
"Bi, Kenapa kau tadi setuju dengan rencana yang dibuat kakekku?"
sesampainya di kamar, Bella tak lagi bisa menahan diri! Dia sudah menutup pintunya dan menarik Bian ke arah wardrobe, supaya obrolan mereka tidak terdengar dari siapapun, termasuk Derek yang baru saja mengantarkan mereka, entah sudah pergi atau belum dari depan kamar Bella.
"Nah, kau sendiri Kenapa juga mesti pura-pura mengandung?" seru Bian sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Rencanaku tadi tidak begitu, Bel! Tapi kau malah memotong pembicaraanku dengan ayahmu!" seru Bian dengan tangannya yang sekarang ada di pinggang. "Aku tadi sedang mencoba bernegosiasi dengannya!"
"Ish, mana aku tahu? aku tadi hanya ingin mendukungmu dan membuat permasalahannya cepat selesai!"
"Nah, nyatanya selesai nggak?"
"ehem!" Bella membuang wajahnya dari Bian sambil bersungut, saat pria itu menyindir.
"Justru masalahnya jadi semakin dalam kan?" Bella tak menyahut saat Bian mengutarakan ini. Akhirnya pria itu pun membuang wajahnya dan menghela napas pelan sambil mengamati deretan pakaian Bella yang pas sekali tertata rapi di depan matanya.
"Sudahlah percuma juga kalau kita berdebat!" Bian tidak mau menambah keruh keadaan dengan keributannya bersama Bella.
"Lalu apa yang ingin kau rencanakan, Bi?" tanya Bella, yang juga tidak mau berpanjang lebar! Dia pun berdecak
"Semuanya malah mengarah pada kehancuranmu sendiri!"
"Memang! haah!" Bian memijat keningnya sambil berlalu dari wardrobe menuju kamar Bella, diikuti oleh wanita itu di belakangnya
"Bodohnya aku tadi ikut bermain perasaan dan aku kasihan padamu!" ucap Bian sambil dia melepaskan backpack-nya di punggung dan menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Terus gimana dong?" seru Bella yang mengikuti Bian duduk di sampingnya.
"Ya udah, sekarang udah terlanjur nyemplung Ya jalanin aja! Kita pikirin gimana ngembangin perusahaan keluargamu."
"Ngembangin perusahaan?" Bella mencoba berpikir. "Terus gimana bikin anaknya, Bi?"
"Oh iya!"
sungguh Bian lupa dan dia tidak kepikiran tentang anak! tadi itu yang ada di dalam benaknya hanyalah masalah perusahaan dan dia missed urusan anak, padahal Henry sudah mengutarakannya berkali-kali!
'Tadi juga aku cuma bilang berjuang ingin mendapatkan Bella! Mendapatkanmu, bukan bahas anak! aduh, ini nih cerobohnya aku yang dulu sering di protes Ricky, kalau lagi emosi pikiranku cuma setengah aja nangkep masalah!' gerutu di hati Bian menyalahkan dirinya sendiri.
"Lah, gimana sih Bi?" dan sekarang suara Bella sudah mengganggu ketenangannya berpikir. "Kau lupa, tadi kan kata kakek, kalau ketauan bohong soal anak--"
__ADS_1
"Sudah jangan diteruskan!"
Bian benar-benar tidak fokus ke sana. Dia missed! sehingga dari tadinya dia duduk bersandar kini sudah dalam posisi tegak dan tegang
"Ish, kau, kenapa juga malah berbohong soal anak sih? orang yang udah sepuh, udah tua itu mereka sangat sensitif sekali dengan yang namanya keturunan!" Bian menggerutu.
"Mana aku tahu! Apa nggak kita kabur aja, bi? Mungkin kita bisa minta tolong sama nenek dan kakekku yang ada di Indonesia? Keluarga ibuku?"
"Jelas tadi sudah dibilang oleh mereka kalau kita tidak mungkin kabur, Bel! dan tadi kau lihat sendiri bukan, Derek meminta pasportku dan milikmu juga!"
"Oh iya!"
lemas sudah Bella. "nggak mungkin gitu kita bikin paspor baru?"
"Yah, Kalau bisa ke Kedubes Indonesia dan nggak ketahuan sama mereka, ya aku bisa bilang pasporku hilang dan aku bisa bikin paspor baru, terus pergi dari tempat ini."
