MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Tujuh : Tidak ada yang mendukung


__ADS_3

Suara music hingar-bingar masih mengambang ke seantero ruangan gelap di sebuah diskotik di pusat kota. Sementara suara DJ terkadang menyelingi, dan memberi semangat kepada puluhan orang yang sedang asyik bergoyang mengikuti irama. Udara dipenuhi kepulan asap rokok, warna-warni cahaya yang datang dari bola lampu diskotik di atap ruangan, dan cekikikan pasangan-pasangan yang duduk di pojok-pojok gelap sesekali tersorot lampu.


Seorang pria tampan dengan tinggi semampai sedang duduk di sofa yang terletak di pojok ruangan. Di samping kanan dan kirinya duduk beberapa gadis-gadis cantik sedang bergelayut manja padanya. Bram sama sekali tidak menghiraukan gadis-gadis yang berada di sampingnya, Bram yang tengah menenggak segelas penuh sampanye di tangan kirinya sementara tangan kanannya sibuk mengutak-atik ponselnya. Matanya yang mulai sayu karena pengaruh alcohol masih saja sibuk memandangi sekumpulan orang yang tengah asyik bergoyang di depanya. Seorang gadis yang duduk di samping kirinya kini menuangkan wine berkelas tinggi ke dalam sebuah gelas dan memberikannya kepada Bram dan gadis itu berubah kesal saat Bram tidak merespon belaian dirinya sama sekali.


Interior mewah menghiasi setiap sudut di diskotik itu, seluruh perabotannya pun dipilih dengan sangat teliti dan tentunya memiliki kualitas tinggi. Sekarang Bram duduk di sofa yang terletak di pojok ruangan sambil meneguk kembali sampanye. Sekitar sepuluh gadis sedang mengelilingi Bram dan meminta perhatian penuh darinya. Salah satu gadis yang sedang mengelilingi Bram menarik- narik lengannya mengajak untuk turun ke lantai dansa, dan Bram tidak bergerak sama sekali, karena dirinya benar-benar tidak tertarik pada wanita-wanita selain Kanaya seorang. Bram yang mulai sempoyongan karena pengaruh alcohol hanya bisa melihat wajah Kanaya yang cantik bak seorang dewi, kulitnya putih seputih susu, bibirnya yang lembut dan ranum, tentu saja Bram sangat ingin mencobanya setelah Kanaya menerima cintanya. Semua isi kepala Bram hanya di penuhi dengan wajah Kanaya.


“Bram…," teriak Herdi dan Pandu bersamaan. Kedua sahabat Bram yang kini datang berkumpul ke tempat Bram berada. Bram sengaja memanggil mereka datang untuk berkeluh kesah tentang masalah yang dialaminya.


“Hey?”, jawab Bram santai.


Pandangan mata Herdi dan Pandu mengarah ke beberapa gadis seksi dengan pakaian mini yang melambaikan tangan pada mereka berdua, dan mereka berdua pun membalasnya dengan senyuman maut mereka yang membuat gadis-gadis itu berdecak kagum.


“Bramm!! Kenapa kamu begini? kau membuat kami cemas dengan tiba-tiba memanggil kami ke sini," kata Herdi.


“Ah…tidak, aku hanya bosan dengan hidupku. Coba lihat diriku, apakah diriku tampan?”ucap Bram dengan arah pandangan ke wajah Herdi dan Pandu secara bergantian, sambil terus menenggak minuman yang berada di atas meja. Herdi meminta kepada para gadis untuk pergi meninggalkan Bram sendiri.


“Bramm! Katakan apa yang kau lakukan, stop minum-minum seperti ini?” bentak Pandu kasar sambil merampas gelas minuman yang berisi sampanye.


“Kalian jawablah pertanyaan ku, apakah aku tua banget sampai-sampai aku tidak berhak mendapat kan cintaku?" teriak Bram.


"Kamu terlihat bodoh, Bram!!" jawab Herdi.


