MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU

MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU
22. AKU MENDAPATKANMU


__ADS_3

Bahkan keujung dunia sekalipun jika takdir itu ada kamu tak akan mampu berpaling sekalipun ingin, apa yang aku genggam tak terkecuali harus aku tuannya. Kamu maupun duniamu.


_Ardan_


Sampailah Alisia didepan rumahnya, dan apa yang ditakutkannya ternyata terjadi papa dan mamanya telah menunggunya dengan penuh rasa cemas dan syukur yang bersamaan.


“Dari mana Ca papa dan mama dari tadi menunggumu, biasanya tidak pernah selambat ini” “apa ada yang mengganggumu” potong Roli adik Alisia menuntut.


“Tenanglah caca baik-baik saja hanya kendala kecil dan itu tidak terlalu masalah, maaf papa dan mama kedepan caca akan lebih berhati-hati” sambil melirik adiknya Alisia melangkah memasuki rumah.


“Caca kekamar dulu ya capek” dengan gaya sok imutnya. Sang papa yang mencoba mengerti hanya memandangi putri sulungnya tanpa suara dan mama menjawab “pergilah kekamarmu, bersihkan diri nanti mama akan memanggilmu untuk makan malam.


Dia ingin istirahat dan menenangkan sarafnya yang tegang, semua yang terjadi sekan melintas lebih rinci di ingatannya, dan yang paling dia benci adalah bayangan seseorang yang terus saja melingkupinya “tuan asing” yang entah kenapa tiba-tiba bisa berada disana membantunya tapi yang paling membuat merinding adalah tatapan dan ekspresinya yang tak terbaca.


Angkuh sombong dan congkak “uwaa karna tidak akan berjumpa lagi jadi aku harus melenyapkannya segera, bayang-banyang sial*n ini menghilanglah” ucap mantranya seakan mujarab.


Beberapa menit beralalu tiba-tiba mama Alisia datang kekamarnya dan mencoba megetuk pintu kamar Alisia untuk mengajaknya makan bersama “Ca, bangun makan dulu mama buat sup kesukaanmu”


Alisia yang mendengar itu langsung berlari kerah pintu. Dimeja makan semua anggota keluarganya sudah menunggu kedatangan Alisia. Tiga saudaranya yang lain dan ayah yang tak lepas memperhatikannya “kakak kenapa lama sekalai sih, mamapun tau kak Caca tak mau kenapa dipaksa ini tidak akan cukup kalau kakak juga ikutan makan” potong Roli melirik tajam Alisia.


“Sudah-sudah” lerai sang papa sebelum Alisia sempat menjawab “mari kita mulai makan bersamanya” ucap papa tersenyum. Dan mama yang mendengarnya hanya megusap lengan Roli yang kebetulan disebelahnya “ini masih banyak didapur sana” jawab mama sambil tersenyum geli. Dan mereka makan dengan penuh kekeluargaan yang hangat, berusaha membuat Alisia tidak semakin terbebani.

__ADS_1


Dan dari semua papa Alisia tau pasti ada yang disembunyikan anak sulungnya.


Pagi harinya Alisia berangkat sekolah dengan papanya, dan dengan ikatan bathin yang kuat papa Alisia bersikeras untuk beberapa hari ini dia akan mengantar dan menjemput Alisia.


“Tidak usah pa aku udah sebesar ini, malu nanti yang lain malah mengejek bilang aku anak manja. Aku akan baik-baik saja.” Tolak Alisia meyakinkan papanya.


“Turuti papa ca ini demi kebaikanmu, orangtua mana yang tetap tenang sementara anak gadisnya berusaha untuk kuat sendirian tidak mau cerita apapun papa khawatir Ca”


“Sekarang ikut papa atau tidak sama sekali biyarpun begini papa kenal dekat kepala sekolahmu. Biyar beberapa hari ini dirumah saja dulu” nasehat papa meyakinkan dengan tatapan penuh kecemasan.


Dan sontak itu mengaketkan Alisia, dia tau kalau terkurung dirumah jauh lebih menakutkan sekaligus sangat-sangat membosankan. “begini salah satu saja, mengantar atau menjemput pas pulang saja, Caca malu pa kalau antar sama jemput nggak mau salah satu aja biyar sekan-akan kebetulan gitu” sambil memasang wajah imut memohonnya.


