
Leony: Kau minta solusi kan?
Bella: Iya, tapi ...
Leony: Dengarkan, Ini serius! Kalau Bian setuju, kau bisa mengenalkannya pada keluargamu! Katakan kau sudah punya kekasih. Mungkin ini bisa membuat keluargamu tak jadi menjodohkanmu, Bel!
Bella: Mereka ga akan percaya
Leony: Kan belum di coba! Lagian, Bian cukup ganteng dan meyakinkan, Bella!
(Leony memang masih ragu Bian setuju dengan rencananya, apalagi Bian tak ada kepentingan. Tapi memang ini satu-satunya jalan keluar untuk membuat Bella tidak berhubungan dengan pria lain. Apa jadinya kalau Bella menikah? Ini akan semakin sulit untuk Bella mengejar karirnya dan ini menjadi masalah juga untuk Leony)
Bella: Maksudmu aku harus berpacaran dengan cowok yang ga suka cewek?
Leony: Pura-pura Bella! Hanya perjanjian sementara saja! Demi karirmu
'Duh, yang benar saja sih aku harus pacaran dengannya pura-pura?' Bella sebenarnya inginmenolak.
Tapi
Leony: Gapapa, anggep aja temen deketmu! Lagi pula, temenan sama orang begitu banyak untungnya loh, Bel! Dia bisa diarepin buat jadi temen curhat dan dia pengertian banget! Kayak kau punya sahabat cewek, lebih kental lagi, dia pasti akan memperlakukanmu spesial! Apalagi kalau kau bisa jadi teman curhatnya dan sudah dipercaya olehnya. Mereka tuh butuh perhatian dan pengakuan, Bel!
Leony makin menggosok meyakinkan. Apa betul dia bisa minta tolong pada seseorang seperti Bian? Bella sendiri masih gamang.
'Tapi dia memang sudah membantuku semalam! Dia tidak menyentuhku dan kayaknya benar kata Leony, dia orang yang peduli juga dan punya hati lembut karena dia berusaha untuk memberikan solusi jalan keluar, meski aneh! Termasuk nyiapin sarapan pagi, buburnya enak! Dan dia ga punya kekasih, ga ada yang cemburu kalau aku minta tolong!'
Bella pun mengaitkan saran Leony dengan kenyataan saat Bella dengan Bian.
Leony: Ayolah Bella! Kenapa diam sih? Ini ide terbaik!
dreet dreet dreet
'Ya ampun aku sudah diteror!' hati Bella bergemericik dan dia khawatir sangat dengan dering telepon yang baru saja masuk. Bella menghempaskan napas pelan, sebelum:
Bella: Iya ayah.
(Akhirnya Bella memberanikan diri buka suara)
Dixon: MaraBella Addison, apa kau tahu yang sudah kau lakukan dan membuatku ingin kau mempertanggujawabkannya sekarang juga di hadapanku?
Bella: Maafkan aku Ayah, tapi itu semua salah paham! Aku bisa menjelaskan ini!
Dixon: Apa kau pikir aku menelepon untuk meminta penjelasan?
Bella: Ayah jangan salah paham dulu, aku tidak seperti itu! Aku bukan penyuka sesama jenis. Aku sudah memiliki kekasih, ayah!
'Mati aku! Apa yang aku katakan nanti kalau misalkan ternyata Bian menolak bekerja sama denganku?' Bella ragu.
__ADS_1
'Tidak, aku harus optimis! Dia harus bekerja sama denganku apapun yang terjadi!' bisik Bella menyemangati dirinya.
Bella mulai ketar ketir membayangkan betapa bahayanya dia sudah menipu seseorang yang mengerikan seperti ayahnya, Dixon Addison.
Dixon: Apa kau mengatakan ini karena kau ingin menolak perjodohanmu dengan Carl Burke?
Bella: Tidak Ayah, aku memang memiliki kekasih dan aku pergi ke Boracay karena aku ingin menemui kekasihku. Tapi malam itu kekasihku belum tiba di sini, jadi aku menghabiskan waktuku di bar. Aku tidak tahu kalau itu bar sesama jenis, Ayah. Aku juga tidak memperhatikannya. Tapi malamnya aku bersama dengan kekasihku dan sekarang aku masih bersama dengannya juga.
'Benarkah? Apa informanku salah? Bella punya kekasih?' Jawaban yang membuat Dixon teriritasi. Apakah dia harus percaya dengan yang dikatakan putrinya?
'Ini pasti bohong! Baiklah, kau mau bermain denganku, Bella?' pekik hati Dixon ingin menguji putrinya.
Dixon: Bawa dia kepadaku satu kali dua puluh empat jam! Kalau kau tidak berhasil juga, maka jangan salahkan aku kalau aku akan memaksamu menikah dengan Carl Burke weekend ini, Bella!
Bella: Kau tega sekali padaku Ayah! Apa aku bukan anak kandungmu sampai kau melakukan ini?
(Bella menyentak dan meninggikan suaranya, dia tidak mau menerima perjodohan. Sekarang jaman modern, apa-apaan ini? Bella tak bisa percaya kalau ayahnya masih berpikir macam itu)
Dixon: Justru aku ingin menyelamatkan hidupmu kedepannya Bella! Ingat, dalam satu kali dua puluh empat jam kalau kau tidak bisa membawanya, orang-orangku yang akan mengambilmu paksa!
klik
"Mati aku! Bener-bener mati aku sekarang! Haaaah, aku sudah memulai peperangan terbuka dengan ayah!" Bella membuang handphonenya di tempat tidur lalu dua tangannya meremas kepalanya sendiri
"Bian harapan terakhirku!"
