
Setelah makan malam selesai, mereka berlima yang akan menjadi satu keluarga besar berkumpul di sofa yang empuk yang menghadap ke pantai. Saat matahari mulai masuk ke peraduannya. Pantai ini mulai terlihat begitu eksotis.
Kala malam, kilapan lampu-lampu terpancar jelas memanjakan mata. Begitu pula dengan cahaya lampu dari banyak kapal nelayan serta kerlap-kerlip lampu rumah penduduk. Tak hanya itu, pemandangan lain yang tak kalah terlihat sejumlah kafe di bibir pantai yang dibangun dengan corak nan khas. Rindangnya ditambah angin sepoi-sepoi membuat kita yang melihatnya semakin betah untuk berlama-lama di sini.
Sambil menikmati air kelapa muda, mereka berlima melanjutkan perbincangan yang tadi sempat tertunda.
Malam yang indah ini akan menjadi saksi hubungan putrinya bersama pria yang di cintainya. Sebagai seorang ayah Herdi mulai membuka suaranya.
"Jadi bagaimana kelanjutan hubungan Aldo dan Kanaya, apa kalian masih mau berpacaran atau kah kalian sudah ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, sebuah pernikahan?" tanya Herdi.
"Tidak akan ku biarkan Kanaya menjadi menantuku," batin Bram.
"Terus, kamu mau lakukan apa? Kamu tega menghancurkan rencana putramu itu," batin Herdi.
"Kanaya tidak mencintai Aldo, tapi dia lebih mencintaiku, kamu bisa lihat nanti," batin Bram.
"Jangan begitu yakin, Bram. Aku tidak akan membuat khayalan mu itu menjadi kenyataan," batin Herdi.
"Iya, Om. Aldo ingin melanjutkan hubungan ini ke jenjang selanjutnya," ucap Aldo dengan yakin.
"Baguslah, kapan kira-kira kamu akan melamar putri om?" tanya Herdi.
"Secepatnya, Om. Bagaimana kalau 1 bulan lagi untuk acara lamaran. Tapai maunya Aldo langsung menikah saja, Om," tutur Aldo.
"Tidak bisa," kaget Bram.
"Papa bikin kaget saja. Kenapa tidak bisa pah?" kesal Aldo.
"Aku tidak menerima Kanaya sebagai menantuku," tegas Bram.
"Sebagai seorang ayah, kita harus sama-sama setuju dengan hubungan anak-anak kita, Bram," sahut Herdi.
Bram membulatkan kedua matanya, menatap tajam ke arah Herdi, "Jika wanita itu bukan Kanaya, aku akan langsung menyetujui hubungan ini."
"Pah, Aldo sangat mencintai Kanaya, Aldo tidak perduli papa suka atau tidak, papa setuju atau tidak, bahkan Aldo tidak perduli jika papa tidak merestui hubungan Aldo ini," tutur Aldo.
__ADS_1
"Bram, cobalah untuk mengalah demi putramu, dan kita akan menjadi besan," ucap Herdi.
"Kau benar-benar mengajak perang, mulai detik ini jangan pernah kamu anggap kita bersahabat lagi, kita adalah orang yang tidak saling mengenal,"batin Bram.
"Sudahlah, sobat. Jangan marah-marah seperti itu. Kamu harus berusaha lebih keras kalau mau mendapatkan restu ku," batin Herdi.
"Aku akan buktikan padamu, lihat saja nanti," batin Bram.
"Aku suka pada putrimu, Her. Tapi aku tidak ingin dia menjadi menantu ku, tapi maunya aku Kanaya sebagai ibunya Aldo," tutur Bram.
"Sudahlah pah, papah tidak menyetujui rencana Aldo karena papa yang ingin menikahi Kanaya kan? Kalau itu tujuan papa, Aldo tidak setuju punya ibu tiri," tegas Aldo.
"Cukup......cukup!" seru Kanaya. "Kalau kalian bertengkar karena ingin menikahi ku, aku sudah putuskan kalau aku tidak akan menikah dengan kalian berdua. Aku akan menikah dengan pria yang ayahku pilih kan di luar sana."