Papanya tau anak sulungnya seperti apa, meski secantik dan se-ayu mamanya tapi mata dan hidung tetap gen darinya dan hampir semua sikap tabiat perangai dicopy habis oleh anak sulungnya. Keras kepala yang sama dan kebiasaan tidak mau membuat siapapun terbebani.


“Papaaaa…” rengek Alisia panjang. Dia merasa pulang dengan papa atau adiknya akan sama mengesalkannya.


Sepulang sekolah sangking takutnya sampai kelupaan Alisia membuat alarm pas lima menit selepas bell berbunyi dia mulai mengetik dari genggamannya “papa sayang Caca menuju rumah” dengan emogi senyum mata love, “semangat ya pa” sambil tersenyum membayangkan ekspresi papanya ketika membaca pesan darinya.


Tanpa sadar diujung langkanya yang fokus ke layar hendphone yang semakin menjauhi kerumunan siswa yang berlawanan arah sebuah tangan menariknya “aku mendapatkanmu” dengan tatapan intimidasi yang dominan dia menarik dan mendorong Alisia untuk masuk kemobilnya dan meninggalkan area sekolahnya dengan pasti.


“Ma*pus, sepertinya aku harus menggali kuburku sendiri terlebih dahulu” kata Alisia dalam hati sambil memejamkan matanya. Bahkan didalam mobilpun tanpa Alisia menoleh kesebelahnya suasana mencekam jelas sangat tercipta kental.

__ADS_1


“Apa jangan jangan dia sudah memperhatikan Alisia tanpa dia sadari” itu yang berusaha Alisia tolak dari pemikirannya atau jangan-jangan” tanpa pikir panjang Alisia berusaha mengalihkan pandangannya kesebelah kirinya.


“Tuan anda akan membawa saya kemana, kalau untuk balas budi kemaren saya mau menggantinya sepadan” dengan takut-takut Alisia berusaha mengeratkan genggaman pada handphonenya untuk menguatkan bathinnya.


Sambil melirik jalan yang dia takutkan akan seperti tujuannya dia kembali mengucapkan pemikirannya “tapi kalau dibayar dengan makan direstoran mahal saya tidak bisa, saya hanya anak SMA yang belum punya penghasilan” dengan tetap menunduk dia melanjutkan kalimatnya.


“Dan kalau dengan menjual ginjal saya, itu bukan keputusan bagus. Saya juga belum cukup umur untuk itu.” Ardan tanpa sengaja menoleh kepada gadis yang tetap menunduk menghadap padanya dia tersenyum sekilas “gadis ini ternyata boleh juga aku akan bermain-main sedikit lagi denganmu” sambil melenyapkan senyumnya yang tanpa sengaja tertangkap oleh William dari kaca depan mobilnya.


“Pilihan kedua kedengarannya boleh juga, aku rasa justru ginjal yang masih muda yang paling bagus” sontak jawaban itu membuat Alisia langsung memandanginya dengan pandanag terkejut yang bergetar takut. “Mungkin sebaiknya kita segera mencari agen yang berminat” tambah Ardan meyakinkan.


“Saya tidak sedang bercanda tuan, atau tuliskan saja semua jasa dan kerugian yang tuan rasa sepadan biayar saya tebus. Menurut saya kalau diganti dengan ginjal itu terlalu berlebihan hidup saya jauh lebih berharga” ucap Alisia sinis.


Ardan mengalihkan pandangannya “Wil maksimalkan kecepatannya” tegas Ardan.


“Baiklah gadis kecil sepertinya kita tidak punya pilihan lain” sambil meremas sebelah bahu Alisia “tunggu kejutannya” Ardan berusaha mengintimidasi dan melepaskan tangan dan pandangannya dari Alisia dia berusaha untuk tersenyum jahat.


“Putar arah” putusnya tak terbantahkan. William yang paham dengan situasi melajukan kendaraan sesuai permintaan bosnya, dan dia tau ini akan menuju kemana.


Sementara diujung jalan tanpa mereka sadari ada yang mengikuti mereka diam-diam dengan rasa ingin tau kenapa gadis yang ingin dia jumpai terlibat dengan penerus yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya juga. Alisia-nya kemana mereka akan membawanya?


07/08/2020😥

__ADS_1


huwaa...😭😭 hayy man-teman masih ingatkah dengan ku😇 maaf ya up nya luuuaaamaaa ampee lumutan🤗 welcome back.. 🤩 tolong kembali padaku 😍


Salam terhangatt kesayyangan ❣️Putri_Andini❣️


__ADS_2