Mencari Kebahagiaan

Mencari Kebahagiaan
CURI KESEMPATAN


__ADS_3

"Nikmatin aja supaya kelihatan kalau kita kekasih beneran!"


Bian baru saja mau mengomel tapi sudah mendapat bisikan seperti itu dari Bella


"Kau tahu kan kalau orang di luar negeri itu mereka yang lagi hot-hotnya pacaran, pasti kasih cup kayak gitu ke kekasihnya?"


"Ehem!"


Bian mau mengomel tapi yang keluar dari bibirnya hanya deheman macam tadi.


'Mesti sabar sabarin diri nolongin sama bocah kayak gitu? Tapi kenapa aku yang sial terus? Dia selalu saja mencuri kesempatan!' seru di hati Bian.


Namun lagi-lagi Bian terpaksa harus mengalah, dia yang sudah memutuskan untuk menolong Bella. Lalu apa sekarang memang yang bisa dilakukan olehnya?


'Hihihi, dia pasti gondok banget kan tuh sama aku? Aku pegang-pegang tangannya kayak gini merangkulnya dan aku senderan di lengannya? Tapi dia nggak bisa ngomel soalnya kan sekarang lagi ada di mobil!'


Lain Bian lain Bella, wanita itu justru memanfaatkan keadaan ini untuk bermanja-manja sedikit dan dia tidak bisa diomeli oleh Bian. Sungguh keberuntungan besar untuk Bella.


'Haduuuh, tapi kenapa juga sih Derek dia bawa mobilnya cepat-cepat banget sih? Ya jadinya aku udah sampai di rumah deh!'


Rasanya baru sebentar sekali Bella bermanja-manja dengan lengan itu, tanpa terasa setengah jam lebih sudah berlalu dan sekarang gerbang rumah orang tuanya pun sudah terlihat.


'Mudah-mudahan di rumah aku punya kesempatan lebih banyak untuk manja-manjaan sama Bian! Hahaha, pokoknya aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku!' seru hati Bella. Dia memang gemas sekali dan rasanya tidak bisa ikhlas kalau harus kehilangan sikap romantis dan perhatian Bian. karena itu, Bella tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Mau sampai kapan pegangin tanganku? Kita udah sampai di rumahmu! Lihat mobil sudah masuk gerbang!"


"Ish, belum dapet balesan yang tadi aku kasih! Kan aneh sih kalau aku ga dapet yang kayak gitu, Padahal kalau kau benar-benar suka padaku pasti kau akan memberikan itu kan? Pasti kan mesraan di mobil bukan diam kayak gini?"


Sambil berbisik tentu saja hanya bisa didengar oleh telinga Bian permintaan itu sudah diutarakan lagi oleh Bella.


"Kau, ingat perjanjian kita apa?"


"Tapi kau juga berjanji padaku untuk membantuku sampai tuntas kan?"


Lagi-lagi Bian harus merutuki kesalahannya yang sudah memberikan keputusan untuk menolong Bella. Tapi memang apa yang bisa dilakukan sekarang? Dia sudah berjanji.


CUP!


"Nggak ada satu detik! Terus kenapa cuma di dahi?"

__ADS_1


"Sudahlah masih mending segitu daripada aku pulang dan mengadu yang sebenarnya kalau--"


"Oke ga usah kasih lagi! Kita turun sekarang!"


Bella tentu takut kalau diancam dengan yang satu itu, dia pun memilih untuk menunjuk ke pintu supaya Bian membukanya dan mereka berdua bisa turun dari pintu yang sama supaya romantis.


Keluarga Bella adalah keluarga yang cukup terpandang, mereka memiliki rumah di jantung kota New York. Sebuah rumah yang cukup besar di pinggiran kota New York dengan hutan pinus di belakangnya dan sederetan rumput hijau yang mengelilinginya, tempat Dixon biasa bermain golf dan dia menjamu teman-temannya yang pecinta golf di belakang rumahnya. Sebuah rumah bercita rasa mansion yang sangat luas. Pantas disebut mewah dan untuk ukuran keluarga yang hanya memiliki anak satu memang itu terlalu besar.


Tapi itulah yang menunjukkan kebesaran dan kerajaan keluarga Bella. Tampak makin gagah dengan cat berwarna putih gading terlihat sempurna, bak istana ratu Inggris. Mungkin setiap orang menginginkan untuk tinggal di sana tapi tidak dengan Bella.


"Ayo turun!"


Kalau Bian tidak mengulurkan tangannya dan menyapa Bella wanita itu masih terpaku di kursinya merasa berat.


