
"Mungkin kau harus mencari kekasih pura-pura yang lainnya! Tidak aku, bukan aku, Bel!"
Bian memang ingin damai. Berpura-pura menjadi kekasih seorang wanita dan gadis itu model, ini ga masuk kamus Bian.
Dia menolak! Bian ingin melangkahkan kakinya pergi dengan bangga setelah menjelaskannya
Tapi
"Bian, jangan pergi! Tunggu dulu sebentar dengarkan aku! "
Bella langsung mengeluarkan kaki jenjangnya dari dalam selimut, dia loncat dari tempat tidurnya, turun tanpa memperhatikan yang diinjaknya
Sehingga
"Aaaw!"
'Ya ampun, wanita ini! Bener-bener ceroboh!' pikir Bian menahan dirinya untuk tak memaki.
'Itulah kenapa aku tidak suka dengan wanita! Mereka beda dengan Ricky, dia selalu saja rapi, tidak berantakan macam ini dan lihat gadis ini, ish! Bodohnya nggak ketulungan dan aku harus menjadi kekasih pura-puranya? Halah!’ bisik Bian. Dia meringis dalam hatinya sendiri membayangkan semua buruk tentang Bella. Bian sudah memikirkan nightmare hubungannya apabila berlanjut dengan gadis yang bertindak tanpa berpikir dulu di hadapannya.
Tapi
'Kakinya berdarah, kalau ga ditolongin kesian!' Bian punya hati. Karena itulah meski dia malas, Bian tetap menghampiri Bella
"Duduk, biar aku lihat kakimu!" ucap Bian yang sudah ada di samping Bella yang memang sedang kesakitan memegang kakinya yang terkena pecahan mangkuk.
"Ini yang dibilang senjata makan tuan! Kau yang melempar bantal sampai mangkuknya pecah, aku harus ganti rugi ke cottage dan sekarang kakimu sendiri yang luka. Kau yang berbuat salah, maka jangan pernah berpikir itu tidak akan pernah kembali padamu! Semesta tuh adil!"
"Memang aku menyuruh berceramah, Bi?”
Sambil melotot Bella protes. Bella duduk di tepi tempat tidur, dongkol melihat Bian bicara sambil mengamati lukanya yang bercucuran darah.
'Karma apa yang terjadi padaku sih? Kenapa aku harus bersama pria macam dia? Menyebalkannya, aku membutuhkannya untuk masalahku!' Bella sewot sekali melihat bagaimana Bian meresponnya tadi.
"Baiklah, jangan dengarkan yang aku katakan tadi."
Tapi pria itu hanya menjawab sekenanya, tak peduli dengan kemarahan Bella. Apa yang dikatakan Bian itu benar, tapi Bella punya hak mau mendengar atau tidak. Bian tak masalah.
“Tunggu di sini! Tadi aku belum sempat membersihkan pecahan mangkuknya karena kau ingin menelepon. Aku ambil kotak P3K dulu," ujar Bian sambil dia berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi, di mana kotak P3K berada.
"Biar aku bersihkan dulu supaya ga infeksi!" ujar Bian lagi sambil tangannya memakai sarung tangan plastik.
"Aaww! Hati-hati dong, sakit banget!"
Bella protes saat Bian menggunakan pinset mengambil beling yang ada di kakinya. Itu menimbulkan rasa nyut-nyutan.
"Lihat ini!" Bian menunjukkan potongan mangkuk di pinsetnya.
"Kalau ini tidak diambil, ini bikin infeksi!" Bian menambahkan sambil menaruh pecahan tadi di tisu.
__ADS_1
"Untung saja ukurannya besar-besar jadi tidak ada pecahan halus dalam lukanya."
Bian menambahkan. Luka itu tidak perlu dijahit hanya robek saja. Tapi tidak terlalu besar ataupun dalam robekannya. Bian membersihkannya cepat dengan membuka cairan infus dan mengguyurnya. Bian menggunakan kapas mencegah air infus membeceki lantai, entah kenapa menarik perhatian Bella.
'Duh, dia bisa sekeren itu membalut lukaku, sangat cekatan dan kenapa dengan diriku jadi bergetar? Hooh! Kau tak boleh menganggap ini romantis Bella!' Bella terbuai. Bella berusaha menyadarkan dirinya siapa Bian
"Dari mana kau belajar begini?” tanya Bella berusaha mengalihkan pikirannya dan wajahnya yang memerah.
"Oh, ini!" Mata Bian melirik Bella sebentar dan tersenyum
"Di YouTube juga banyak, Bel!"
Pria itu bicara sesuai dengan logika saja, tidak ada yang ditambah-tambahkan.
"Aku juga tahu kalau itu mah, Bi!"
"Terus ngapain nanya?"
'Kok ada ya pria kaya gini cuek? isssh!' gemas hati bella.
Sehingga
"Kau ini! Aku tidak menyangka kalau dulu aku sempat bekerja sama dengan orang sepertimu! Ya ampun, caramu bersikap, ampun deh.”
