Mencari Kebahagiaan

Mencari Kebahagiaan
HARGA DIRI


__ADS_3

Bian panik!


wanita di samping Bian tadi sudah berani memegang resleting pakaian yang menutupi bagian bawah Bian. membuat lelaki itu gerogi dan memegang tangan Bella supaya tak bergerak lebih jauh.


'Ini an harga diri gue!' seru Bian di hatinya.


"kita nggak akan tahu kalau kita nggak coba, Bi!"


"Aku ga ada rasa, ga bisa, Bel!" Bian masih menahan lengan Bella.


'aduh apa-apaan wanita ini? beraninya dia melakukan ini padaku? tidak boleh!' Bian belum siap dan rasanya tidak rela kalau miliknya itu dilihat oleh orang lain apalagi wanita!


'ini cuman buat Ricky! Cuma buat kecintaan dan kesayangan gue si Ricky atau gue simpen ampe mati!'


bisik hati Bian kemudian yang berusaha untuk melarang bella lebih mendekat lagi.


"Biar aku buktiin!" tapi Bella memang sangat keras kepala. "Lagian, ini kan juga untuk menyelamatkan dirimu! Kita berdua harus cepat punya anak, Bi!" bujuk Bella


"Memangnya kau ingin hukuman mati atau masuk penjara?"


lagi-lagi wajah Bella kembali menunjukkan sikapnya yang otoriter, maklumlah anak tunggal.


"Ga bisa Bel!"


"Ga bisa kenapa? buka aja sih!" Bella jadi gemas


'sikapnya yang ngelarang begini bikin aku penasaran sih!' bisik hati Bella


"Ini nggak boleh dilihat!" apalagi Bian bersungguh-sungguh menjaganya.


"Punyamu kecil ya, Bi?" hingga Bella sampai pada kesimpulan begini.


"sembarangan aja kalau ngomong! sudah-sudah jangan ganggu!"


"iiih, Bian, coba sekarang dengerin aku!"


saat Bella bicara, tangan Bian menutup resleting dan sekitarnya. dia mengamankannya ketika Bella sedang tolak pinggang memindainya.


"Kalau itu nggak dibuka, gimana caranya aku bisa dapet anak darimu, Bi? Apa kau ingin aku jadi wanita murahan?"


"Insemi--"


"No!" Bella menolak, berat sudah Bian mencari cara lain.


"Tapi dia nggak akan bangun, Bel! biar kau berusaha untuk membangunkannya, bagaimanapun caranya, apapun yang sudah kau lakukan untuk menggangguku dan melakukan apa saja yang bisa membuatku ingin, tetap saja dia tidak akan bangun!" tegas Bian pede.


"Tapi kita belum coba yang lebih ekstrem ama dia!" bujuk Bella


"Nggak bisa!" Bian menggelengkan kepalanya


"coba dulu, deh Bi! Demi keselamatan kita berdua!" hasutan Bella, lembut.


Bella itu cukup keras kepala! larangan seperti itu tak cukup untuk membuatnya setuju!


lagi pula


"aku enggak mau karirku hancur, Bi! kau juga emang mau mati begitu aja, kan? kakekku serius loh!" seru Bella lagi mengingatkan.

__ADS_1


"Aku kadang enggak kepikiran gimana caraku mati!" lalu Bian tersenyum kecut, "Aku bahkan sudah ingin mati saat aku berpisah dengan orang yang aku cintai, Bel! Suram hidupku!"


"ya ampun di dunia enggak sekecil daun kelor kali!" tkas Bella malas melihat Bian pesimis tapi mata Bella sudah mengarah ke sesuatu.


'Peluang!' hatinya bergeming.


Sreeet


"Bel, aaah!"


di saat Bian lengah, mengangkat tangannya, Bella secepat mungkin menurunkan resletingnya


"aduh, duh! tanganku sakit, aaaw! jangan dipelintir, Bi!" padahal cuma di pegang Bian aja, cuma di genggam kencang.


"Eh maaf! sakit ga?" seru Bian di saat Bella menarik tangannya dan bergerak cepat


'sial aku kecolongan! Dia berhasil membuka pengaitnya!' seru Bian menggerutui kebodohannya.


"Kau ini, Bel! dikasih hati malah bersiasat padaku!" protes Bian bersungut.


"Hihihi, kau tidak tega bukan menyakiti wanita, Bi?"


"menyingkirlah!"


"Ga mau!" Bella tak membiarkan Bian menutupnya lagi


"Biar aku buka, Bi! dah nanggung!" Bella mencegah Bian menggenggam resletingnya.


