MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Sembilan : Malu-malu tapi mau


__ADS_3

Sedangkan Herdi yang masih dalam perjalanan pulang, masih terus memikirkan tingkah sahabatnya itu. Herdi menghela napas panjang," Bagaimana busa putriku jatuh hati kepada pria tua itu? Apakah karena selama ini dia kekurangan kasih sayang seorang ayah?" gumam Herdi di dalam mobil.


Herdi juga langsung menyadari bahwa dirinya memang sejak Kanaya masih kecil selalu sibuk dengan merintis usahanya. Sering pergi keluar kota dan meninggalkan putri kecilnya bersama Mbok Narsih, karena Anna selalu ikut bersama dirinya. Herdi pun meraup wajahnya dengan kasar, merasa ini semua tidak lepas karena kesalahan dari dirinya.


Mobil pun melaju dengan sangat cepat, sehingga tidak butuh waktu lama Herdi pun sampai di rumah. Rumah mewah berwarna serba putih. Rumah mewah yang memiliki 2 lantai, dengan mengusung tema Amerika - Eropa klasik, Herdi dan Anna memilih membangun rumah itu di salah satu kompleks perumahan elit. Di bagian dalam Anna memilih furniture berornamen kayu dengan sentuhan warna coklat krem sehingga memunculkan kesan hangat. Semua ruangan di dalam rumah itu terlihat sangat mewah dengan keberadaan lampu gantung kristal pada dindingnya. Dan sudah pasti di dalam rumah mewah itu terdapat fasilitas lengkap seperti tempat gym, kolam renang dan garasi yang serba otomatis.


Pintu garasi yang otomatis terbuka saat kedatangan mobil Herdi dan menutup kembali di saat mobil Herdi berlalu. Kini mobil sudah terparkir rapi di garasi besarnya yang di penuhi dengan beberapa mobil mewah kesayangannya. Herdi pun turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah melalui pintu yang terhubung dengan garasinya. Anna tampak masih menunggu kepulangan suaminya, menonton Tv sembari meminum secangkir susu coklat hangat kesukaannya. Anna ibunya Kanaya sangat suka dengan semua yang berbau coklat, terbalik dengan suaminya yang sangat tidak menyukai itu. Jadi, sudah jelaskan kalau Kanaya tidak menyukai coklat itu mengikuti jejak siapa, heeeeheeeee......


Herdi langsung merebahkan tubuhnya di pangkuan istrinya. Anna tahu sepertinya Herdi sedang ada masalah, dengan lembut dirinya membelai puncak kepala suaminya itu," Ada apa, yah? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat." Anna bertanya dengan lembut kepada suaminya.


Herdi meraih tangan istrinya yang mengelus kepalanya lalu menggenggamnya. Herdi mulai menceritakan masalah percintaan putrinya yang ia ketahui lewat Bram tadi. Herdi bingung harus bagaimana, tapi Anna masih bersikap santai kepada suaminya setelah suaminya selesai menceritakan semua yang mengganggu pikirannya.


"Tapi, Ann!! Kenapa putri kita tidak menceritakan hal ini pada kita, apa dia berniat menyembunyikan semua ini pada kita. Sampai kapan Ann?" Herdi mulai terpancing emosi, dirinya beranjak dari pangkuan istrinya menjadi duduk berdampingan dengannya dengan tidak melepaskan genggaman tangannya.


"Sabar, yah! Kita tidak boleh berfikir negatif dulu. Anak kita sudah dewasa, mungkin dirinya masih butuh waktu untuk mencerna semua ini, kamu saja bingung dengan situasi sekarang, bayangkan gimana perasaan Kanaya menghadapi permasalahan ini. Terlebih Bram adalah sahabatmu sejak kecil Kanaya sudah mengenal Bram sebagai omnya. Cobalah untuk mengerti, bagaimana posisi Kanaya sekarang." Anna mengusap-usap bahu suaminya mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya yang mulai tersulut emosi.


