
Bian, dan kelaurga Bella mencari keberadaanya. Sejak dinyatakan hilang, aksi kecelakaan tak banyak diketahui. Entah mengapa Bella bak hilang ditelan bumi.
Hingga waktu telah berjalan selama satu tahun tujuh bulan. Bian tetap mencari bella, meski akhirnya ia pupus. Mobilnya pun melewati keberadaan rumah unik, yakni dimana Bella menjadi Rida. Ia gadis yang dicari, selama ini Bella amnesia dan berada dalam keluarga hangat, hanya karena suatu masalah ia harus dinamakan menjadi Rida dan menyembunyikan identitasnya.
**Seosan 2 ( Bella menjadi Rida** )
Keesokan hari di sebuah bangunan kokoh dengan cat berwarna putih, terlihat seorang gadis cantik menginjakkan kakinya di anak tangga dari atas.
“Mah, aku udah siap,” teriak gadis itu. Rida turun dari tangga membawa koper.
“Kamu yakin, hm?” tanya Silvia.
“Yakin, Mah. Kan, Rida udah besar. Pasti Rida bakal jaga diri baik-baik di sana,” ucap Rida saat berada di hadapan mamahnya, berusaha meyakinkan.
“Tapi—”
“Mah ... percaya, deh, sama Rida. Rida bakalan baik-baik saja di sana,” katanya seraya memeluk erat. Mamahnya pasrah, ia mengembuskan napasnya dan hanya bisa berdoa untuk anak bungsunya yang akan tinggal di Indonesia dan melanjutkan pendidikan SMA-nya.
“Ya sudah, Mah. Yuk, nanti takut telat,” ajak Rida. Silvia hanya tersenyum dan mengikuti saja ajakan anaknya.
“Bang, buruan! Entar ketinggalan pesawat,” teriak Rida dari ruang keluarga agar terdengar sampai kamar kakaknya tersayang.
“Iya, adik yang cantik dan bawel. Abang udah siap, nih,” balas Rangga, kakak tersayang yang Rida punya. Rangga melangkahkan kakinya di anak tangga dan keluar dari kamar menuju ruang keluarga.
Setelah sampai di ruang keluarga, mereka pun keluar menuju bandara internasional untuk mengantar Rida.
“Kamu jaga kesehatan, ya, di sana. Mamah gak mau denger kabar kalau kamu sakit. Jangan makan makanan yang gak sehat. Jaga pola tidur, rajin mandi, dan—”
“Mah, emang aku jarang mandi gitu?” sergah Rida, memotong pembicaraan mamanya.
Silvia hanya tersenyum hingga pecah sudah tawanya.
“Aku bakalan inget kata-kata Mamah, kok. Semoga pekerjaan Mamah di sini juga cepat selesai dan kita bisa tinggal bareng di Indonesia,” ucap Rida.
“Nanti kalau Abang gak sibuk, Abang akan nemenin kamu di Indo. Nanti Abang akan ke Indo kalau udah libur semester,” kata Rangga, yang membuat Rida bahagia. Rida pun memeluk Rangga dengan sangat erat hingga ia tak mau melepaskannya.
“Kamu jaga diri baik-baik. Abang bakalan kangen banget sama kamu. Rida yang selalu merepotkan, Rida yang selalu membuat abangnya susah, Rida yang selalu—”
“Rida Agustin yang cantik, imut, baik, kalem, dan tidak sombong,” sosor Rida, sekali lagi memotong pembicaraan orang. Tak sopan, tetapi itulah dirinya.
Rangga yang tak kuat melihat tingkah adiknya pun refleks mencubit pipi gemas milik sang adik.
__ADS_1
“Aw ... sakit, Bang! Kok, dicubit, sih?” ringis Rida seperti anak kecil, kemudian memanyunkan bibirnya.
“Suruh siapa gemesin?”
“Su—”
“Udah belum? Pesawatnya mau terbang, tuh,” cibir Renda—ayah Rida. Sedari tadi, Rida dan Rangga tidak mau melepaskan pelukannya hingga lupa kalau waktu tetaplah berjalan.
“Ah, Papah. Papah nanti jenguk aku di Indo juga, ya,” kata Rida dan menubruk tubuh Renda hingga Renda tersungkur ke belakang.
“Pasti itu, mah. Kamu nanti jangan nakal di sana. Jangan cari sugar daddy,” goda Renda asal seraya mengurai lembut rambut Rida.
“Ah, sugar daddy gak enak. Rida mau cari berondong aja,” balasnya dalam pelukan.
