
"Kanaya....terimalah cintaku. Harus dengan apa aku membuktikannya, jika aku benar-benar sayang dan cinta padamu. Apakah aku harus melompat dari jembatan layang untuk membuktikan betapa seriusnya aku padamu, atau kah aku harus melakukan live streaming saat menyatakan perasaanku padamu, agar semua orang di dunia ini tahu betapa besar dan seriusnya pria tua ini mencintai seorang Kanaya. Semua itu akan ku lakukan demi membuatmu bahagia," tutur Bram dengan lemah lembut.
"Pergilah om, sudah cukup semua ini lebih baik Om Bram pulang dan istirahat. Kalau Om Bram tetap bersikeras tidak mau pergi dari sini, Kanaya ngga akan segan- segan menyemprot om dengan air ini!" tegas Kanaya dari dalam pagar halaman rumah yang sedang menyirami bunga- bunga kesayangannya.
"Jangan, sayang. Nanti aku basah dan aku bisa masuk angin. Jika aku sakit tidak ada yang bakal merawat ku, karena kamu belum mau menerima cintaku," ucap Bram dengan senyum manis di bibirnya.
Byurrrrrr.....!!
Celepak.....celepuk.....!!
"Stop sayang, aku basah semua ini." Bram sedikit meloncat- loncat dan mengangkat tangannya untuk meminta Kanaya berhenti menyemprot dirinya dengan air.
Lalu Bram mengusap wajahnya yang terkena siraman air taman dan mulai menggerakkan kepalanya untuk mengibas- ngibas rambutnya agar air yang membasahi rambutnya bisa terhempas pergi.
"Akh....sial. Sumpah ganteng banget Om Bram saat mengibas- ngibaskan rambutnya. Ukhhhh Om Bram benar- benar seperti model majalah saja, yang ganteng dan keren."
Bram melihat sosok wanita di dalam pagar rumah besar itu masih fokus terhadap tanaman nya, Ayu dengan memakai baju casual mini dress berwarna peach polos dengan rambut di cepol asal dan sama sekali tidak mau melihat ke arah Bram lagi.
"Kanaya....apa kamu marah padaku? Aku sudah basah begini dan kamu masih saja cuek padaku. Ayolah sayang, aku ingin melihat wajahmu walau hanya sebentar saja," ucap Bram sambil menempelkan wajahnya pada tralis pagar berusaha untuk melihat wajah Kanaya. Bram sangat ingin sekali masuk dan mengobrol bersama. Tapi Kanaya sangat tidak mudah untuk di bujuk dan di rayu.
"Om Brammm......!!" teriak Kanaya. "Apa om tidak lelah bersikap seperti ini terus. Lama kelamaan kesabaran Kanaya bisa habis nih om." Kanaya menarik napas panjangnya lalu menghembuskannya dengan perlahan. Kanaya tidak tahu lagi, bagaimana cara untuk mengusir Om Bram dari rumahnya. Pria yang lebih pantas di jadikan ayah daripada menjadikannya sebagai seorang kekasih. Pria yang jauh lebih tua dari dirinya.
Kanaya akan malu apabila ada orang sekitar atau tetangganya yg melihat kelakuan Om Bram. Kanaya memijat keningnya yang semakin pusing melihat ulah pria tua itu, Kanaya tidak mengerti mengapa Om Bram masih saja terus- terusan mengejar dirinya. Om Bram selalu mengatakan kalau dirinya mencintai diriku dan berharap bisa meminang diriku. Semua itu seperti hal konyol saja, dengan perbedaan usia keduanya yang terpaut cukup jauh. Kanaya yang masih berusia 24 tahun, sedangkan Bram berusia 45 tahun. Tapi sejujurnya walau Om Bram berusia 45 tahun dia masih tampak awet muda, kalau dia berdiri berdampingan dengan Aldo putranya dia seperti kakak beradik bukan seperti ayah dan anak.
__ADS_1
Kanaya Putri Herdiana seorang wanita yang baru 3 sampai 4 tahun ini merintis usaha fashion. Kanaya seorang desainer muda yang berbakat. Oleh sebab itu walau Kanaya baru memulai usahanya beberapa tahun belakangan ini tapi namanya sudah mulai banyak di kenal oleh kalangan menengah keatas. Para customer Kanaya kebanyakan dari kalangan atas. Jadi bisa di bilang Kanaya adalah wanita karir yang cukup sukses. Kanaya berstatus single. Kanaya juga seorang anak dari Herdiansyah dan Anna. Pengusaha tekstil yang cukup di kagumi di kotanya.
