
Kemarin saat Arzan dan Rida sampai di bioskop, Rida susah sekali ditawari untuk menonton film yang ia suka. Katanya, ia tak bisa memilih karena banyak film seru yang ia suka. Setiap Arzan memilihkan, gadis itu hanya menjawab ‘terserah’ dan membuat Arzan kesal. Akhirnya, Arzan memutuskan untuk mengambil tiket film horor yang dari dulu ingin ditontonnya bersama seorang gadis.
“Ayo,” ajak Arzan.
“Nonton apa kita?” tanya Rida sambil jalan mengikuti Arzan di belakang.
“Terserah,” kata Arzan singkat sambil berjalan menuju pintu.
Dengan polosnya Rida malah menjawab, “Ha, terserah? Baru denger, itu film apaan?”
Lagi dan lagi, pertanyaan itu membuat Arzan tambah kesal. Kayaknya ini cewek polos banget, deh, batinnya.
“Kan, lo yang bilang tadi mau nonton film terserah. Udah, ikut aja. Sini dong, di samping gue. Masa lo jalan di belakang gue, udah kayak bodyguard gue aja.”
Arzan menarik tangan Rida agar gadis itu berjalan di sampingnya. Rida menurut, mereka pun jalan bersama menuju pintu masuk. Sesampainya di ruangan nomor 3, Arzan masuk dan mencari kursi dengan nomor 66 dan 67. Setelah ketemu, ia menyuruh Rida untuk duduk.
“Di pojok banget. Lo sengaja pilih kursi ini biar bisa anuin sama gue, ya?” tanya Rida dengan nada kesal.
“Enak aja. Gue gak mungkin buat unboxing lo di sini, lah,” jawab Arzan.
“Terus kenapa pilih di pojokkan kayak gini?”
“Ck! Banyak omong lo. Udah, duduk aja.” Arzan menarik tangan Rida agar duduk. Gadis itu pun menurut, kemudian duduk di sampingnya.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menunggu film itu dimulai. Rida yang sadar kalau itu film horor pun langsung memukul Arzan.
“Lo kenapa nonton film horor, sih?” katanya dengan wajah tampak ketakutan.
“Ya, kan, tadi lo bilang terserah,” kata Arzan berusaha santai. Namun, ada rasa gelisah juga. Ia takut jika Rida mengambek dan keluar dari ruangan. Sayang tiketnya, udah bayar mahal.
“Tapi gak horor juga, dong. Gue takut,” kata Rida dengan suara bergetar dan mata yang berkedip-kedip.
Tiba-tiba di layar bioskop itu muncul hantu seram dengan muka yang hancur dan darah di sekujur tubuhnya. Si Rida langsung memeluk Arzan tanpa sadar. Arzan pun membalas pelukan itu seraya menikmati pelukan hangat dari Rida.
Mubazir kalau harus disia-siain. Erat banget dia meluk, sampe gue susah buat ambil napas, batin Arzan.
“Lo kenapa, sih? Cuma film doang, kok,” kata Arzan. Ia masih memeluk Rida, lalu mengusap kepala gadis itu.
Kesempatan gue banget, ‘kan? Masa iya harus disia-siain momen kayak gini? Kapan lagi, coba? Apalagi dengan keadaan gelap gini, di pojokkan pula. Beruntung banget gue hari ini. Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? ucap Arzan dalam hati.
__ADS_1
Setelah sembilan puluh menit filmnya selesai, Arzan dan Rida keluar. Di luar mereka masih ribut hanya karena perkara film. Arzan sebenarnya sudah menawarkan pada Rida untuk membeli baju, tas, atau skincare. Sayangnya, Rida menolak. Arzan mengajak Rida untuk makan bakso, tetapi gadis itu tak mau. Diajak beli jam tangan pun, ia juga tak mau. Beli boneka juga sama. Giliran diajak makan es krim, akhirnya gadis itu mengiakan.
Itu anak kayaknya suka banget sama es krim, batin Arzan.
“Bang, cappucino dua, ya!” kata Arzan saat sampai di depan tukang es krim itu.
“Oke, siap. Tunggu, ya,” kata si Abang penjual es krim.
“Eh, enggak-enggak. Jangan cappucino, Pak. Cokelat satu, alpukat satu, sama ... ya udah, cappucino aja dua,” kata si Rida.
Arzan bingung karena Rida memesan banyak es krim, padahal hanya ada mereka berdua. “Banyak amat. Kan, kita cuma berdua.”
“Orangnya doang dua, tapi perutnya empat,” jawab Rida, membuat Arzan berpikir negatif.
“Lo hamil?” kata Arzan dengan asal.
“Enak aja kalo ngomong. Gak bisa disaring, ya? Mana ada cewek seksi kayak gue bisa hamil muda,” balas Rida dengan kesal karena pertanyaan Arzan yang tak masuk akal barusan.