“Udah, sana masuk. Nanti ketinggalan tahu rasa kamu,” perintah Renda.
“Oke. Pah, Mah, Bang ... Rida berangkat, ya. Bye!” Rida berjalan memasuki pesawat sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah keluarganya.
“Hati-hati, nanti kalau sudah sampai kabari Abang,” teriak Rangga.
“Iya, Bang, pasti. I miss you, Bang, Mamah, Papah. Rida berangkat dulu.”
Setelah sampai di Indonesia dan rumah lamanya, Rida pun menyapa kamarnya yang tak mengalami perubahan sama sekali. Bi Inem memang asisten rumah tangga andalan Rida sejak dulu.
“Kangen banget sama kalian ... bantal, guling, kursi, jendela, pintu, kasur, selimut. Apa lagi, ya? Udahlah, pokoknya aku kangen banget sama kalian, wahai para penghuni kamar,” sapa Rida kepada benda-benda mati yang berada di sekitarnya.
“Non, mau makan dulu gak?” tanya Bi Inem.
“Pake apa, Bi?”
“Petai, dong. Bibi masih ingat, meskipun udah tua juga,” seru Bi Inem.
“Serius, Bi? Aaaaaaa … mana, Bi? Ya ampun, Rida kangen banget sama Petai masakan Bi Inem,” seru Rida girang, kemudian berjalan menuju dapur bersama Bi Inem.
Gadis itu memang suka makan Petai. Mukanya aja yang cantik, mulutnya bau. Namun, kalau rajin sikat gigi, tak masalah. Walaupun suka Petai ataupun petai, yang penting wangi. Seperti halnya Rida, ia selalu rajin merawat gigi dan bau mulutnya.
“Ya ampun, Petai! Di Jepang, tuh, aku jarang lihat kamu,” girang Rida ketika melihat banyak sekali Petai di meja makan.
Sambil menyantap masakan Bi Inem, mereka mengobrol tentang kehidupan Rida selama di Jepang. Mulai dari berangkat hingga kembali lagi ke Indonesia. Bi Inem sudah seperti seorang pengacara saja.
“Di sana siapa nama pacarnya, Non? Kim Ja Mal?” tanya Bi Inem menggoda.
__ADS_1
Uhuk … uhuk ….
“Air mana, air?” Rida seketika tersedak setelah mendapat pertanyaan dari Bi Inem.
“Air, air, air ... mana air, mana? Eh, astagfirullah ... ini, nih,” ucap Bi Inem dengan lidah latahnya.
“Ah, Bibi. Hampir saja mati,” kata Rida setelah meneguk minumnya habis.
“Memangnya kenapa, Non? Gak boleh, ya, Bibi nanya tentang itu?” tanya Bi Inem dengan memasang wajah cemberutnya.
“Bukan gitu, Rida di sana gak punya pacar,” balas Rida cemberut.
“Ah, masa?” Bi Inem tak percaya.
“Iya, Bi.”
“Ah, Bibi gak percaya. Orang secantik ini masa jomblo, sih? Itu mata orang Jepang pada kecolok, apa?” ejek Bi Inem.
“Tau ah, Bi. Gelap. Rida mau mandi dulu, bau kambing. Dari kemarin belum mandi,” ucap Rida dan berlari kecil menuju kamar mandi untuk melakukan ritualnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 WIB, kini Rida sedang berada di atas kasurnya yang berwarna kuning sambil memikirkan hal yang tak perlu ia pikirkan. Kuning adalah warna kesukaannya.
“Besok sekolah di sekolahan punyanya Papah, berarti … nanti aku bakalan susah dapet temen di sana karena orang-orang pada gengsi sama aku. Apa lebih baik aku menyamar jadi murid biasa aja, ya?” Rida bermonolog seraya menatap langit-langit kamarnya.
“Tapi … gimana? Nyamar jadi apa? Kayak gimana?” pikirnya.
Drtttt! Drtttt! Drtttt!
Ponsel milik Rida yang berada di atas laci seketika bergetar, pertanda ada seseorang yang menelepon dirinya. Rida bangkit, lalu mengambil ponselnya untuk menerima panggilan tersebut.
“Halo?” sapa Rida .
“I see you …,” balas suara dari seberang sana, seperti seseorang yang sedang meneror Rida.
“Si–siapa?”
“Kamu tidak perlu tahu aku siapa. Aku di sini melihatmu,” jawab orang tersebut dengan tawa jahatnya.
“Ck, stres.” Rida langsung mematikan sambungan ponselnya secara sepihak.
Tbc.
__ADS_1