Karena itulah
"Biaaaaaan! Bian kau dengar aku tidak? Bisa kau ke sini sebentar, Biiiiii?" Bella memekik dari kamar. Dia yakin Bian pasti mendengar suaranya kalau sekencang itu.
klek
Benar dugaan Bella pintu pun dibuka
"Ada ap--"
"Bian kau harus menjadi kekasihku!"
"Ga mau!"
Dengan wajah tanpa ekspresi Bian yang baru saja membuka pintu langsung menjawab datar macam itu dan tidak ada basa-basi lagi.
"Aku tahu, kau pasti tidak mau menjadi kekasihku, tapi aku mohon, Bi! Kau harus menjadi kekasihku, demi kebaikan hidup kita bersama!"
Bella bicara terburu-buru. Dia memang sangat khawatir sekali dengan hidupnya
Tapi
__ADS_1
"Hidupku baik-baik saja!"
"Heh? Yaah, sekarang, Bi! Tapi nanti kau tak tahu, kan? Karierku juga dalam masalah besar kalau kau tidak mau menjadi kekasihku! Lagi pula, bukankah ini bisa menguntungkan untukmu juga?"
"Aku baik-baik aja, aku nggak dalam masalah besar kok!" jawab Bian sambil menggelengkan kepalanya dan dia kini bersandar di tiang pintu tanpa mendekat pada Bella.
'Cih! Dia pikir suaranya berteriak-teriak di telepon aku ga dengar apa?' bisik hati Bian, tapi dia tetap tenang. Tak juga menyindir Bella.
"Aku rasa hidupmu saja yang masalah!" tambah Bian lagi sambil mengubah posisi tangannya bersedekap.
‘Sial, dia benar! Memang hanya aku yang ada masalah. Tapi apa yang harus aku lakukan supaya ini terlihat urgent juga untuknya?’
Bella tahu setiap orang tidak akan mau melakukan sesuatu kalau memang tidak ada keuntungan bagi dirinya. Apalagi sekarang permintaan Bella ini sesuatu yang lumayan menantang. Apa kira-kira yang bisa membuat Bian setuju untuk membantu menjadi kekasih pura-puranya?
"Bian aku tahu hidupmu sebagai seorang laki-laki yang menyukai laki-laki lain, ini berbeda!"
"Memang!"
Bella baru mulai bicara, sudah dipotong. Gemas juga dirinya mendengar jawaban Bian. Sehingga Bella berusaha mendinginkan otaknya, masih dalam posisinya yang duduk di tempat tidur, karena Bella tidak mungkin berdiri dengan kondisi dia tidak memakai apapun. Hanya kemeja Bian, tanpa dalaman.
"Dengarkan aku dulu jangan potong ucapanku, Bi!"
Bella merengut, dia ingin Bian tahu alasannya, kemungkinan ini adalah penawaran yang seharusnya dianggap luar biasa oleh lawan bicara Bella.
"Kau tidak menyukai Wanita. Bukankah dengan kau menjadi kekasihku ini bisa menjadi kamuflase? Kau bisa melindungi jati dirimu sendiri dan orang-orang tidak akan menganggapmu aneh dan membencimu.”
"Aku sudah tidak peduli! Aku bangga menjadi diriku sendiri seperti ini! Terserah orang mau bilang apa."
‘Ya ampun ternyata dia punya pride. Bagaimana ini?’ lagi Bella harus mencari urgensi yang lebih menantang untuk Bian. Berpikir keras, makin ngepul otaknya.
"Kau mungkin tidak apa-apa! Itu hanya sesaat, sekarang saja, Bi!" sentak Bella dengan matanya melotot menatap Bian
"Tapi tidak bisakah kau tidak egois? Pikirkan keluargamu, mereka akan tersiksa dengan sindiran orang-orang! Apalagi kita yang tinggal di Indonesia ini kan tabu untuk orang seperti dirimu! Mungkin kalau kau bersamaku, orang tua, sahabat dan temanmu tak akan tahu your true color, Bi!"
'Keren kan alasanku, touching banget pasti!'
Bella sangat pede! Ini adalah sebuah alasan yang masuk akal bukan? Keluarga adalah satu-satunya hal yang paling penting dan akan mendapat sorotan terbesar, termasuk mendapat hujatan terbanyak dari orang-orang di sekitarnya di saat seseorang mengakui dirinya menyimpang, ini akan mempengaruhi nama baik keluarga.
Tapi apakah ini masalah urgent untuk Bian?
"Aku tidak masalah, kok! Aku tidak punya keluarga lagi yang harus aku pikirkan. Aku hidup sebatang kara! Lagian, seluruh Indonesia tahu kayaknya aku bukan pria biasa." Bian merespon dan menahan senyum smirk. "Kau tak tahu kah kalau aku ada kasus video yang membuka jati diriku beberapa tahun lalu?"
‘Sial sial sial! Begitukah kenyataannya? Owh, Ony, kenapa kau tak ceritakan latar belakang keluarganya? Dan kenapa aku bisa lupa gosip yang dibilang Ony!’
Bella seperti kehilangan kata-kata, tidak ada yang urgent buat Bian. Dia tak malu dengan dirinya yang sekarang, tak juga terbebani dengan orang tua. Bian saat ini malah tersenyum, entah apa maksudnya Bella tak tahu.
"Aku bisa membayarmu, Bi. Hmm, mungkin kau butuh uang tambahan? Kau sudah ga kerja kan di perusahaan dulu?" Bella hopeless, menawarkan uang adalah solusi terakhir.
__ADS_1