
"Apa kau lupa kalau aku seorang artis terkenal dan banyak pria mengantri menyukaiku, heh?"
"terus ngapain minta aku jadi pacar pura-puramu kalau memang banyak yang suka?"
"biar aku tetap jadi perawan Ting Ting sampai aku ketemu orang yang bikin aku klepek-klepek kek ikan ga dapet air! hehe!"
Bella masih sempat-sempat yang bercanda di saat pesawat itu juga sudah bergerak menjauh dari garbarata, pintunya juga tadi sudah ditutup dan sekarang menuju ke arah landasan pacu.
"udah sih bi, ngeliat aku jangan sini kek gitu!" bujuk Bella dengan senyumnya. "Jangan kegeeran, ish! gombal dikit aja masa nggak boleh sih?”
"Jadi menurutmu aku kegeeran?” seru Bian
"Ya mungkin aja!"
Bella mengangkat bahunya.
"Sekali lagi kau bercanda seperti itu aku tidak akan mau membantumu!”
“Hehehe maaf lah Maaf, Bi!"
"Jauh, jauh! jangan nempel tanganku!" seru Bian yang menggeser kepala Bella yang tadi bersandar di lengannya
"Pelit."
"Biarin!" tukas Bian sambil menyapu lengannya seakan-akan tadi baru saja terkena kotoran.
"kau kan lebih tua dariku, Bi. minimal anggap aku adik lah!" bujuk Bella dengan matanya mengedip-ngedip manja dan dia juga sudah menyuguhkan senyum menggoda.
Apa ini bisa berpengaruh untuk Bian?
"Ssssh!" malah membuat Bian memijat dahinya pening
"begini yang aku tidak suka kalau harus membantu orang. mana badanku jadi sakit semua lagi!" seru Bian mengomel kesal dan memijat pundaknya yang memang terasa pegal.
"Eeeh, iya lupa, mo di pijitin, Bi?"
"Enggak, ga usah juga main mata denganku!"
seru Bian sambil menyandarkan tubuhnya karena sebentar lagi pesawat take off.
"pijitanku enak loh?"
"Bell--"
"Ehehehe, maaf, canda, lagian itu aja ungkapan rasa Terima kasih aku!" Bella bicara dengan kedua tangannya memegang bagian di antara leher dan gunungnya sendiri.
"Ga perlu, aku cuma ngantuk!"
'dikasih hati minta jantung!' seru hati Bian, menjawab sebal. tadi Bella tidak seperti ini! tapi sekarang malah jadi banyak tingkah, mengganggunya dan bercanda terus! ini merepotkan untuk Bian.
"Ya udah sih, kau beristirahat saja, tadi kan sudah lelah bukan menggendongku, Bi?"
Saran yang bagus sedangkan Bian juga memang merasa pegal punggungnya
__ADS_1
"Jangan ganggu ya!"
"Enggak!" senyum centil Bella kembali terlihat dengan di bibirnya! maklum saja jarak usia mereka berbeda jauh jadi bella memang seperti anak kecil bagi Bian, memang sikapnya juga ya seperti itu.
"Awas ampe ganggu!" ancam Bian
"udah sana tidur gih! Tapi nanti aku ingin banyak bicara denganmu, hmm ... mungkin di penerbangan selanjutnya ya?"
"Tentang apa?" Bian menengok dan mencoba mencari tahu, tentu dengan kecurigaannya. biasalah Bian tidak yakin dengan Bella.
"Tentang aku, kamu dan cintah!"
"Haaaah, aku mo turun!"
"Ih, apa sih, Bi! hihihi!" Bella tergeletak tawa sambil memegang seat belt Bian.
"aku cuma canda aja kok! Lagian kita udah terbang nih! udah take off! kalau mau turun sekarang, ga bisa ganteeengkuuuh!"
"Bella awas tangannya ah! ngapain sih! geli tau ga dengernya!"
"hihihi, abis aku gemes sih, kau marah-marah terus, hehe!"
"nanti di Manila Aku nggak jadi ikut ke new York!" tegas Bian protes
Tapi
"Tu kan, tuh! nggak bisa diajak canda!" sindiran Bella dengan senyum di bibirnya.
"Maleslah!"
"Yakin?" mata Bian masih menyelidik.
'sungguh wanita ini membuat aku kehilangan kesabaran! lagi ngapain juga dia manja-manja dan ngerayu aku? udah tahu aku nggak punya feeling sama cewek! harusnya tadi aku suruh dia jalan aja ya! nggak perlu terlalu peduli!'
seru hati Bian, mulai menuduh kalau Bella memang ada rasa padanya! tapi ya dasar Bian, mana ampuh di goda begitu.
"ho-oh! beneran aku mah! makanya jangan curigaan coba, Bi!" senyum Bella sambil dia mengedipkan mata di saat lampu penggunaan sabuk pengaman sudah dimatikan.
"aku janji suwer nggak bahas macam-macam! cuma ayahku, supaya kau tau kalo ayahku tu--"
"udah ga usah di bahas! sssst, aku dah ngerti! aku mo tidur dulu!"
