
"Bian, jahat banget sih!"
Bella cemberut dengan celetukan yang baru saja terlontar dari bibir Bian.
"Heish, sudahlah, awas! Dia ga bangun, kan!" Bian ingin mendorong
Tapi
"Tar dulu, Bi!" Bella tetap melarang Bian untuk menutupnya.
"Jadi dia enggak pernah bangun gitu?" tanya Bella mencoba mengintrogasi tak yakin
"Sssh, aku ga punya penyakit yah!" seru Bian.
"Kadang dia bangun tidur pasti bangun. Ga panjang pol sih, kan ga ada rangsangan. kalau ada yang merangsang pasti bangun posisi ON sempurna!" celetuk Bian sekenanya
"Bangun tidur?"
Namun Bella fokus yang lain. Dia berpikir saat Bian menganggukkan kepalanya.
"Berarti tiap kau tidur jangan pakai celana, Bi!"
"Sembarangan kau!"
'Huh, gesrek juga nih cewe! Ish, aku kenapa jadi fokus ngobrol bukan menutupnya?' bisik hati Bian yang terdistraksi dengan Bella
Sehingga
"Awas Bel! Kenapa kita jadi ngobrol gini sih!"
"Entar dulu!" Bella tak mau. "Udah awas tangannya! Aku coba isep ya, Bi! Fuuuuh!"
Bella sudah mau mendekatkan mulutnya.
Tapi
'Duh, ni ga boleh! Kok kayaknya aku nggak bisa nerima ini ya!' Bian ngeri
Sehingga
"Tu-tunggu bel! kayaknya aku nggak siap sekarang deh!"
Belum sempat Bella menempelkan bibirnya, kedua tangan pria itu sudah siap menutup bagian sana.
"Duh, Biiiiii!" bikin Bella gemas dan ingin membukanya.
"Kalau nggak sekarang kapan lagi? Aku coba isep dulu aja ya!"
"Tapi dia ga akan bangun, Bel! Lihat aja dia dilihat olehmu juga dia ga mau bangun sama sekali. Dia nggak punya rasa, Bel!" seru Bian masih belum mau menarik tangannya dari sana.
__ADS_1
"Coba aja dulu, Bi. Mana tahu ada keajaiban kan. Lagian kita nggak punya cara lain!" Bella mencoba itu sambil dia bicara.
"Ke rumah sakit untuk inseminasi buatan juga nggak bakalan bisa, Bi!" Bella kembali menekankan, karena semua yang dikatakannya ini benar dan Bian harus diingatkan berkali-kali karena keraguannya.
"Kita berdua bisa mati kalau kakekku tahu aku nggak punya bayi beneran! Sampe kapan aku mesti jelasin ini?" seru Bella gemas.
"Fuuh!" Bian pun membuang napas, mulai melonggarkan lagi tangannya
'Ya ampun Ky, Kenapa nasib gue kayak gini banget ya?' lagi dan lagi Bian bergeming tak rela. Sungguh penyesalan yang sangat dalam karena dia menolong Bella. Kehidupannya yang damai di Boracay kini telah terenggut.
"Aku coba isep sekarang!"
Tentu saja Bella senang ketika tangan Bian sudah tak lagi menutupi bagian itu.
Namun
"Aku nggak yakin, sumpah aku nggak yakin, Bell!"
Bian bergeming pelan saat kedua tangan Bella memegang kedua pangkal kakinya dan dia mengangkat tubuhnya mendekatkan bibirnya ke arah itu
"Kau buang wajahmu lah jangan lihat aku! karena ini juga untuk pertama kalinya aku lakuin!" Bella masih sempat bicara dengan matanya mengarah ke sesuatu yang masih posisi off.
'Duh, kenapa aku jadi panas? Aku emang harus masukin itu ke mulutku kan?' seru hati Bella mencoba meyakinkan dirinya karena sungguh saat ini dia juga bergetar perasaannya ketika kepalanya mendekat perlahan-lahan.
"Bella!"
"Huh, kaget aku Bi!" seru Bella, karena semakin dia mendekatkan bibirnya tadi, Bella berkonsentrasi penuh. Namun tiba-tiba sentakan suara itu mengagetkannya apalagi tangan Bian yang sudah bergerak membuat punggung tangan kekarnya itu menyentuh bibir Bella sebelum dia bisa merasakan sesuatu yang ingin dihisapnya.
"Gigi Bell, kondisiin!" Bian ingat sesuatu
"Heh?" Bella merengut, sambil berpikir.