"Jangannnn.......!!" seru Aldo dan Bram bersamaan yang tidak setuju dengan ucapan Kanaya.
"Kalau begitu jangan bertengkar," kesal Kanaya.
Aldo mendekati kekasih hatinya, memegang tangannya dengan lembut dan berkata, " sayang, jangan begitu. Aku sudah lama ingin menikahimu, kita lanjutkan ya rencana kita ini. Aku tidak mau menundanya lagi, aku takut kehilanganmu jika harus menundanya lagi."
"Cukup, pah! Dengan atau tanpa restu papa, aku akan tetap menikahi Kanaya," sahut Aldo yang juga tampak kesal.
Bram berlalu meninggalkan mereka semua di sana. Tanpa berpamitan, tanpa berbicara sedikitpun Bram pergi. Aldo sebagai anak juga tidak ingin mengalah begitu saja kepada papanya. "Jelas-jelas Aldo yang pacaran dengan Kanaya, jadi Aldo yang akan menikah dengan Kanaya," gumam Aldo.
Aldo tidak perduli pada Bram, walaupun Bram adalah papanya. Ini tentang asmara, baginya papa adalah rival dalam hal memperebutkan hati Kanaya. Hubungan darah tidak akan berlaku di sini. Aldo ingin punya ibu tiri, tapi tentunya bukan kekasih hatinya yang menjadi ibu tirinya. Aldo tidak ingin punya ibu tiri yang usianya sama dengan dirinya. Apa kata masyarakat di luar sana nanti.
"Maaf om, tante dan juga Kanaya. Aldo minta maaf atas sikap papa tadi. Tapi kalian tenang saja nantinya papa akan setuju dengan sendirinya. Aldo tahu papa menyukai Kanaya, tapi jika Aldo sudah menikah dengan Kanaya, papa pasti akan merestui nya," ucap Aldo.
"Kalau perlu Aldo akan mencarikan jodoh untuk papa yang usianya sama dengan Kanaya," sambung Aldo.
"Jodoh?? Kamu ingin mencarikan jodoh untuk papamu, Aldo?" tanya Herdi yang terkejut dengan ucapan Aldo.
"Iya, Om. Kasian juga papa kalau terus menerus memikirkan Kanaya, mungkin papa akan berhenti berusaha mendekati Kanaya jika menemukan wanita lain," ungkap Aldo sambil menatap wajah kekasih hatinya.
Kanaya bingung harus bereaksi seperti apa, jujur dia sangat terkejut dengan niat Aldo. Tapi tentu saja dia tidak mungkin melakukan penolakan di sini, terpaksa Kanaya tersenyum getir, "Ya, kalau memang itu yang terbaik untuk Om Bram, Kanaya ikut saja apa yang Aldo rencanakan."
__ADS_1
Bagai di tikam seribu pisau, di sayat-sayat semua sakit itulah yang Kanaya rasakan kini di hatinya. Bram pria yang di cintai Kanaya akan menjauh darinya bahkan meninggalkan dirinya bersama wanita lain. Perasaan yang datang dengan sendirinya ini membuat Kanaya merasa gila, berkali-kali Kanaya berusaha menghapus rasa ini tapi tetap tidak bisa, malah semakin sakit jika dipaksakan.
"Kalau itu sudah menjadi keputusan kalian berdua, om dan tante setuju saja," ucap Herdi sambil memandang wajah Anna istrinya. Anna pun mengangguk setuju dengan Bram. " Jadi kapan Nak Aldo akan datang kerumah tante untuk melamar Kanaya?" tanya Anna.
"Kalau masalah itu, Aldo siap kapan pun tante, Aldo ikut saja kapan menurut om dan tante hari yang baik untuk Aldo datang melamar," sahut Aldo.
