
"Jika bertemu denganmu adalah takdir Tuhan, dan berteman denganmu adalah pilihan, maka jatuh cinta padamu bukanlah sesuatu yang aku rencanakan. Kudobrak pintu hatimu untuk sekadar melihat sisa rindu yang sempat kutitipkan padamu. Ingin kuambil pecahan rindu itu, untuk kurangkai kembali menjadi utuh. Begitu malam semakin larut saat jantungku berdegup kencang menerjemahkan isi pikiranku yang ternyata kamu. Senyumanmu adalah detik jarum jam bagiku. Terasa singkat, secepat angin berlalu. Cinta bisa memberikan cahaya pada pria paruh baya ini. Cinta juga bisa jadi petaka bagi pria paruh baya ini. Ah, biarlah... cinta tak butuh kata-kata. Benar begitu kan, sayang?" ucap Bram sambil tersenyum manis.
Kanaya hanya mengernyitkan keningnya, entah apa yang mau di lakukan Bram di kamar tidurnya.
"B-bram.....m-mau apa kamu ke kamarku?" tanya Kanaya gugup.
Bram hanya terdiam, melihat sosok Kanaya yang kini berada di hadapannya, Bram mulai menatap Kanaya sampai-sampai matanya tidak berkedip. Kanaya yang memakai gaun seksi malam ini membuat Bram yang melihatnya menyeringai. Gaun yang panjangnya hanya sampai di atas lutut, dan memiliki tali kecil yang melingkar di leher, bagian depan belakang terbuka, menampilkan garis istimewa yang berada diantara dua pegunungan, sangat serasi gaun yang di kenakan berwarna hitam dengan di hiasi Swarovski dengan kulit mulusnya yang berwarna putih.
Sontak Kanaya menutup bagian dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya. "Bram... jangan menatapku seperti itu, seperti serigala ingin menerkam saja," ucap Kanaya yang masih menutupi bagian dadanya. Bram mulai melangkah mendekati Kanaya, sontak itu membuat Kanaya panik. Kanaya terus berjalan mundur selangkah demi selangkah.
"Stoppp.....apa yang mau kamu lakukan Bram?" seru Kanaya.
"Bram ... sadarlah, Bram.....Brammmm!!"
Tiba-tiba Kanaya mentok dan tidak bisa melangkah mundur lagi, tubuhnya sudah menempel pada jendela kaca yang menghadap ke bibir pantai yang di tutupi tirai putih.
Bram yang kini semakin dekat dengan Kanaya, mulai melepas jas yang sejak tadi dia kenakan. Di lemparnya ke atas tempat tidur jas tersebut.
"Aku sangat mencintaimu, dan ingin memilikimu seutuhnya, aku akan buktikan itu padamu." Bram tersenyum manis, tapi bagi Kanaya senyuman itu menakutkan. Bram sengaja melakukan itu hanya untuk mengerjai Kanaya, gadis pujaan hatinya yang masih belia.
"Om, jangan lakukan itu padaku. Ku mohon jangan.....!" lirih Kanaya yang kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Kini Bram tepat berdiri berhadapan dengan Kanaya. Bram menundukkan kepalanya agas sejajar dengan Kanaya. "Kamu sangat cantik sayang, ingin rasanya aku menerkammu malam ini," ucap Bram.
Bram yang semakin semangat mengerjai Kanaya, dengan sengaja dirinya membuka sabuk celananya secara perlahan.
__ADS_1
Kanaya seperti mematung tidak bisa bergerak, rasa takut menyelimuti Kanaya saat ini. Keberaniannya seolah hilang begitu saja saat dia berhadapan dengan Bram. Kanaya takut kalau Bram akan berbuat nekat dan harus sampai kehilangan hal yang paling berharga yang dimiliki seorang wanita, yang sangat ia jaga selama ini.