Bella kipas-kipas wajahnya, mencoba untuk menenangkan emosinya di saat yang bersamaan
"Nah, emang dulu aku gimana? Ngomong denganmu juga cuma sepatah dua patah kata, kan!" Bian benar lagi, membuat Bella membuang wajahnya saat perban sudah digulung menutupi luka Bella.
Tapi
"Kita kembali ke pembahasan yang tadi, Bian! Masalah hubungan kita."
Setelah Bella diobati oleh Bian, dia tidak mengucapkan kata terima kasih untuk lukanya. Bella nervous dan memilih berusaha fokus pada masalahnya. Bella langsung ke inti pembicaraan yang ingin dibahasnya.
"Aku sudah bilang padamu tadi, aku tidak ada minat, Bel!"
Memang Bian mengatakan yang sesuai isi hatinya. Lagi pula dia menolong Bella semalam tanpa intrik apapun. Bian juga sedang mencari ketenangan di Boracay karena urusan percintaannya yang kandas. Bian tidak mau membuat masalah apapun termasuk yang tadi itu, pura-pura menjadi kekasih Bella. Bian bukan orang yang suka ribet dengan urusan orang.
"Tapi please bantuin aku dulu dong, Bi.” Karena memang sudah tidak ada lagi alasan yang masuk akal untuk membujuk Bian, semua tawaran Bella itu mental, jadi Bella memakai jurus terakhir, memelas.
"Ini juga aku udah nolongin! Tadi malam, aku biarin kau sembunyi di sini. Terus kakimu nih aku juga udah tolongin, kan?"
“Bukan yang itu, Bi!” Bella masih merengek.
'Aku ga boleh gagal! Karirku, hidupku bisa end!' pekik hati Bella.
Sehingga
"Kau lihat aku sekarang, Bi!" Bella melanjutkan bicaranya. "Coba kalau tadi malam aku bertemu pria yang punya niat jahat padaku! Kau bisa bayangkan tidak yang terjadi tubuhku saat kepanasan? Dia pasti akan merenggut kesucianku.”
__ADS_1
"Tanpa dia merenggut kesucianmu paksa pun kau juga sudah pasti menawarkan diri sama seperti ke aku tadi malam, kan?”
'Iya juga ya? Aku yang ... aish!' bingung Bella bagaimana harus bicara dengan orang di hadapannya, selalu saja Bian benar.
"Dengar, Bel! kemarin juga kau sudah memaksaku! Aku yakin kalau kau bertemu dengan pria lain pasti sama! Ini semua karena kecerobohanmu, itu intinya!" ucap Bian lembut, menyakitkan tapi benar. Bian sudah ingin berdiri, mau menaruh kotak P3K saat Bella berpikir.
Tapi
“Bian tunggu dulu sebentar!"
Bella memaksa. Dia memegang tangan Bian
"Apalagi sih?”
Bian tak enak hati dengan yang dilakukan Bella
"Ngapain kau taruh tanganku di situ, Bel? Aku ga bakalan pengen juga!"
"Memang!" Bella menarik Bian dan menarik tangan Bian pas sekali di satu gunungnya.
"Kau nggak ada rasa kan padaku, Bi?"
Tentu saja Bian mengangguk tanpa basa basi.
"Eggak sama sekali!" ucap Bian lagi dan Bella tersenyum penuh makna.
"Kalau begitu lihatlah!"
"Melihatmu membuka baju, polosan gini, aku ga ada minat juga! Aku sudah cerita padamu kalau aku berbeda, kan!"
"Nah ini dia alasanku!" seru Bella. "Karena itu aku minta tolong padamu, Bi!"
Bella memegang tangan Bian lagi dan menariknya tepat di dadanya, tentu saja bukan gunungnya tapi di atasnya, dengan kedua tangan Bella juga menggenggam tangan itu.
"Karierku berantakan, Bi! Orang-orang menyangka kalau aku ini memiliki kelainan gara-gara semalam.
Dan yang lebih parahnya lagi ayahku, Dixon Addison, dia bukan orang sembarangan dan dia sangat malu dengan gosip ini. Dia memaksaku untuk bertunangan dan menikah dengan orang yang ngobrol aja aku ga pernah. Kalau aku menikah dengannya, ini neraka untukku!" Bella agak hiperbola dengan matanya sudah bertautan dengan Bian.
"Kau tahu bagaimana nanti nasib karierku?" lanjut Bella lagi. "Aku tidak mau menjadi pewaris bisnis! Aku hanya ingin menjalankan hidupmu sendiri, berkarir, menemukan cintaku nanti, bukan dipaksa hidup dengan orang yang tak aku cintai! Aku punya impian, BI!"
Tentu saja Bian mengerutkan dahinya.
"Ya kau bilanglah pada ayahmu gak mau. Negosiasi, Bel.”
“Dia bukan pria seperti itu, Bi! Dan tadi aku sudah terlanjur bilang kalau aku punya kekasih padanya!"
"Haaah! Kau cari gara-gara." Bian merespon setelah mendengar ucapan Bella yang memelas, masih sambil menggenggam tangan Bian, masih polosan dan seakan sudah menanggalkan urat malunya.
"Kau bilang kau punya kekasih dan kau menemui kekasihmu di Boracay?"
__ADS_1
"Kamuflase. Sorry!"