Mencari Kebahagiaan

Mencari Kebahagiaan
JANGAN LIHAT


__ADS_3

"Heh, kau menyindirku, Bi?"


"Kenyataannya begitu!" seru Bian sedikit sarkas. "Kau orang yang cukup egois Bella. Haah, semoga kau tak menyusahkanku lebih banyak ke depannya."


"Bagaimana kau menilaiku egois?"


"Hmm, kenyataannya begitu, kau mementingkan diri sendiri!" seru Bian jujur.


"Aku cuma minta tolong ambilin tas." Bella tak mau kalah


"Nah sekarang dibalik, kalau aku ke sana para wartawan itu yang akan mengejarku, andaikan mereka sudah di sana, bukankah kau menjadikan aku tumbal?”


"Setidaknya mereka tidak tahu kalau kamar yang kau tuju adalah kamarku, kan Bi? Mereka juga paling wartawan lokal Filipina." Bella masih bersikeras membuat Bian menghela napas pelan.


'Aku sudah terlanjur menolongnya, baiklah aku tuntaskan, tak perlu berdebat lagi!' pikir di hati Bian yang yakin, percuma dia menegur Bella, ga akan nyambung.


"Ya sudahlah!" setelah berpikir sejenak, Bian akhirnya datang menghampiri Bella lagi, meraih kunci yang tadi dikeluarkan dari tas Bella.


"Jangan turun sampai aku kembali, ini lantainya belum dibersihkan!” Bian tidak mau Bella menambah luka lagi, menambah kerepotannya lagi.


"Tenang aja, aku ga bodoh!"


Klek!


'Ga bodoh, cuma ga pakai otak kalau bertindak!' bisik hati Bian sambil tangannya menutup pintu kamar.


'Hah … untung saja dia setuju! Legalah aku. Egois? cih! Biar kalau aku egois kenapa? Aku ya begini sih!'


Senang terasa di dalam hati Bella, tak peduli dia sudah menyusahkan Bian. Saat itu juga mengurut dadanya dan Bella antusias menelepon manajernya


Leony: Ada kabar baik untukku?


Bella: Enak saja kau ya, minta kabar baik saja! Kau tidak tahu bagaimana pengorbananku disini mencoba merayunya sih!


(Leony tadi tak berbasa-basi, dia langsung pada inti pembicaraan juga. Ingin tahu yang didapatkan oleh Bella.)


Leony: Hasilnya gimana?


(Leony seakan tak peduli, dia strict menunggu jawaban)

__ADS_1


Bella: Bian udah setuju! Tidak sulit sih untuk mendapatkan persetujuannya, ya walaupun aku harus sedikit mengemis padanya.


(Bella mencoba tak fokus pada sikap Leony. Dia bicara memuji kehebatannya dan kini Bella sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, senyum-senyum sendiri. Bella kembali memakai selimutnya. Badannya masih sedikit demam dan tidak enak walaupun sekarang kondisinya sudah lebih baik. Tapi tetap saja Bella sebetulnya masih butuh istirahat.)


Leony: Oh syukurlah kalau begitu! Berarti kau akan membawanya ke tempat ayahmu?


Bella: Ya aku ke sana sekarang! Kau bisa terbang dari L.A, lalu menungguku di New York dan kita bisa ke tempat ayahku bareng.


Leony: Oh tidak Bella. Aku tidak mau bertemu dengan ayahmu, dia seperti Hitler! Lebih baik aku menunggu sampai semua urusanmu selesai.


Bella: Manajer macam apa kau? Semua kau serahkan padaku begitu?


Leony: Hehehe … aku sudah sibuk mengurus penggiat berita yang mengejarmu! Jadi kau uruslah urusan keluargamu. Kabari aku kalau semuanya berjalan sesuai rencana, aku akan menjemputmu!


klik


"Sial kau! tidak sama sekali mau membantuku. Makan gaji buta lah kau!"


Bella bersungut tapi dia hanya marah sebentar saja dan sudah kembali fokus pada pikirannya, apa saja yang harus dia katakan pada ayahnya dan bagaimana dia harus meyakinkan Dixon Addison yang tak akan mudah.


'Aku harus briefing dulu sama Bian!' untuk beberapa saat Bella disibukan sendiri dengan pikirannya


klek!


