
Jodoh itu bisa bertemu di mana saja dan kapan saja, jadi jangan khawatir. Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan.
***
Pagi hari telah menyapa dunia. Sinar matahari melewati celah-celah jendela, memasuki kamar seorang gadis cantik yang masih tertidur pulas. Burung-burung berkicau dengan sangat merdu dan suara kendaraan telah terdengar ramai di luar sana.
Gadis itu menguap. “Jam berapa, sih?” tanyanya kepada dirinya sendiri dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
“Non, ayo turun. Bibi udah nyiapin sarapan spesial buat Non Rida, nih!” teriak Bi Inem dari balik pintu.
“Iya, Bi, nanti. Rida mau mandi dulu,” balas Rida. Lalu, bangkit dari tempat tidur dan bergegas melakukan ritual mandinya.
Tak menghabiskan waktu lama untuk berada di kamar mandi. Rida tak membutuhkan luluran, skincare, dan segala macam yang biasanya digunakan para gadis lain. Ia juga tak betah jika harus berlama-lama di kamar mandi, bisa-bisa tubuhnya kedinginan. Setelah selesai mandi, ia pun turun dan keluar dari kamarnya menuju meja makan. Dilihatnya banyak makanan tersedia di meja makan.
Apa akan ada seorang yang datang ke rumah? batin Rida.
“Siapa yang mau ke rumah, Bi?” tanya Rida sembari menarik kursi untuk diduduki.
“Enggak ada. Memangnya siapa? Temen Non Rida?” tanya balik Bi Inem.
“Terus ... ini, kok, banyak banget makanannya?”
“Oh, itu Bibi sengaja masak banyak buat pagi, awal Non Rida kembali sama Bibi di sini. Memangnya tidak boleh, ya?” tanya Bi Inem.
“Kirain ada yang mau datang. Enggak, kok. Makasih, ya, Bi ... makin sayang, deh,” balasnya.
Waktu menunjukkan pukul 10.15 WIB, Rida pun sudah berpakaian rapi untuk berangkat ke sekolah milik papahnya. Ia sudah tidak sabar ingin melanjutkan pendidikannya di Indonesia. Maka dari itu, hari ini ia akan ke sekolah dan menemui kepala sekolah untuk mendaftarkan diri. Sesampainya di area sekolah, ia mendapat tatapan-tatapan yang sudah biasa ia dapatkan dari para kaum lelaki.
“Gila, cantik banget itu cewek.”
“Njir! Siapa, tuh? Gemoy banget.”
“Wow, bidadari surga turun ke parkiran.”
“Dih, sok cantik banget.”
“Fix, dia jodoh gue.”
“Anak baru itu kayaknya.”
__ADS_1
“Cih, masih cantik juga gue.”
Banyak kata yang dilontarkan oleh para lelaki dan perempuan yang sirik maupun mengagumi kecantikan Rida. Rida yang menyadari hal itu hanya cuek saja. Sejak dulu waktu sekolah menengah pertama pun ia juga seperti itu. Dari mulai pujian sampai hinaan sudah ia dapatkan. Jadi, kondisi seperti ini sudah tidak mengherankan baginya.
Rida berjalan di lorong sekolah menuju ruang kepala sekolah. Sepanjang jalan ia selalu mendapatkan tatapan dari orang sekitar. Setelah menemukan ruangan yang bertuliskan R. Kepala Sekolah di atas pintu tersebut, ia langsung masuk ke sana.
“Baik, Pak. Terima kasih. Jadi, mulai besok saya sudah bisa bersekolah di sini?” tanya Rida setelah lama berbincang dengan Kepala Sekolah.
“Iya, mulai besok dan seterusnya kamu sudah bisa belajar di sini dan nanti akan ada guru kamu yang mengantar untuk masuk ke kelas,” tutur Pak Kepala Sekolah, memberikan arahan.
“Baik, Pak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu, ya, Pak,” pamit Rida dengan sopan. Rida keluar dari ruangan tersebut. Kepala sekolah itu juga kembali melakukan aktivitasnya di hadapan laptop miliknya.
Saat berjalan menelusuri lorong sekolah, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang belum tersampaikan. “Astaga!” Rida menepuk jidatnya, “gue lupa. Kalau ketahuan gimana?” ucap Rida. Saat hendak berbalik, seketika ia mengurungkan niatnya untuk berbalik.
***
Kini Rida berada di parkiran, di mana mobilnya terparkir. Tak lupa pula ia mendapat tatapan dari para lelaki yang membolos pelajaran dan tengah menongkrong di parkiran tersebut untuk melakukan hal yang tidak berfaedah, merokok salah satunya. Namun, Rida tak memedulikan. Ia masuk ke mobilnya, lalu melaju keluar dari area sekolah.
