
Hari ini adalah hari pertama Rida masuk sekolah di Indonesia setelah kemarin mendaftarkan diri di sekolah milik papahnya. Di hari yang sama juga Arzan tampak bersemangat untuk melangkahkan kakinya ke sekolah. Tak biasanya ia bersemangat, entah apa yang membuatnya begitu bersemangat hingga masih pagi pun sudah terlihat rapi memakai seragam dengan rompi biru.
Arzan keluar dari kamar dan turun menuju bagasi mobil untuk memanaskan mesinnya. Setelah mesin mobilnya terasa sudah mulai siap untuk dibawa, tanpa sarapan ia langsung izin pada orang tuanya dengan berteriak dari bagasi. Tidak sopan, tetapi baru kali ini ia bersikap seperti itu.
“Mih, aku berangkat!” teriak Arzan.
“Masih pagi, kok, buru-buru banget. Sarapan dulu, gih! Mamih udah masak makanan kesukaan kamu,” ucap Suci, ibu Arzan.
“Aku sarapan di sekolah aja, Mih.” Arzan langsung melajukan mobilnya menuju ke sekolah.
“Astaga! Itu anak kenapa, sih? Disuruh sarapan doang susahnya minta ampun. Terus makanan sebanyak ini mau diapain?” ucap Suci bermonolog.
***
Tibanya Arzan di sekolah, tak lupa ia membuat suasana kelas menjadi riuh. Bukan Arzan namanya kalau sehari saja tidak membuat suasana kelas menjadi riuh.
“Halo, Everyone! Good morning! Apa kabar kalian semua? Kangen gue, gak? Kangenlah ya ... karena kemarin gue gak masuk,” sapa Arzan ketika memasuki kelas yang membuat orang di dalamnya merasa terganggu.
Bruk!
Sebuah tas kecil seketika melayang menuju kepala Arzan.
“Berisik banget, sih, lo!” kesal Puput—bendahara kelas yang galak.
“Sakit, woi,” ringis Arzan sembari memegang kepalanya yang sakit.
“Gue gak peduli.”
“Lagian juga, ya, terserah gue. Mau berisik atau enggak itu hak gue. Gue sekolah di sini bayar cash, udah lunas pas 15 juta sekali bayar. Emangnya lo, masih nyicil,” sindir Arzan dengan kesombongannya.
Arzan memang berasal dari keluarga kaya raya. Ayahnya seorang pebisnis sukses, pemilik apartemen di Jakarta. Sementara itu, ibunya juga seorang investor yang selalu beruntung.
“Sialan, lo! Ngajak ribut sama gue, ha?!” teriak Puput dengan nada kesal. Namun, Arzan hanya cengengesan tak berdosa.
“Kalian berdua gak ada kerjaan lain selain ribut gini, ha?!” tanya Bima si ketua kelas, “lama-lama gue coret juga kalian dari daftar absen,” lanjutnya.
“Berisik!” balas Puput dengan nada tinggi.
“Gue jual lo ke om-om, ya, Put.”
“Gak.”
Tak lama beberapa menit setelah mereka bertiga berdebat, seorang guru memasuki kelas mereka. Bu Rika, guru Matematika yang terkenal paling muda di antara guru-guru lainnya, sekaligus wali kelas di kelas XI IPS 4.
“Selamat pagi, Anak-anak!” sapa Bu Rika kepada muridnya.
“Pagi, Bu,” jawab para murid dengan serempak.
__ADS_1
“Baik, hari ini kita kedatangan siswi baru. Dia akan menjadi teman baru kalian di sini. Ibu harap kalian bisa berkawan baik dengannya,” ujar Bu Rika.
“Rida, silakan masuk,” kata Bu Rika.
Seorang gadis cantik melangkahkan kakinya masuk ke kelas, terlihat mata para buaya seperti tidak bisa berkedip saat gadis itu memasuki kelas.
“Gila, cantik banget.”
“Subhanalah, rezeki gue ini mah.”
“Wah, bidadari ada di kelas kita.”
Gadis itu tak merespons apa pun yang sempat ia dengar dan lihat di kelas itu. Ia berusaha tetap tenang, kemudian mulai memperkenalkan dirinya di depan kelas.
“Halo, semua! Kenalin, nama aku Rida Agustin. Kalian bisa panggil aku Rida,” ujar Rida memperkenalkan diri.
“Panggil sayang boleh, gak?” celetuk salah seorang siswa di kelas.
“Em ... gimana, ya?” balas Rida.
“Udah, cukup. Sekarang kamu duduk di kursi kosong itu, ya,” tutur Bu Rika, menghentikan Rida memperkenalkan dirinya. Rida pun berjalan menuju kursi kosong yang telah ditunjuk oleh Bu Rika.
“Ternyata lo daftar di sini, ya? Gak nyangka gue bisa ketemu lo lagi,” ucap seseorang yang duduk di samping Rida, siapa lagi kalau bukan Arzan.
“Iya, gue juga gak nyangka bisa ketemu lo lagi. Kemarin baru perpisahan, sekarang malah duduk bareng lagi. Dunia sempit banget, sih,” jawab Rida.
