
Bian dengan cepat menutup bagian yang terbuka. dia sempat kaget karena tadi dia memejamkan mata! Bahkan sangking tak konsen, Bian tak terlalu ngeh dengan suara ibu Bella. barulah saat Bella bicara dia tersadar.
"Maaf Bella, aku tidak melihat kalau kau ingin melakukan itu!" ibu Bella tentu saja sudah refleks membalikan badan saat bicara.
"Tadi aku hanya kaget saja mendengar apa yang dikatakan ayahmu, jadi aku--!”
"Sudahlah ibu keluar sana, kita bicara nanti!"
"Maaf sayang, lanjutkanlah kesenangan kalian!"
klek
"Aish, ibu ni!"
Bella kalau bicara dengan ibunya dengan bahasa Indonesia dia pasti menggunakan kata ibu! Tapi kalau bicara dengan orang tuanya dengan bahasa Inggris Bella biasa memanggil mom, hanya pada ayahnya saja dia formal memanggilnya father karena ini perintah kakeknya.
'Memalukan!' dan saat Bella berdesis macam itu hati Bian merutuki dirinya sendiri, wajahnya pucat pasi.
"Bi, kenapa ditutupin kita coba lagi ya.”
"Coba la- ish!" Bian menatap Bella dengan pandangan marah.
"Pffh!" dia mendengus.
"Ehm, tadi sorry Bi--" Bella ingin melanjutkan, tapi karena dia melihat pergerakan tangan Bian, dia menghentikan bicaranya
"Bi, jangan pakai celana du--"
"Minggir!"
'Duh dia marah ya?'
Bella sampai bergetar hatinya melihat wajah Bian dingin. pria itu menyingkirkan tangan Bella sebelum dia berdiri dan menarik kembali celananya.
"Bi, ta-tapi Bi, masalah anak Bi"
"Cukup Bella, singkirin tangan lo!" seru Bian tanpa senyum dan tanpa ada kelembutan diwajahnya. membuat Bella berkedip ada ketakutan di dalam hatinya yang membuatnya hanya bisa menggenggam tangan itu erat-erat.
"Gue udah nggak ada mood, jadi mending jangan lu ganggu gue!" keluar sudah aslinya Bian kalau dia sudah bicara dengan Ricky juga seperti ini pakai bahasa gue lo, Tapi saat ini bukan bicara santai! Bian beneran ga enak feeling.
"Iya, tapi Bi!” Bella masih berusaha untuk memaksakan kehendaknya
"CUKUP!" hingga ekor mata itu melihat nanar padanya sambil menyingkirkan tangan wanita di sampingnya, tak ingin Bella memegangnya.
"Udah cukup lo bikin hari gue berantakan! dan sekarang jangan ganggu gue sama kemanjaan lo, kecentilan lo, dan sikap arogan lo! Muak gue!"
__ADS_1
"Bian--"
"Kalau lo nggak bisa nyelesaiin masalah lo sendiri, jangan bawa orang lain masuk ke masalah lo!" mata itu seakan menyengat Bella memasukkan racun yang membakarnya. "Egois tau ga!"
lagi-lagi Bian menyentaknya! pria itu berjalan cepat menuju ke ruang ganti pakaian tentu saja tujuannya bukan itu
BRAAAK!
tapi sebuah pintu restroom dan kini sudah di banting Bian!
'Hhhh! Dia marah padaku?'
Bella sungguh tidak menyangka! bahkan saat ini Dia memegang jantungnya sendiri dengan tangannya yang bergetar.
'aku nggak pernah ngelihat dia marah kayak gini! apa tadi aku sudah kelewatan?'
Bella dengan kakinya yang juga bergetar akhirnya roboh di sofa. tapi dia tidak bersandar Hanya duduk memandang ke arah pintu wardrobe.
'apa yang harus aku perbuat sekarang?'
Bella bertanya pada hatinya sendiri dan jujur Dia sangat takut! Matanya berair, feeling guilty.
'Duh, apa aku terlalu memaksa dan terlalu kelewatan padanya tadi?' pertanyaan yang juga tidak bisa dijawab dengan mudah oleh Bella. Dia pun mengusap wajahnya dengan kedua tangannya
di saat yang bersamaan
"Pfffh!" Bian mengepalkan tangannya memukul beton wastafel. cukup kencang Bian melakukan itu meskipun pukulan itu tidak terdengar keluar, karena kedap suara. Hanya meninggalkan bekas merah di buku-buku tangan Bian.
"Sial!" Bian bicara lirih. "Tadi gue udah mau kunci pintu, tapi tuh cewek ngajakin gue buat ke wardrobe, buat ngobrol, sampe ke terdistraksi, sampe kaya gini!"
keluh Bian dengan pandangan matanya menyorot pada dirinya sendiri melalui refleksi cermin wastafel. terlihat getir wajah Bian sungguh dia menyesali semua yang terjadi!