"Kamu benar, sayang. Pasti sekarang Kanaya merasa kebingungan. Tapi, sebaiknya besok kita ke sana mengunjungi dan memastikan keadaannya."


Anna mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. Lalu mereka berdua pun beranjak dari sofa menuju kamar tidurnya, karena malam sudah larut, waktunya untuk beristirahat.


Di tempat lain, di sebuah kamar tidur yang bertema ramah lingkungan, kamar tidur yang penuh gaya dan ramah lingkungan tentu membantu Kanaya untuk tidur lebih nyenyak. Pintu lemari pakaian yang terbuat dari kayu serta kertas foil daur ulang, dan seri BJÖRKSNÄS yang terbuat dari kayu solid kokoh, memadukan ide ramah lingkungan dengan tampilan yang memukau. Seperti yang Kanaya inginkan.


Ide kamar tidur ramah lingkungan ini Kanaya dapat dari kecintaannya dengan alam, dengan gaya pintu REINSVOLL terbuat dari kayu dan botol PET daur ulang, ujung bulat dan tidak tajam menciptakan efek yang indah ketika beberapa pintu berdiri berdampingan.

__ADS_1


Rel, laci dan rak yang ditempatkan pada ketinggian berbeda memastikan terdapat ruang khusus untuk setiap barang yang ada di dalam lemari pakaian Kanaya. Sedangkan rangka tempat tidur dan meja samping BJÖRKSNÄS dibuat dari kayu solid birch yang kokoh dan memiliki desain yang amat cantik.


Di sanalah malam-malamnya Kanaya di habiskan, sebuah ruangan yang menjadi saksi bisu tentang kehidupan seorang gadis cantik. Dimana dia sering terlihat bahagia ataupun menangis. Seperti sekarang yang terlihat gadis cantik dan muda yang sudah tertidur di atas tempat tidurnya dengan wajah yang sembab.


Malam tanpa kabut senyap dengan semilir angin yang menerbangkan penat dari ujung-ujung helai rambut Kanaya. Di telinga Kanaya terdengar alunan musik lirih yang lama-lama berdentum seolah berseru, kenapa dia pergi?


Kanaya sisipkan jemarinya ke dalam rongga dada, di sudut dalamnya, jantung berdetak lemah dan lelah seolah berbisik, mengapa kamu biarkan dia pergi?Pergi, sesenyap semilir angin. Wajah Kanaya tak segembira seperti sebelumnya, dan sampai akhirnya Kanaya pun terbangun oleh tetes-tetes air mata yang mulai membasahi sudut matanya.


Kanaya yang tadinya sudah memejamkan mata, kini matanya kembali terbuka. Menatap ke langit-langit kamar tidurnya, mengusap air mata yang mulai membasahi bantal tidurnya. Pikirannya di penuhi oleh bayang-bayang seseorang, dan seseorang itu yang selalu hadir dalam pikirannya adalah seseorang yang tidak seharusnya dia pikirkan. Sebanyak apapun Kanaya berusaha untuk menepis semua itu tetap tidak bisa. Bayang-bayang pria itu sudah tidak bisa pergi dari dalam pikirannya.


Senyumannya, sikap baik dan tulusnya, rambut coklatnya, kumis tipis serta cambang di kedua sisi pipinya Bram membuat Kanaya mabuk kepayang. Tingkah lakunya yang lucu, sifatnya yang keras kepala, dan rasa tanggung jawabnya selalu terngiang-ngiang dalam benak pikiran Kanaya.


"Bisa-bisa aku terdampar di rumah sakit jiwa, jika terus memikirkan Bram," kesal Kanaya. Kanaya beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Menyalakan air keran di wastafel, membasuh wajahnya dengan air dingin yang keluar dari keran air. Berharap pikirannya menjadi segar kembali dan tentunya berharap Bram akan pergi juga dari dalam pikirannya.