Memang kapan dia menggigit Bian di bagian itu? Bella jadi kepo
sampai
"Denger! Jangan sampai ngegigit! Ini pertama kalinya untukmu kan? gunakan bibir saja!"
"Eeeh, Bi, emang udah ada yang pernah isap ini selain aku?"
Tanpa menatap Bella anggukan kepala Bian tentu saja bisa dilihat oleh netra Bella.
"Pacarmu?"
'Bian mengangguk? Oh, Kenapa tiba-tiba perasaanku nggak enak dan kenapa kayak ada rasa disaingi terus cemburu gitu ya?' jujur Bella tak tenang sekali hatinya memikirkan yang baru saja terucap dari bibir Bian. Rasa hatinya dibakar dengan perasaan cemburu yang lumayan besar
"Kan dia cowok?" selidik Bella
"Ya cowok juga perlu kali Bel!" sekenanya Bian bicara.
__ADS_1
"Oh, bagus dong! Nanti kau bisa bandingkan aku dan dia lebih enak mana hisapannya! Hahahah!"
Namun Bella cukup pintar untuk menutupi semua rasa itu, dia masih bisa bercanda dengan Bian membuat pria itu meliriknya dan mendengus pelan.
"Sama dia tuh ya belum dipegang juga belum dilihat sudah bangun, Bel!"
Sebuah Jawaban yang tidak ada menghiburnya untuk Bella. Apakah Bian tidak bisa memberikannya sedikit saja penghargaan?
Hati Bella luka, tapi
'Aish, ingat Bella! Kau pasti membuatnya bisa mencintaimu! Tapi sekarang ini urusan yang lebih genting, karirmu dan bebas dari ayahmu!' Bella bergeming hanya dalam beberapa detik setelah Bian menyeletuk
"Kau belum merasakan saja enaknya aku, Bi! Pasti kau pengen terus!"
"Heish, kalau kau masih mau mengintrogasiku kita tutup dulu saja!"
"Aku mau mulai tadi kau melarangku pakai segala ngingetin gigi lagi!" Bella mencebik
"Nih, aku mulai sekarang!" dan Bella sudah semakin pede memandang ke arah sana
Meskipun
'Sumpah aku deg-degan banget!' ucap di hati Bella yang sudah menyibak rambutnya ke bahu kanan supaya tidak dilihat oleh Bian. Jadi saat Bella menghisap, tidak akan terlihat oleh pria yang tak pernah berhenti untuk menolak Bella.
dag dug dag dug!
Tapi Bian tetap nervous juga. Sama seperti Bella meskipun dia memiliki arti lain dari detak di jantungnya itu.
'Ky, nasib gue kenapa begini banget? Sampai kapan gue mesti ngeluh? yang gue pengen cuman lo, Ky! kenapa cewek kayak gini sih yang datang?' seru hati Bian menahan luka
'Duh, rambutnya sekarang juga sudah berasa di perutku!' bisik hati Bian karena sekarang Bella sudah semakin dekat dengan itu.
'Fuuh, tarik napas Bella!' saran Bella saat bibirnya membuka dan siap untuk memasukkan itu
Di saat yang bersamaan
'Huh, dia sudah memegangnya?' Bian makin risau
sedangkan Bella
'Hihihi, kenapa rasanya lembek lembek kayak gini ya?' seru Bella sendiri saat dia mengomentari si sesuatu yang masih dalam bentuk off padahal dia sudah memegangnya. Sangat menggetarkan hati Bella
'Ini pembuktian untukku kalau wanita pasti masih bisa membuat dirinya bangun! Aku yakin aku pasti bisa! Pasti!'
Bella meyakinkan dirinya sendiri dan hal yang sama juga dilakukan oleh Bian.
'Dia pegang, uh Ky, gue dicobain ama cewek!' Bian rasa galau ingin tangannya yang kekar itu mendorong tubuh Bella agar menjauh.
Tapi sesuatu kemudian diingat kembali dalam benaknya.
__ADS_1
'Ini kesempatan untuku, bukan?' sepersekian detik Bian mencoba untuk tetap positif. 'Aku harus membuktikan kalau dengan wanita pun aku juga tidak akan bangun!' tegas Bian di hatinya mencoba tetap percaya dengan prinsipnya itu dan kedua-duanya sedang berjuang dengan prinsip yang berbeda. Baik Bian maupun Bella! Meskipun mereka punya kesamaan juga karena saat ini keduanya sudah menutup mata.
Bian kaku, dia mengepalkan tangannya dan memejamkan mata berusaha menahan diri sebelum mulut Bella yang sudah membuka itu membuat mata Bella juga tertutup