
"Masalah hubunganku dengan Bian!"
tidak pakai basa-basi Bella langsung menjawab cepat.
'Apa aku akan membiarkannya bicara?'
Namun hati Bian semakin kalut
'Apa aku bersalah kalau meninggalkan wanita ini?'
Ada kegalauan luar biasa di sanubari Bian.
'Apalagi dia memang tidak bersalah berinisiatif untuk membangunkan itu tadi. Ibunya yang masuk juga itu bukan salahnya, karena dia tidak tahu. Pintu tak di tutup bukan juga karena kecerobohannya, aku juga missed! Apa yang terjadi bukan sepenuhnya salah Bella! Walaupun dia memaksaku, tapi memang aku yang sudah mengatakan kalau aku akan membantunya dan itu cara kami membantu satu sama lain, harusnya!'
Sepersekian detik Bian melakukan kroscek dan mencoba mengambil keputusan dari masalah yang terus dipikirkannya saat lunch.
"Katakan!"
Berbarengan dengan perintah Dixon, dan keluarga Bella lainnya, Henry dan Safitri juga menunggu. Mereka semua menjadikan Bella pusat perhatian
Ketika
"sebenarnya aku dan Bi --"
"Bella!"
Kaget saat mendengar Bella mulai bicara, Bian langsung memegang tangan wanita disampingnya, membuat Bella terhenyak.
"Maafkan saya tuan Dixon." Bian mengambil alih pembicaraan sepersekian detik kemudian.
"Tadi saya sedikit ada keraguan dengan kemampuan saya menyelesaikan masalah perusahaan anda."
'Apa maksudnya?' hati Bella tak paham.
"Hingga Bella ingin membantu saya keluar dari masalah." Bian sudah bicara lagi saat Bella bergeming. "Bella ingin kami berpisah supaya saya tidak harus menanggung resiko besar. Tapi sekarang saya sudah siap mengemban semua kewajiban yang anda berikan."
'Huh? kenapa dia bilang begini?' Bella berdenyut kepalanya tak menyangka kalau Bian akan mengutarakan ini. Dia bahkan tak bisa berkata apapun.
"Oh, Jadi kalian sempat berdiskusi?"
"Ya, Tuan Dixon." Bian membenarkan. "Itu semua karena kekerdilan diri saya."
"Jadi sekarang kau tidak berniat untuk meninggalkan putriku?" seru Dixon mengejar.
__ADS_1
"Tidak, saya sudah mantap!"
Glek
'Apa dia bilang?'
Bella sampai tak bisa berkata-kata dia hanya menelan saliva dengan matanya tertuju pada Bian Hampir tak berkedip.
sehingga
"Bian!" Bella memanggil setelah kesadarannya kembali beberapa detik kemudian.
"Aku minta maaf sudah membuatmu sulit, sayang!" lalu Bian mengelus punggung tangan Bella dengan menyuguhkan senyum yang hampir membuat Bella lupa kalau Bian tak suka wanita.
"Aku harus mempertanggungjawabkan semuanya dan aku memang harus menunjukkan kepada keluargamu kalau aku bukan hanya ingin menumpang hidup pada kalian."
"Hahahah! Kau pria hebat! Aku kagum dengan keberanianmu! semoga kau bisa tetap teguh sampai misimu berhasil!" pujian dari Henry setelah menelan dessert-nya, justru membuat Dixon mengetatkan rahangnya.
'Ini tak akan mudah! Putriku hanya untuk menantu keluarga Burke!' bisik hati Dixon.
"Oke kalau begitu tidak ada masalah!" berbarengan dengan ucapan Dixon saat netranya mengarah pada Derex
"Silakan tuan," membuat Derek, berinisiatif menyerahkan tablet tersebut.
"Safitri, selesai makan siang jangan lupa urus pernikahan putrimu besok!" Dixon tak menimpali Bian, justru sudah memberikan perintah baru pada istrinya.
"Oh, Iya sayang!"
"Ingat Safitri, hanya pernikahan sederhana! Aku ingin dilaksanakan di kebun belakang dengan biaya tak lebih dari seribu dolar!"
"Eeh, apa?" Safitri tak menyangka. untuk keperluan rumah mereka sehari saja segitu tidak akan cukup! Tangan Bella sendiri pun sudah mengepal ketika mendengar ucapan ayahnya yang menghinakan.
"Tidak akan ada undangan, tidak ada liputan wartawan. pernikahan ini tertutup Safitri! Tidak ada yang boleh tahu tentang pernikahan ini!"
