MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Dua : Coklat yang basah


__ADS_3

Kanaya menaruh secangkir susu jahe di atas meja ruang tengah. Kanaya mendaratkan tubuh nya di atas sofa, memejamkan matanya sejenak seraya menarik nafas panjang. Kanaya begitu lelah menghadapi Bram yang selalu mengejar-ngejarnya. Padahal Bram adalah calon papa mertua Kanaya dan Kanaya akan segera menjadi menantunya. Kanaya siap memberikan kasih sayang kepada Bram selayaknya seorang anak perempuan kepada ayahnya, agar Bram bisa merasakan kasih sayang seorang anak perempuan. Bram hanya memiliki satu anak yaitu Aldo Alford Wijaya, anak laki-laki tunggal. Tapi sayangnya bukan itu yang Bram mau, tapi Bram mau Kanaya menjadi istrinya.


Andai saja Bram berusia sama dengan Kanaya, pasti Kanaya mau menerima cinta Bram. Tapi ini usia Bram sudah lebih dari 40 tahun dan sangat pantas menjadi ayah Kanaya.


Lalu Kanaya mengerjap tak kala kedua matanya ditutup dengan tangan oleh seseorang. Kanaya mencengkram dan menarik kedua tangan yang menutup matanya itu.


"Akhhhhh.....!! Apa-apaan sih, om?" Kanaya melepaskan cengkraman tangannya dan bangkit dari duduknya, kini Kanaya menghadap ke arah Bram. Om Bram tampak seperti anak muda yang berusia 30 tahunan dengan menggunakan pakaian casual seperti ini.


"Sudah beres om, ganti bajunya?Ini silahkan di minum susu jahenya mumpung masih hangat," tutur Kanaya sambil menyodorkan secangkir susu jahe ke hadapan Bram.


Sebelum Bram duduk di sofa yang berada di hadapan Kanaya, tangan kanannya merogoh kantong celana bagian belakang, mencoba mengambil sesuatu yang ia simpan di sana.


"Ini untukmu....maaf basah begini coklatnya, tadi kehujanan dua kali. Pertama hujan lokal dan yang kedua hujan beneran," ucap Bram sembari memberikan satu buah coklat kepada Kanaya.


Kanaya menatap Bram yang kini sudah duduk dan sambil menyantap secangkir susu jahe yang ia berikan. Lalu Kanaya bangkit berdiri ingin pergi meninggalkan Bram sendiri di sana tapi sayangnya tangan Bram lebih cepat mencengkram tangan Kanaya dan menahan gerakan Kanaya.


"Lepaskan!" teriak Kanaya.


"Kenapa.....Kay?" tanya Bram.


"Tolong om, sudah jangan lakukan ini. Aku calon menantu om. Jadi tolong jangan sentuh- sentuh diriku.


"Aku tidak akan biarkan kamu bersama Aldo," jawab Bram.


Kanaya menggerutu sepanjang ia melangkah ke arah tangga. Dan itu membuat Bram tertawa karena melihat tingkah Kanaya yang lucu.


"Gadis kecilku, cepatlah tumbuh dewasa. Aku akan menunggumu," gumam Bram yang sembari tertawa membayangkan ucapannya sendiri.


Bagi Bram, anak dari sahabatnya itu sangatlah cantik dan baik hati, Kanaya juga sosok mandiri dan dewasa walau usianya masih terbilang muda. Benar-benar membuat Bram tergila-gila pada Kanaya.

__ADS_1


Kanaya keluar dari kamar dan segera menuruni anak tangga dengan perlahan. "Pakai jaket ini dan segera habiskan minuman yang aku buat. Setelah hujan berhenti segeralah Om pulang."


"Terima kasih, Kay. Kamu sangat perhatian padaku," ucap Bram.


"Aku hanya tidak ingin om sakit dengan tingkah konyol om seperti tadi. Maka dari itu mengertilah, setelah hujan reda om silahkan pergi dari rumah ini,"tutur Kanaya.