Sejak Kanaya kecil dirinya sering sekali di tinggalkan oleh ayah dan ibunya untuk bekerja di luar kota. Kanaya biasa bersama Mbok Narsih yang mengurusnya sejak kecil, Mbok Narsih sudah seperti ibunya sendiri. Ikatan yang terjalin sudah seperti ibu dan anak kandung melebihi ikatan kepada Ibu Anna, ibu kandungnya Kanaya sendiri. Walau Mbok Narsih sudah meninggal dunia saat Kanaya berusia 20 tahun. Tapi Kanaya selalu rutin mengunjungi makamnya dan mendoakannya. Kanaya lebih memilih hidup mandiri, di rumah yang cukup besar hasil jerih payah Kanaya sendiri sebagai desainer, ia bisa membeli rumah itu. Kanaya sayang kepada kedua orang tuanya, namun Kanaya ingin hidup mandiri sejak dulu sudah biasa hidup tanpa orang tuanya. Herdi dan Anna mengerti akan keinginan putrinya itu. Tidak ada masalah dengan hubungan mereka. Tetap terjalin baik walau mereka hidup dengan terpisah.
Hati Kanaya kini masih tertutup untuk pria lain, karena Kanaya pernah merasakan ditinggalkan oleh calon suaminya karena meninggal dunia di saat hari lamaran mereka. Dari situ Kanaya menutup dirinya untuk berhubungan lebih jauh kepada seorang pria dan memilih mencari kesibukan dengan belajar desainer hingga sekarang menjadi wanita karir.
Orang tua Kanaya sudah sering meminta Kanaya segera menikah, tapi tidak ada pria manapun yang bisa menggantikan Araz dari dalam hatinya. Meski banyak sekali pria-pria di luar sana yang berusaha mendapatkan hati Kanaya, tapi ia tetap menolaknya.
"Om Bram maunya gimana, Kanaya harus bagaimana lagi?" kesal Kanaya.
"Berikan aku satu harimu, berikan aku kesempatan untuk memperkenalkan diriku lebih jauh padamu," pinta Bram dengan kedua tangan yang menangkup di depan dadanya sebagai tanda permohonan.
Bramasta sendiri adalah teman, sahabat, yang sudah seperti saudara bagi Herdiansyah, ayah Kanaya. Usia Bram lebih muda 3 tahun dari Herdi. Entah kenapa Bram sangat menyukai wanita- wanita muda dan rata- rata kekasih hati nya dulu memang selalu jauh di bawah umurnya.
"Om Bram mengertilah, Kanaya ini anak dari sahabat om dan Kanaya sendiri menganggap om sudah seperti ayah Kanaya. Bagaimana bisa ada rasa diantara kita?" tutur Kanaya.
"Aku bukan ayahmu Kanaya, aku juga seorang pria. Aku ingin kamu memandang ku sebagai seorang pria, bukan sebagai ayahmu. Seorang pria yang ingin menikahi seorang wanita, apa ada yang salah dari semua itu?" tutur Bram kembali.
Kanaya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan,"Terserah om sajalah, Kanaya sudah tidak tau mau bicara apa lagi." Kanaya sudah sangat kesal pada tingkah Om Bram. Kanaya pun lebih memilih masuk ke dalam rumah dan langsung menutup pintu rumahnya. "Sudahlah, toh nanti Om Bram akan pergi sendiri jika dia sudah merasa lelah berdiri di luar sana."
Kanaya ingin beristirahat, ia menaiki anak tangga satu persatu dengan perlahan. Kanaya masih memikirkan sikap Om Bram padanya. Setelah sampai di lantai atas Kanaya segera menuju ke kamar tidurnya. Merebahkan dirinya di tengah- tengah kasur yang empuk. merentangkan kedua tangannya serta kedua matanya menatap langit- langit kamarnya. Kanaya mulai memikirkan ayahnya dan Om Bram yang sangat berteman baik. Bagaimana jadinya jika ayahnya tahu kalau sahabatnya mencintai putrinya.
"Apa ayah akan marah? Lagian juga Om Bram ada- ada aja sih kelakuannya."
__ADS_1
Tik....tik....tik.....!!