"Tetap saja bayangan Bram masih ada di dalam isi kepalaku....., sebaiknya aku kembali tidur." Kanaya keluar dari dalam kamar mandi melangkah naik ke atas tempat tidur, memutar-mutar dan membalikkan posisi bantal yang tadi ia pakai. Kini Kanaya siap dengan posisi tidurnya. "Bram.....ku mohon pergilah dari pikiranku, biarkan aku tidur nyenyak malam ini," gumam Kanaya sesaat sebelum Kanaya memejamkan matanya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sampai pagi pun tiba, matahari bersinar cerah. Angin berkesiur menarikan dedaunan sebagaimana mestinya. Suasana pagi tetap dingin seperti seharusnya. Seperti biasa, irama pagi dan detak jantung kehidupan bermula, seperti itulah adanya.


Menjadi tidak biasa, ketika di pagi itu Kanaya merasa ada ketukan pintu yang sangat keras di pintu kamar tidurnya. Kanaya masih enggan untuk membuka matanya, Kanaya pikir itu hanya mimpi karena dirinya merasa baru saja memejamkan matanya. Kanaya sampai terjaga semalam itu semua karena Bram yang menghantui dalam tidurnya.


Tokk.....tokk.....tokkkkkk!!

__ADS_1


Suara ketukan pintu semakin keras, Kanaya pun masih tidak menghiraukannya. "Kenapa mimpi kali ini terdengar seperti nyata. Suara ketukan pintu itu seperti sungguhan. Ahhh....tidak mungkin ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku saja masih asik bermimpi, mau masuk lewat mana orang itu, semua pintu kan terkunci. Sudahlah, lebih baik aku lanjutkan tidurku," gumam Kanaya.


Tokkkkk.....tokkkkkk!!


"Kanaya....bangun!!"


Mendengar namanya di panggil Kanaya dalam sekejap langsung membulatkan kedua matanya. "Suara itu.....ibu....!!!! Astaga, dari mana ibu bisa masuk ke dalam rumah?" Kanaya masih dalam posisi tidurnya berpikir sesaat. Seketika langsung tubuhnya langsung terloncat dari tempat tidur. "Bagaimana aku bisa lupa, semalam kan Bram yang tutup pintu, sudah pasti tidak dia kunci. Pantas saja ibu bisa sampai di depan pintu kamarku."


Kanaya segera melangkah ke depan pintu kamar, memutar kunci dan saat pintu kamar mulai terbuka, muncullah sosok Ibu Anna yang sejak tadi sudah berdiri di depan pintu kamar Kanaya dengan raut wajah yang tidak enak.


"Ibu......!!"


"Ya, aku ibumu! Apa kamu lupa dengan ibumu?" tanya Anna.


"Akh...tidak. Ka-kanaya hanya kaget saja, bagaimana ibu bisa masuk. Sepertinya Kanaya lupa mengunci pintu. Hehehe..." Kanaya menggaruk-garuk kepala bagian belakang yang tidak terasa gatal.


"Cepatlah bersiap, itu ada ayahmu menunggu di bawah. Anak gadis kok jam segini baru bangun? Apa kamu tidak kebutik hari ini?" tanya Anna yang mencemaskan keadaan putrinya. Wajah sembab, mata panda terlihat sekali putrinya kurang tidur.


"Iya...aku akan bersiap-siap dan segera turun ke bawah. Semalam aku tidak bisa tidur, sepertinya aku sering mimpi buruk akhir-akhir ini, bu." Kanaya beralasan kepada ibunya.


"Iya mimpi buruk karena kamu mimpiin lelaki tua itu," ucap ibunya dalam hati.


"Mungkin hari ini Kanaya agak siangan saja ke butik, karena kemarin Kanaya sudah menyelesaikan satu gaun pengantin, hari ini tinggal satu gaun lagi," ucap Kanaya.

__ADS_1


"Ya sudah cepat mandi sana, ibu akan menunggumu di bawah bersama ayah." Anna pun berlalu dari hadapan putrinya dan menuruni anak tangga menuju ruang tengah dimana suami juga sedang bersantai di sana.


__ADS_2