"Aku hanya ingin membuktikannya! Lagian kita harus menyelamatkan diri kita! kau juga sudah menolongku banyak! aku mohon, aku beneran ga masalah kalau harus mengandung anakmu, harus membesarkannya!"


"Sssh, nggak mungkin Bel,"


'Dia maksa banget sih! tapi emang bener yang dia bilang aku harus mencoba membuat anak dengannya. Tapi gimana? aku nggak punya rasa! apa aku harus mengijinkannya melihat sesuatu yang cuma boleh dilihat sama Ricky?' Bian ragu.


Dasar Bian gagal move on! sungguh dia tidak bisa lupa dengan kekasihnya itu! Lagi dan lagi yang dipikirkannya hanya Ricky dan Ricky! rasanya hanya pria itu saja yang membuat dunianya bisa bolak-balik dan penuh cinta


"ayolah nggak usah mikirin kalau aku cewek, dong! Taktis gitu mikirnya, Bi! Soalnya kan aku harus punya anak di bulan ini juga! kalau nggak, nanti kita telat! nanti mereka keburu tahu!"


"Sssh!" Bian pun memijat keningnya


"tapi aku nggak yakin, Bel!"


"nggak usah dipikirin ngejelimet! coba aja dulu kataku juga!" sentak Bella


'Heran sih, kenapa aku yang ngebet sama dia ya?' Bella tak paham. dia tak menyangka bisa menanggalkan urat malunya begitu. Bella bingung, sedangkan Bian sendiri galau menentukan keputusan.


'Haruskah aku menurut padanya?'


Hati Bian resah! Bian merasa tak ingin untuk menurut pada Bella, tapi kenapa juga dia malah membiarkan Bella membuka celananya?


'Sial diriku ini!' gumam Bian di dalam hatinya yang sudah tak melarang tangan Bella menurunkan celana panjangnya


"Nggak usah dibuka yang ini, Bel!"


"Masa ga dibuka celana dalemnya sih?" Bella gagal paham. "Kalau yang ini nggak bisa dibuka nanti aku gimana cara ngisepnya, Bi?"


dag dug dag dug

__ADS_1


jantung Bian mau copot mendengar ucapan Bella dan membayangkannya. haruskah dia menyerahkan dirinya yang masih tak mungkin menyukai wanita?


'Sungguh aku sudah mempermalukan diriku sendiri memperlihatkan ini padanya!'


ini menghinakan bagi Bian. Ini sangat menjatuhkan harga dirinya. Dia tidak rela sesuatu itu dilihat oleh Bella!


Tapi


"Angkat sedikit dong belakangnya, Bi! Ini kan susah aku nariknya! pas banget lagi celananya!" protes Bella


"Ya enggak usah diangkatlah kalau enggak bisa, enggak usah dibuka!"


"Robek nih pakai gunting!" ancam Bella gemas


"Eh, jangan! ini ****** ******** kesukaan aku!" omel Bian.


"ya udah makanya cepetan buka dong, Bi!"


'Duh, kenapa aku jadi yang gak sabaran ya? ada yang salah sepertinya dengan diriku!' Bella juga tak paham. ini bukan hanya perkara anak! Bella memang berkeinginan tanpa disadarinya, ini hasrat terpendamnya.


bella pun merusuh lagi menarik-narik celana itu.


"iya bentar!" meski kesal tapi akhirnya Bian berhasil terbujuk oleh Bella.


'Jadi segitu kah ukurannya?'


mata nakal Bella pun langsung mengarah ke sana! dan begumam.


"Ehm, kondisikan matamu Bella!"


"Eh, heheh!" Bella terkekeh membuat pria itu mendengus


'Gadis ini, beneran ga da malu-malunya apah? ampun deh!'


Bian bergidik dalam hatinya. dia saja sampai saking malunya tak berani menatap miliknya sendiri.


dag dug dag dug!


malah jantung Bian makin tak terkondisikan.


"Udah puas ketawanya?"


Bian bicara saat ini dengan miliknya yang sudah terbuka dan terkena terpaan dingin AC.


"Maaf deh!" Bella mengerucutkan bibirnya, dengan ekor mata Bian yang menatap tak suka.


'Sial, harga diriku jadi terinjak-injak ini! Ah, Ky, milikmu harus di liat kucing kecentilan!' seru hati Bian rasa nano-nano.


"Udah aja lah ga usah coba!" Bian tak sanggup lagi, mau menutupnya.


tapi


"Eh, jangan dong!" Bella mulai serius.


"Maklum Bi, aku ngeliat kayak gini baru sekali! lewat mataku langsung," Bella menekankan dengan suara agak berbisik


"jadi aku kepo ukurannya kok kecil."

__ADS_1


"Yah, ga bangun soalnya! ga minat dia ama MaraBella!"


__ADS_2