Suara hujan mulai terdengar. "Apa di luar hujan yah, terus bagaimana dengan Om Bram, ahh pasti dia sudah pulang sejak aku masuk rumah tadi. Tidak mungkin kan dia akan tetap di sana?" ucap Kanaya yang melanjutkan posisi nyamannya di atas tempat tidur. Hujan pun semakin deras, angin mulai kencang dan membuat kordeng di kamar Kanaya berterbangan.
Blarrr.......!
Suara sambaran petir terdengar, Kanaya pun terloncat dari tempat tidurnya. Kanaya melangkah perlahan ke arah balkon kamar tidurnya ingin memastikan kalau Om Bram sudah tidak ada lagi di bawah sana. Kanaya menarik sedikit kordengnya dan mengintip ke arah bawah. "Astagaa......apa yang di lakukan Om Bram di bawah sana. Kenapa dia tidak pulang sejak tadi?" Kini Kanaya melihat sosok pria yang tetap berdiri di depan pacar rumahnya dengan keadaan basah kuyup. Kanaya menggigit- gigit jarinya, ia bingung bagaimana. Jika ia membukakan pintu takutnya Om Bram akan salah paham, tapi jika di biarkan terus kehujanan seperti itu maka Om Bram bisa saja sakit dan lebih buruknya pingsan di tempat.
"Aduh.....aku harus bagaimana ini," Kanaya berjalan mondar mandir di dalam kamar tidurnya. "Aku bukan orang jahat, jika aku membiarkan Om Bram di luar sana itu berarti aku sudah jahat banget. Tidak bisa....aku harus membukakan pintu dan menyuruhnya masuk sampai hujan berhenti.....eh, tapi nanti jika aku berbuat itu Om Bram akan salah paham dan mengira aku menyukai dirinya. Bagaimana ini.....akhhhhhh aku pusing!" Kanaya mengacak- ngacak rambutnya asal karena pusing memikirkan Om Bram dan hujan.
Blarrrrr.......!
Suara petir kembali terdengar dan lebih nyaring dari yang tadi. Kanaya segera keluar kamar dan berlari menuruni anak tangga menuju pintu depan. Di raihnya payung yang berada di sisi pintu dan membuka kunci pintu rumahnya. Dengan cepat Kanaya membuka payung yang di pegang nya dan berlari ke arah pintu pagar, membuka pintu pagar dan menghampiri Om Bram. Kanaya mengangkat tangannya lebih tinggi agar Om Bram bisa berlindung di bawah payung yang ia gunakan. Kanaya melihat senyuman di wajah Om Bram, "ternyata manis juga yah Om Bram, astaga mikir apaan sih aku," batin Kanaya.
Om Bram mengambil gagang payung yang berada dalam genggaman Kanaya, agar Kanaya tidak susah payah mengangkat tangannya memegangi payung. Kanaya pun mulai tersenyum ke arah Om Bram.
"Om kenapa sih tidak pergi malah memilih hujan-hujanan seperti ini, om jangan bertingkah konyol seperti ini. Lebih baik sekarang om masuk saja dulu ke rumah, hujannya masih sangat deras. Nanti kalau sudah berhenti baru bisa pulang, " ucap Kanaya.
Kanaya dan Bram masuk ke dalam rumah beriringan. Om Bram meletakkan payung di teras rumah.
"Sebentar yah om, Kanaya ambilkan handuk dan baju ganti, ada bajunya ayah kok di sini. Om bisa gunakan itu." Kanaya masuk ke dalam dan meninggalkan Bram di teras rumahnya. Bram yang basah kuyup mengibas- ngibaskan rambutnya agar air yang berada di kepalanya berjatuhan. Saat itu Kanaya yang membawa pakaian ganti dan handuk sudah berada di depan pintu melihat aksi Bram tersebut. "Kenapa Om Bram harus mengibaskan rambutnya lagi sih, dia kan jadi terlihat maco banget .....!! astaga, mikir apaan sih aku sejak tadi," batin Kanaya yang berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh yang sejak tadi ada di kepalanya.
"Ini om baju ganti dan handuknya. Om langsung saja masuk ke dalam. Kanaya akan membuatkan susu jahe panas untuk om," ucap Kanaya.
__ADS_1
Bram langsung masuk ke dalam menuju kamar mandi. Membersihkan diri di dalam sana, sedangkan Kanaya berada di dapur membuatkan susu jahe untuk Bram agar dirinya merasa hangat. Setidaknya Kanaya sudah berbuat yang seharusnya, dan berharap hujan cepat berhenti agar Bram bisa pulang dari rumahnya.