harus segera melihat gadis kecilnya. Anak perempuan yang harus selalu dalam jangkauannya. Tidak ada yang boleh melukai apalagi merusaknya.
Seiring bunyi pintu yang tertarik seirama dengan suara pecahan kaca yang menghiasi ruangan tersebut dan suara lantang seseorang.
Kepala Ardan yang berdarah tapi masih tersenyum, senyum mematikan dan figura kaca yang dia tau merupakan benda keramat tuan mudanya. Benda yang sangat-sangat ingin dihancurkan tapi tak jua sanggup dilakukan.
Kenangan yang tersisa dari yang dia punya dan itupun yang ingin dia lenyapkan sendiri, hal yang ingin dia buang jauh jauh.
“Kau berhutang nyawa padaku nona, seiring senyum yang memudar dan pemandangan yang mulai menggelap Ardan jatuh telentang bhuuughh… William yang tersedar apa yang terjadi langsung menghampiri tuan mudanya.
__ADS_1
Telpon ambulance atau ini akan gawat, banyak yang tidak boleh terjadi padanya termasuk mengeluarkan darah, Alisia yang masih shock hanya terdiam kaku tak bergerak, sementara Rey tak meng-indahkan hal tersebut.
Alisia ayoo kita harus meninggalkan tempat ini, tanpa menunggu persetujuannya Rey membopong tubuh Alisia untuk segera keluar rumah tersebut. Alisia hanya terdiam tanpa penolakan dan Rey berlalu meninggalkan William dan juga Ardan.
William lupa kalau semua petugas dirumah ini diliburkan, dan tanpa pikir panjang dia langsung menghubungi dokter pribadi kepercayaan keluarga Arditia. “Sekarang juga kesini, kau punya sepuluh menit, atau kau ku pecat!”
Dia memutuskan sambungan sebelah pihak dan memindahkan tubuh Ardan segera keatas tempat tidur tuannya sambil menghubungi kepala pengurus rumah tersebut.
Dokter masuk langsung memeriksa keadaan tuannya, dia punya keluarga dan juga nyawa yang berharga. Jika teledor sedikit saja semua akan berakhir termasuk hidupnya.
“Apa yang terjadi,” putus William tajam setelah dokter itu selesai dengan urusannya. “Sepertinya dia baik-baik saja dan” ketika dokter tersebut ingin menjelaskan lebih rinci “Aku tidak akan melepaskan mu lagi” Ardan yang berbaring tiba-tiba menyeringai penuh kemenangan.
Dan seketika ruangan itupun mendadak membekukan siapa saja yang bernafas disana.
Hay man temannnya akuh🧡.. Semoga kita semua sehat selalu💖..
Semoga semua terhibur💗.. Mari saling berperan didunia yang aku ciptakan❣️
Pengen.. Pengeen banget seperti sebelah sebelah rajiiin kalii up-nya. tapi apalah daya akuhnyaa. Tenangnya pas malem ajah💗 Maaf ya kita jumpanya tak beraturan😇
__ADS_1
Jangan lupa like vote coment yaahh💖💖💖
Salam Hangatt 🧡 Putri Andini 🧡