
Herdi sudah tidak sabar menunggu putrinya turun ke bawah, dia ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya dan meminta penjelasan putrinya sedetail mungkin. Tidak pernah putrinya merahasiakan apapun selama ini dari Herdi dan Anna. Tapi kali ini putrinya mulai berani merahasiakan hal sebesar ini, dan membuat Herdi kecewa.
"Ayah....ayo duduk, tidak perlu kamu berjalan mondar- mandir seperti itu. Sebentar lagi juga Kanaya akan turun." Anna heran kepada suaminya yang tidak mau bersabar dan bersikap tenang.
"Bagaimana bisa aku duduk dengan manis, awalnya aku pikir ini permasalahan mudah. Tapi mengingat Bram orang yang melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, aku mulai merasa ragu. Dan Aldo, selama ini kita cukup kenal dekat dengannya, tapi kita tidak mengetahui hubungannya dengan putri kita. Kenapa orang tua dan anak bisa terlibat cinta segitiga, macam di sinetron-sinetron saja," kesal Herdi.
"Bayangkan, Ann. Satu tahun, satu tahun itu bukan waktu sebentar. Kok bisa kita tidak tahu putri kita sudah memiliki pacar?" Herdi yang masih mondar- mandir terus dan terus berbicara tanpa henti. Masih menumpahkan kekesalan yang ada di dalam kepalanya.
"Ayah....datang!!" teriak Kanaya dari lantai atas saat berlari kecil menuruni anak tangga. "Sudah lama ayah tidak datang kemari," ucap Kanaya dengan nada manja kepada Herdi.
"Ya, ayah memang sudah lama tidak berkunjung ke rumah ini, lantas drama apa saja yang sudah terjadi di rumah ini, selama ayahmu ini tidak datang mengunjungi mu." Herdi kini sudah berada di hadapan putrinya itu.
"Ihh.....ayah. Drama apaan sih." Kanaya langsung memeluk Herdi yang berada di hadapannya. Padahal Kanaya jelas tahu apa yang di maksud oleh ucapan Herdi tersebut.
Anna hanya tersenyum melihat sikap Kanaya yang sedang mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kali ini, ibu akan diam dan melihat saja. Apa putri ibu sudah bisa menghadapi kemarahan ayahnya." Anna bergumam di dalam hati.
Karena Herdi tidak merespon pelukan hangat darinya, kini Kanaya segera berpindah duduk di sofa berdampingan dengan Anna, sembari memeluk Anna dari samping," ibu....Kanaya sangat rindu pelukan ibu. Apa ibu tidak ingin membalas pelukan Kanaya, seperti ayah yang tidak merindukan diriku, bu." Kanaya merengek dan bermanja-manja pada ibunya.
Anna pun membalas pelukan putrinya, lalu berkata,"Kanaya, kamu kini sudah besar. Jelas kamu tahu maksud kedatangan ibu dan ayah kemari. Ayahmu ingin meminta penjelasan darimu." Anna mengucapkan itu sambil membelai lembut rambut putrinya yang terurai panjang.
"Kanaya....?"seru Herdi.
"Iya, ayah....ada apa?"Kanaya menekuk wajahnya, yang membuat Anna ingin tertawa tapi masih mencoba untuk menahannya.
__ADS_1
"Kanaya kamu harus jelaskan sesuatu, dan kamu harus jelaskan semuanya secara detail. Ayah tidak ingin ada yang kamu tutupi di belakang ayah."Herdi langsung mendaratkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan putrinya.
Kanaya sudah tahu pasti ayahnya akan bertanya dengan detail. Dan pasti ayahnya tau dari sahabatnya sendiri, Bram. Secara semalam mereka keluar bersama-sama. Mereka bertiga kan sejolly, sahabat bagai kepompong, tidak ada rahasia apapun diantara mereka, biar aib sekali pun mereka ceritakan.
"Yah, Kanaya bukan tidak ingin cerita kepada ibu dan ayah. Tapi ayah kan tahu, ketika Kanaya sudah merasa yakin barulah Kanaya kenalkan kepada ayah dan ibu. Seperti dulu saat Kanaya dan Araz," ungkap Kanaya yang raut wajahnya berubah menjadi wajah sedih.