Di satu sisi lain, Bram juga sama seperti papanya dan Om Pandu. Mereka semua seorang casanova dan di luar sana banyak wanita yang rela memberikan kegadisannya demi bisa bersama pria-pria ini. Tapi setelah pria-pria ini menemukan wanita yang sangat ia cintai, maka hilanglah julukan casanova mereka, karena buaya akan berubah menjadi cicak.
"Aku sangat cemburu pada Aldo. Aldo bebas menyentuh mu, menyentuh pinggangmu, mengecup pipi dan keningmu, bahkan ia lakukan itu di hadapanku. Aku tidak suka jika gadis yang aku cintai di sentuh oleh pria lain walaupun dia anakku, aku tetap tidak suka itu. Andai pria itu bukan anakku sudah pasti akan ku hancurkan dalam sekejap siapa saja yang berani menyentuh kekasihku. Tapi dia.....dia adalah anakku. Kalau aku tidak bisa mendapatkan mu dengan cara baik-baik, maka aku akan merebutmu dengan cara kasar. Bram menarik kedua tangan Kanaya yang menyilang di dadanya, menarik tangan itu ke atas, Bram kini sudah mengunci gerakan Kanaya. Dengan tubuh kekarnya, itu adalah hal yang sangat mudah baginya.
Kanaya tersandar di jendela kaca, tubuhnya melemah, semua pertahanannya mulai hilang, Kanaya yang memiliki perasaan yang sama terhadap Bram, kini mulai menginginkan Bram selalu ada dalam hidupnya. Namun Kanaya sadar Bram lebih pantas menjadi papa mertuanya bukan suaminya.
Bram pun melepaskan kedua tangan Kanaya, mengajaknya untuk duduk di tepi tempat tidur. Bram memakai kembali sabuk celananya seperti semula. Bram meraih jasnya yang ada di dekat tubuh Kanaya dan memakaikannya di bahu Kanaya, agar tubuh indahnya tidak terlihat lagi. Sungguh Bram sangat ingin meniduri Kanaya, tapi dia sadar Kanaya adalah anak dari sahabatnya, tidak mungkin Bram menghancurkan nya masa depannya walaupun nantinya Bram pasti bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan, tapi Bram tidak menginginkan cara yang kotor itu. Bram ingin menikah dengan Kanaya dengan keinginan masing-masing dan tidak ada paksaan.
Bram duduk di samping Kanaya, duduk berhadapan dengan pujaan hatinya. Bram membelai lembut wajah kekasihnya itu, dan Kanaya pun membalas belaian itu. Tangan halus Kanaya kininberada di wajah Bram. Bram meraih tangan mungil itu dan mengecupnya dengan mesra. Bram memeluk Kanaya dengan sangat erat, ia memejamkan matanya dan rasa nyaman menjalar pada tubuh Bram saat itu.
Kanaya membeku seperti tidak bisa bergerak dan membisu tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan tangan Kanaya ingin sekali membalas pelukan hangat Bram. Tapi Kanaya mengurungkan niatnya.
"Bram....ini sudah larut, kamu beristirahat lah kembali ke kamarmu," pinta Kanaya.
"Aku belum mau istirahat, ku mohon biarkan aku disini beberapa saat dengan posisi seperti ini, ada rasa nyaman mengalir ke tubuhku saat aku memelukmu."
"Ta-tapi, Bram,"
"Sudahlah, kamu tidak perlu berbicara apapun lagi, cukup diam dan biarkan aku di sini sebentar saja." Bram memotong pembicaraan Kanaya.
Tangan Kanaya membalas pelukan Bram, Kanayapun memeluk Bram dengan hangat.
"Jangan pernah menganggap ku sebagai calon mertuamu, anggap aku seorang pria yang mencintaimu," ucap Bram.