Bram mencengkram kerah baju Herdi," Apa aku tidak cukup pantas untuk menjadi menantu mu? Apa kamu lebih memilih Aldo putraku sebagai menantu mu?" ucap Bram dengan lantang dengan matanya yang menatap ke wajah Herdi tajam. Herdi melepaskan cengkraman tangan Bram dari kerah bajunya.

__ADS_1


"Sebentar, ehmm....ini yang kamu maksud, kamu dan putramu Aldo sedang memperebutkan Kanaya putrinya Herdi dan Anna? Benar kah begitu?" tanya Pandu dengan penasaran.


"Ya iyalah begitu, Herdi kan cuma punya satu anak. Memang Herdi punya berapa putri sih?" ucap Bram.


Herdi menepuk jidatnya, dan masih tidak mengerti dengan perilaku sahabatnya itu. Herdi kaget akan ucapan Bram mengenai dirinya dan juga Aldo. Karena Kanaya putrinya belum pernah mengenalkan secara resmi calon suaminya kepada Herdi dan Anna.


"Jadi putriku Kanaya sebenarnya menjalin hubungan dengan siapa? Kamu atau Aldo putramu? Kenapa jadi aku harus memilih diantara kalian," tanya Herdi yang bingung.


"Kanaya menjalin hubungan dengan putraku selama satu tahun terakhir ini, tapi aku juga lagi berusaha mendapat hati Kanaya, hampir setiap hari aku berjuang untuk mendapatkan nya. Setelah aku dekat dengannya aku yakin Kanaya putrimu memiliki perasaan yang sama denganku," tutur Bram dengan jelas.


"Kamu sadar ngga sih sama apa yang kamu ucapin barusan, menantu...??? Kamu ingin menjadi menantunya Herdi? Astaga..... Bram ku rasa kamu benar-benar lagi ngelantur. Hey.... kita ini seumuran, bro. Yang benar saja, masa kamu mau jadi menantunya Herdi. Menantu kok seumuran sama bapak mertua? Heeee......heeeee." Pandu tak tahan lagi untuk menahan tawanya. Semua ini tidak masuk akal baginya.


"Pandu, kata-kata mu itu sama dengan apa yang di ucapkan oleh Aldo. Kalian berdua telah menyakiti hatiku. Dan aku akan merasa lebih sakit jika mereka sampai menikah." Bram tersandar lemas, keadaannya benar-benar buruk.


"Sepertinya dia benar-benar mencintai putrimu, Her! Bagaimana dengan pendapat mu, sejak tadi kamu hanya diam saja," ucap Pandu yang memegang bahu Herdi sebagai tanda mereka semua butuh jawaban yang keluar dari mulut Herdi.


Bram tidak sependapat dengan ucapan Herdi. Bram kecewa sahabat nya sama sekali tidak mendukung hubungannya. "Aku benar-benar mencintai putrimu dan aku sudah tidak bermain-main lagi,"lirih Bram.


"Kamu bagaimana sih, Her. Sudah kamu pura-pura saja setuju. Setidaknya kamu selamatkan dia malam ini, kasian dia sangat terpuruk. Kalau di biarkan begini terus bisa mati dia Her." Pandu berbisik pada Herdi.


"Kamu lebay.....dia ngga akan mati dengan mudah. Bukankah dia masih harua berjuang untuk mendapatkan Kanaya?" ucap Herdi dengan penuh keyakinan.


Kini Pandu dan Herdi duduk di sofa berhadapan dengan Bram yang tengah dalam kesedihan yang mendalam. Dapat Herdi dan Pandu lihat begitu banyak botol minuman di hadapan mereka. Herdi pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan.

__ADS_1


"Bram, maaf aku. Bukan maksudku untuk tidak mendukung hubungan mu dengan Kanaya. Semua itu Kanaya yang menjalaninya. Tapi jika kamu bertanya kepadaku, aku masih tetap tidak setuju dengan hubunganmu. Kamu sahabatku, Bram. Aku tidak ingin karena hal seperti ini persahabatan kita jadi hancur," ungkap Herdi.


