MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Delapan : Di tolak


__ADS_3

Masih di depan pintu kulkas. Ada rasa berat di hati untuk membuang sekotak coklat tersebut meski Kanaya tidak suka memakannya tapi ngga tega juga untuk membuangnya. Kanaya telah menyakiti Bram dengan luka yang dalam.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan terhadap coklat ini? Apakah tetap disimpan atau harus dibuang saja? Mubazir dan menyia-nyiakan makanan itu kan tidak boleh."


"Jangan di pandangi terus coklatnya, mending pandangin orang yang kasih coklat itu," ucap Bram yang sudah berdiri di dekat meja makan.


Kanaya pun menjadi salah tingkah karena tertangkap basah sedang memandang terus coklat pemberian Bram itu. Bram berdiri dengan santai sambil tersenyum lebar, senyuman kebahagiaan kini kembali ke wajah yang kusut itu.


"Se-sejak kapan kamu berdiri di sana?" tanya Kanaya sambil menaruh coklat ke dalam rak kulkas dan segera menutupnya kembali.


Bram tersenyum dan kini tatapan Bram hanya fokus ke wajah Kanaya, tatapan penuh cinta dan kasih sayang, "Malam ini kamu begitu cantik, Kanaya. Sayangnya kecantikanmu malam ini tidak semuanya untukku."


Kanaya masih berusaha untuk tidak tersenyum di hadapan Bram. Terlebih lagi mendengar pujian yang Bram lontarkan untuk dirinya. "Bram, tadi aku bertanya padamu. Kenapa kamu tidak menjawab malah kamu menggombal."


"Sejak kamu tersenyum-senyum sendiri melihat coklat itu. Segitu berharganya kah sampai kamu tidak ingin membuang coklat yang paling tidak kamu sukai itu."


"Ini sudah malam, Bram. Sebaiknya kamu pulang dan istirahat."


"Tidak. Aku tidak ingin pulang. Jika kamu mau istirahat, istirahat lah. Aku akan menjagamu dalam tidurmu," pinta Bram.


Kanaya tidak menjawab sepatah katapun dan langsung berbalik menuju tangga, Kanaya ingin pergi ke atas dan masuk ke dalam kamar. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena Bram sudah menarik tangannya.


"Temani aku di sini, Kay." Bram terus memohon kepada Kanaya agar mau tetap bersamanya.


Kanaya pun berbalik dan mencengkram tangan Bram yang masih memegang tangannya. "Bram, mengertilah, aku ini calon menantumu. Bukankah kita akan menjadi papa dan anak yang kompak nantinya. Aku tahu mungkin sekarang masih berat kamu melepaskan ku. Tapi nanti kamu akan menemukan kebahagian kembali." Kanaya menepuk sekali tangan Bram sebelum ia melepaskan tangannya dari genggaman Bram, dan berbalik menaiki anak tangga.


Bram yang mendongak menatap kepergian Kanaya yang terus menjauh. Tapi itu tidak membuat Bram meninggalkan tempatnya. Padahal Bram masih ingin mengobrol berdua dengan pujaan hatinya.


Sampainya Kanaya di lantai atas di depan pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Kanaya masih enggan untuk masuk ke dalam kamarnya. Kanaya berusaha menenangkan detak jantungnya yang kini telah bekerja lebih cepat. Rona kemerahan mulai terlihat di wajah Kanaya, mengingat ucapan Bram yang membuatnya tersipu malu. "Sepertinya aku telah luluh dengan gombalan Bram tadi,'' batin Kanaya.


Kanaya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menutupi wajah merahnya. "Dia pria yang selalu membuatku merasakan hal-hal yang tidak biasa," batin Kanaya. "Apa Bram sudah pergi?" pikir Kanaya. Kanaya berniat untuk mengintip ke lantai bawah, melihat apakah Bram masih berada di sana. Saat Kanaya menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya, "Aaaaaaaaaa......" Kanaya sontak terkejut, ia melangkah ke belakang untuk menjauh namun kakinya mulai kehilangan keseimbangan, dan......Bram meraih pinggang Kanaya dengan cepat. Kini wajah Bram dan Kanaya saling berhadapan dan hidung mancung mereka pun saling bersentuhan. Keduanya saling terdiam dan menatap satu sama lain.


