MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Enam : 2 pria


__ADS_3

Kala malam itu begitu terang, yang berhias dengan bulan dan taburan bintang yang meramaikan suasana malam hari ini. Begitu bahagianya langit malam itu. Begitu pula dengan Bram yang sudah sampai di depan rumah Kanaya. Bram turun dari mobilnya dengan senyuman manis di wajahnya dan sekotak coklat di tangannya yang tadi siang di belinya, lupa dia berikan kepada Kanaya.


Bram langsung membuka pagar dan masuk ke dalam. Bram melihat ke halaman rumah Kanaya. Terparkir satu mobil sport keluaran terbaru berwarna putih di sana. Bram mulai menebak-nebak, siapa tamu yang ada di dalam rumah pujaan hatinya. "Apakah Herdi dan Anna ada di dalam," gumam Bram.


Bram memutuskan untuk melihatnya sendiri ke dalam. Bram melangkah dengan buru-buru, kini senyuman di wajahnya mulai menghilang berganti dengan rasa cemas yang menguasai dirinya saat ini.


Dengan sekotak coklat berbentuk buket bunga di tangan, Bram melangkah naik ke teras rumah. Bram terdiam sejenak di depan pintu ruang tamu yang terbuka. Bram mendengar suara pria yang sedang berbicara di dalam dengan pujaan hatinya. Bram sangat tau suara siapa di dalam yang sedang mengobrol dengan Kanaya.


"Kanaya, kapan aku harus menemui kedua orang tuamu? Kini aku sudah siap untuk melamar dirimu. Sudah satu tahun ini kita menjalin hubungan serius. Aku rasa sudah cukup dan kini waktunya kita untuk melangkah ke jenjang berikutnya," tutur Aldo.


"Tapi, bagaimana dengan papa mu? Apa dia mau menerima ku sebagai menantunya," ucap Kanaya.


"Papa? Hmmmm......papa tidak boleh mengacaukan rencana ku." Raut wajah kesal tampak jelas terlihat di wajah Aldo. Aldo tak habis pikir kenapa dirinya harus bersaing dengan papanya sendiri. Masih banyak wanita lain di luar sana yang bisa papa kencani, kenapa harus Kanaya.


"Rencana pernikahan kita harus tetap berjalan. Kapan aku bisa bertemu dengan ayah dan ibumu, di saat itu pasti papa akan menerima mu sebagai calon menantunya."


Aldo Alford Wijaya adalah anak dari Bramasta Alford Wijaya. Pria berumur 27 tahun itu, tampak gagah, kekar dan juga bertubuh tinggi. Aldo menjalin hubungan dengan Kanaya sudah satu tahun terakhir ini. Tapi mereka masih menyembunyikan hubungan mereka dari kedua orang tua Kanaya.


Aldo sering mengajak Kanaya untuk menemui orang tuanya, tetapi Kanaya selalu menolak. Karena Kanaya sebenarnya belum yakin akan hubungannya bersama Aldo. Aldo adalah pria yang sangat baik malah terlalu baik kepada Kanaya, berulang kali Aldo mengutarakan perasaannya kepada Kanaya tapi selalu di tolak. Sampai akhirnya Kanaya merasa tidak enak pada kebaikan Aldo, membuatnya mencoba untuk menerima Aldo dalam kehidupannya.


Brakkkkk.......!!


Suara pintu yang menghantam ke tembok. Muncullah Bram di tengah pintu, wajahnya tampak kesal. Sejak tadi Bram sudah menahan amarahnya ketika mendengar rencana pernikahan putranya. Tentu saja Bram tidak akan dengan mudah menyerah dan melepaskan Kanaya untuk Aldo.


"Aku tidak setuju dengan rencana pernikahan kalian berdua," tegas Bram.


Aldo dan Kanaya terkejut mendengar suara gebrakan pintu yang di susul suara kemarahan seorang pria yang sangat mereka kenal, Bramasta.


Kanaya dan Aldo melihat ke arah Bram yang memegang sekotak coklat yang sudah berdiri di dalam rumah.

__ADS_1


"Papa!!" teriak Aldo. "Apa yang papa lakukan? Apa papa ingin merusak rumah Kanaya." Aldo menatap tajam ke wajah papanya sendiri.


"Ayolah pah, tidak perlu kita mempersulit masalah ini. Papa akan memiliki Kanaya juga setelah Aldo menikah dengannya, tapi sebagai menantu papa," ucap Aldo.


"Tidak bisa. Papa ingin memilikinya sebagai istri papa bukan sebagai menantu papa," tegasnya.


"Papa kenapa sih tidak mau mengalah kepada anaknya sendiri. Biarkan aku bersamanya, pah." Aldo mulai tampak kehabisan kesabaran.


"Seharusnya papa yang bertanya seperti itu. Kenapa kamu tidak mau mengalah kepada orang tuamu sendiri?" tutur Bram.


"Papa kan sudah pernah menikah, jadi mengalah lah denganku yang masih berstatus single ini," kesal Aldo. Aldo mulai kehabisan kesabaran. Kini dirinya sudah tidak duduk di sofa empuk lagi. Melainkan berdiri di depan sofanya tadi.


"Karena kamu masih muda kamu bisa mencari wanita manapun yang kamu mau. Jalanmu masih panjang masih banyak kesempatan untukmu kedepannya," sahut Bram yang juga tidak mau kalah oleh putranya.


"Sepertinya papa harus Aldo bawa ke rumah sakit, sepertinya papa mengalami amnesia. Sampai-sampai papa lupa sekarang sudah berusia 43 tahun. Seumuran dengan ayah Kanaya." Terang Aldo yang kesal dengan ucapan papanya tadi.


