MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU

MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU
6. PERPISAHAN SEKOLAH - Konflik I


__ADS_3

Pernah menjadi satu-satunya bukan berarti menetap dan menjadi segalanya. Waktu tiada satupun yang tau apa rahasia dan penawarnya. Dan tentang rindu telah sampai dibatasnya dan tentang kamu aku menyerah dan memungkiri semua. Tak semudah mengenal aku butuh kekuatan tambahan agar terbebas dari belenggu ini jadi tolong jangan lagi kembali.


-Putri ANdini-


Sesuai dengan tebakannya Jenni, Riko memang berada dikelas atas diteras bagian ujung atap menghadap musholla sekolah, dari jarak ujung ke ujung parfume maskulinnya gampang dikenali dan Jennipun langsung mengahampiri Riko disana.


“Honey aku merindukanmu" ucapnya manja. Riko pun tersenyum semenawan mungkin membalas ucapan Jenni bukannya kita jumpa baru pagi tadi?


Tuh kan kamu memang tidak peka tuduhnya manja mengomeli Riko. Dia hanya tertawa tidak jelas menanggapi sikap kekasihnya tersebut.


Tapi berbeda dengan Alisia dia melihat ada teman teman Riko bahkan selain Wanda yang juga ikut dan memandanginya tanpa henti dan itu membuat Alisia sangat risih.


Dia mengahampiri Jenni dan beniat untuk pergi duluan kedepan karna sekalian menjadi panitia ditakut nantinya ada masalah urgent dan ia tidak disana.


“Jen aku duluan ya takutnya nanti yang lain malah mencariku”. Jenni menoleh dan mengangguk nanti aku akan mengabarimu ya Ca dimana pastinya kami berdiri karna disini juga agak jauh dari tempat acara imbuh Jenni langsung. “ok tutur Alisia sekalian pamit dan tersenyum sekedarnya kepada Wanda dan teman Riko yang lain, dan ingat Jen jangan kemana mana nanti giliranmu jangan sampai terlewatkan ucapnya sisnis. Jenni hanya mengangguk cepat tanpa jawaban.


Alisia bergegas meninggalkan sahabatnya dan yang lain. Jarak yang tidak jauh membuat Jenni tidak enggan melepaskannya kembali sendirian ketempat acara.


Alisia sedang sibuk dengan kertas kertas puisi yang dari tadi digenggamnya. Sambil berjalan menikmati langkahnya dia berusaha meyakinkan hatinya bahwa semua akan lancar dan kerja kerasnya berlatih akan membuahkan hasil yang maksimal.


Dengan langkah pasti dia ingin mencari tempat nyaman agar bisa memproklamasikan kembali puisi hapalannya tanpa ada yang mengganggunya.

__ADS_1


Dan pilihannya jatuh pada ruang yang sedikit terbuka tepatnya kelas XII IPA I yang kebetulan berjarak agak kebelakang dengan tempat acara perpisahan diadakan dan juga itu adalah kelasnya sendiri. Jadi Alisia langsung masuk tanpa rasa enggan sedikitpun.


Dengan keyakinan yang maksimal dia mengawali untuk membaca ulang puisinya. “Derai-derai Cemara” judul pas dengan suaranya yang kas sepelan mungkin cukup telinganya saja yang mendengar bagaimana intonasi mengiringinya, sebab dia takut nanti ada orang lain yang mendengar dan mengejeknya, tapi ketika akan melanjutkan, tiba-tiba dia mendengar suara kursi bergeser dari sebelah ruangannya.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, setengah nyawa hampir terbang dia terkejut membelalak. “siapa itu? Apa yang mereka lakukan disini dan siapa itu? Eh ERNA haaa apa yang mereka lakukan disini. Uwaaahhh apa apaan mereka??? Gumamnya tak habis pikir.


Alisia dengan kesadaran yang tinggal setengah berusaha berlari meninggalkan kelas tersebut. Dia tidak percaya dengan apa yang disaksikannya.


Dan apa yang selanjutnya terjadipun dia berusaha untuk tidak akan mengingatnya serinci apapun pikirannya mengulang semua memori beberapa menit lalu.