"Iya!" ucap di bibir Bella


Meskipun


'Sudah bertahun-tahun aku tidak kembali ke rumah ini! Ke rumah rasa penjara!'


Berbeda dengan Bella justru dia merasa tertekan dengan rumah itu, tapi melihat Bian sudah mengulurkan tangannya.


Bella tidak menyia-nyiakannya justru dia malah berucap begitu sambil mengedipkan mata. Tentu saja Ini membuat Bian tidak tahu apa isi hati wanita itu.


'Sial! anak ini pintar sekali mengambil kesempatan. Tapi apapun yang dia lakukan aku tetap tidak akan tergoda padanya! Haah, hatiku sama sekali tidak pernah jatuh hati pada wanita manapun dan lihat saja aku pasti akan membuktikan padanya, kalau memang aku tidak mencintainya! Aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Iris kupingku kalau aku sampai jatuh cinta padanya!'


Sombong? Tentu saja! Selama ini tidak pernah ada wanita yang membuat Bian tertarik, karena itu dia sangat yakin. Hatinya memang tidak akan pernah tergoda pada Bella.


"Sebaiknya daripada kau berfokus untuk meluluhkan hatiku bukankah lebih baik kau fokus pada rencanamu? Apa yang ingin kau lakukan untuk membuat ayahmu percaya?"


"Eh, itu!" Bella tadi memang lagi senang-senangnya menggoda Bian tapi pria itu mengatakan sesuatu yang membuat Bella merengut.


"Kau yakin kau bisa menolongku, kan?" Bella berbisik.


"Sssh, menjauh dariku jangan dempet-dempet begini tidak enak!"


"Jangan galak-galak padaku, kakiku kan lagi sakit!”


“Tak perlu pura-pura! Bilang saja kau ingin digendong!” seru Bian berbisik, masih di posisinya yang sama di pintu mobil yang belum ditutup dan saat ini Derek sedang keluar dan dia mengambil koper dan tas milik Bella dan Bian.

__ADS_1


"Hmm, sebenernya enggak sih, kecuali kalau kau ingin menunjukkan kemesraan kita depan ayahku.”


"Jangan berpikir vodoh!" seru Bian malas


“Tapi itu ide bagus. Bukankah dengan begitu akan terlihat kalau kita memang sepasang kekasih yang saling mencintai? Kau sangat peduli padaku sampai kau harus menggendongku.”


"Ayo kalau kau sudah bisa jalan, ayo jalan!" Bian malas sekali mendengar ucapan Bella dan tak sengaja pandangan matanya mengarah ke sesuatu.


"Jadi kau tidak mau menggendong lagi?"


Di saat Bella tidak fokus dan masih berusaha untuk membujuknya


"Bella!" Bian melirik wanita itu. "Daripada kau pikirkan masalah gendong menggendong, lihatlah di pintu yang berdiri itu ayahmu kan?”


"Eh iya, aduh!" Bella galau sangat.


'Tahu rasa dia ketahuan ayahnya! tapi kenapa dia malah memegang tanganku sangat erat begini?'


Bella ketakutan sehingga dia mencengkram Bian begitu kuat, tangannya pun juga terasa dingin di lengan Bian. Mata pria itu melirik pada Bella.


'Kasihan sekali bocah ini! Dia benar-benar membutuhkanku untuk membantunya!'


Rasa dibutuhkan tiba-tiba hinggap di dalam hati Bian. Pria itu melihat langsung bagaimana ketakutan Bella dan ini membuat dirinya tanpa disadari


Justru


"Ayo jangan khawatir! Kita temui ayahmu! semua akan baik-baik saja!"


“Huh?" Bella mendongakkan kepala dan dia melirik pada wajah Bian yang tingginya hampir dua puluh senti di atasnya.


'Tadi dia mau ngomel padaku karena aku mencari kesempatan tapi sekarang dia malah memperhatikan aku. Ya ampun! Kenapa sih yang manis gini nggak suka sama perempuan?' Bella benar-benar terpukau, dia pun sudah melangkahkan kakinya sangat pede menuju ke rumahnya dengan Bian ada di sampingnya. Pria yang berada di sana membuat hati Bella memang tadi takut.


Tapi


"Hello father, long time no see, really missed you!" ucap Bella pas sekali di depan ayahnya dia mendekat dan memeluk pria itu.


"But i think you don't have to standing here waiting me."


"Oh, aku rasa kau salah paham!" pria itu tersenyum lalu menunjuk ke arah sebuah mobil yang baru saja memasuki pelataran rumahnya

__ADS_1


"Aku mau menyambut calon menantuku di sini, Carl Burke!"


__ADS_2