
*Sekuat apapun kamu mencoba menghindar seerat apapun kamu berusaha mengalihkan jika aku pemilikmu apa yang bisa kamu perbuat selain menyerah. Aku sudah lama menantikan masa ini, dan seperti janjiku dulu jika kamu mau bebas maka berusahalah jangan terlihat lagi, tapi ini apa? Aku menemukanmu dan ini perintah bukan tawaran.
-Ardan Arditia*-
Jenni terdiam dan mencerna semuanya, dia kembali mengingat semua yang terjadi dengan sahabatnya pas dua tahun silam.
Tiba tiba MC acara kembali membuat perhatian mereka tersita habis. Selanjutnya dimohon kata sambutan dari perwakilan yayasan kita yang telah menyempatkan diri untuk hadir diantara kita semua kepada Saudara Ardan Arditia dipersilahkan.
Semua sontak menoleh langsung ke podium pentas yang mereka hias bersama. Disana silelaki penuh karismatik angkuh mempesona. Semua memperhatikannya bahkan tak lepas juga Alisia dengan segenap ketakutan yang dia miliki dia berbicara sekenanya.
“Jen sepertinya aku harus duluan balik ini tidak benar, bagaimana jika dia menemuiku lagi dan mengancam seperti dulu lagi”. Aku teringat semuanya Jen “jangan sampai berjumpa lagi, jika terlibat lagi dengannya aku akan benar benar hancur Jen”.
Alisia benar benar tak habis pikir, padahal dari keajadian lalu sibatu es tersebut telah berjanji tidak akan kembali sebelum Alisia lulus dari sekolah yang dipimpin oleh yayasan orangtuanya, tapi sesuai yang kembali mengganggu Alisia terlepas dari apapun dialah Ardan Arditia tersebut bentuk asli dari janji sebenarnya. Jadi setiap pemikiran bahkan konsep yang pernah dia setujui sebelumnya dia dari awal memang tak punya pilihan.
Seharusnya dari kejadian itu dia pindah dari sekolah ini, tapi dulu dia langsung berlalu jadi Alisia meyakini hati dan pikirannya bahwa semua kejadian itu akan berhenti cukup setelah perjanjian itu ditanda tangani.
Tapi kembali lagi kekenyataan, semua diluar perkiraan Alisia sendiri. Seenaknya bahkan dengan gaya angkuhnya Ardan kembali seakan akan kedatangannya diharapkan semua orang. Dan dari setiap ekspresi tentunya dia paling menikmati ekspresi siswa yang selalu mendominan matanya sedari awal dia tiba disana. Alisia bahkan dua tahun berlalu dia sangat hapal betul siapa namanya.
__ADS_1
Bagaikan candu bahkan sekarang Ardan semakin menginginkan Alisia, perempuan cantik dengan senyum menawan. Bagaimanapun ini pasti akan menggembirakan dan sesuai dengan target, Alisia persis seperti apa yang diharapkannya sicantik dengan hati yang baik.
“Tapi Ca apa tidak akan jadi masalah baru nantinya, seiring Jenni menahan tangannya secara bersamaan cinta pertama Alisia menghampiri mereka.
“hay semua sapa Reyhan bersorak, apa kabar” kalian selalu terlihat kompak dan terus bersama kemajuannya aggota kalian bertambah ungkapnya mengalihkan tatapan kepada Riko.
Setelah menyalami Riko Reyhan memang agak tersentak melihat keadaan Alisia, dia ingin menanyakan langsung tapi yang menggelayut ditanggannya seakan membatasinya.
Dan tanpa lupa berbasa basi dia mengenalkan Erna sebagai teman kencannya saat ini, tapi semua tentu mengenali kecuali teman teman Riko karena mereka satu angkatan. Ceritanya mereka tidak sengaja berjumpa lagi dan dari semua tuturnya Reyhan tanpa merasa bersalah dia mengungkapkan bahwa sudah dua minggu kembali kekota kelahirannya ini
Alisia yang awalnya dipenuhi dengan rasa takut tiba-tiba menoleh dan larut dalam pikiran sendiri. “Ternyata seperti ini sebetulnya cinta pertamanya, dari dulu hanya dia sendirian yang menganggap Kak Reyhannya penting tapi tidak dengan Reyhan sendiri.
