
Zzrrtttt.....zzrrtttt........!
Ponsel Bram terus bergetar, dia sengaja mematikan suara ponselnya agar tidak mengganggu acaranya hari ini. Namun sialnya dia lupa mematikan getarnya. Sekali dua kali Bram terus mengabaikan panggilan di ponselnya. Dan Akhirnya, panggilan ketiga dengan getaran yang lebih lama membuat Bram kesal.
"Angkat saja dulu telponnya, siapa tahu penting. Karena sejak tadi terus menerus bergetar, di cek saja dulu ada apa, " ucap Kanaya.
Karena merasa tidak enak pada Kanaya, akhirnya Bram terpaksa mengangkat panggilan telpon miliknya. Bram melihat nama yang ada di layar ponselnya itu, "Pengacara Rey". Lalu Bram menggeser tombol hijau ke arah atas untuk menerima panggilan telpon itu.
"Hallo.....!" sapa Bram.
Entah lawan bicara telpon Bram berkata apa, yang jelas saat itu Bram langsung terlihat panik.
"Apa......? Bagaimana bisa masalah seperti itu menjadi masalah sebesar ini, kamu urus itu semua, aku akan segera ke sana," ucap Bram sesaat sebelum mematikan sambungan telponnya.
Bram terlihat panik dan mulai mengacak-acak rambutnya asal, bukan terlihat berantakan malah membuat Bram terlihat tambah tampan.
"Ada apa?" tanya Kanaya.
"Maaf kan aku sayang, sepertinya aku harus segera pergi, ada sedikit masalah di kantor cabangku."
"Tidak apa-apa, aku mengerti sebagi seorang pengusaha memang seperti itu waktu tidak bisa di jadikan suatu patokan. Jadi....pergilah. Kita akan bertemu lain waktu," tutur Kanaya.
"Nanti malam aku akan mengajakmu makan malam," ucap Bram.
"Nanti malam sebaiknya makan di rumahku saja, nanti aku akan memasak untuk makan malam. Bagaimana apa kamu setuju?" tanya Kanaya.
Bram pun mengangguk setuju," Masak yang enak yah buatku," ucap Bram sembari tertawa.
"Ya udah, dari sini kita berpisah saja. Aku akan pergi ke butik setelah ini" usul Kanaya.
"Tidak, aku akan mengantarmu pulang sampai ke butik. Hati dan pikiranku tidak tenang jika kamu pulang sendiri," ucap Bram.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Kanaya. Kanaya dan Bram segera pergi meninggalkan restoran itu. Bram melajukan mobilnya membelah padatnya jalanan kota. Selama perjalanannya Bram dan Kanaya mulai mengobrol dan tertawa bersama. Mulai tidak ada kecanggungan diantara keduanya. Beberapa menit kemudian mobil Bram sudah sampai di depan butik Kanaya.
"Nanti malam aku akan ke rumahmu untuk makan malam. Ingat satu hari ini kamu harus bersamaku, heeeeeeee. Siapkan makanan yang enak yah," ucap Bram.
Kanaya mengangguk,"sampai bertemu nanti malam."
Bram mendaratkan kecupan di kening Kanaya, dan saat Bram ingin mengecup bibir manis itu tiba-tiba jari telunjuk Kanaya sudah menghalangi bibir Bram untuk mendekat. Kanaya pun keluar dari mobil Bram. Kanaya melambai kan tangan pada Bram yang berlalu dari butiknya. Kanaya kemudian masuk ke dalam butik. Kanaya heran mengapa semua karyawan nya menatapnya dengan penuh pertanyaan.
"Kalian kenapa? mau kenalan sama Bram. Heeeeee!" Kanaya tertawa kecil yang diikuti oleh para karyawannya.
"Akhh...Nona bisa saja. Apa nona tidak berniat mengenalkan pria tadi pada kami," ucap salah satu karyawan dengan polosnya.
"Tidak......tidakkkk akan, heeeee."
Semua wajah karyawan nya berubah mengkerut mendengar jawaban dari Kanaya. Kanaya tertawa puas setelah membuat para pekerja nya jadi seperti itu. Hubungan yang terjalin sangat baik antara bos dan karyawan.
Kanaya segera ke lantai dua dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Kanaya langsung di sibukkan dengan mendesign sebuah gaun pengantin. Kanaya begitu asik dengan pekerjaannya. Dengan sibuk bekerja Kanaya bisa melupakan Araz yang masih ada di hatinya. Kanaya ingin memulai hidupnya kembali, dirinya tidak mau untuk berlarut- larut dalam kesedihan. Semua sudah berlalu begitu lama dan tidak bisa diulang lagi. Menangis darah pun tidak akan bisa membuat Araz hidup kembali.
Kelelahan membuat Kanaya meregangkan otot-otot pinggangnya dan juga tangannya. Untuk hari ini seharusnya Kanaya membuat dua gaun pengantin. Namun baru selesai satu gaun, Kanaya pun tersenyum puas dengan hasil kerjanya sendiri. Saat Kanaya beristirahat, dia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Ada banyak sekali panggilan tak terjawab dan chat yang masuk. Kanaya membaca chat yang masuk itu satu persatu yang ternyata di kirim oleh Aldo. Aldo ingin bertemu dengan Kanaya nanti malam. Karena Aldo sudah rindu dengan Kanaya setelah bekerja di luar kota.
Sore itu, dua tahun yang lalu, saat semuanya dimulai. Berawal dari sebuah pertemuan yang mengesankan. Saat itu lembayung sedang senja di bumi. Matahari mulai melenyapkan eksistensinya. Seakan mengerti ini adalah waktu untuk membiarkan bulan bersama dengan bumi.
