
Bian sungguh tidak percaya dengan yang baru saja dia dengar di depan restroom.
"Si anak manja itu serius kah?"
suara Bella barusan masih terngiang di telinga Bian dan dia masih bertanya pada dirinya sendiri, tak yakin!
"Dia tidak sedang minum lagi, kan?"
Inginnya sih Bian keluar tapi Bian masih ragu!
Hingga
tok tok tok
"Huh, apa yang harus aku lakukan?"
dari tadi Bian memang menginginkan pergi dari rumah itu! dia ingin mengakhiri semua permasalahannya dengan Bella. Tapi saat ini ketika telinganya mendengar sendiri apa keinginan wanita di luar pintu kamar mandi, kenapa bisa timbul keraguan di hatinya?
"dan kenapa aku jadi tidak enak? Bukankah ini sebuah keuntungan untukku andaikan dia serius?"
seru hati Bian meneguhkan keinginannya.
"Bi, buka pintunya! Aku serius, Bi! aku nggak bohong, nanti di jam makan siang aku akan menjelaskan kalau ini semua hanyalah keegoisan dan kesalahanku yang menyeretmu dan aku akan meminta mereka melepaskanmu, aku janji, Bi.”
glek!
mendengar ucapan Bella, Bian justru menelan salivanya! dia tak percaya! mungkinkah ini hanya cara Bella untuk membuatnya merasa kasihan?
"Cih!"
Bian malas kalau mengingat Bella yang memang selalu saja bersiasat pada dirinya
Sehingga
"Baiklah kalau memang itu maumu!" seru Bian lirih, tentu saja semua ucapannya barusan tidak terdengar oleh Bella karena dia hanya seperti gumam-gumam dan hanya telinga Bian yang bisa mendengar itu.
"Kita lihat seberapa mulutmu bisa dipercaya!" Bian bergeming sambil dia mematikan shower dan melilitkan handuk di pinggangnya.
klek
'Haduh, baru juga aku mau ketuk pintunya lagi! dan kenapa dia keluar dengan handuk aja, nunjukin kotak-kotak bidangnya?'
Bella kacau balau! Pikirannya hampir kembali tak waras ketika melihat tubuh Bian
__ADS_1
"Ehem!" hanya saja, segera mungkin Bella berdehem pelan.
"Sorry, buat yang barusan, Bi." Bella menyuguhkan senyum tipis di bibirnya saat dia bicara dengan sedikit rasa nyeri di dalam hatinya entah kenapa hampir saja membuat dirinya sesak tapi bella berusaha untuk menahannya.
"aku udah pikirin matang-matang tadi kalau emang bener yang kau bilang. Ini masalahku sendiri dan gak harus aku libatin siapapun, apalagi orang yang emang nggak tahu permasalahannya di mana!"
'nih anak pintar banget dramanya!' bisik Bian bergeming saat dirinya melihat wajah Bella yang bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu.
"Oh!" tapi baru kata itu saja yang bisa keluar dari bibir Bian.
'kenapa aku jadi nggak tega?' Bian merasa tak enak melihat bagaimana Bella memasang wajah bersalahnya.
Hanya saja
'udahlah! aku rasa emang aku nggak harus ngebantuin dia! aku harus bersikap sedikit egois! Ini hidupku dan Kenapa juga aku harus repot-repot mengurus masalah bisnis keluarganya dan juga mengurus masalah hubungan percintaannya? toh karirnya juga itu urusannya pribadi! apa yang aku dapatkan kalau aku sudah menolong dirinya? Nothing!'
Banyak yang bilang kalau pria adalah makhluk yang mendahulukan logika ketimbang perasaannya dan Bian sedang mencoba untuk berpikir ke arah sana
sehingga
"Bisa permisi nggak? Aku mau ngambil baju!" Bian memutuskan untuk tidak mempedulikan yang baru saja diucapkan oleh Bella.
satu tangan Bian memegang baju kotor yang tadi digunakannya dan sekarang Bella yang berdiri tepat di pintu kamar mandi membuat dirinya tidak bisa kemana-mana karena itu terlontar ucapan barusan, dengan tatapannya yang dingin.
Bella pun menyingkir dengan matanya yang berpaling tak menatap ke arah Bian yang melaju melewati tubuhnya, tanpa sepatah kata pun keluar! tanpa memandang lagi ke arah Bella! justru tegas langkah itu menuju ke tas tempat bajunya berada.