ERNA WIJAYA. Gadis satu angkatan dan salah satu siswi satu jurusan Alisia. Siapa yang tidak mengenalnya, menjadi anak salah satu pemilik property ternama membuatnya rajin mengoleksi barang barang bermerk yang selalu melekat ditubuhnya.


Mempunyai anggota teman dekat yang terdiri dari tiga orang lagi. Dan biasanya mereka selalu berempat kemanapun anak Wijaya tersebut melangkah.


Dan yang paling penting dalam ingatan Alisia adalah siapa yang sedang bermesraan dengan teman yang dia kenal tersebut. Dia mengenalinya, dan bahkan sangat sangat dengan baik mengetahui itu siapa.


Semua pikiran yang telah lambat dia kubur berjuang mati matian sendirian tersiksa dan bahkan pernah menangis sejadi jadinya, kembali berputar hangat dipikirannya.


Kenapa semua kembali menghampirinya, dan kenapa harus dengan cara seperti ini? Dia berkesah dengan hatinya dan berimbas pada kertas yang terseok seok ikut mengiringi lari kecilnya.


Reyhan Kusuma tepatnya sicinta pertama yang dulu selalu ada. Menurut Alisia dulu itu adalah wujud laki laki yang paling sempurna paling mengerti paling baik dan selalu memperhatikan hingga setiap perhatian kecil yang dia terima dia jabarkan dan berakhir menjadi perasaan dan terjebak menjadi sebelah tangan tak tersambut lebih jelasnya, bahkan sebelum memulai.

__ADS_1


Begitulah rasa tumbuh tanpa disadari dan saat akan menyadari situjuan tersebut langsung memberi batas dan Alisia tak mampu melewati ataupun menghadang sekuat apapun kekuatannya untuk mencegah.


Untuk tak terikat tak tersentuh tertutup rapat, hati dan perasaannya tidak mau bekerja sama sekeras apapun dia mencoba.


Dan kejutan setelah dua tahun lamanya tak berjumpa ataupun berkomunikasi cukup untuk menggemparkan hati dan pikirannya.


Dan satu jawaban yang pasti dia temukan bahwa cinta pertamanya telah berubah menjauh dan tak tergapai. “Aku tetap sakit sendirian” gumamnya tertahan. Bekerjasamalah hati kali ini saja ucapnya meyakinkan diri. Semua pasti berlalu apapun itu.


Alisia kembali ketempat acara dan melihat Jenni yang berada ditengah lapangan sedang membawakan salah satu nyayian dengan grup paduan suaranya.


Selang beberapa menit dari itu namanya dan teman teman yang ikut berpartisipasi dipanggil untuk mempersiapkan diri tampil dalam puisi khusus yang merupakan salah satu acara inti karna merupakan pilihan untuk mewakili jurusannya sendiri pas setelah paduan suara ini berakhir.


Selanjutnya perwakilan dan drama puisi yang akan dibawakan oleh kakak kelas kita dari masing-masing jurusan kepada mereka dipersilahkan ucap MC lugas, alisia yang sempat menemui Jenni berusaha untuk menenangkan semua yang bergejolak dihatinya dan dengan erat menggenggam tangan Jenni.


“Jen apapun yang terjadi tolong tetap menjadi sahabat ku ya, aku gugup” “aku akan membuangmu jika ini mengecewakan” jawabnya sarkas, dan Alisia hanya tersenyum berusaha cerah seakan tak terjadi apapun.


“Itu mustahil” sambutnya meninggalkan Jenni menuju podium pentas. “fighting” ucap Jenni menyemangti sahabatnya dan Alisia tersenyum menawan.


Tanpa alisia sadari ada sepasang mata yang selalu memperhatikan gerak geriknya sekecil apapun itu, sambil bergumam aku menemukanmu dia tertawa sumbang.


💫Hayyy man teman kita berjumpa lagi ya.. semoga siapapun terhibur dan ikut terseret didalam dunia yang aku ciptakan.💫

__ADS_1


❣️Salam hangat Putri Andini❣️


__ADS_2