"Aku tidak berniat pulang, aku akan tinggal di sini menemani wanitaku," tolak Bram dengan wajah santai nya.


"Om Bram.......cukup!"


"Aku tidak akan melangkahkan kakiku keluar dari rumah ini, sebelum kamu mau memberikan ku kesempatan untuk saling mengenal," paksa Bram.


Kanaya menatap Bram dengan tatapan tajam, setajam pisau koki di dapur. "Baiklah om, Kanaya akan memberikan waktu Kanaya, tapi setelah hujan berenti om segera pulang," tegas Kanaya.


Wajah Bram seketika berubah, wajah bahagia sangat terlihat jelas di sana. Senyuman pun mengembang di wajahnya. Bram bangkin dari duduknya dan berpindah berdiri di hadapan Kanaya. Meraih kedua tangan Kanaya dan mencengkram nya dengan kuat.


"Iyah, aku tidak berbohong," kata Kanaya.


Bram melepaskan cengkraman tangannya dan langsung memeluk Kanaya dengan erat. Bram sangat bahagia sampai- sampai ia bersikap seperti itu. Tapi anehnya Kanaya tidak melakukan penolakan sedikitpun, apa yang di rasakan Kanaya kali ini benar- benar membuatnya aneh. Dirinya merasakan kenyamanan saat kepalanya bersandar di dada Bram yang bidang itu. Detak jantung Bram pun terdengar sangat nyaring dan cepat.


Saat Kanaya tersadar dari kenyamanan nya segera kedua tangannya mendorong tubuh Bram agar menjauh dari dirinya.


"Ahhh...maaf sayang, aku tadi kelewat bahagia jadi tanpa sadar langsung memeluk mu," ucap Bram malu- malu.


"Sekarang pulanglah, aku juga mau beristirahat," ucap Kanaya.


"Baiklah aku akan pulang sekarang," ucap Bram dan melangkah menuju pintu keluar. Saat sampai di pintu keluar langkah Bram terhenti dan tubuhnya berbalik mengarah pada Kanaya. "Terima kasih susu jahe hangatnya," ucap Bram sembari tersenyum setelah mengucapkan itu.


"Besok aku akan menjemputmu, sayang. Bersiap-siap lah,"teriak Bram yang sudah berada di teras rumah.

__ADS_1


Memiliki tubuh tinggi dan kekar, kulit kuning langsat, rambut berwarna kecoklatan dan memiliki kumis tipis serta bulu-bulu halus yang tumbuh di kedua pipinya. Hidung mancung dan memiliki bibir seksi berwarna merah muda, itu karena Bram bukan pria perokok.


Bram seorang pemimpin sebuah perusahaan property. Pria keturunan campuran America. Berwajah sangat tampan seperti model terkenal. Dengan status duren duda keren yang di sandangnya, banyak para wanita yang mengejar- ngejarnya serta memuja- mujanya. Bram juga terkenal dengan julukan sang casanova, seseorang yang ahli tentang perempuan dan selalu berpetualang dalam banyak cinta. Baginya wanita hanyalah tempat pemuas ***** saja. Bram hanya tinggal menunjuk wanita mana yang dirinya inginkan setiap malamnya, dari sekian banyak wanita yang pernah menghabiskan malam bersamanya, belum ada satupun wanita yang bisa memikat hati seorang Bram. Bram yang sering terlihat bertingkah seperti kekanak- kan akan namun di saat dalam mengurus pekerjaannya Bram adalah sosok yang tegas, dia tidak segan- segan untuk memaki stafnya yang berbuat salah.


Sore hari di kediaman Bram,


"Pakai baju yang mana ya? Formal atau non formal." Bram sibuk membongkar semua isi lemari nya yang kini sudah berpindah ke atas tempat tidurnya yang menumpuk dengan tumpukan baju Bram.


