
Kanaya pun merasa bimbang, itulah kondisi yang ia rasakan sekarang, dia bingung harus menentukan mana yang harus dia jalani. Bingung memilih siapa kepada siapa dia akan memberikan hatinya, Bram ataukah Aldo. Hatinya seakan menyuruh dirinya untuk segera memilih diantara sebelum dirinya menyakiti lebih dalam salah satu diantara keduanya. Lalu memulai semua nya dari awal bersama pria pilihannya dan melupakan yang terjadi sebelumnya.
Namun otak Kanaya sudah tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Kini dirinya hanya bergerak mengikuti irama tubuhnya. Hilang rasa pada apa yang telah ku sentuh, entah ada apa dengan rasa yang belum lama tumbuh. Seandainya bisa, mungkin Kanaya akan berbagi waktu untuk kedua pria tersebut. Tapi Kanaya tak pernah tega melakukan hal itu. Itu hanya akan menyakiti keduanya dan Kanaya bisa kehilangan semuanya begitu saja. Kanaya hanya ingin hidup bahagia bersama pria yang ia cintai dan menjalani masa depan bersama. ccccccccc cby
Walau hatinya kini sudah penuh dengan keraguan, gelisah melingkupi hati dan pikiran Kanaya sendiri, dia harus meyakini dengan hanya satu keputusan. Tapi itulah yang akan menentukan jalan diantara dua pilihan. Berusaha hempaskan rasa ragu yang membelenggu, dan mulai melangkah pada yang di tuju berusaha meraih semua mimpinya bersama pria pilihannya dan jangan ragu lagi. Biarlah angin yang akan memberitahu tentang perasaan Kanaya pada pria yang ada di hatinya.
Bram menatap Kanaya yang melamun dalam pikirannya sendiri. Mungkin tidak seharusnya Bram berkata seperti tadi. Bram mengerti kenapa Kanaya belum bisa melepas Aldo, karena Kanaya tidak bisa melihat orang dekatnya merasa sakit terlebih sakit karena dirinya.
"Sayang....maafkan perkataan ku tadi, aku tahu pasti itu membuatmu sedih," lirih Bram.
Kanaya menggeleng, "tidak Bram, kamu tidak salah, itu memang kenyataan yang sebenarnya dan kamu memang tidak salah."
"Sudahlah lupakan semuanya, kini di sini untuk bersenang-senang, melupakan penatnya kehidupan kita," ucap Bram.
Bram bangun dari pangkuan Kanaya dan memeluk gadis itu dengan hangat, menarik kepala Kanaya dan membenamkan nya di dadanya yang bidang dan berotot itu, Kanaya pun membalas pelukan itu, Bram menatap wajah gadis pujaan hatinya dan memberikan sebuah kecupan di keningnya.
Kanaya menatap Bram dan sebaliknya, secara perlahan Bram mulai mendekat lalu memiringkan kepalanya dan mulai mendaratkan bibirnya di bibir mungil Kanaya.
"Aku tidak ingin kehilangan dirimu, Kay," ucap Bram.
Bram kembali mendaratkan bibirnya di bibir mungil Kanaya, Kanaya pun kini membalas kecupan Bram dengan lembut. Kanaya dan Bram bermesraan di temani dengan pemandangan indah hutan hijau dan suara gemericik air yang terdengar merdu.
Kanaya dan Bram kini sudah berada di dalam Villa Bambu. Terlihat Kanaya sudah tertidur pulas di pelukan Bram. Dengan perlahan Bram menarik lengannya dari kepala Kanaya. Bram bangkit dari tempat tidurnya dan meraih tas Kanaya mencari-cari ponsel milik Kanaya. Dia ingin melihat apakah putranya masih berusaha menghubungi Kanaya. Banyak sekali pesan dari Aldo, Bram jadi merasa tidak enak, Bram tidak lagi menghapus semua pesan yang masuk di ponsel Kanaya. Bram membiarkan saja pesan itu di baca oleh Kanaya nantinya.
Bram merasa bersalah karena sudah lancang menggunakan ponsel Kanaya, biar bagaimana pun Aldo adalah kekasih Kanaya. Dia pun tidak berhak melakukan itu.
Bram meletakkan ponsel itu dan kembali duduk di samping tubuh Kanaya. "Sayang, apakah salah jika aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku berharap kamu membalas cintaku, membuka hatimu untukku dan melepaskan Aldo dari hubungan ini."
Keesokan harinya, saat Kanaya terbangun dari tidurnya. Kanaya terkejut melihat Bram berada di samping tubuhnya, Kanaya membuka selimut yang dia kenakan, "akh.....aman semua masih terpakai lengkap," batin Kanaya.
Kanaya takut Bram melakukan sesuatu di saat dirinya tertidur semalam, tapi nyatanya tidak terjadi sesuatu, karena Bram menjaga dirinya dengan baik. Walau Kanaya tidak tahu begitu susahnya Bram untuk menenangkan jagoan ciliknya saat dirinya didekat Kanaya. Kanaya beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sedangkan Bram masih tertidur pulas. Kanaya pun masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya. Dering ponsel Kanaya terdengar. Kanaya meraih ponselnya dan di layar tertulis nama Aldo yang menelponnya. Kanaya menjawab panggilan telepon dari Aldo.
"Hallo..." sapa Kanaya.
"Akhirnya, kamu menjawab telepon ku sayang," ucap Aldo.
"Ada apa memangnya?" tanya Kanaya.
