
Bram mendorong kasar pintu ruang kerja putranya. Sontak saja itu membuat Aldo yang berada di dalam terkejut dan terlonjak kaget. Bram langsung menghampiri putranya dan berdiri di depan meja kerja Aldo. Dengan tatapan sinis Bram memandang wajah putranya.
"Aldo....cukup, papa tidak ingin mendengar masalah perjodohan ini tersebar. Papa tidak ingin membahas ini lagi selanjutnya," ucap Bram.
"Suka tidak suka, Aldo akan mengenalkan papa dengan wanita muda dan cantik," ucap Aldo.
Aldo beranjak dari kursinya kemudian melangkah duduk di sofa dan meminta papanya untuk duduk bersamanya. "Wanita ini mengenal papa sejak dulu, dia juga mengenal papa sangat baik. Papa pasti akan menyukai dia, hanya saja selama ini Aldo yang melarangnya untuk mendekati papa. Kalau Aldo setuju mungkin papa sudah menikahinya."
"Papa tidak perduli itu, pokoknya papa tetap tidak setuju."
"Papa ketemu saja dulu, kalau papa tidak suka papa boleh menyudahi semuanya, yang terpenting papa bertemu dulu dengan orangnya," pinta Aldo.
"Apa dia masih muda?" tanya Bram.
Aldo senang mendengar pertanyaan papanya, sedikit terbuka jalan untuk perjodohan ini. "Tentu, dia seumuran dengan Aldo dan Kanaya."
"Kalau begitu dia sangat cocok denganmu, kalian sama-sama masih muda, papa ikhlas jika kamu lebih memilih dia, biar papa yang akan menjaga Kanaya," ucap Bram.
"Papa........!" teriak Aldo.
"Kali ini papa tidak akan tinggal diam, pokoknya hentikan perjodohan ini. Atau kamu sudah tidak ingin menganggap papa ini orang tuamu," ucap Bram.
"Papa berani mengancam ku?" kesal Aldo.
"Terserah kamu mau bilang apa, pokoknya sekali tidak tetap tidak." Bram beranjak dari duduknya. Melangkah keluar tanpa pamit. Aldo yang menatap kepergiannya papanya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ini semua salahku, andai saja dulu aku merestui hubungan papa dengan Viona, pasti sekarang hidup papa bahagia," Aldo mengacak-ngacak rambutnya asal yang semakin membuat dirinya terlihat mempesona.
Dulu Bram pernah ingin menikahi seorang wanita beranak satu. Wanita muda yang mempunyai seorang anak perempuan. Bram merasa kasihan kepada wanita itu, dan ingin membantunya dengan cara menikahinya. Tapi karena wanita itu muda seumuran dengan Aldo, Aldo menentang rencana itu, karena dulu dirinya masih terlalu muda, tidak tahan jika harus di bully. Jika papanya menikahi wanita muda jelas dirinya akan jadi bahan bully satu sekolah. Dulu Aldo sampai ngancam papanya untuk bunuh diri. Akhirnya Bram membatalkan niatnya untuk menikahi wanita itu. Bram sudah sangat dekat dengan putri dari wanita muda itu, putrinya dulu berusia sekitar 5 tahun. Bahkan dia memanggil Bram dengan sebutan papa.
__ADS_1
Ponsel Aldo bergetar, ada pesan masuk di ponsel miliknya. "Kita akan bertemu di restoran tepi pantai pukul 17:00."
Aldo pun membalas pesan tersebut, " Ok."
Pada saat waktu sudah menunjukkan pukul 17:00, Aldo seger menuju ke restoran tepi pantai, tempat yang di janjikan dalam pesan tadi. Saat Aldo sampai di sana, terlihat sosok wanita muda dan cantik, "dia tetap masih terlihat muda dan cantik," batin Aldo.
"Viona....." ucap Aldo.