“Ya gue kira lo lagi hamil. Tapi, tuh es krim kenapa lo pesen 4?” tanya Arzan.
“Terserah gue mau pesen berapa, dong. Kan, gue yang makan.”
Tidak lama kemudian, pesanan pun selesai. Rida tampak kesusahan memegang es krimnya. Ia seketika balik badan ke arah Arzan sambil menyengir, membuat firasat laki-laki itu tidak enak.
“Bantuin gue,” katanya, dengan wajah yang dijelek-jelekkan.
“Bantuin apa?” tanya Arzan, pura-pura tidak tahu.
“Bantu pegangin es krim punya gue satu. Gue cuma punya tangan dua doang, gak bisa kalau harus megang tiga es krim gini,” katanya dengan wajah yang gemas.
Kan ... udah gue duga. Nih anak pasti ngerepotin gue. Eh, tapi gak apa-apa, deh. Untung cantik, coba kalau jelek kayak si Cindy? Udah gue cuekin nih cewek. Bukannya gue mandang fisik, tapi si Cindy bikin gue jijik banget. Ilfeel gue. Beda sama cewek nih satu. Kayaknya cocok buat gue jadiin istri.
“Gimana?” tanya Rida lagi, berhasil membuyarkan lamunan Arzan.
Berhubung gue orangnya baik dan tidak sombong, ganteng, tajir pula ... ya udah, gue pasrah aja. Enggak apa-apa sementara ini jadi babunya nih cewek, batin Arzan. Ia mengiakan, membantu Rida untuk memegang es krimnya.
Mereka duduk di kursi taman yang tersedia. Menikmati es krim sambil melihat pemandangan yang indah. Namun, Arzan agak kesal karena sedari tadi Rida hanya berdeham saat ia bertanya. Arzan pun cukup kaget saat melihat wajah Rida yang penuh dengan es krim.
Astagfirullah, si Rida makan es krim kayak anak kecil banget. Berlepotan ke muka, hidung, sampe bajunya juga.
__ADS_1
“Kenapa lo lihatin gue gitu?” tanya Rida. Wajahnya yang berlepotan membuat Arzan menahan tawa saat melihatnya.
“Lo cantik, gue suka.” Arzan keceplosan, ingin rasanya ia mengilang dari bumi saat ini juga.
“Ha? Gue gak salah denger, nih?”
“Eh, maksud gue itu … lo suka sama es krimnya?” kata Arzan, berusaha mencari alasan.
“Iya, gue suka banget. Es krimnya enak. Thanks, ya,” ucap Rida sambil menjilati es krimnya dengan khidmat. Setelah habis, ia langsung mengambil es krim yang ada di tangan Arzan.
“Lo laper apa suka?” kata Arzan, berusaha bertanya dengan sopan.
“Em … gak tahu. Kayaknya, sih, dua-duanya. Laper plus suka,” jawabnya sambil terus menjilati es krimnya. “Sama kamu,” lanjutnya.
Mendengar hal itu, Arzan bingung dengan apa yang diucapkan Rida barusan. Penasaran, ia pun bertanya, “Maksud lo?”
“Iya, gue suka sama es krimnya, sama sikap lo juga yang udah mau beliin gue es krim. Gue suka.”
“Oh.”
Gue kira lo beneran suka sama gue. Kan, gue baper, batin Arzan.
Setelah menghabiskan es krim, Arzan dan Rida pulang karena waktu sudah sore. Sebelum pulang ke rumah, Arzan mengantar Rida ke supermarket untuk mengambil mobilnya di sana.
***
Malam telah tiba, Arzan sampai di rumahnya sejak pukul 17.00 WIB. Hari ini ia merasa begitu senang. Mungkin karena tadi habis jalan dengan Rida. Waktu ia tengah asyik menonton televisi, tiba-tiba ada DM Instagram masuk dari Cindy.
@cindy07: By, tadi kamu jalan sama siapa? Tadi temen aku lihat, katanya kamu jalan sama cewek.
@cindy07: By.
@cindy07: Ish! Kok, cuma di-read doang?
@cindy07: By, bales dong. Aku sedih, tahu.
Arzan begitu malas membalas DM dari Cindy, ia merasa jijik dan risi. Tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka, tetapi sikap Cindy membuat Arzan betul-betul tidak nyaman. Ia merasa geli, apalagi dengan sikap Cindy sebagai pembuat onar di sekolah dan tukang bully. Jika mereka pacaran, yang ada si Arzan malah menjadi bahan gibah para cewek-cewek.
Arzan masih tidak membalas DM dari Cindy, bahkan membacanya. Laki-laki itu lebih memilih menonton TV. Saking asyiknya menonton TV, ia sampai ketiduran di sana. Saat terbangun, dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Arzan pun bangun untuk pindah ke kamar, kemudian melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
Tbc.