"Sudahlah, kalian tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan sekarang. Kalian pulanglah, nanti istri-istri kalian pada nyariin. Kalian tenang saja sebentar lagi aku akan pulang. Jadi kalian berdua tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Sudah cukup kalian membuat patah semangat ku."


Pandu menyikut dada Herdi, "Kamu tidak bisa kah berbohong untuk malam ini. Kasian tuh sih Bram."


"Tapi kamu kan tahu, usia mereka berbeda jauh, ndu. Kamu pikir saja, masa menantu dan mertua usianya beda 2 sampai 3 tahun saja. Astaga...... bisa gila aku dengan ulah Bram ini," ucap Herdi yang sudah berhasil di buat stress oleh sahabat nya itu.


Bram beranjak dari sofa kemudian melangkah pergi meninggalkan hingar bingar suara musik dan lampu kelap kelip di sana. Kedua sahabat nya itu hanya menatap kepergian Bram. Bram pergi tanpa berkata apa-apa kepada Herdi dan Pandu.


Herdi dan Pandu pun beranjak dari sofa dan mengikuti Bram yang keluar. Keduanya melihat Bram yang sudah masuk kedalam mobilnya dan melaju meninggalkan mereka berdua.


"Sepertinya aku dan Anna harus bicarakan ini pada Kanaya," ucap Herdi.


"Sabar, mungkin saja Kanaya mempunya alasan mengapa dirinya belum cerita apa-apa padamu. Kamu tunggu saja, aku tahu ini rumit tapi cobalah untuk percaya pada putrimu. Dia sudah dewasa tahu mana yang harus dia jalani. Walau sekalipun dia nantinya memilih Bram, aku harap kamu bisa bersikap bijaksana dalam mengambil keputusanmu." Pandu mencengkram bahu Herdi, mencoba membuatnya tetap tenang dengan situasi itu.


"Astaga.....kenapa juga sih, Brammm......." Herdi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Sabar bro.....sabar! Heeeheeee...." Pandu merangkul sahabatnya itu kembali sambil tertawa.


Kini Herdi dan Pandu pun memilih untuk membiarkan Bram menenangkan pikirannya dahulu. Dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


Aroma awan mendung yang seperti orang murung, lalu turun hujan seperti air mata. Memandang langit yang hitam juga seperti melihat kenangan yang tak akan terulang kembali. Ibarat pepatah, air hujan terbuat dari satu persen air dan 99 lainnya kenangan.

__ADS_1


Bram yang kini menatap hujan dari balik jendela mobil sembari membayangkan wajah manis Kanaya, tanpa sadar akan membuat air matanya turun. Bram seperti melihat kilasan momen di mana dirinya bisa menghabiskan waktu lalu yang indah, namun kini berakhir dengan pahit.


Sedangkan Kanaya yang di rumah, setelah Aldo pergi, Kanaya duduk di sofa ruang tamu mengambil coklat yang berada di atas meja, coklat yang diletakkan oleh Bram sebelum kepergian nya tadi. Kanaya menatap sekotak coklat yang berbentuk buket bunga. Lalu Kanaya tersenyum sambil memandang coklat itu. "Bram tahu diriku tidak suka coklat tapi tetap saja dia memberiku coklat dengan bentuk yang lucu." Kemudian Kanaya mengingat saat-saat dirinya bersama Bram tadi pagi, Kanaya tersenyum kembali. Kanaya beranjak dari sofa menuju dapur membuka lemari es untuk menyimpan coklat di sana. "Kenapa juga aku harus menyimpan coklat ini, kan aku tidak bisa memakannya. Tapi kalau di buang sayang....bentuknya lucu banget." Kanaya bingung sendiri akan tingkahnya yang seperti kekanakan.


__ADS_2