“Arzan, kenalannya ditunda dulu. Sekarang buka buku matematika halaman 136 bagian C, silakan dikerjakan. Tidak boleh ada yang menyontek ataupun pinjam tipe-x. Dan untuk kamu Rida, silakan pelajari materi pertemuan minggu lalu di halaman 127. Mengerti, semuanya?” ujar Bu Rika memberikan perintah.
“Mengerti, Bu!”
“Bagus, sekarang silakan dikerjakan. Ibu mau ada rapat dulu, jadi Ibu tinggal. Ingat ... jangan ada yang menyontek, jangan ada yang pinjam tipe-x, dan jangan ada yang keluar kelas. Dan untuk Puput, catat murid yang melanggar, nanti nilai akan Ibu kasih 0.”
Bu Rika pun pergi meninggalkan kelas XI IPS 4 setelah memberikan tugas kepada muridnya. Tak lama setelah Bu Rika keluar, semua murid berhamburan. Ada yang asyik mengobrol di pojok, main gitar, coret-coret papan tulis, tidur, nyanyi, main game, pacaran, si pintar yang mengerjakan tugas, dan masih banyak kegiatan lainnya.
“Lo hari ini mau ke mana setelah pulang sekolah?” tanya Arzan kepada Rida.
“Hm, kayaknya enggak ke mana-mana, soalnya gak tahu mau ke mana,” balas Rida.
Mereka duduk bersampingan, tetapi tidak dengan Arzan. Laki-laki itu membalikkan tubuhnya ke arah Rida, meski Rida tidak. Gadis itu tetap menghadap depan, berusaha untuk fokus belajar. Sayangnya, ia terganggu dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Arzan.
“Gimana kalo kita jalan?” ajak Arzan.
Tiba-tiba sebuah pulpen melayang ke arah kepala Arzan dan berhasil mengenai kepalanya.
“Sakit, Bego! Ngerusak suasana aja lo,” kata Arzan seraya memegangi kepalanya.
“Ya sorry. Lo ngobrol terus, ganggu konsentrasi gue,” ucap Reno yang duduk tepat di belakang Arzan.
__ADS_1
“Terserah gue, dong. Kalau lo gak mau terganggu, sana duduk bareng si Siti.”
“Males banget gue.”
“Eh, gimana? Mau gak?” tanya Arzan kembali pada Rida.
“Hm, ya fine-lah,” balas Rida, membuat Arzan girang.
Setelah beberapa menit kemudian, jam pelajaran pertama alias jam pelajaran Matematika pun habis. Jangan dipikir mereka tak mengerjakan. Di kelas mereka ada beberapa orang yang pintar, tetapi dimanfaatkan oleh orang nakal seperti Arzan. Yang tadinya asyik dengan kesibukannya, semua langsung berhamburan dan panik mencari sontekan setelah mendengar bel jam pelajaran akan berganti lima belas menit lagi.
“Buruan kumpulin sekarang! Kalau gak, gue tinggal,” teriak Puput dengan suara kerasnya.
“Eh, Mak Lampir! Bentar ngapa, gue belum selesai ini,” ucap Bima dengan nada panik.
“Lo ketua kelas ya kasih contoh yang baik ke rakyat jelata lo, dong. Jadi ketua kelas gak berguna banget,” sindir Puput.
“Berisik,” balas Bima ketus.
“Eh, Put ... emang dikumpulin? Bukannya tadi Bu Rika gak nyuruh kita buat ngumpulin, ya?” tanya Riska dari arah belakang Puput.
“Lah, iya ya? Gak dikumpulin, dong?” balasnya
“Woi, kayaknya gak dikumpulin! Soalnya tadi, kan, Bu Rika gak nyuruh kita buat ngumpulin. Sekarang ambil lagi, nih, buku punya kalian,” teriak Puput.
“Lah, Mak Lampir! Buang-buang waktu gue doang,” kesal Raven.
Semua murid pun kembali mengambil bukunya yang sudah dikumpulkan di meja Puput.
“Terus kita ngapain?” tanya salah seorang siswa.
“Tiduran enak, deh,” balas Bima.
“Nah, gue setuju banget. Mari kita tidur!” seru Raven.
“Belajar, woi! Kan, habis ini ada pelajaran Sejarah,” ujar Puput.
“Enggak, sejarah hari ini free. Tadi Bu Mia chat gue di Line, katanya dia gak bisa masuk,” ujar Bima sang ketua kelas.
“Seriusan, lo?” tanya Raven meyakinkan.
“Iya, dong.”
Brak!
“Pojok-pojok, tangannya di atas!” teriak Raven, lalu bernyanyi dan naik ke atas meja.
Semua murid pun berhamburan, merasa bahagia. Ada yang ikut konser dengan Raven, ada pula yang kembali mengobrol, dan main gitar. Berbeda dengan Arzan, yang biasanya tidur malah sekarang asyik mengobrol dengan Rida. Meski semua murid sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka begitu bahagia seperti terbebas dari jajahan Belanda. Ya, mereka semua merdeka dan bahagia.
__ADS_1
Tbc.