"Aku lupa bertanya pada Kay, besok kita akan menghabiskan waktu kemana ya? Apa aku harus menelponnya u tuk memastikannya....Akhhh, sudahlah, jika aku telpon nanti yang ada Kay berfikir aku pria yang menyebalkan karena selalu mengganggunya dengan hal- hal yang tidak penting."


Sudah 10 stelan baju yang Bram coba gunakan, namun belum ada yang cocok menurut dirinya. Padahal semua pakaian yang ia gunakan sejak tadi itu sama saja dan cocok ketika melekat di tubuhnya, tapi tetap saja Bram tidak yakin dan masih terus mencari.


"Apa aku harus menggunakan ini besok?" ucap Bram sembari mengambil stelan baju dengan gaya Smart Casual yang ada di dalam lemari kamar tidurnya. Kini Bram yang berdiri di depan cermin besar mencoba mencocokkan pakaian yang ia ambil tadi dari dalam lemari. Senyuman pun terukir di wajahnya, menandakan besok ia akan memakai stelan yang baru saja ia ambil.


Besok dengan menggunakan blazer polos berwarna navy, serta kemeja putih polos tanpa menggunakan dasi dan di dipadupadankan dengan memakai celana Jins dan sepatu oxford berwarna coklat. "Sudah pasti Kanaya akan terkagum-kagum melihat pesona dirinya yang tidak bisa di elakkan lagi, kamu benar-benar tampan, Bram." Bram pun tertawa geli dengan ucapan yang baru saja ia ucapkan sendiri.


Baru kali ini Bram merasakan ke gugupan dalam dirinya saat janjian bersama wanita yang ia sukai. Tiba-tiba keringat dingin keluar dan membasahi wajahnya. Bram memperhatikan detik jarum jam yang kini seperti berputar melambat. Dalam hati Bram ia sangat menginginkan waktu berjalan dengan cepat, agar dirinya bisa cepat bertemu dengan Kanaya lagi.


Bram yang berbaring di atas tempat tidur, mencoba memikirkan apa yang akan ia katakan kepada Kanaya saat bertemu nanti. Apakah aku harus melamarnya langsung, atau aku bersikap sok. akbrab dengannya, atau bahkan aku harus bersikap seperti pria dewasa.


Apa aku perlu bertanya pada Herdi, bagaimana cara meluluhkan hati seorang wanita. Tapi jika aku bertanya padanya yang ada aku akan jadi bahan olokan Herdi. Terlebih dia akan tau siapa wanita yang sangat aku cintai. Waktu terus saja bergulir dan di habiskan oleh Bram untuk merawat tubuhnya, Bram benar- benar ingin tampak sempurna besok hari saat bertemu dengan Kanaya.


Bram benar-benar bersungguh-sungguh untuk membuat kesan pertama berkencan bersama Kanaya tidak akan terlupakan. Dan membuat kesan manis di ingatan Kanaya. Kini Bram yang berbaring di atas tempat tidur meraih ponselnya dan membuka galeri fotonya. Di usap dan di gulirnya sampai pada saat dirinya menemukan foto yang di cari nya. Begitu cantik, anggun, dan selalu manis saat ngobrol dengan lawan bicara. Bram mengelus-elus wajah wanita yang berada di foto itu. Bram mengecup lembut layar ponselnya.


"Suatu saat nanti aku akan mendapatkan mu, Kay. Aku akan menunggu sampai saat itu tiba. Tidak akan ku biarkan kamu dimiliki oleh pria manapun termasuk anakku sendiri, Aldo."


"Ngomong- ngomong Aldo, kemana itu anak. Seharian ini tidak ada kabarnya. Kalau tidak di hubungi duluan tidak pernah berniat menghubungi papa nya duluan walau hanya sekedar menanyakan kabar," kesal Bram.


Bram keluar dari galeri foto dan menekan tombol panggilan, Bram mendial kontak putranya....Namun belum juga mendapatkan jawaban dari Aldo. "Sial.....dari tadi telponku tidak diangkat. Kemana ini anak? Apa dia ada di apartemen nya yah."

__ADS_1


__ADS_2