Yah, wanita itu bernama Viona. Wanita yang dulu seharusnya menjadi Ibu tiri Aldo. Anak perempuan yang dulu masih berusia 4 tahun, kini sudah beranjak remaja di usianya yang ke 8 tahun. "Gimana kabar kalian berdua?" Aldo bertanya dan ingin mengetahui lebih dalam tentang Viona sebelum dirinya mengatakan tujuannya menghubungi kembali dirinya setelah sekian lama.
"Baik, kak. Putri baik-baik saja," jawab Putri.
"Kamu sangat lucu, dulu kakak terakhir liat kamu masih berusia 5 tahun. Kini kamu sudah tumbuh besar," ucap Aldo sambil membelai puncak kepala Putri.
"Aldo, ada apa? Setelah sekian lama kamu menghubungi ku kembali, dan kemarin kamu sempat bilang masalah papamu, ada apa?" Viona mulai membuka percakapan.
Putri langsung meninggalkan mamanya bersama Aldo.
"Apa kamu sudah menikah lagi, Vi?" tanya Aldo.
"Mana ada yang mau sama janda kaya aku, laki-laki mah cari nya yang gadis," memangnya ada apa kamu tanya begitu.
"Ga....kamu masih menyimpan rasa tidak dengan papaku? Sekarang kalau kalian masih ingin menjalin hubungan aku akan merestuinya," tutur Aldo.
Viona pun tercengang, tidak menyangka dengan apa yang di ucapkan pria yang dulu berusaha keras menolak kehadirannya di dalam kehidupan papanya. Kini dia lah yang meminta untuk kembali. Viona mencubit pipinya, dan terasa sakit. Berarti ini bukanlah mimpi.
"Aku ingin menjodohkan mu kembali dengan papaku," ucap Aldo.
Viona termenung sesaat, dulu memang Bram mau menikahinya, tapi apakah sekarang Bram masih mau menikahi dirinya. Viona meragukan hal itu.
__ADS_1
"Tapi... apa papamu......?" belum selesai Viona berbicara, sudah di putuskan oleh Aldo.
"Papaku masih single, dia tidak pernah menikah. Itu sebabnya aku khawatir dengannya dan bermaksud menjodohkan kalian kembali," Aldo pun berbohong, agar Viona mau membantu dirinya secara tidak langsung. Kalau saja Viona tahu yang sebenarnya, Bram sedang jatuh cinta pada wanita lain, pasti Viona menolak untuk di jodohkan dengan papanya.
Viona berparas cantik dengan rambut terurai indah, mata bulat, hidung mancung, serta bibir kecil dan tipisnya, dengan menggunakan mini dress berwarna ungu violet yang melekat di tubuhnya, membuat penampilan Viona seperti gadis pada umumnya, tidak akan ada yang menyangka Viona sudah memiliki anak berusia 8 tahun. Viona adalah anak dari wanita malam, dirinya bisa mempunyai anak di usianya yang muda itupun karena ulah ibunya yang menjual keperawanan dirinya pada pria hidung belang dan meninggalkannya begitu saja saat setelah menghabiskan satu malam bersama. Dan satu malam itu telah menghancurkan hidupnya, karena dirinya hamil setelah sekali melakukan hubungan itu. Bagaimana Viona bisa meminta tanggung jawab pria tersebut, melihatnya saja Viona tidak pernah, karena hubungan tersebut terjadi pada kegelapan malam, hanya ada lampu-lampu kecil di sudut ruangan yang memantulkan bayangan pria tersebut. Viona hanya bisa melihat sekilas wajah pria itu dalam sinar lampu yang kecil, wajahnya tampan dan masih sangat muda. Viona melihat pria tersebut sesaat sebelum dirinya merasakan kesakitan yang luar biasa, saat benda miliknya di satukan dengan benda milik pria tersebut. Setelah merasakan kesakitan itu Viona pun sudah tidak bisa menatap wajah pria itu lagi, karena hanya bisa memejamkan matanya dan mengerang kesakitan sampai semuanya selesai. Saat Viona terbangun pria tersebut sudah tidak ada lagi di sana, Viona hanya menemukan sebuah amplop yang berisi uang dan sebuah catatan kecil untuknya, yang tertulis, "Ini untukmu, maafkan aku telah berbuat seperti ini padamu, Ini juga pertama kalinya untukku, aku tidak akan melupakan kejadian malam ini bersamamu." Saat Viona membaca itu hatinya sakit, darah masih mengalir di pahanya. Itu saja yang Viona ingat sampai akhirnya dia mengetahui dirinya hamil, dan tidak ingin menggugurkan anak itu, cukup dosa yang sudah ia lakukan, dan dirinya ingin menebus semua dosa itu dengan merawat anak yang tumbuh di rahimnya.