"Apa...?? Kamu belum yakin kepada Aldo, tapi kamu sudah menjalani hubungan selama satu tahun, apa kamu merasa tidak yakin karena kamu jatuh cinta pada calon papa mertuamu?" tanya Herdi dengan tatapan yang sangat tajam.
"Ayah....kok bicara seperti itu?" Kanaya tidak kaget dengan pertanyaan ayahnya itu.
"Apa ayah selama ini menyewa detektif untuk memata-matai rumah ini? ihhh....ayah serem." Kanaya berusaha membuat ayahnya tersenyum dengan candaan konyolnya, dan gagal. Wajah Herdi masih terlihat menatap tajam ke arah Kanaya.
Sebenarnya sih memang benar, Herdi menghubungi bawahannya untuk memeriksa rumah Kanaya malam itu, saat pertemuan Herdi, Bram dan pandu selesai. Herdi hanya takut jika Bram yang sedang mabuk berbuat macam-macam kepada putrinya. Semua yang di lakukan Kanaya dilihat oleh bawahan Herdi, dan semua di laporkan secara rinci kepadanya. Sudah bisa di pastikan dengan sikap Kanaya seperti itu, sudah bisa di tebak kalau Kanaya mulai jatuh hati pada Bram, sahabat Herdi sendiri.
"Ayah tidak bisa menyimpulkan secara sepihak begitu saja dong. Ayah harus mendengar penjelasan Kanaya juga," ucap Kanaya.
Kedua tangan Anna mencengkram bahu Kanaya dan memutar tubuhnya ke arah Anna. Mereka saling bertatapan. "Kanaya, kalau kamu memang suka pada Bram, katakan saja. Ibu tidak mempermasalahkan hal itu, asalkan dia benar-benar tulus padamu dan tidak berniat main-main."
Kanaya menggelengkan kepalanya,"Bukankah Kanaya memang harus menyukai Bram, karena Bram adalah calon papa mertua Kanaya," tegas Kanaya.
Kanaya pun beranjak dari duduknya dan ia pergi melangkah menuju dapur, membuatkan minuman dan suguhan lainnya untuk kedua orang tuanya.
"Kanaya.....Kanaya, kamu itu anak kemarin sore. Berani-beraninya kamu berbohong pada ayahmu ini. Sudah terlihat jelas kalau dia menyukai Bram bukan Aldo," ucap Herdi.
__ADS_1
"Sudahlah yah, nanti ibu akan coba bicara pada Kanaya lagi. Ayah jangan marah-marah padanya. Ingat itu!!" tegas Anna.
Anna beranjak dari sofa dan menyusul putrinya ke dapur, membantunya untuk menyiapkan suguhan. Sesekali Anna membelai Puncak kepala Kanaya dengan penuh kasih sayang. "Kanaya, ibu mengandungmu dulu sembilan bulan lamanya, kemanapun ibu pergi kamu selalu bersama ibu. Ibu sedang sedih, bahagia, marah kamu tetap bersama ibu. Ikatan batin kita sudah terjalin sejak kamu masih di dalam perut. Dan dulu ketika kamu masih di dalam perut, kamu lapar ibupun tahu. Saat kamu rindu dengan ayahmu, ibu pun tahu. Kini kamu sudah tumbuh dewasa, walau kita tinggal di rumah yang berbeda, tapi ikatan ibu dan anak tidak bisa dihilangkan begitu saja. Apa Kanaya tidak ingin jujur dengan ibu? Katakanlah sayang, apa yang sebenarnya kamu rasakan pada Bram." Anna berkata sangat lembut pada putrinya, sehingga membuat Kanaya tersentuh.
Kanaya membalikkan tubuhnya dan menatap wajah ibunya. "Bu, Kanaya masih 24 tahun, sedangkan Om Bram sudah 43 tahun. Usia kami berbeda jauh. Dan sekarang sudah ada Aldo yang mengisi hari-hari Kanaya,"jelas Kanaya.
