
Klek
"Jangan melangkah, pakai sendal di pintu kamar mandi dulu, Bel! Terus kita berangkat."
"Sepatuku?"
"Kakimu terluka tadi, pakai sendal aja sih!"
'Keren perhatiannya! Hihi!' ada senyum di bibir Bella, sejuk sangat ketika dia melihat Bian menaruh tas jinjingannya di gagang koper sambil bicara tadi.
'Fokus Bella, fokus, fokus, fokus!' Bella memerintahkan dirinya sudah seperti film Masha and the Bear, sebelum dia bicara.
"Kau hanya membawa itu saja?" tanya Bella melihat hanya satu tas jinjing yang tidak penuh juga isinya yang sudah dirapikan oleh Bian. Sengaja di taruh pria itu di atas koper Bella
"Iya cuman ini aja!" jawab Bian lagi yang memang tak punya banyak barang dengan back pack tentu saja yang berisi laptop, tapi dipakai tak di punggung, justru di bagian depan tubuhnya
"Sudah telat nih! Kita berangkat sekarang, ya?" tanya Bian lagi, sudah ketar ketir melihat jamnya.
"Oh iya aku sudah siap!"
"Naik ke punggungku, Bel! Kakimu masih sakit!"
"Heh, aku bisa jalan--"
"Hemm, jalan pelan-pelan padahal kita lagi buru-buru dan kalau jalan cepat, nanti bisa infeksi kalau terkena pasir atau kotoran yang masuk ke luka atau kena kasa, jadi dekil!"
"Eh itu--"
"Cepat naik sajalah!" Bian menepuk punggungnya seraya memberikan sesuatu di tangan satunya lagi
"Dan pakai ini, topi, kacamata, juga masker supaya ga ada yang mengenalimu, Bel!"
'Haduh, dia kok baik banget dan perhatian banget sih! Dia gendong aku, bawa tasku, dan dia keren, melangkah kayak ga keberatan sama tubuhku, hihihi!' di balik wajahnya yang tertutup itu, Bella sungguh bahagia. 'Meski dia ga sama sekali mencintaiku atau punya feeling, tetep aja ini keliatan romantis, hahaha! Mikir apa aku? fokus Bella!' seru Bella tak ingin berpikir makin ngaco.
"Kau tidak mengembalikan kuncinya?" tanya Bella mengalihkan pikirannya sekaligus penasaran karena Bian berjalan meninggalkan cottage-nya sambil mengantongi kunci pintu dan tak dihampiri penjaga cottage.
“Oh, aku menyewa tempat ini selama setahun. Jadi aku tidak perlu mengembalikannya sekarang! Aku cuma pergi beberapa hari, kan?”
"Iya sih." Bella pun mengganggukan kepalanya, "masih berapa bulan lagi habis?"
"Aku baru perpanjang beberapa hari lalu, masih cukup untuk setahun ke depan!"
__ADS_1
“Perpanjang? Jadi kau sudah tinggal di sini beberapa tahun?"
Kepo, maklumlah Bella banyak ingin tahu sehingga membuat Bian menghela napas sebentar sebelum menjawab.
'Cewek ni, ga tahu apa tubuhnya berat? Sudah digendong masih juga harus membuatku lelah dengan menjawab pertanyaannya! Tau gitu aku biarin dia jalan di pasir! eh, tapi nanti aku juga yang repot kalau dia infeksi kakinya! Haaah!' serba salah untuk Bian yang pikirannnya lurus-lurus saja dan jauh berpikir ke depan bukan seperti Bella yang hanya sebatas ujung galah.
"Tiga tahun kurang lebih,” Bian akhirnya menyahut.
“Lama juga ya!" Bella mengomentari dan "lalu pekerjaanmu--" Bella tak melanjutkan pertanyaannya. "Bi--" justru berbisik lirih di belakang Bian, ketakutan
"Tenang, ga usah liatin mereka. Para pencari berita itu ga tau yang dibelakangku MaraBella asal kau tak aneh-aneh!" Bian berbisik
'Benarkah?'
Bella tak yakin, tapi dia menurut. Bella mengeratkan pegangannya pada Bian.
"Bersandar di punggungku, palingkan wajahmu seakan kau memang menikmati aku gendong, seperti kekasihku!" seru Bian lagi mengingatkan, tentu saja membuat Bella melakukannya dengan senang hati
dag dug dag dug!