Sedangkan Ibu Viona entah kemana, semenjak dia menjual Viona tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Itulah Bram dulu berniat menolong Viona dengan cara menikahinya. Selama ini Viona menghidupi dirinya dan anaknya dengan bekerja di salah satu minimarket.
Viona pun setuju dengan perjodohan ini, Aldo mengatur waktu untuk makan malam bersama Bram dan juga Kanaya. Hari sudah malam, saat itu sebelum Aldo pulang, tampak Aldo memberikan sebuah kartu pada Viona.
"Untuk apa ini?" tanya Viona.
"Kamu harus dandan yang cantik dan semua itu perlu modal, kamu gunakan ini untuk membeli baju mu serta Putri. Aku ingin saat makan malam nanti kamu terlihat anggun dan cantik di hadapan papaku," ucap Aldo sembari menarik tangan Viona dan memberikan kartu tersebut di tangan Viona. Aldo pun melangkah pergi semakin jauh dan sampai terlihat Aldo masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari sana. Viona masih berdiri menatap ke arah kartu yang di berikan Aldo. Viona ragu untuk menggunakannya. Karena yang Viona mau, Bram mencintai dirinya yang seperti ini, bukan dengan berlagak cantik dengan barang-barang mewah yang bukan miliknya.
Viona memasukkan kartu tersebut ke dalam tas miliknya. Serta menghampiri Putri yang asik bermain di bibir pantai, Putri tampak sedang menggambar sesuatu di pasir putih, saat Viona menghampiri Viona langsung merasa sedih..
"Kamu sedang menggambar apa sayang?"
"Ini mama, ini Putri, dan ini papa Putri. Putri ingin sekali memiliki seorang papa seperti teman-teman, Ma." Putri pun memeluk mamanya setelah menunjukkan gambar tersebut, hati Viona terasa sakit melihat Putrinya kini benar-benar menginginkan seorang papa.
"Maafkan mama yah sayang, maafkan karena mama tidak bisa hidup dengan papa mu. Tapi sebentar lagi Putri akan memiliki papa," ucap Viona.
"Benar kah itu, Ma?" tanya Putri meyakinkan.
"Benar, masa mama berbohong. Putri ingat tidak dengan Papa Bram. Dulu Putri masih berusia 4 tahun, Putri selalu di gendong-gendong dan di ajak jalan oleh Papa Bram. Nah sekarang tidak lama lagi Papa Bram akan menjadi papanya Putri," tutur Viona.
Putri melepaskan pelukannya, dan berlari berloncat-loncat kegirangan. "Ye...ye....sebentar lagi Putri punya papa, asik....asikk."
Tanpa sadar air mata mulai membasahi pipi Viona, kini Putri sudah tumbuh semakin besar, dan sudah pasti membutuhkan sosok seorang bapak. Selama ini Viona menutup diri karena merasa semua pria hanya mau kenikmatan sesaat saja tanpa mau bertanggung jawab. Sampai dirinya bertemu dengan Bram dan mulai jatuh hati. Hanya Bram yang ada di hati Viona hingga kini.
__ADS_1