"Apakah kamu sama sekali tidak mempunyai perasaan kepada Bram?" kata Anna yang mencoba meyakinkan putrinya.
Kanaya terdiam dengan setelah mendengarkan ucapan dari mamanya itu. Karena dia tidak yakin akan hal itu. Dirinya juga bingung harus bagaimana, sampai-sampai kini Kanaya bingung rasa cinta kepada seorang pria dengan seorang mertua. Semua ini membuat Kanaya tidak bisa tidur tiap malamnya.
Kanaya kembali menggelengkan kepalanya,"Kanaya pun tidak tahu apa yang Kanaya rasakan, bu."
Anna tertawa kecil. "Pesan ibu untukmu, kamu harus mengikuti apa kata hatimu, memang terasa sulit untuk menentukan suatu pilihan dikarenakan perasaan khawatir, cemas terhadap risiko dari pilihan itu. Tentunya setiap pilihan pasti ada dampaknya masing-masing. Sulit untuk memilih bertahan atau melepaskan seseorang yang di cintai. Pilihan untuk masa depan harus atas dasar cinta, karena dia yang akan mendampingi hidup kita selamanya. Jika kamu memiliki rasa suka dan keyakinan bahwa dia adalah orang yang tepat, maka nantinya akan ada kebahagiaan. Oleh sebab itu, ibu minta kamu harus pikirkan dengan pemikiran yang matang."
"Kanaya mengerti, bu. Kanaya akan pikirkan ini baik-baik," ucap Kanaya.
"Ibu hanya berharap kamu mendapatkan yang terbaik dan akan merasakan kebahagiaan dalam hidupmu,"ucap Anna sembari tersenyum hangat.
"Maaf kan aku ibu, tapi semua itu tidak semudah yang kita pikirkan, akan banyak pertentangan dan penolakan di hubungan kita nanti. Masih banyak orang yang berfikir dari sisi lain. Melihat pasangan seperti kami ini seperti pandangan jijik. Apakah Kanaya akan sanggup melewati itu semua, bu. Perbedaan usia kami sangatlah jauh. Kanaya belum yakin dengan semua yang Kanaya rasakan," ucap Kanaya dalam hati.
Diluar sana banyak juga pasangan yang punya perbedaan usia terpaut 10 tahun atau lebih sering mengalami penolakan sosial. Entah itu berasal dari keluarga, teman atau penilaian orang-orang sekitar yang bahkan tidak begitu mengenal secara pribadi. Umumnya, orang lebih memilih menjalin hubungan dengan pasangan yang seumuran. Tergantung dari setiap budaya dan kehidupan sosial setiap individu.
Pasangan perempuan muda-pria tua atau perempuan tua-pria muda menjadi yang paling sering dipermasalahkan terutama dalam hal reproduksi. Beda usia yang jauh sering menimbulkan masalah ketika ingin memiliki anak. Apakah pihak yang lebih tua mampu memberikan gen terbaik untuk keturunan yang sehat, dan lain sebagainya.
__ADS_1
Jika secara pengalaman, yang lebih tua tentu lebih diuntungkan, namun pandangan banyak orang masih tetap miring perihal kelayakan menikahi yang jauh lebih muda. Banyak orang mengira bahwa hubungan dengan kasus "beda usia jauh" akan memiliki hubungan cinta yang buruk.
Namun banyak juga ditemukan bahwa kepuasan hubungan cinta justru tinggi untuk pasangan yang memiliki perbedaan usia jauh. Mereka juga memiliki komitmen dan kepercayaan tinggi serta jarang cemburu satu sama lain dibanding pasangan seumuran. Jadi bisa disimpulkan, bahwa untuk mendapatkan hubungan cinta yang sukses, usia bukan ukuran utama. Terlepas dari berapapun perbedaan usia yang dimiliki dengan pasangan, jika sudah memiliki kesamaan pikiran, saling memahami kondisi masing-masing, tak ada yang tak mungkin untuk membangun hubungan cinta bahagia.