"Gih!"
Di situ Bian paham dia tak bertanya lagi sudah memilih untuk memejamkan matanya membiarkan Bella melakukan apapun yang dia inginkan.
'Haduh, Ky, nasib gue gini banget ya? Lo mah enak anget ma bini lo di kasur. Nah gue, ngangon bocah! salah apa gue Ky, ga bisa gue move on dari lo, dari cinta kita, gue kangen masa dimanjain ma lo!'
Bian belum tidur tapi dia sudah memikirkan masa lalunya beberapa tahun silam saat cintanya masih hangat untuknya. pedih terasa, luka itu masih menganga meski sudah ditinggalkan lama. sakit yang tak berdarah untuk Bian.
Sebuah pikiran yang mirip dengan Bella, namun beda versi.
"Fuuuh!" dan saat ini pun Bella harus menghempaskan napas pelan sambil memakai kacamatanya dan membuang wajahnya ke jendela.
__ADS_1
‘Untung saja aku tadi bisa mengelak dan aku tidak ketahuan kalau kata-kataku tadi itu sebenarnya memang dari dalam hatiku! hihi, keren ga aktingku?’
Sejujurnya melihat sikap Bian siapa sih wanita yang tidak tergoda? Begitupun Bella, dia tidak pernah mengalami hal semanis itu dari seorang pria, hingga bayangan tentang kebersamaannya tadi bersama Bian kembali hangat dalam hatinya.
'Bahkan ayahku sendiri pun tidak pernah menggendongku begitu! membuatkan aku bubur, dan memperhatikanku seperti dia, padahal katanya ayahku menyayangiku.’
Ini sih yang diingat oleh Bella. Dan dirinya masih mengingat kenangan masa kecilnya, keluarganya memang keluarganya sangat sibuk. Ayahnya selalu saja pergi untuk berbisnis dan hanya kembali untuk beberapa waktu tapi sudah kelelahan. Inilah yang membuat Bella kurang kasih sayang dari ayahnya dan semua perlakuan Bian tadi membuat dirinya merasa sangat manis.
"Ah tapi sudahlah! Apa juga yang sedang aku pikirkan, aku tidak boleh mengganggunya dan merusak rencana! Kalau nanti dia tidak mau menolongku bagaimana?"
Sekarang yang terpenting bukan perasaan tapi bagaimana Bella meyakinkan ayahnya. Karena itulah, dia tidak lagi mengganggu Bian. Saat mereka turun dari pesawat dan Bian check in ulang melapor untuk pindah pesawat sampai mereka naik pesawat selanjutnya. Bella memilih mengikuti rencana Bian. Pria itu seperti tadi, dia menggendong Bella di punggungnya.
'ini manusia Bian! tadi dia mengancamku kalau dia akan pergi dan meninggalkan aku dan tidak ikut ke new York tapi lihatlah sekarang dia care banget! ya ampuun, aku masih di gendong, duh! seneng!' bisik Bella tapi tentu saja alasan Bian menggendongnya sekarang berbeda. Saat ini Bian buru-buru kalau dia harus menunggu Bella berjalan pelan-pelan ini akan memperlambat dan mereka bisa ketinggalan pesawat.
"Haaah!"
"Kenapa kau menarik napas seperti itu, Bi? udah tenang sekarang?"
sebuah sapaan yang membuat Bian melirik sinis
"Puas kau hari ini sudah membuatku lelah?”
"Hehehe!" justru Bella malah terkekeh mendengar protes tersebut. Ya Bian memang kelelahan. Bagaimana tidak? berjalan sambil menahan beban tubuh Bella dan dia juga harus berpikir bagaimana cara paling praktis supaya mereka tak telat. Bella sih enak cuma nangkel di punggungnya.
"ketawa lagi!"
"Maaf deh, Bi! maaf, ya! apa mo aku pijit? Sini aku pijat punggungmu.”
"Eeeh, jangan pegang-pegang!" Bian mengelak dan menjauh dari Bella
"Kau tidak suka padaku kan? Kalau kau tidak suka padaku aku pegang-pegang juga harusnya tidak masalah, sih Bi.”
"Hei anak kecil jaga bicaramu!"
"Mana ada aku anak kecil aku umurnya sudah dua puluh dua tahun!”
"Tapi bagiku kau tetap anak kecil!" Bian melirik Bella, "Aku sekarang sudah tiga puluh tiga tahun. Nah usia kita beda sebelah tahun!"
"Wow kau sudah tua juga! tapi kenapa wajahmu tidak terlihat tua?”
“Kenapa? suka padaku?”
"Kalau aku suka memang kau mau menjadi pacarku?"
Kata-kata yang membuat Bian memutar bola matanya
"Memang sekarang kita tidak pacaran?"
"Sungguhan maksudku, mau yah, Bi? yah?”
"Pffh! Dalam mimpi pun tidak akan pernah!"
"Ih!"
__ADS_1
Bella pun mengerucutkan bibirnya. "coba jelasin ke aku apa sih menariknya cowok buat kamu, Bi!"