'Aargh, kenapa gue lemah banget sih?' keluh Bian sambil dia menyugar rambutnya dan mengusap wajahnya.
"Ricky lu liat hidup gue! ancur-ancuran sekarang! Udah bener-bener gue tinggal di Borakay, harusnya kemarin gue nggak nolongin dia! Masalah gue banyak banget sekarang! Perusahaan bokapnya, masalah anak, gue mesti beresin masalah yang di buat anak manja itu!" Bian bersungut, lalu dia mengarahkan matanya ke arah bawah di mana Dia belum menaikkan resletingnya, tapi memang Bian sudah menaikkan celana itu.
"Gara-gara urusan anak, hari ini gue bener-bener dipermaluin! sesuatu yang memang nggak pernah mungkin bisa bangun kalau tanpa Ricky, ish! gue bego banget sampai mau ngurusin beginian?"
Ini memalukan untuk Bian. Harga dirinya, miliknya yang paling berharga harus dilihat oleh dua orang wanita ini sangat menghinakan. apalagi tadi dilihat dalam posisi off. Bian tak tahu bagaimana dia harus menjelaskan untuk dirinya sendiri tapi bayangan peristiwa barusan cukup membuatnya tak bisa berkonsentrasi.
“Ah, udahlah!"
Bian tak lagi ingin memikirkan hal itu! dia mengusap wajahnya kembali dan
"Mandi ajalah dulu!"
__ADS_1
Sudah lelah Bian tak mau lagi memikirkan masalah perasaan. dia berusaha fokus pada logikanya, memilih membasahi tubuhnya sendiri dengan air di bawah pancuran shower.
Tapi
"Ya ampun, aku harus membersihkan dia benar-benar sampe ga ada jejak sidik jarinya lagi!"
Rasanya geli banget Bian ketika melihat bagian bawahnya. Dia menggunakan sabun berkali-kali untuk membersihkannya dan logikanya tidak bisa berjalan sempurna! kejadian tadi masih terus saja mengulang dipikirannya.
Sungguh menyiksa untuk Bian
'bahkan sampai tanganku sudah keriput begini Aku masih belum bisa melupakannya dan masih merasa tubuhku kotor?' seru Bian tak habis pikir.
"'Apa aku menyerah saja ya? membiarkan dia menyelesaikan urusannya sendiri dan aku terbebas dari semua tuduhan orang tuanya? Toh aku belum menandatangani apapun dengan mereka?'
hingga saat diguyur oleh shower itu Bian yang menyugar rambutnya memikirkan sesuatu dan Sepertinya dia ingin menyerah! tak kuat lagi Dia harus melakukan sandiwara begini.
tapi
BI, TOLONG AKU!
KARIRKU, BI!
AKU GA MAU DIPAKSA NIKAH. TOLONG, BI!
kata-kata itu terngiang kembali di dalam telinganya
NGGAK BISA GITU LO ENGGAK NIKAH SAMA CEWEK PILIHAN BOKAP LO?'
Bian tak sengaja mengingat kembali bagaimana Bella memohon kepadanya! Bagaimana tangan Bella merangkulnya sangat erat dan terlihat kegugupan saat Bian menyentuhnya. Tangan itu dingin! Ketakutan Bella, Bian membandingkan dengan kondisinya dulu ketika meratap di hadapan Ricky, bagaimana dia memohon supaya tidak ditinggalkan untuk menikah.
BRRRRR!
air dari shower itu jatuh mengenai kepala Bian! membuat pria itu memejamkan matanya.
'Arrrgh, Bagaimana aku harus menyelesaikan ini semua?' tanya Bian pada dirinya sendiri. Kejadian beberapa hari yang dialaminya ini sudah sangat berat. okelah urusan perusahaan memang berat! tapi minimal Bian masih bisa mencari cara lain untuk itu! tapi untuk urusan anak? kemungkinan sangat kecil sekali mereka bisa pergi untuk inseminasi buatan tanpa ketahuan.
'Apa aku tega meninggalkannya dalam kondisi begini?'
Ada kerapuhan dalam diri Bian ketika dia mengingat Bagaimana kondisi Bella dan kembali melihat Bagaimana kondisinya dulu saat ditinggal menikah. Harapannya hancur! apalagi ketika pria itu sudah mengatakan dia mencintai istrinya!
'Heish!' Bian tak sanggup untuk memikirkannya lagi.
dan di saat Bian mengusap wajahnya
tok tok tok!
__ADS_1
"Bian, aku minta maaf udah memaksamu, ini salahku."