MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU

MEMENJARAKANMU DENGAN HATIKU
26. BANGUN!!! MIMPIMU TERLALU HINA


__ADS_3

“Terpuruk sekalipun tak bisa kembali, bahkan nafas aku tidak ingin menyisakan segaris pun untukmu. Jangan berbangga hati, kamu sekalipun jadi malaikat bagi ku tetap tak lebih dari benalu. Benalu terkutuk untukku dan aku benci kenyataan ini.


_Alisia_


Sontak membuat semua yang diruangan tersebut membelalakkan mata, “Kau urus kejadian barusan, buat seolah-olah dia menyerangku kalau bisa libatkan semua yang dia sayangi buat jangan sampai ada celah dan jika rencana ini rusak kau yang aku rusak setelahnya” tutup Ardan mengalihkan pandangannya dari William.


Dan untukmu, berikan aku keterangan mengejutkan dan totalkan dengan angka yang fantastis, aku rasa aku memerlukan catatan pengeluaranku sekarang dan juga untuk semua fasilitas yang seharusnya digunakan pasien rawat inap tentu dengan ruang VVIP dan rincikan” sambil menutup matanya Ardan mengibaskan tangannya untuk mengusir sang dokter tersebut “kalau kau buat ini murahan aku jamin besok kau akan pengangguran, kirim kepadaku segera.”


Dokter yang tidak bisa berkata apa-apa lagi berusaha dengan sekuat tenaga untuk segera meninggalkan ruangan terkhusus rumah tersebut. Suasana panas dan juga nafas terputus-putus dari pandangan intimidasi penerus Arditia tersebut.


“Akan segera saya lakukan” sambil menutup pintu kamar dia melangkah pasti dan menghirup udara sebanyak-banyaknya selalu jika sudah dirumah ini suasana mencekam mendominan kuat.


William yang memperhatikan dokter tersebut tergesa-gesa meninggalkan ruang bermaksud ingin membereskan pecahan kaca dari figura yang terjatuh. Namun langkahnya terhenti seiring tatapan tajam Ardan mengarah telak kepadanya.


“Kau tunggu apa lagi, lakukan” tanpa menoleh Ardan kembali membaringkan diri. William yang mendengar hal tersebut mengerti dan langsung meninggalkan kamar tuan mudanya dengan hati-hati dia menutup pintu “Aku rasa dia juga mulai gila sekarang” gumamnya tertahan.

__ADS_1


Ardan yang ditinggal sendiri kembali mendudukkan dirinya sambil memandangi benda keramat yang dari dulu selalu mengusiknya. Sambil menyeringai tajam “Inilah sebetulnya kita bukan senyum kepalsuan tapi kehancuran bukan kehangatan tapi persis seperti ruangan ini “dingin” dan sebetulnya aku ditinggalkan bahkan jauh sebelum ini hancurkan” akui nya sendiri.


Dulu dia punya segalanya, meski tak sesegala yang sekarang tapi kehangatan selalu menyelimuti keluarganya, orangtua yang selalu memperhatikannya rusak karna kebodohan papanya sendiri. Dia lebih memilih untuk egois dan meninggalkan semua sandiwara yang berusaha ditutupi mamanya namun seberapapun bersikeras untuk mempertahankan semuanya papanya punya rencana lain dan itu bukan atas mereka lagi.


Jauh bahkan sebelum benda itu hancur semua sudah tenggelam dan perlahan meninggalkannya, mama yang telah pergi jauh dan seorang papa yang membuangnya pun luka yang selalu saja tersisa menghantui jiwanya. Seakan dikubur dalam dia tidak punya penyangga.


Tapi dia Ardan, tidak akan ada hal yang membuatnya terpuruk apalagi kenangan “tidak akan” “Alisia aku akan menjemputmu, jika keluargaku yang jadi tolak ukur untuk kau bandingkan akan aku buat keluarga baru yang pantas kau jadikan contoh tentu dengan lebih sempurna dan aku tau bagaimana caranya. Seiring senyumannya yang samar menakutkan muncul didampingi luka yang menganga ditelapak tangannya dengan darah yang menetes Ardan tertawa sumbang.


“Keluarga.. ya itu ide yang bagus, keluarga yang kita ciptakan aku dan kamu Alisia” sambil berjalan meninggalkan kamar Ardan melangkah meninggalkan semua kekacauan yang mewakili betapa pilu kenyataan yang sesungguhnya.


Gadis yang akan secepatnya menjadi wanitanya, dibawa kabur oleh orang yang sama sekali tidak ingin dia temui. Terlepas dari bagaimanapun masalalu kenapa harus terlibat dengan dia lagi. Domba berduri yang paling mengganggu.


Kukuhan Ardan yang mewakili semua kepura-puraannya, dia takut gadis kecil yang dibawa lari semakin membencinya. “Tapi itu tidak masalah bukankah benci beda tipis dengan cinta” sambil mengingat kembali senyum gadis kecilnya yang selalu muncul jika tidak dengannya Ardan sangat mengutuk keberadaannya.


“Kenapa harus dengannya kau bisa langsung percaya, padahal aku hanya ingin kau selalu berada disampingku, dulu bahkan sekarang aku tak ada bedanya hanya kamu, kamu Alisia pelindungku. Jadi saat ini aku tetapkan jangan salahkan aku jika kau tak lagi punya celah untuk kembali.”

__ADS_1


“Jauh sebelum ini, aku sudah bertekat tak akan mengusikmu, tapi semesta punya kenyataan mengembalikanmu padaku meski dengan cara tergelap sekalipun. Jika tidak denganku jangan harap orang lain bisa. Tidak Alisia kau milikku jauh sebelum kejadian itu.”


Tekad yang dulu berusaha Ardan kubur seakan mencuat kembali, bertunas meskipun dicegah sekuat apapun “Alisia-nya” secepatnya akan kembali padanya. “Milikku” kekehnya meninggalkan caruk-maruk ruangan tersebut.


Saat panggilan terhubung Ardan langsung menegaskan niatnya, “kau kirim orangmu kesana, letakkan mereka disetiap sudut yang ada dan atur serapi mungkin. Ingat Will aku tau kau tak akan mengecewakanku jadi lakukan ini dengan cantik kau paham? Tuut… sambungan terputus seketika dan dengan genggaman kuat mengepalkan tangannya “apapun bentuknya tanpa terkecuali akan aku lilit kau Alisia sampai tak berkutik, aku sangat menuggumu tentunya dan mari kita bermain rumah-rumahan sesungguhnya” sarkasnya licik.


🧡


🧡


🧡


🧡


haiiii man temannyah akuuhh🧡 welcome yach...

__ADS_1


Like, vote, and coment yaaa..💗💗


salam sayyang ❣️Putri_Andini❣️


__ADS_2