'Huh, kenapa detak jantungmu membuatku nyaman, Bi? Bunyinya menentramkan jiwa!' seru hati Bella yang sedikit terbuai. Dia menikmati itu, sungguh hatinya terasa adem.
Tanpa sadar, mereka sudah di Jetty Port. Bian berjalan cukup cepat.
'Wajar dia sudah bertahun-tahun. Pantas dia punya kenalan!' pikir Bella, di saat Bian memanggil nama seorang pria asli pulau Boracay dan menuju ke boat-nya.
'Kenapa dengannya?' Namun pria itu menatap tak suka dengan sosok di belakang Bian, sehingga Bella sedikit merasa aneh saat mata mereka tadi bertautan.
"Kau menyuruhku menunggu untuk mengantarkan kalian?"
"Ya! Cepat Benjie! aku ga mau ketinggalan pesawat. Urgent!"
Benjie tak menjawab. Saat Bian selesai bicara dan mendudukkan Bella. Dia sudah melajukan boat-nya. Mereka selamat dari beberapa orang yang mencari Bella. Bian cukup pandai mengelabui. Mungkin mereka curiga, tapi dugaan mereka Bella bersama kekasih sejenis. Jadi ini membuat Bian melenggang aman.
"Bian, apa pria tadi, si Benjie kekasihmu?" tanya Bella saat mereka sudah turun dari boat dan menuju ke airport pertama.
"Bukan." Bian menjawab singkat sambil satu tangannya mendorong koper dan satunya menyanggah tubuh Bella di belakangnya.
"Dia menyukaimu?" Bella masih mengejar saat dirinya didudukan Bian di kendaraan shuttle ke airport.
"Mungkin!"
__ADS_1
"Jadi dia tahu kau suka--"
“Tahu, kami mengobrol!" Bian jawab singkat-singkat saja.
"Lalu apa dia juga--"
"Kau mau menjadi reporter kah, Bel?"
"Hehehe ...,” Bella tak melanjutkan. Pria itu nampaknya terganggu dengan kecerewetannya. Maka Bella memilih memalingkan wajahnya menikmati alam.
"Bel, udah check in kan?"
"Oh, i-iya udah Bi." Bella gelagapan dan menunjukkan check in elektroniknya, dengan matanya dari samping memperhatikan Bian.
'Fuuh, ngapain dia dari tadi curi pandang terus? Ish, gini ga sukanya aku ma cewek! cerewet, ga jelas!' seru Bian tanpa berpikir kalau dulu dia pun cerewet tak ada hentinya saat bersama Ricky.
‘Sayang saja Bian tidak menyukai Wanita.' sama halnya dengan Bella, dia juga mengomentari sikap Bian di hatinya.
'Padahal sikapnya begitu manis. Bahkan dia rela menggendongku kaya gini lagi di bandara. Dan tadi saat ada di dalam boat dia juga menjagaku supaya terpaan ombak tidak mengenaiku, menyuruhku duduk agak di dalam! Memberikan selimut untukku dan dia cool banget.' Bella mulai membayangkan
'Turun dari boat dia juga menggendongku. Bahkan untuk boatnya sendiri aku tidak bayar, dia tadi yang membayarnya. Dia yang charter. Hihihi …,’ ucap Bella di dalam hati, karena memang sikap Bian ini menarik untuk Bella. Dia tidak terlalu perhitungan pada Bella. Membawakan barang Bella dan saat di airport pun dia membuat hati Bella jungkir balik, lupa sesaat kalau Bian tak ada hati dengan wanita.
"Kenapa kau melihatku begitu? Dari tadi loh?"
Sesaat sebelum Bian menghempaskan tubuhnya di jok pesawat, pertanyaan itu diberikan olehnya untuk Bella. Dia sudah lelah sekali, punggungnya juga pegal. Tapi Bian jadi tak bisa beristirahat saat menangkap di balik kacamata Bella, gadis itu menyorotnya.
"Apa kau yakin kalau kau benar-benar menyukai sesama jenis, Bi?" bisik Bella yang membuat Bian menengok padanya
"Harus berapa kali aku ulang?" malas-malasan Bian menjawab.
"Gimana kalau aku membantumu?"
"Hah?" Bian tak paham
"Membuatmu suka wanita lagi!"
mata Bella sudah sparkling menawarkan ini. tapi apakah Bian setuju?
"Bi, kenapa buka seatbelt? Kita udah mau terbang loh!" seru Bella mencegah tangan Bian membuka seatbelt
"Aku mau turun, tak jadi membantumu!"
__ADS_1