
Rida merasa asing, dikepalanya masih saja terdengar ada yang memanggilnya. Bella!! Bella kembalilah.
Hal itu ia buyarkan, kala seorang pria datang mengajak berkenalan di kelas.
"Kau Rida ya?"
"Huuuumph!"
"Kenalin gue Ar, ketua osis cool. Lo sekolah dari pindahan mana, boleh gue tau?"
Rida merasa tak konsen, ia selalu saja celengak celinguk mencari siapa yang memanggilnya dengan sebutan Bella. Suara pria itu jelas, bukan didepannya saat ini. Hingga mereka berlanjut bicara semakin serius saat itu juga.
Beberapa detik kemudian, ia menjawab, “Kita temenan aja dulu, gimana? Kan, kita baru pertama kali ketemu dan baru kenal juga,” tolak Rida. Ada rasa penyesalan karena sudah menyia-nyiakan lelaki setampan itu.
“Oh, gitu ya? Ya sudah,” balas Arzan seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan harga diri yang tersisa tinggal satu persen.
“Jadi nonton gak kita?” tanya Rida.
“Oh iya, ayo!” Arzan berdiri, berusaha bersikap biasa seakan tak ada kejadian apa-apa pada dirinya.
“Nonton apa dulu?”
“Udah, ayo ikut aja.”
Mereka pun mulai beranjak dari tempat duduknya. Arzan menunjukkan salah satu motor berwarna hitam di antara motor-motor lain yang terparkir. Ia mengajak Rida untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
“Terus mobil gue gimana?”
“Lo bawa mobil?” tanya Arzan polos, padahal jawabannya sudah jelas dan terlintas di kepalanya.
“Bawa becak,” kesal Rida. “Ya bawa mobil, lah!”
“Lo maunya naik mobil terus gue yang bawa atau naik motor terus gue boncengin?” tawar Arzan memberikan pilihan.
“Kalau naik motor, mobil gue gimana?”
“Lo tenang aja, titipin aja nanti ke pihak supermarketnya.”
“Gitu, ya? Ya udah, gue naik motor lo aja. Gue udah lama banget gak pernah naik motor diboncengin, apalagi sama cowok,” kata Rida dengan cekikikan.
“Ya sudah, lo tunggu sini bentar.”
“Lo pegangan, takut jatuh,” teriak Arzan di tengah perjalanan yang suaranya terbawa angin pastinya.
“Ha?”
“Pegangan!”
“Dipanggang?”
“Iya, pegangan!”
__ADS_1
“Ha? Apa, sih?”
“Lo denger omongan gue gak, sih?” tanya Arzan setelah berhenti di tepi jalan.
“Denger,” balas Rida singkat.
“Terus kenapa gak dilakuin?”
“Dipanggang?” tanya Rida polos.
“Ha? Dipanggang?” Arzan heran dengan apa yang dikatakan Rida barusan.
“Lo, kan, tadi bilang katanya dipanggang,” kata Rida menekankan.
“Astagfirullah, telinga lo ketinggalan di mana, Neng? Tadi gue bilang lo pegangan, nanti takutnya lo jatuh dan bikin gue repot,” pekik Arzan.
“Oh, ya sorry. Tadi gue kira lo mau dipanggang,” jawabnya polos.
Arzan kembali menyalakan mesin motornya, kemudian melanjutkan perjalanannya. Seketika Rida mengeplak punggung Arzan, ia kaget lantaran Arzan melajukan motornya tanpa aba-aba.
Namun, Arzan tak menghiraukan perkataan Rida. Ia hanya fokus pada jalanan. Saat Rida melingkarkan tangannya ke pinggang Arzan, laki-laki itu tersenyum. Tiga puluh menit berlalu. Sepanjang jalan, suasana menjadi hening setelah mereka sempat berdebat sebelumnya. Kini, hanya ada suara-suara bising kendaraan yang melintas di area jalanan, memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Berhenti, lo denger ada yang manggil gue Bella ga?" tanya Rida, pada pria bernama Arzan.
"Enggak, ga ada orang juga didaerah sini. Lo kenapa sih? sakit?"
__ADS_1
Rida pun menggeleng, ia meminta pria itu kembali jalan. Meski mata dan kuping mereka ditutup nya dengan perlahan erat.
Tbc.