
"Cinta, itu bentuk tanggung jawab, kasih sayang, rasa ingin memiliki dan ingin membahagiakan orang yang di cintainya, termasuk melindunginya dan tak ingin yang dicintai tersakiti, tuan Dixon!" Bian menjawab cepat yang tak diharapkan oleh Dixon.
"Cih!" pria itu mengumpat sinis.
"Pergi kau dari sini! Tak ada tempat untukmu di sini!"
"Lalu kenapa kau ingin aku datang ke sini kalau mau mengusirku?" tanya Bian, sesuai kenyataan. Untuk apa Dixon repot menguruskan Visa untuknya?"
"Aku ingin anakku kembali dan menunjukkan padamu siapa calon pendamping putriku, karena pria sepertimu tidak masuk hitungan!" seru Dixon lagi sambil melipat tangannya meremehkan Bian.
"Ayah, apapun yang kaupikirkan aku tetap akan bersama Bian!"
dan secepat kilat Bella menyambar. Dirinya juga sudah memeluk pinggang Bian.
'hihi, lumayan, kalau ga gini, mana Bian izinin!' seru hati Bella yang mengambil kesempatan di saat kesempitan, tanpa disadari Bian, karena pria itu sedang fokus dengan ayah Bella.
"Hah, Bella, berpikirlah sedikit! apa memang yang bisa dia berikan padamu?" sindir Dixon mulai pengap dengan hama di teras rumahnya.
"Kebahagiaan," seru Bella menanggapi cepat, sebelum Bian bicara
'Duh, kenapa jadi debat kusir?' Bian tak begini yang diingankan sebetulnya. Tapi Bella tadi menyelaknya.
"Bahagia di tempat tidur begitu? Kau pikir hanya itu yang dibutuhkan oleh putriku?" dan saat Bian masih berpikir, Dixon sudah menimpali lagi.
"Salah satunya iya, bener. Ayah ga tau sih hebatnya Bian, uuuh, panas banget permainannya, ayah! Lagian aku juga ga bisa menikah dengan orang lain, karena aku--"
"apa maksudnya Bella, kau--"
wajah Dixon pias, begitu pun dengan Bian yang meringis dalam hatinya.
'Haduh, ga gini rencananya. ngapain dia menaruh tangannya di sana? Ya ayahnya bakalan menuduhku membuatnya mengandung bayi, lah! Runyam!'
Bian makin penat. Lagi-lagi Bella secara sadar berinisiatif membuat kebohongan baru yang menambah masalah baru untuk Bian. Apalagi anggukan kepala Bella baru saja mengukuhkan dugaan Dixon.
Mau di bawa ke mana sandiwara ini? Bian pasrah!
"Aku tak akan menggugurkannya, ayah! Ini buah cintaku dengan Bian!"
"Bella anak haram itu--"
"Tenanglah, Dixon. Cucuku sedang mengandung, jangan terlalu membuatnya stress!"
"Kakek?"
tambah lagi seseorang yang di dorong di kursi roda keluar menghampiri mereka dengan tatapan dingin, baru saja membuat Bella memanggil namanya.
__ADS_1
"Ayah, tapi tadi kau dengar sendiri--"
"Cukup Dixon!" pria itu mengangkat satu tangannya tanpa melirik Dixon.
"Jadi kau sedang mengandung, Bella?"
"I-iya kek. Makanya aku dateng Boracay buat kasih tahu Bian, kami bentar lagi punya anak."
'Hah, apes! Harusnya ga gini, dia malah bikin kacau balau!' Bian sebetulnya punya ide lain yang lebih baik. Dia sudah menyiapkannya, malah sekarang terseret pada arus sandiwara Bella yang entah ke mana ujungnya itu. Tapi, apa mungkin Bian bisa punya kesempatan menyanggah?
'Aku sudah terlanjur bilang mau membantunya sampai tuntas!' Bian bergeming begini saat dia melihat Bella kembali mengangguk.
"Kalau begitu, menikahlah dengannya!"
"Ayah!" Dixon tak setuju, dia ingin menolak permintaan ayahnya, tapi pria tua itu sudah kembali mengangkat tangannya sebagai tanda kalau dia tak mengizinkan Dixon bicara.
"Mereka akan punya anak, Biarkan mereka menikah, Dixon.
"Tapi ayah--"
"Tak ada tapi! Urus pernikahan mereka, besok, kita akan menikahkan keduanya."
"Ayah, Project kita dengan Burke bagaimana? Sayarat yang mereka inginkan adalah penyatuan keluarga dengan pernikahan!"
"Ayah jadi ini semua bisnis?" Bella memekik, dia jadi tahu apa alasan ayahnya ingin perjodohan itu. Sebuah kerjasama! Betapa sakit hati Bella.
"Anak tak tahu di untung, memang kau pikir siapa yang membesarkanmu selama ini dan uang dari mana, hemm?" dan Dixon juga tak ma kalah
"DIAM KALIAN BERDUA!"
hingga kakek Bella kembali melerai.