Sedikitpun Kanaya tidak merespon perbincangan Aldo dengan kedua orang tuanya. Pikiran Kanaya tidak sedang bersamanya, entah kemana dan memikirkan apa, seperti ada yang kurang disini. Kanaya hanya terdiam dan menatap kebawah dengan tatapan kosong. Tanpa Kanaya sadari, Anna sejak tadi sudah memperhatikannya, Anna tahu betul apa yang Kanaya rasakan, "pasti dia sedih karena Bram pergi dari sini," batin Anna.
Malam pun semakin larut, udara semakin dingin. Mereka memutuskan untuk menyudahi pembicaraan ini. Aldo pun pamit untuk kembali ke kamarnya, Aldo memeluk kekasih hatinya dan mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.
"Aku istirahat dulu ya, kamu juga segera istirahat. Sebentar lagi kita menjadi suami dan istri. Aku sangat bahagia Kay sebentar lagi kamu akan jadi milikku, dan untuk masalah papa nanti aku akan bicara dengannya pelan-pelan," tutur Aldo sebelum melangkah pergi menuju kamarnya.
Kanaya kembali memaksakan senyum di wajahnya dan hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
Dari balik pintu kamar, Bram tampak sedang mengintip putranya dan pujaan hatinya itu. Bram hanya bisa berharap perbincangan mereka berdua cepat berakhir, sebelum ada tindakan lebih lanjut. "Kalau saja sampai Aldo berani mengecup bibir Kanaya bagaimana?" Bram melihat ke arah sekelilingnya, namun tidak menemukan apa-apa. "Akh...sial. Aku harus bersiap-siap agar hal itu tidak terjadi. Aku akan pura-pura teriak kesakitan jika Aldo berani melakukan itu."
Aldo mulai mendekati wajah Kanaya, tangan Aldo sudah berada di pinggang Kanaya dan mulai menarik tubuh kekasihnya itu mendekat, saat Aldo mulai memiringkan kepalanya dan akan mengecup bibir mungil Kanaya, Bram terlihat panik. Saat dirinya akan berteriak," A..," tapi tidak jadi karena tiba-tiba saja Herdi datang mendekat ke arah mereka berdua, dan niat Aldo pun gagal. Aldo menjadi salah tingkah, karena kepergok oleh ayah calon mertua.
"Sayang, aku ke kamar dulu ya," ucap Aldo sebelum pergi dan menuju ke kamar tidurnya.
Kanaya melihat kepergian Aldo cukup lama. Sedangkan Bram masih mengintip dari balik pintu kamar tidurnya. Lalu Herdi dan Anna pamit untuk beristirahat juga.
"Apa Bram sudah kembali ke kamar ya? Apa dia sudah tidur?" ucap Herdi.
"Sudahlah yah, biarkan dulu masalah ini menjadi tenang. Mungkin saja Bram sekarang sedang istirahat. Sudah tidak perlu ayah mengganggu dia di kamarnya," ucap Anna.
"Ya, semoga saja malam ini dia bisa tidur nyenyak, karena kejadian tadi," sahut Herdi.
Kanaya pun berjalan dengan santai menuju kamar tidurnya yang berada paling pojok dan terpisah dari kamar yang lain. dengan bangunan sendiri yang menjorok ke arah bibir pantai, dengan jendela full kaca sebesar dinding hanya di tutup tirai tipis di bagian jendela yang mengarah ke view pantai. Kanaya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memikirkan apa yang terjadi malam ini.
Braaakkkkk......!!
Suara pintu terbuka dengan sangat kasar. Kanaya pun terkejut. Kanaya terduduk di tepi tempat tidur. Kedua matanya mulai melebar, saat melihat sosok Bram yang berdiri di dalam kamar tidurnya.
"Brammm....., apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kanaya kaget.
__ADS_1
"Maaf, maaf kan aku. Kalau tidak dengan cara seperti ini, aku tidak akan bisa bertemu denganmu. Malam ini aku akan buktikan padamu, kalau aku sangat serius padamu," ucap Bram yang sembari mengunci pintu dan kordeng dengan rapat.