
Bella memang bicara seperti itu berulang-ulang kali mencoba untuk memohon pada Bian, kata orang, repetisi bisa menunjukkan seberapa kita menginginkan itu dan memberikan penekanan pada lawan bicara. Ini yang dilakukan Bella.
"Apa jadinya aku kalau aku harus menikah dengan pria yang tidak aku sukai? Kehidupan macam apa yang akan aku jalani, coba kalau kau di posisiku, Bi?”
"Kau tidak mencoba untuk menolak dan bicara dengan ayahmu baik-baik mungkin!"
"Sudah!" Bella makin gemas. "Sudah berkali-kali! Bertahun-tahun malah! Tapi tetap saja ini tidak pernah berhasil!"
Mata Bella pun berkaca-kaca, membuat Bian mengumpat,
'Hah, wanita ni, kalau ada maunya pasti nangis bombay jurus terakhirnya. Dia pikir aku ga tau apa?' Bian bukan pria yang mudah digosok oleh wanita dan mengikuti inginnya. Meski saat ini telinganya mendengar bujuk rayu Bella lagi.
"Hanya kau yang bisa menolongku! Lagi pula kau tidak akan menyakitiku dan akan memakai tubuhku kan? Ayolah tolong aku!"
Tapi Bian belum berani setuju, meskipun...
‘Hah, bocah ini! Ada-ada saja! Kenapa aku bisa bertemu dengannya? Tadi malam harusnya aku tidak keluar dari kamar!’ gumam Bian yang menyesali dirinya merenungi mantan kekasihnya di balkon semalam.
Tapi kemudian, matanya melirik Bella membuat Bian berpikir lain
‘Benar juga, kalau pria normal melihat tubuhnya, bagian atas, ukurannya pas, besar membulat, juga kekenyalannya sempurna! Bagian bawah dia masih rapat! Wajahnya cantik tanpa lemak berlebih. Rambutnya panjang dan sehat terawat dengan bulu matanya terlihat lentik, menggoda begini! Pasti mereka akan tertarik. Aku pun sebenarnya tak menampik kalau tubuhnya enak dipandang.’ Bian sempat melirik pada Bella, tidak ada yang kurang darinya, sangat sempurna. Karena itu timbullah rasa khawati yang entah datang dari mana di hatinya.
‘Apa jadinya kalau dia harus mengikuti keinginan orang tuanya? Hidup dengan pria tak dicintainya, nikah paksa, huh! Mungkinkah aku bisa membantunya?'
Bian itu punya satu kekurangan, dia selalu merasa tidak tega dengan kesulitan orang lain. Apalagi orang yang sudah dikenal dan saat ini Bella memohon dengan penuh harap sampai menanggalkan rasa malunya sendiri di hadapan Bian. Bagaimana dia tidak tergugah?
Sehingga
"Kalau aku mau berpura-pura menjadi kekasihmu, apa semua masalahmu akan selesai?"
"Jadi kau mau membantuku kan, Bi?"
"Aku tadi belum bilang iya! Aku bertanya dulu padamu.”
"Cukup kau menjadi kekasihku saja aku yakin ayahku pasti tidak akan mengganggu karierku lagi, ayolah plis pleaseeee!"
'Yes, yeaaah! Dia akhirnya ga keras lagi!' bisik hati Bella senang.
Melihat Bian yang sudah hampir termakan oleh ucapannya dan terlihat mulai goyah dengan ketegasannya, Bella tidak buang waktu dia langsung mengutarakan kalimat tadi penuh harap dengan senyum yang membuat Bian berdecak di hatinya.
'Gadis bodoh, beginilah wanita, haduh! Ky, apa bini lo kaya gini juga kalo ngerayu sampe lo terbuai? Ish, ni yang paling gue benci dari cewek, Ky. Bikin inget perpisahan kita, cinta kita kandas.' Bian kalau ingat ini dia pasti tak ingin membantu Bella. 'Tapi kesian juga kalau gue ga bantuin ni bocah, cowok lain bisa ngancurin dia, umurnya juga masih dua puluh dua tahun, sebelas tahun bedanya ama gue, makanya pemikirannya dangkal! Kesian amat disuruh kawin paksa!' tapi Bian berusaha menggunakan logikanya, dia juga sudah mempelajari biografi Bella, makanya pemikiran Bian lain.
"Kau yakin tidak ada yang lain yang diinginkan ayahmu, Bel?"
Tapi Bian berusaha fokus, karena itu dia memastikan dulu. Jangan sampai setelah ini dia harus menuruti keinginan Bella yang lainnya.
"Nggak ada! Menjadi kekasihku saja cukup. Jadi kau setuju kan? Kita bisa ketemu ayahku?"
"Eh tunggu dulu, ketemu ayahmu maksudmu bagaimana?”
__ADS_1
"Ayahku kemarin melihat berita!" dan Bella memindai netra Bian, "dia ingin kita bertemu dengannya! Hari ini aku hanya diberikan waktu satu kali dua puluh empat jam, kalau aku tidak bisa membawa kekasihku ke hadapannya, maka dia akan terus menjodohkan dan menikahkanku dengan laki-laki pilihannya itu, Carl Burke!”
Masih dengan wajahnya yang merengut penuh harap, Bella pun memohon pada Bian.
"Huuh!" Bian meringis, "baiklah kalau maumu begitu!"
"Jadi kau setuju?”
'Ahahahah! dia termakan dengan ucapanku!' hati Bella loncat-loncat kegirangan melihat bagaimana Bian akhirnya mengangguk, meski tubuhnya masih membeku di tempat
"Yes! Makasih ya Biiiiii! aku seneng banget!"