Kenapa dia tak mengunjunginya terlebih dahulu kenapa dia tak mengabarinya kenapa dia tak mencarinya, tiba tiba semuanya berputar dikepala Alisia secara bersamaan. Memang betul betul semua sudah sangat jelas tiada arti tapi kenapa Alisia masih berharap agar Reyhan segera menghampirinya dan meminta maaf.
Tanpa memikirkan apa yang Alisia pikirkan Reyhan segera berlalu dan mengahampiri staff dan guru yang lain. Sebagi bagian dari tamu dari kejauhan dia memang disambut baik oleh para guru. Dan Erna yang selalu disampingnya membuat Jenni selalu saja mengomel tidak jelas dan dengan pasti menggoda Alisia.
“Begitulah kutukan cinta pertama memang tidak akan pernah berhasil dan kau salah satu korbannya” tunjuk Jenni mengarah lurus kepada Alisia. Alisia menyadari apa itu dan dengan kenyataan dia hanya membuang nafasnya pasrah “ya,ya,yak kamu memang paling benar inces” sungutnya kesal.
__ADS_1
Dan tanpa mereka sadari karna kehadiran Reyhan yang mengalihkan semua pikiran mereka, seseorang yang gagah berdiri dipodium sana telah menyelesaikan tugasnya dan menutup kata sambutannya dengan membungkukkan sedikit kepala dan kembali ketempat semula.
Alisaipun kembali teringat dan mengaduh “Jen apa yang akan terjadi”, “Jangan Alisia masih ada satu lagi acara inti, kita belum menyalami semua guru seperti tradisi biasa” Jenni seakan tau apa yang dipikirkan Alisia sendiri. Alisia mengingat dan kembali termenung, dia tidak mungkin mengedepankan egonya.
Acara ini sekali seumur hidupnya teman sahabat dan guru belum tentu dimasa depan akan dijumpainya kembali. Dan itu membuat Alisia berpikir berulang ulang. “Tapi Jen aku takut” rengeknya sambil celingak celinguk memastikan keadaan.
Selanjutnya dipersilahkan kepada semua siswa kelas XII untuk berbaris rapi sesuai dengan jurusan masing-masing, dan panggilan dari MC menyadarkan Alisia bahwa dia harus mengatasi semuanya sendirian. Kuat kuatkan dirimu Alisia gumamnya meyakinkan.
Joom Ca kita harus bergegas ini tidak akan lama dan setelah selesai kita akan langsung mengudara oke” ajak Jenni berusaha menenangkan. “Okelah semoga semua aman aman saja potong Alisia menggenggam tangan Jenni mengiringinya.
Alisia dengan antusias mengisi barisan sesuai urutan yang telah dilakukannya, dan sambil melihat kesana kemari dia tidak melihat apa yang diinginkannya lebih pasti apa yang seharusnya dia hindari. Dan dengan keadaan yang berlawanan dengan ketakutannya dia tersenyum ceria.
“Untunglah Jen hanya perasaan ku saja bisiknya, dan Jenni berusaha memastikan dan sepersekian detik dia bersorak tak terkendali.
“betulkan Ca dia tidak akan mengingatmu lagi. Mari kita nikmati acara yang tersisa sambil menari Jenni menggerakkan tubuhnya “nggak mau pulangg maunya digoyang” racaunya halus sambil sesekali tertawa dan Alisia mendoyor dahinya pelan “ampun Jen jangan disini” dan mereka tertawa bersamaan.
Disisi yang berlawanan seseorang bersamaan dengan memperhatikan Alisa dari jauh semua ternyata diluar dugaaan “selamat bersenang senang, sebentar lagi tunggu aku menjemputmu dan tak akan aku lepas lagi” sarkasnya sinis sambil berlalu meninggalkan sekolah tersebut.
__ADS_1
hayyyy man teman... jumpa lagi kita. maaf upnya nggak beraturan🙏
❣️salam hangat Putri ANdini❣️