Hari ini, Kota Jakarta sedang dilanda macet. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, tetapi Rida masih mengantre di tengah jalan karena macet. Hal ini membuatnya jengah karena sebelumnya ia tidak pernah terjebak macet seperti sekarang saat di Jepang. Melihat ada supermarket di pinggiran jalan, gadis itu langsung membelokkan mobilnya ke halaman supermarket tersebut. Ia keluar dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam supermarket itu, berkeliling mencari minuman dingin kesukaannya di freezer. Diambilnya sebuah botol plastik yang bertuliskan ’Fruit Tea’ di tengah kemasan botolnya.
Saat Rida hendak berjalan menuju kasir untuk membayar, ia tak melihat ada seorang pegawai supermarket yang sedang mengepel lantai. Alhasil, Rida pun tergelincir. Beruntung, ada seorang lelaki berseragam sekolah yang sigap menangkap tubuh Rida. Postur tubuh laki-laki itu sangat ideal. Kulitnya berwarna cokelat hazel, rambutnya halus dan mengembang, serta memiliki wajah tampan. Sepasang mata Rida dan milik lelaki tersebut saling bertemu. Mereka saling tatap-tatapan seperti adegan di film India.
“Hati-hati. Lantai masih basah,” kata lelaki tersebut dengan menunjukkan senyumannya. Senyuman itu pasti akan membuat para gadis yang melihatnya seketika meleleh.
Rida yang melihatnya pun terpesona. Tanpa ia sadari, pipinya memerah.
Ganteng banget, sih, ya ampun. Semoga jadi jodoh gue, bismillah, batinnya.
“Pipi lo kenapa merah?” tanya lelaki itu ketika melihat pipi milik Rida memerah.
“Ha? Masa? Enggak, kok, nggak apa-apa,” balas Rida gelisah. Lelaki itu hanya tersenyum, makin membuat Rida terpesona. Konyol sekali Rida ini.
“Boleh tahu nama lo siapa?” tanya lelaki itu seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Rida.
Rida bengong, diam sejenak ketika lelaki itu mengulurkan tangan ke hadapannya. Mimpi apa dirinya semalam, sekarang malah bertemu dengan lelaki tampan.
“Eh … Rida Agustin,” jawab Rida setelah menerima uluran tangannya.
“Lo beneran gak apa-apa, ‘kan?” tanya pria itu.
__ADS_1
“Ha? Gak, gak apa-apa. Seriusan, deh,” balas Rida dengan mengacungkan dua jarinya ke atas.
Lagi-lagi lelaki itu hanya tersenyum, makin membuat Rida terpikat akan senyumannya yang manis itu.
Jangan senyum, dong, please. Gue baper, nih. Lo harus tanggung jawab, batin Rida seraya menutup matanya. Ia sekilas membayangkan jika dirinya bermesraan dengan lelaki di hadapannya ini.
“Boleh temenan gak?” tanya lelaki itu.
Rida terlonjak kaget, lalu membuka mata dan membulatkannya. Ia mengeplak pipinya pelan. Ini bukan mimpi, ‘kan? Ganteng banget, sumpah. Kayaknya gue mimpi ini, batin Rida dengan tatapan menatap lantai.
“Hai, gimana? Boleh gak?” tanya lelaki itu, berhasil membuyarkan lamunan Rida.
“Ha? Oh, iya boleh, kok. Boleh,” balas Rida gugup. Entah kenapa ia menjadi seperti ini, padahal biasanya tidak.
“Arzan,” ucap lelaki itu, memberitahukan namanya.
***
Setelah Rida membayar minumannya, ia dan Arzan duduk di kursi halaman yang sengaja disediakan oleh pihak supermarket tersebut untuk para pelanggannya.
“Lo gak sekolah?” tanya Arzan memulai pembicaraan.
“Gue barusan daftar,” balas Rida, berusaha untuk santai.
“Maksudnya gimana? Kok, baru daftar?” tanya Arzan tak mengerti dengan apa yang Rida ucapkan barusan.
“Iya, gue baru daftar. Soalnya gue kemarin baru balik ke Indonesia,” jelas Rida.
“Oh gitu, emangnya lo dari mana?” tanya Arzan seperti seorang pengacara.
Nanya mulu, deh. Kayak Bi Inem aja, sukanya nanya-nanya, omel Rida dalam hati.
“Gue dari Jepang, udah di sana sejak lulus dari SMP. Gue ke Jepang ikut sama orang tua gue karena pekerjaan yang gak bisa ditinggalkan.” Rida menjelaskan secara rinci.
“Oh gitu, pantesan,” celetuk Arzan.
“Pantesan? Kenapa?” tanya Rida bingung dengan apa yang dikatakan Arzan barusan.
“Eh, enggak. Maksudnya itu, em … pantesan baru daftar gitu sekolahnya,” jawab Arzan beralasan. “Sorry, ya,” lanjutnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
Tbc.