"Aku? maksudmu dirimu sendiri? Nah aku gimana?" Bela menunjuk ke wajahnya sendiri.
"Hehehe!"
Bian yang tidak tahu mau menjawab apa dia hanya terkekeh mendengar pertanyaan Bella barusan.
sehingga
"Sudahlah, tapi aku makasih banget ya, Bi. kalau kau tidak menyelamatkan aku tadi, pasti mereka sudah memaksaku untuk menikah dengan Carl."
'Aku rasa Ini pertama kalinya bukan dia mengatakan Terima kasih padaku?' Bian tak membalas hanya mengerutkan dahinya saja, menatap Bella
"Kok cuma ngeliatin aku gitu aja sih? Kenapa nggak ditimpalin atau apa gitu?" seru Bella sinis
"Entahlah, Bel! hahah! coba kita break down satu-satu dulu ya masalah kita ada di mana aja!" seru Bian. dia Lalu mengambil backpacknya membuka dan mengambil buku catatan juga pulpen
"yang pertama, aku harus membereskan masalah perusahaan yang kakek dan ayahmu maksud dalam tiga bulan!" Bian mencatat sambil bicara.
"Yang kedua mereka ingin kita menikah!" Bella menambahkan
"Oke!" Bian menuliskannya.
"Yang ketiga Mereka ingin kita punya anak!"
__ADS_1
"Bukan deh!" seru Bian. "Mereka ingin kau membuktikan kalau kau sudah hamil, Bella!"
"Oh iya bener!" memerah wajah Bella ketika dia diingatkan itu oleh Bian
"Nah, ada lagi nggak yang lainnya?"
Bella menggelengkan kepalanya pelan dengan matanya menatap Bian
"Aku rasa urusan yang paling urgen adalah pernikahan yang ingin mereka buat besok! Kau juga udah setuju menikah denganku!"
"Hmm!" Bian mengangguk. tanpa bicara apapun dan hanya menetapkan kertas yang ada di hadapannya
"Dan sekarang masalah yang terberat itu aku rasa di nomor tiga, Bi! Bagaimana cara membuatku hamil?"
"Ehem!" Bian menggelengkan kepalanya
"Itu nggak mungkin! tapi mungkin aku bisa mendonorkan--"
"Eeh, aku ga mau!" sentak Bella langsung menolak yang membuat Bian memindai pandangannya dari kertas ke wajah Bella
"Enak aja, aku masih Ting Ting, Bi. Masa iya kau tega sekali sih aku harus pakai inseminasi buatan? Jebolnya ga banget! Ga ada enak-enaknya, ah!" Bella merengut.
"Terus mo gimana? mau cari cowok buat bikin kamu--" Bian tidak melanjutkan kata-katanya tapi dia menggerakkan sendiri tangannya seakan membentuk setengah lingkaran di perutnya
"Eeh, ga mungkin! selepas dari sini keluargaku ga akan pernah membiarkan aku sendirian! mereka pasti akan ngikutin aku terus! dan juga dirimu, Bi!" tegas Bella lagi.
"Nah terus?" Bian nyerah, au tahu cara yang diinginkan Bella.
"Satu-satunya kesempatan adalah membuatku punya anak sekarang, Bi."
"Yah, ga bisa, Bell!" ini di luar kemampuan Bian dan dia menyandarkan tubuhnya di sofa
"ya cuma itu satu-satunya!"
"Ga bisa, kau lihat sendiri kemarin aku tidak ada gairah sama sekali melihat tubuhmu! lalu aku bagaimana cara membuat itu?" seru Bian menggerutu. bukan karena dia tidak mau tapi memang dia tidak bisa! mau digoda seperti apapun oleh Bella tetap saja Bian tidak punya ketertarikan!
"Ya, kita cobain sering-sering aja nanti mungkin bisa? Ayolah,"
"It's annoying Bella." Bian menyugar rambutnya. "Aku masih nggak ngerti kenapa aku harus masuk ke dalam masalah ini! dan aku nggak mungkin bisa menolongmu untuk yang itu!"
__ADS_1
Hal itu, membuat Bella sadar. Jika kepura puraan. Akan membuat hidupnya tidak berjalan dengan baik.