"Dixon, tapi ..." Safitri bingung
"Tak ada tapi, Safitri. Bella akan terlihat seperti wanita yang belum menikah sampai tiga bulan berlalu, aku akan menentukan keputusan selanjutnya!" tegas Dixon lagi, yang membuat Bian paham apa maksudnya.
"Jadi anda tidak akan mengumumkan apapun sebelum anda melihat saya pantas untuk menjadi suami anak Anda, bukan?"
"Ya!" wajah Dixon tegas. "tiga bulan ini adalah penentuan untukmu!" lalu mata pria itu mengarah pada putrinya. "Selama tiga bulan kalau aku menemukan bukti Kau memberikan uangmu pribadi padanya maka pernikahan kalian batal, Bella! ini juga berlaku untukmu Safitri, kau tak boleh membiayai kebutuhan putrimu! Ini aturan main yang harus kalian ikuti."
Selesai bicara, Dixon lalu berdiri dari duduknya, dengan keangkuhannya dia berlalu pergi.
__ADS_1
"Ehem, makan siang ini enak sekali! katakan pada koki Terima kasih sudah membuatkan makan siang yang lezat!"
Henry tentu mendengar semua yang tadi dikatakan oleh putranya pada Bian. tapi dia tidak merespon sikap Dixon. Justru dia dari tadi sangat menikmati makanannya dan sekarang dialah orang pertama yang menghabisi dessert siang itu, dengan senyum dan kepuasan di wajahnya. Di saat semua orang tak bicara.
"Baik akan saya sampaikan, Tuan," seru Paul yang memang selalu ada di belakang Henry.
"Baiklah untuk kalian semua selamat beraktifitas dan sampai jumpa di waktu Dinner."
"Terima kasih untuk jamuan makan siangnya. sampai jumpa nanti malam," hanya Bian yang menjawab Henry pun tersenyum dan meliriknya sebelum dia meninggalkan meja makan.
"Fuuh!" Bella hanya membuang napas pelan ketika kakeknya Sudah menjauh dan menyisakan Safitri dengan perasaannya yang getir dia menatap Bella dan Bian bergantian.
"A-aku minta maaf untuk kalian. ini sungguh di luar prediksiku, Kalau suamiku mengizinkan kalian menikah dengan memberikan syarat yang berat." Safitri mulai bisa membaca situasinya.
"Tidak ada yang salah dengan yang dilakukan oleh Tuan Dixon Addison." Bian tak menunjukkan dendam apapun. "Kalau aku memiliki anak seperti Bella dan gadisku mencintai seorang pria dari luar yang tidak jelas siapa, aku pun juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ayah Bella."
'Wah, bagaimana dia bisa bicara se-positif itu pada ibuku? Keren aktingnya!' Bella tak habis pikir! dia tidak percaya yang dilihatnya ini.
"Bian, aku rasa kita harus bicara!" tegas Bella meminta.
"Tapi kau tidak bisa bicara denganku sekarang! Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan dan kalian juga harus belanja bukan? besok pernikahan kita, sayang?" seru Bian yang tampak bersemangat
"Ish!" tapi Bella justru membuang wajahnya, dia tampak tak suka dengan keputusan ini.
"Belanja? apa yang mau dibelanjakan dengan seribu dolar? Tadi yang dikatakan oleh ayahku hanyalah kalimat yang menghinakan!"
Bella mendengus kesal, seakan tahu apa yang ada dalam benak Dixon. sama dengan Bian yang juga satu frekuensi. Tapi pria itu masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menunjukkan emosinya. Dia justru mengambil sesuatu di belakang kantong celananya
"Untuk apa kau menyerahkan itu?"
Bella tentu saja mengerutkan dahinya dan dia menolak dengan gelengan kepalanya melihat Bian mengambil sesuatu dari dompetnya. Namun beda dengan Safitri yang justru malah melihat antusias.
"Belilah sesuatu untukmu! Aku tidak mau kau menikah tanpa gaun pengantin. Aku rasa aku masih memiliki uang untuk kebutuhanmu."
"Black card, kau punya itu?"
"Ibuuuu, apa Ibu pikir Bian terlalu miskin sampai dia tidak punya uang sama sekali dan dia berusaha untuk mengejarku demi uang?"
"Ehehhe, ga gitu Bel!" wajah Safitri sampai memerah ketika mendengar ucapan Bella, dia tak enak hati.
"Sudah, belanjalah! Kau perlu pakaian untuk pernikahan kita! dan bisa kau mampir ke suatu tempat?"
"Ke mana? Kau ingin beli apa?" tanya Bella penasaran
__ADS_1
"Toko perhiasan. Carilah cincin pernikahan untukmu!"