"sebentar ya aku juga mau mandi dulu, biar seger pas makan, hehe!"
Bella tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Dia mengepalkan tangannya dan dengan suaranya yang hampir pecah segera membawa tubuhnya bersembunyi di dalam ruangan untuk membersihkan diri.
Klek!
Tidak dengan suara kencang seperti yang tadi Bian lakukan! Bella menutup pintu itu biasa saja
Hiks'
Namun hatinya tak biasa.
Bella melelehkan butiran bening hangat dari matanya. Dia sudah tak tahan, karena itulah dia melarikan diri setelah Bian tak menanggapinya. Bella sengaja membiarkan Bian dan dirinya terpisahkan oleh pintu dan dinding kamar mandi.
'yang kuat ya, Bell. ini yang terbaik! karena memang benar dia tidak perlu menanggung semua masalamu! kau tidak boleh berhutang Budi dengannya lebih banyak lagi.
Hhhhh!
__ADS_1
Bella sesegukan.
Bella memikirkan matang-matang Semua ucapan Bian tadi setelah ibunya datang. Bella sangat kaget dengan kemarahan Bian. seumur-umur belum ada yang pernah menyentak Bella kecuali ayahnya.
'Sakit banget, Hhhh!'
Meskipun cara yang dilakukan ayahnya lebih menyakitkan daripada cara Bian, tapi Bella tidak bisa berbohong kalau lontarak kata dari Bian itu menimbulkan luka perih yang menyeruak menyakiti jiwanya. Perih dan sakit itu terlihat jelas saat netra Bella memidai pantulan wajahnya di cermin yang dibanjiri air mata.
'Bella berhentilah menangis! kau merendahkan dirimu banget! Dia benar dengan semua dugaannya tentang dirimu! Gadis arogan! dan kau sudah membuatnya melakukan sesuatu yang tidak harus dilakukannya!'
Air mata itu tumpah membasahi pipi Bella! Gadis itu menahan sesegukan dengan menutup mulutnya karena tidak ingin suaranya didengar oleh siapapun sambil tangan Bella yang satunya juga berusaha untuk melepaskan kain di tubuhnya, terburu-buru.
BRRRRR!
bukan hanya air shower yang dinyalakan oleh Bella. wastafel, bathtub, ditambah suara shower sendiri itu membuat gaduh di dalam kamar mandi.
heuheuheuuuuu
sehingga tangisan Bella karena perih yang melukai jiwanya tidak bisa terdengar oleh siapapun! Bella sengaja menyamarkannya dan kini dia sungguh tidak tahan dengan menyilangkan kedua tangannya di depan tubuhnya, merasakan begitu sakit dan lama-kelamaan Bella tak kuat berdiri hingga posisinya duduk di lantai masih sambil meluapkan semua rasa dan air terus membasahinya.
'aku juga nggak pengen kayak gini! aku juga nggak pengen ngemis cinta dan minta tolong sama orang lain sampai harus merendahkan diriku sendiri!'
perih rasa di dalam hati Bella yang tidak tertahankan! dan selama setengah jam Bella menumpahkan sesalnya sehingga semua sesak sudah keluar dan bisa membuat dirinya bernapas sedikit lega masih dengan posisinya di bawah shower
'ini yang terbaik! aku nggak boleh lemah!' bisik Bella, yang berusaha untuk mengangkat tubuhnya berdiri sambil mengambil sabun untuk membersihkan dirinya.
'aku tidak boleh lama-lama di kamar mandi dan dia akan berpikir aku sengaja mengulur waktu!'
Bella bergeming sambil cepat-cepat dia menghanduki tubuhnya dan mengeringkan rambutnya. Bella sudah mulai bisa berpikir jernih
'Haduh!' namun ada kegalauan ketika tangannya ingin membuka pintu.
'Kenapa tadi aku nggak bawa bajuku aja ke dalam sini!'
Bella gamang. Dia pun mengapit bibirnya
'Duh, dia masih ada di ruang ganti nggak ya? nanti dia pikir aku sengaja menggodanya lagi!' bisik Bella tak ingin terlihat murahan.
tapi
'Ah sudahlah, buka aja, pede lah! Lagian dia juga tidak akan tertarik padaku, kan?'
Bella memberanikan diri sambil mencibir. Meski ada keraguan di dalam hatinya, tapi tangannya sudah bergerak sesuai perintah pikirannya
__ADS_1