"Jangan melangkah lagi! Ga usah memelukku juga!" Bian tahu Bella ingin mendekat padanya karena luapan perasaan. Sebab itu Bian mencegahnya.
“Sudah tahu kakimu sakit dan baru juga aku obati, cepatlah mundur sebelum kena beling lainnya.”
"Iya, maaf deh, aku dah seneng banget soalnya, euforia dikit, hehe!"
"Ssh, naik sana ke tempat tidur!"
"Iya, iya!" Bella mundur. "kita berangkat sekarang, Bi! Aku beli tiketnya dulu ya!” Bella bersemangat
"Lakukanlah apa yang mau kau lakukan!"
Bian tak melarang, justru menuju lemari
"Oke, aku cari sekarang!"
Dia sudah terlanjur setuju dan ingin melangkahkan kakinya ke kamar mandi, menaruh kotak P3K, tapi
“Pakai bajumu dulu dong, Bel! Jangan langsung ke hape!"
“Oh iya, aku sampai lupa, untung kau ga suka cewek, Bi. Hehe."
Cepat-cepat Bella mengambil kemeja Bian lagi, dia memakainya di saat Bian sudah melangkah ke kamar mandi.
'Wanita yang aneh! ish!'
Sekarang Bian berdecak sambil menghela napas, setelah menaruh kotak P3K di laci wastafel, dia menutup bolongan kecil di cairan infuse yang masih tersisa banyak dengan tusuk gigi bersih.
'Tapi aku yang lebih aneh karena aku mau membantunya! Ngapain juga aku mau setuju menolongnya, ya?'
Bian bertanya sendiri pada dirinya sambil mencuci tangan
Tapi
'Ah sudahlah! Hitung-hitung membantu teman, tak ada salahnya juga untukku, mumpung nganggur. Ngapain puyeng dipikirin!'
Toh Bian tidak harus menjaga hati siapapun. Dia tidak punya pasangan dan benar juga yang dikatakan oleh Bella, hidupnya juga tidak akan bermasalah, pikir Bian sambil tangannya juga menarik tissue dan mengelap jari dan telapak tangannya yang basah.
__ADS_1
'Lagian ini kesempatanku bisa mempertegas jati diriku sendiri! Kalau aku emang ga tertarik sama cewek!' ini memang mempengaruhi Bian. Apalagi hasil tes lab kromosomnya memang tak ada masalah kelebihan hormon X.
Tapi Bian masih tak bisa menghilangkan rasa sukanya pada pria. Bian masih kepikiran bertahun-tahun, alasannya hingga saat ini. Bian ingin tahu lebih tentang dirinya. Mungkinkah Bella bisa meyakinkan tentang jati dirinya?
"Bian aku sudah pesan tiketnya, kita bisa berangkat sekarang!" Bella menggoyangkan handphonenya sambil tersenyum pada Bian, saat pria itu keluar dari toilet. Bella sudah antusias.
"Jam berapa itu?” tanya Bian lagi sambil mengerutkan dahinya, karena tak terlihat layar handphone Bella.
"Jam sebelas,”
'Tuh, kan, wanita ga da otak ya kaya gini!' gumam Bian mengomentari Bella yang tak mengerti kebodohannya justru tersenyum bangga.
“Ini udah jam delapan, Bel! Kau mesti ambil barang dulu di hotelmu, ini makan waktu setengah jam. Dari sini kita mesti naik Jetty port terus ke Caticlan, habis lima belas menitan buat ke port dan nyebrang, belum bongkar muat, udah jam sembilan kurang sepuluh itu! Terus pesawat jam setengah sepuluh, kalau ga telat, Bel! Sejam loh dari Caticlan ke Manilla, terus kita mesti check in ulang di bandara, pesawat jam sebelas, mikir ga sih sebelum beli tiket!" Bian gemas dengan kelakuan Bella yang masih cengar cengir.
"Ya aku cuma dikasih waktu dua puluh empat jam, ya enggak mungkin kalau enggak jam segini kita berangkat, Bi!"
"Kita ke Indonesia?" Bian malas berdebat. Makanya menanyakan tujuannya saja.
"Enggak! Ayahku ada di New York. Jadi kita ke new York.”
"Oke!" Bian mengangguk, "terus visa aku gimana? kan enggak mudah masuk sana, aku belum urus apapun, Bel."
“Oh, ehm, gampang itu."
"Gampang?" Bian mengerutkan dahinya masih menyabarkan diri. Bian yakin, Bella pasti ga kepikiran juga dari kegugupannya.
"Ayahku akan mengurusnya, aku akan mengirimkan tiketku dan aku juga akan mengatakan kalau kau warga negara Indonesia, gimana?”
"Ah ya, ga ada yang ga mungkin buat Dixon Addison, kan?"
"Ehm, kau tahu ayahku?"
“Aku sudah cek biodatamu. Kalau begitu cepat bersiaplah! Kita akan pergi sekarang.”
"Bian, satu lagi tolong ...," Bella malu-malu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "ini kunci kamarku, bisa ga ambilin bajuku di sana? Koper, barangku maksudku.”
"Huuuuh!" Sebelum Bian keluar, kata-kata itu yang terucap dari Bella, membuatnya memindai Bella sambil menghela napas.
“Kau menyuruhku untuk ke hotel tempatmu tinggal?"
"Iya!" dengan senyum mencoba merayu di bibirnya, Bella bicara
"Tolong ya! Habis kalau kau tidak ke sana, aku …,”
"Beginilah yang aku ga suka kalau nolongin orang."
"Eh apa?" Bella tak mengerti
"Sekali di tolong, orang itu akan merepotkan terus menerus! Ngelunjak! Dikasih hati minta jantung!"
__ADS_1