"Aku sudah putuskan, Bella akan menikah dengannya," seru pria itu dan kini jari telunjuknya mengarah pada Bian.
"Lalu sebagai wujud rasa cintanya pada Bella, tanggungjawab, perhatian, rasa ingin melindungi dan lainnya yang tadi dia uraikan, aku ingin dia menunjukkan pada kita, kalau dirinya, bisa menyelesaikan project di Texas."
'Wah, aku salah bicara tadi!' tiba-tiba Bian menyesal mengutarakan arti cinta yang tak disangkanya menjadi boomerang.
"Ayah, itu tak mungkin!" saat Dixon menyanggah. "Project itu butuh pendanaan besar, sokongan pemerintah setempat dan pusat juga! Ini baru bisa terwujud kalau Burke mau bekerjasama, backingannya adalah walikota Texas. Belum lagi nominal yang mereka bisa sokong, ini tak mungkin bisa dipenuhi oleh pengangguran sepertinya!" Dixon, tak habis pikir bagaimana ayahnya mengambil keputusan, padahal selama ini, Graham Henry Addison adalah orang yang paling bijak dan money oriented dalam keluarganya.
Ini tak masuk akal!
"Memang, tapi ini satu-satunya cara kalau dia ingin bersatu dengan anak dan istrinya!" ucap sang kakek lagi. "Kecuali dia menyerah dan meninggalkan Bella di sini!"
'Oh tidak, bagaimana kalau Bian menolak? Tapi dia pasti menolak kan? Mana mungkin dia mau menanggung semua kesulitan itu?' cemas hati Bella, sehingga dia merangkul Bian semakin erat dan ini tentu saja dirasakan juga oleh Bian yang sempat meliriknya.
__ADS_1
"Ayah--!" Dixon masih tak bisa menerima
tapi
"Jawab aku, apa kau bersedia, young man?" sang kakek tak menanggapi protes putranya, justru menunggu jawaban Bian dengan sorot matanya yang tajam.
Haruskah Bian menjawab iya? atau sebaiknya dia pergi dan menolak? Dirinya akan terhindar dari urusan yang merepotkan juga penuh intrik dan bisa bersantai di Boracay.
sepintas ada pemikiran begitu.
Tapi
Bagaimana nasib Bella kalau ditinggalkan Bian? Mimpinya dan sesuatu yang diperjuangkan Bella akan hilang. Bian jadi kasihan
sehingga
"Baiklah aku setuju!"
"Oke! Tiga bulan waktumu, kalau kau tak bisa menyelesaikannya dalam tiga bulan, maka kau harus memutuskan pernikahanmu dengan Bella, melupakan hak atas anakmu dan aku akan menuntutmu sebesar jumlah kerugian perusahaan yang kau buat."
"Grandpa, it's ridiculous!" Bella menolak.
"Aku juga tak akan mengecek kehamilan Bella! Tapi andaikan aku tahu kebohongan soal kehamilan ini, maka konsekuensi hukuman seumur hidup di penjara atau hukuman mati, akan kau terima!"
"Ka-kakeeek!" Bella makin ketar ketir
"This is concequences, Bella. Dia sendiri tadi bilang cinta itu bentuk tanggungjawab dan aku menuntut tanggungjawabnya untuk membuatmu tak kekurangan apapun dan membuat keluarga orang yang dicintainya tak mendapat masalah dengan kerugian materi atas cintanya," tukas Henry lagi, makin memberatkan Bian.
'Duh, kenapa jadi aku yang susah gini? baik aku pergi kan? Selesai urusanku. Tapi--'
Bian melihat ulang tangan Bella yang melingkar.
'Dia bergantung padaku. Dia butuh aku untuk menolongnya!' ada rasa dibutuhkan, ada rasa dihargai dan ada rasa ingin melindungi yang tetiba muncul saat Bian melihat kecemasan Bella
"Tidak! aku tak setuju! Kalian hanya ingin menjebak Bian dan memisahkan. Kalian kejam!" Bella menolak dan sudah menarik tangan Bian.
"Ayo pergi dari sini!" seru Bella dengan air matanya juga terlihat.
tapi
"Kau pikir dengan mudah bisa keluar dari rumah ini, Bella?" Dixon, dia paham apa yang diinginkan ayahnya. karena itu dia mendukung apalagi melihat Bella ketakutan.
'Cih! segitu saja nyali pria yang hanya bisa bersembunyi di belakang putriku?' Dixon menghina Bian dengan tatapan matanya yang merendahkan
'Mungkin aku suah gila!' pikir Bian yang merasa terganggu dengan isak tangis Bella dan juga harga dirinya yang direndahkan.
__ADS_1
"Bella sabar dulu!" sehingga Bian menahannya dan menatap Dixon.
"Aku setuju dengan semua syarat itu, Tuan Addison!"