Kanaya terpana olehnya. Langit yang berwarna merah keunguan itu lebih menarik perhatianku.
Sudah hampir satu tahun sama seperti sebelumnya, Kanaya selalu bersedih saat menatap hari senja. Suasana senja yang selalu membawanya ke masa lalu. Senja yang selalu membawa memorinya tentangmu. Ini lucu dan mungkin kau akan tertawa jika aku berkata bahwa, "aku merindukan mu hadir ditempat ini lagi. Banyak kenangan kita bisa membuat lebih banyak kenangan di sini. Lucu bukan?"
Kanaya sangat menyukai pemandangan langit di sore hari. Langit sore dulu seperti obat untuknya, walau kini langit sore membuatnya bersedih. Perpaduan warna yang apik, mampu meluruhkan semua masalah yang ada.
Di ruangan ini adalah spot terbaik untuk melihat langit dan senja dengan jelas. Kanaya sudah ada disini, jadi apapun ceritanya, Kanaya tetap harus melihat langit senja ini, di ruangan kerjaku.
“Misi, boleh saya duduk disini?”
__ADS_1
“Silahkan”
"Terima kasih"
Dia tidak menunjukkan apapun, sangat dingin. Perilakunya berbeda 360 derajat dengan keindahan yang ada didepan mata saat ini. Kanaya sedikit melirik ke arahnya. Dia tidak terganggu dengan kehadiran Kanaya. Dia terlihat sangat dingin. Tapi, cara dia memandang kososng ke depan menyadari sesuatu.
Dia sedang mengalami tekanan yang cukup berat. Mungkin, alasan dia untuk melihat senja agar kesedihannya berkurang. Biarlah, pemandangan langit lebih menarik daripada menebak informasi tentang dia.
Tiba-tiba saja saat Kanaya sedang menikmati pemandangan, pria itu mengucapkan satu kata
"Siapa nama Kamu ?"
"Kanaya"dan kamu siapa?"
"Aku Araz"
Dan Kanaya melihat rona merah menjalar di sekitar pipinya. Entah mengapa ada seulas senyum dibibir Kanaya merasakan sesuatu yang berbeda dari dirinya.
Setelah hari itu berlalu, Kanaya dan Araz selalu mengunjungi tempat yang bisa melihat hari senja bersama. Duduk bersebelahan dan memiliki banyak bahan obrolan. Ya… kita semakin dekat dan Kanaya merasa semakin nyaman jika berada disisi Araz.
Kanaya mengingat semua kata-kata manisnya. Senyumannya, dan semua hal tentangnya menjadi kenangan indah yang terekam jelas di kepala Kanaya. Tapi satu hal yang membuatku membencinya. Selayaknya senja pada hakikatnya, dia datang membawa keindahan, membuat seluruh dunia memujanya. Namun keindahannya hanya berlangsung sementara. Saat malam datang, semua berubah menjadi gelap.
“ Tolong jangan mencintaiku terlalu dalam, hal itu akan menyakitimu." Aku paham makna dari kata-katamu sekarang, merujuk pada kenyataan ini, kenyataan bahwa kau sekarang meninggalkanku lebih dulu, untuk selamanya.
Disini, di hari senja pertama kali kita bertemu, aku masih setia menunggumu hadir. Saat langit menunjukkan senjanya, aku berharap kau juga ada disana. Tersenyum saya dan menceritakan banyak cerita. Namun, sebenarnya bayangmu saja tak kasat oleh mata.
Araz aku selalu berdoa setiap langit melukiskan senjanya. Doaku adalah agar aku bisa bahagia disini, tanpamu. Dan dengan begitu, kau juga bisa tersenyum bahagia dari tempatmu berada. Kanaya harap senja bisa menenggelamkan rinduku padamu. Merindukan mu rasanya hatiku seperti tersayat oleh belati.
Dan sekarang, senja sudah terlelap, bersama dengan semua angan tentang dirimu. Terima kasih telah memberiku satu pelajaran berharga. Berkatmu, aku menjadi lebih banyak bersyukur dan menikmati momen berharga yang tidak mungkin. Karena Kanaya tahu tahu, kadang-kadang Tuhan menciptakan sesuatu yang sangat indah, tetapi hanya berlangsung sementara.
Kanaya melangkah pergi menuju keluar ruang kerja dan tak lupa mengambil tasnya yang berada di atas meja. Kanaya pun pulang bersama para karyawannya.
__ADS_1
Sampai nya di rumah, Kanaya langsung masuk menuju ke dapur tanpa berganti baju terlebih dahulu. Kanaya mengeluarkan semua bahan-bahan makanan yang ada di dalam kulkas nya. Memilih apa saja yang akan ia gunakan, dan mengembalikan sisanya ke dalam kulkas. Kini dirinya sudah mulai berkutat di dapur. Membersihkan dan memotong- motong bahan yang ada. Kali ini Kanaya ingin membuat masakan spesial karena selain Bram, juga ada Aldo sang kekasih Kanaya yang akan makan malam bersama di rumahnya.
Kanaya ingin memasak beberapa menu sederhana tapi rasa spesial,heeee. Ada cah kangkung, perkedel kentang, sup ayam, dan ayam kremes kesukaan Kanaya, tidak lupa juga dengan sambalnya. Setelah semua sudah siap tersaji di atas meja makan. Kanaya bergegas naik ke atas ke kamar tidur, di raihnya handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri. Sekitar 10 menit berlalu Kanaya keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan handuk di dada dan di kepala.