"Akhh...terima kasih sudah menolongku." Kanaya berusaha bangkit dari dekapan Bram yang membuat detak jantungnya kembali bekerja rodi, heeee jantungnya berdetak sangat cepat, desiran darah di seluruh tubuhnya mulai terasa.

__ADS_1


"Ini ya," ucap Bram canggung. "Maaf telah mengejutkanmu. Tadinya aku ingin menemui tapi ku pikir terjadi sesuatu padamu, karena kamu menutup wajah dengan kedua tanganmu. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bram sambil menundukkan tubuhnya berusaha melihat wajah Kanaya, memastikan dia baik-baik saja.


Kanaya semakin malu, karena ini sudah ke dua kalinya dirinya tertangkap basah oleh Bram dengan tingkah konyol nya. "Malunya aku," batin Kanaya. Melihat Bram yang berusaha mendekati wajahnya, Kanaya pun segera berbalik dan berjalan menuju anak tangga.


"Aku tidak apa-apa, hanya mataku kemasukan sesuatu saja tadi," ucap Kanaya yang berlalu dari Bram, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Kamu sudah makan?" tanya Kanaya yang tetap berjalan membelakangi Bram.


Bram tersenyum, sebenarnya dia tahu betul apa yang terjadi pada gadis cantik di depannya, dia hanya berpura-pura bodoh agar gadis itu tidak merasa malu. Secara Bram seorang Casanova, gerak gerik wanita saja dia sudah hapal mati.


"Belummm.....aku tadi pergi ke bar bersama ayahmu dan juga Pandu,"jawab Bram.


"Astaga, berarti ayah sudah tahu tentang hubungan rumit ini. Pasti ayah dan ibu secepatnya akan datang ke sini," ucap Kanaya dalam hati. Kanaya mulai merasa kecemasan.


"Sebaiknya kamu makan dulu sebelum pulang." Kanaya mulai menyajikan kembali makan yang sudah ia simpan di dalam lemari kaca. Kanaya menyuruh Bram untuk duduk di kursi meja makan. Kanaya mengambil piring yang ada di hadapan Bram dan menuangkan nasi beserta lauk yang Bram inginkan. Kanaya melayani Bram dengan sangat baik.


"Aku memang tidak salah jatuh cinta padanya. Betapa bahagianya aku jika bisa menjadi suamimu kelak," ucap Bram dalam hatinya.


"Terima kasih, sayang," ucap Bram.


"Aku akan menemanimu makan, aku tadi sudah makan bersama Aldo. Tidak apa-apa kan?" ucap Kanaya.


Bram pun tersenyum,"tidak apa-apa, cukup kamu berada di samping ku saja aku sudah bahagia."


Kanaya membalas senyuman Bram. Dia memperhatikan Bram yang makan dengan lahap. Kanaya merasa bahagia saat melihat Bram bahagia.


"Masakanmu begitu lezat. Tapi aku akan lebih bahagia jika hari-hari ku bisa menyantap makanan buatanmu."


"Apa aku harus melamar jadi asisten rumah tangga di rumahmu? Hehehee...." canda Kanaya.


"Apa.....??Kamu mau melamar, sayang? Jangan, biar aku saja yang melamar dirimu untukku, dan kamu tidak perlu melamar diriku untukmu." Bram tersenyum setelah mengatakan itu. Malam ini Bram benar-benar merasa bahagia karena bisa bersama Kanaya dan hubungan mereka sudah tidak menegang seperti biasanya.


Kanaya mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Bram tadi. Walaupun itu hanya candaan tapi Kanaya senang saat mendengar Bram mau melamar dirinya.