"Ini tas kopermu! Pakaianmu dan semua barang-barangmu sudah aku masukkan ke sini juga.”


Senang sekali Bella mendapatkan barangnya, tak butuh waktu lama untuk Bian kembali. Kurang dari setengah jam dia sudah mengurus semua perlengkapan Bella dan membawa semuanya, tanpa ada masalah.


"Ini beneran tas aku?"


"Isinya berantakan banget tadi! Aku merapikannya dulu supaya muat dan tidak harus membawa banyak jinjingan."


"Waaah, keren!" Bella pun tersenyum senang. "Kau rapi sekali merapikannya!”


'Cih! Dasar wanita berantakan! Inilah yang aku tidak suka lagi dari hubungan dengan wanita, ribet. Bagaimana mereka bisa hidup dengan semua ketidakteraturan hidup mereka ya? Sebentar tertawa lepas, kalau sudah hepi lupa pakai otak, udah salah, ga tau juga gimana harus ngeberesin selain nyusahin orang lain! Haduuuh.' Bian bergumam pelan macam itu, menyoba menyabarkan dirinya.


"Kita berangkat sekarang, Bel, kenapa koper yang udah aku rapihin di acak-acak lagi begitu?"


Bian tidak menggubris ucapan Bella tapi fokus pada permasalahan waktu

__ADS_1


"Oh, hehe, cari baju yang pas, BI!"


"Pake yang paling atas ajalah! Kan katanya udah ditungguin satu kali dua puluh empat jam sama ayahmu!" untung Bian masih bisa sabar, tapi tetap dia agak sinis. "Apa mo ketinggalan pesawat?"


"Eh, enggak, iya aku pake yang ini aja!"


Bella juga tak tahu kenapa dia keasyikan pilih baju. Ini menyebalkan untuk Bian.


"Sudah, sana siap-siap, tinggalin kopernya biar aku yang rapihin nanti!"


Tentu saja Bian lebih rapih karena memang dia dulu adalah asisten dari Ricky. Semua perlengkapan dan kebutuhan Ricky selalu saja rapi dan Bian memperhatikan ini. Dia jadi super rapi karena kagum dengan keteraturan hidup Ricky, ini melekat sampai sekarang.


"Oh iya kita berangkat sekarang! Sebentar aku ganti baju dulu, Bi.”


"Tunggu dulu!"


Bella pun diam saat mau turun kakinya.


'Ni anak, jalan ga liat mau ngelangkah ke mana!' gumam hati Bian. Hari ini memang ujian kesabaran untuknya.


"Lantainya masih banyak beling, Bel! Kamu ga pake alas kaki juga! Sini, naik ke punggungku!"


‘Gila cowok seperhatian dia nggak suka sama cewek? Ya ampun! Ah sial, sih!’


Rasanya memang sayang melihat Bian seperti itu. Dia itu perfect sekali. Tampan, macho dari segi fisiknya dia pun juga berotot, tidak ada yang kurang darinya. Bahkan sangat sempurna dengan perhatiannya ke hal-hal kecil, bagi Bella amazing sekali. Tapi orientasi rasa Bian berbeda, inilah yang membuat sangat disayangkan oleh hati Bella yang kini sudah naik ke punggung Bian tubuhnya.


'Haduh, deg-degan!' dan Bela pun menahan desiran saat intinya menempel di punggung kokoh Bian. Tangannya melingkari leher Bian juga membuat dia menekan kedua gunungnya, ini membuat Bella tak waras pikirannya. Lalu, apakah Bian merasakan yang sama?


"Nah, nanti kalau mau keluar dari kamar mandi, jangan langsung melangkah, tunggu, diam di sini!"


"Hmm!"


Itu kata-kata Bian sebelum dia sengaja menutup pintu kamar mandi. Dan apa ada getaran yang sama untuk Bian?


'Fuuh, dah ga sempet nyapu, aku siap-siap dulu aja lah! Masih harus beresin koper itu juga!'


Bian tidak punya rasa yang sama. Dia justru sibuk dengan urusannya sendiri dan menuju ke lemari pakaian untuk mengambil yang akan dibawanya. Bella saat ini berada di kamar Bian dan pria itu tadi malam tidur di sofa, karena itu selagi Bella di kamar mandi, Bian pun nge-pack barangnya dan merapikan koper berantakan Bella juga.


Klek

__ADS_1


__ADS_2