"Dasar anak ngga tahu diri," marah Bram.


"Sudah....jangan di teruskan lagi pertengkaran ini!!" ucap Kanaya.


Kanaya menatap Bram yang berada di hadapannya. Bram tampak maskulin malam ini.


"Kalian belum makan malam kan, sebaiknya kita makan dulu. Kanaya sudah masak untuk kalian. Apa papa Bram dan Aldo tidak mau mencicipi masakan Kanaya?" tanya Kanaya dengan suara lemah lembut.


"Kanaya, apa ini salah satu rencanamu untuk makan malam bersama anakku? Apa kamu ingin meminta restuku malam ini," tutur Bram yang tampak kecewa.


"Pah, aku ini calon menantu papa kan. Apa papa tidak mau merestui hubungan Kanaya dengan Aldo."


"Tanya hati kecilmu Kanaya, apakah kamu benar-benar mencintai putraku? Ataukan kamu mencintaiku?" ucap Bram.

__ADS_1


Aldo dan Kanaya terkejut mendengar ucapan papanya. Papanya begitu yakin kalau Kanaya akan memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Aku mencintai Kanaya, pah!" tegas Aldo.


"Papa juga sangat mencintainya, kamu harus belajar menerima Kanaya sebagai calon ibumu," ucap Bram.


"Cukup.....cukuppppp!! Sudah Aldo dan papa jangan bertengkar lagi," marah Kanaya.


Bram menaruh kotak coklat yang ia pegang sejak tadi di atas meja ruang tamu. Dadanya terasa sakit, dirinya takut kehilangan Kanaya. Selama ini dia tidak pernah merasakan sakit seperti ini malah Bram yang menyakiti hati wanita, tapi kali ini terbalik. "Apa ini karma buatku," batin Bram dalam hati.


Bram pergi dari rumah Kanaya. Meninggalkan Aldo dengan Kanaya berdua di sana. Langkah kakinya yang gontai seperti kehilangan separuh nyawanya. Bram pun pergi berlalu begitu cepat dengan mobilnya. Kanaya yang berusaha mengejarnya dan berteriak memanggil-manggil papa....., namun percuma. Papa Bram kini sudah pergi.


"Sudah, biarkan saja. Papa selama ini selalu mendapatkan apa yang dia mau. Nanti juga akan baik sendiri. Sudah jangan di pikirkan," ucap Aldo yang menghampiri kekasihnya yang berdiri di depan pintu teras. Aldo merangkul kekasihnya membawanya masuk ke dalam rumah kembali dan mengajak Kanaya untuk menyiapkan makanan untuknya. Aldo yang sudah duduk di kursi meja makan menatap Kanaya dengan penuh kemenangan.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu, apa ada yang aneh di wajahku?" tanya Kanaya sembari menyodorkan piring yang sudah penuh dengan lauk pauk dan siap di santap oleh Aldo.


"Kamu sangat cantik sayang."


"Mulai deh gombal. Aku tidak akan termakan oleh gombalanmu itu. Simpan saja untuk wanita yang mengejar-ngejar mu di luar sana."


"Hemmmm.....masakan kamu enak sayang. Jika kita sudah menikah nanti, aku tidak akan makan di luar. Aku hanya akan makan masakanmu saja," ucap Aldo sembari melemparkan sebuah senyuman kepada Kanaya, dan Kanaya pun tersenyum kembali.


Walau Kanaya di sini bersama Aldo sedang tersenyum, tetapi hati Kanaya merasakan kesedihan. Mengingat kekecewaan yang ia berikan kepada Bram. Kanaya kembali merasa bersalah, karena ini bukan rencananya. Seharusnya memang dirinya hanya makan malam berdua saja dengan Bram malam ini, tapi tanpa di duga sang kekasih Aldo juga mau menemuinya setelah lama tak bertemu.


"Ada apa denganku, kenapa aku merasa begitu sedih jika Bram merasa sedih. Bukannya aku harusnya merasa bahagia karena akhirnya Bram mengerti hubunganku dengan Aldo....tapi hatiku kenapa begitu sakit. Aldo ada di hadapanku, apa yang membuat hatiku sesak seperti ini," batin Kanaya.


Kini dirinya semakin bimbang dan ragu. Kanaya berada pada suatu keadaan yang sangat sulit untuk di hadapi. Walaupun Bram dan Aldo sama-sama memiliki tujuan mulia, tapi entah bagaimanapun itu Kanaya tetap harus memilih satu di antara dua ataupun satu di antara sekian banyak pria di luar sana. Seseorang yang Kanaya pilih itu harus mampu membahagiakan Kanaya secara utuh, karena yang Kanaya butuhkan bukan hanya sekedar “give and give” melainkan “take and give”.


Walaupun cinta Bram dan Aldo bisa terlihat dari seberapa besar kepedulian mereka terhadap Kanaya, dan juga seberapa besar Kanaya dapat menerima dan bersama-sama membangun cinta tersebut menjadi suatu kekuatan dari perpaduan keduanya untuk menghadapi kehidupan ini.

__ADS_1


Seperti apapun kondisinya nanti, Kanaya harus dapat memahami dirinya sendiri. Walaupun memahami diri sendiri tidaklah mudah, namun hanya diri sendiri yang tau keadaan hati dan pikiran yang sebenarnya, Kanaya mungkin bisa menipu orang lain, namun tidak tidak akan bisa menipu hatinya sendiri. Hati Kanaya yang terasa sakit sama yang seperti Bram rasakan saat ini.


__ADS_2