__ADS_1


Kanaya menatap wajah tampan pria yang duduk di sampingnya. Kanaya pun tersenyum.


Kini Bram kembali menangkap basah sikap Kanaya yang tersenyum-senyum sendiri. "Kamu semakin menggemaskan dengan senyuman di wajahmu," ucap Bram sambil tertawa kecil.


Dalam hati Kanaya merasa meleleh, ia merasa seperti ke jaman sekolah. Merasakan Getaran-getaran cinta pertama. Dalam hati Kanaya ada sesuatu yang menggembirakan.


"Terima kasih atas makan malamnya yang lezat, dan terima kasih karena kamu mau menemaniku malam ini," ucap Bram setelah menyelesaikan makannya.


"Ku harap ini yang pertama dan terakhir," ucap Kanaya.


"Aku berharap sebaliknya, aku ingin bisa terus bersamamu." Bram menatap mata indah gadis yang telah menggetarkan hatinya. Ingin sekali Bram memeluk Kanaya, memeluk gadis itu dengan sepenuh cinta. Bram sangat tulus mencintai Kanaya, Bram pun berharap Kanaya bisa membalas rasa cintanya.


"Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu pulang dan kita sama-sama beristirahat." Kanaya beranjak dari kursinya, berniat untuk mengantar Bram ke pintu depan.


"Tunggu, Kay." Tanpa sadar tangan Bram sudah mencengkram lengan Kanaya, namun saat ia sadar secepat kilat dia melepaskan tangannya. "Aku ingin bertanya padamu, ku harap kamu bisa menjawab dengan jujur."


"Apa itu?"ucap Kanaya.


"Apa aku tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan hatimu?" tanya Bram.


"Kanaya dan Aldo sudah menjalani hubungan satu tahun terakhir ini, dan pastinya aku mencintai Aldo dan Aldo pun mencintai Kanaya. Kanaya berharap Kanaya bisa di terima sebagai menantu." Kanaya berusaha menjawab pertanyaan Bram dengan pengertian yang lain, berharap Bram paham akan maksud ucapan Kanaya.


Kini Kanaya yang tadi berniat mengantarkan Bram ke pintu depan menjadi berubah, Kanaya langsung menaiki anak tangga dengan terburu-buru.


Bram menghela nafas keputusasaan dan dia melangkah gontai menuju pintu depan. Sebelum Bram keluar dan menutup pintu dirinya berbalik dan menatap ke arah tangga, berharap Kanaya turun dari sana. Beberapa saat berlalu, sepertinya itu hanyalah sebuah harapan bagi Bram. Bram pun menutup pintu dan melangkah keluar menuju pintu pagar, ditutup kembali pintu pagar sebelum dia menuju ke mobil.


Kanaya sejak tadi mengintip kepergian Bram dari balik tirai jendela kamarnya. Hatinya tiba-tiba terasa sesak melihat kepergian Bram, tanpa ia sadari cintanya Bram sudah mulai masuk kedalam hatinya. Terlihat jelas Bram tampak lesu, lemas seperti kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya. Itu semua karena Kanaya sudah menolaknya secara halus.


"Semoga kamu bisa menghilangkan perasaanmu padaku," lirih Kanaya. Air mata pun mulai berjatuhan dari sudut mata Kanaya. Semakin Kanaya menghapus air matanya, semakin deras air mata itu tumpah membasahi pipinya. Setelah Kanaya melihat mobil Bram melaju meninggalkan kediamannya, barulah Kanaya membuka pintu balkon kamar tidurnya. Kanaya menuju balkon sembari tangannya memegang erat pagar besi di sana. Menikmati udara malam yang berhembus mengenai rambut panjangnya yang terurai indah.


Matanya berusaha terpejam, mencoba menikmati hembusan udara yang menerpa wajah cantiknya. Berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang kini sedang kusut.


"Tuan Bram baru saja keluar dan pergi dari kediaman Nona Kanaya, Bos," ucap seseorang di balik teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2