__ADS_1
Bram melepaskan pelukannya menatap wajah cantik pujaan hatinya. Diraihnya kedua tangan Kanaya dan diletakkan di kedua pipi Bram. Bram masih fokus menatap Kanaya yang berada di hadapannya. Tanpa sadar tangan Bram pun ikut membelai lembut wajah Kanaya.
"Kamu benar-benar cantik, sayang. Pantas saja aku sangat tergila-gila padamu," ucap Bram sembari mendekatkan wajahnya.
Kedua tangan Bram kini sudah berada di kedua pipi Kanaya. Wajah Bram semakin mendekat dengan wajah Kanaya. Hidung Bram yang mancung mulai menyentuh hidung Kanaya yang sama-sama mancung. Sampai-sampai suara napas mereka berdua pun saling terdengar.
Bram menempelkan bibirnya pada bibir mungil Kanaya, perlahan Bram mulai menikmati bibir mungil dan juga manis itu. Betapa lembut bibirnya bibir pujaan hatinya itu.
Kanaya yang terbawa suasana dan merasa ini bukan seperti dirinya. Ia luluh pada pria paruh baya yang berada di hadapannya itu, yang mulai menikmati bibir mungilnya itu dengan mata yang terpejam. Bram mulai bermain-main dengan bibir pujaan hatinya, mencoba masuk lebih dalam lagi.
Kanaya pun mulai menikmati permainan Bram di dalam sana, dengan mata tertutup Kanaya mulai mengimbangi permainan Bram. Bram mulai membaringkan tubuh Kanaya di atas tempat tidur, kini tangan Kanaya sudah melingkar di leher panjang Bram. Mencengkram dan mengusap rambut Bram. Bram semakin dalam lagi menerobos masuk ke dalam bibirnya itu.
Tiba-tiba Bram melepaskan tautan bibirnya, segera Bram bangkit dari atas tubuh Kanaya, Bram membuka kunci pintu kamar Kanaya yang tadi doa kunci. Dengan cepat Bram pergi dari sana sebelum ada yang melihatnya.
Kanaya terkejut, Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Apa yang barusan aku lakukan, aku ikut menikmati kecupan dari Bram."
Jas yang di kenakan Bram tadi masih ada di tubuh Kanaya, Bram lupa mengambilnya karena sangat terburu-buru. Tapi Kanaya tidak mengerti dan tidak tahu alasan Bram pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa berkata sedikitpun.
Kini Bram sedang duduk diatas batu karang. Berusaha menenangkan hati dan pikirannya, terutama menenangkan pedang pusakanya yang sudah ingin lepas sangkar.
"Bodohnya aku, kenapa aku tadi langsung buru-buru keluar dan tidak pamit dulu. Apa yang ada di pikiran Kanaya nanti tentang diriku?" Br menepuk jidat nya berkali-kali, "ini semua karena mu, andai saja kamu bisa berusaha tenang saat di dalam sana, pastinya sekarang aku masih bisa mengobrol dengannya," Bram mulai menyalahkan pedang pusakanya itu sambil menatap kebawah sana. "Kalau tadi aku lanjut meniduri Kanaya bagaimana ya? Pasti Kanaya akan langsung jadi milikku. "Akh.....apaan sih, tidak boleh. Itu tidak boleh terjadi, ingat Bram kamu harus mendapatkan nya dengan cara yang gentleman, bukan seperti itu."
"Andai saja kita sudah menikah, Kay. Tentu saja aku tidak perlu repot lagi untuk menunaikan keinginan untuk berhubungan denganmu. Aku tinggal luangkan waktu, menggunakan jurus manja, dan memberimu sedikit rangsangan dan permainan di atas ranjang pun bisa kudapatkan." Bram membuang napas kasar.
"Namun sekarang aku harus menahan nafsuku seorang diri. Menahan ***** terlalu lama itu tidak baik. Bagaimana aku tidak stress kalau begini caranya," gumam Bram yang sembari menendang batu karang kecil ke sembarang arah, sebagai pelampiasan kekesalannya.
__ADS_1