__ADS_1
"Kamu di mana sayang, kenapa tidak pulang ke resort. Kata ayah kamu lagi bersama Alissa. Ayolah sayang cepat pulang atau aku akan menyusul mu. Katakan kamu ada di mana sekarang?" ucap Aldo.
"Aku lagi menikmati liburan ku, kamu jangan mengganggu ku, karena kemarin aku tidak ada mengganggu kamu bersama teman-temanmu. Nanti juga aku akan pulang," jawab Kanaya.
"Nanti aku sendirian sayang kalau kamu tidak cepat pulang?" ucap Aldo.
"Kemarin juga aku sendirian," jawab Kanaya.
Kanaya langsung mematikan sambungan teleponnya dari Aldo. Kanaya kesal karena Aldo menelpon dirinya hanya untuk menemani dirinya yang sendirian. Kemarin saat aku sendirian dia juga tidak perduli. Kanaya yang berceloteh sendiri membuat Bram terbangun dari tidurnya karena mendengar suara-suara aneh. Dia mengernyit menatap Kanaya yang bersikap aneh. Kanaya tidak sadar kalau dirinya sedang di perhatikan oleh Bram. Bram bangkit dari tempat tidurnya dan turun menghampiri Kanaya memeluknya dari belakang.
"Ada apa, kenapa marah-marah sendiri seperti burung beo saja berisik tahu," ucap Bram.
Kanaya terkejut karena tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. "Akh, maaf. Aku telah membangunkan mu ya."
"Aku mau mandi dulu, kamu bersiap-siaplah sayang, kita akan pulang," ucap Bram.
"Yah....kok pulang. Baru juga menikmati liburan," ucap Kanaya.
"Aku juga pengennya lama di sini apalagi bersama kamu, tapi kalau kita lama di aini kasian Pandu dan Alissa. Takutnya kita semua ketahuan oleh Herdi," tutur Bram.
"Owh.. iya. Benar juga. Nanti malah repot jika ketahuan ayah. Baiklah aku akan siap-siap," ucap Kanaya.
"Beneran ya, aku tunggu," ucap Kanaya.
Bram masuk ke dalam kamar mandi dan Kanaya membereskan pakaiannya. Kanaya menyiapkan pakaian ganti untuk Bram. Tidak lama Bram keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Bram tersenyum melihat pakaian yang sudah siap di atas tempat tidur untuk dirinya.
"Terima kasih, sayang."
"Sama-sama," jawab Kanaya lembut.
Dengan santai nya Bram memakai baju di hadapan Kanaya. Sontak itu membuat Kanaya terkejut.
"Aaaaaaa..........Bram! Kenapa kamu pakai baju di sini, sana ke kamar mandi," ketus Kanaya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Bram tertawa dan tidak juga beranjak pergi dari sana. "Jangan malu-malu gitu sayang, nanti saat kita sudah menikah juga kamu setiap hari akan melihatnya."
"Cepat pakai bajumu...," teriak Kanaya.
__ADS_1
"Semua sudah kamu bereskan, sayang?" tanya Bram.
Kanaya mengangguk. "Aku sudah membereskan semuanya."
"Kalau begitu kita sarapan dulu sebelum pulang," ucap Bram.
Bram dan Kanaya berjalan menuju meja makan. Bram sudah memesan makanan sebelum dirinya mandi. Kanaya menyiapkan makanan untuk Bram, melayani dirinya selayang sepasang kekasih. Bram sangat senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kanaya.
Setelah melayani Bram barulah Kanaya menyiapkan makanan untuk dirinya. Mereka sarapan sambil mengobrol dan tertawa. Mobil jemputan pun sudah datang. Kanaya dan Bram segera masuk ke dalam mobil. Mereka kembali menuju hotel dimana Pandu dan Alissa bersama pacarnya menginap. Karena dari sanalah baru mereka kembali ke resort dimana Herdi berada.
"Kay..... aku sepertinya tidak bisa kembali ke resort, aku akan langsung kembali ke Jakarta. Karena ada pekerjaan penting yang harus dikerjakan," ucap Bram.
Kanaya tampak tak semangat setelah mendengar ucapan Bram. "Aku bakal kesepian dong. Aku juga akan pulang ke Jakarta secepatnya," ucap Kanaya.
Bram mengelus puncak kepala Kanaya, "Aku akan cepat menyelesaikan pekerjaanku. Kamu jangan nakal selama aku tidak ada."
Kanaya tertawa, " memangnya aku anak kecil."
"Sehabis mengantar kamu ke hotel Pandu, aku akan langsung ke bandara, aku ingin cepat menyelesaikan pekerjaanku di sana, agar bisa cepat bertemu denganmu lagi," tutur Bram.
Mobil pun sampai di hotel di mana Pandu menginap. Bram dan Kanaya keluar dari mobil dan masuk ke dalam menuju kamar Pandu dan Alissa.
"Haii.....Alissa," ucap Kanaya.
Alissa dan Kanaya pun berpelukan, sementara Pandu memperhatikan Kanaya dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan itu tidak luput dari pandangan Bram.
"Ngapain kamu liat-liat pujaan hati ku seperti itu?" tanya Bram pada Pandu.
"Akh...tidak. Aku hanya melihat apa semua masih lengkap, tidak ada goresan sedikitpun apalagi noda-noda membandel," jawab Pandu dengan polosnya.
Semua tertawa kecuali Bram yang menatap Pandu dengan tatapan tajam. "Kamu pikir apa yang ku lakukan pada Kanaya, hah?" ucap Bram.
"Jangan marah gitu dong. Aku kan hanya bercanda," jawab Pandu sembari merangkul sahabatnya itu.
"Ndu, apa semua sudah siap, aku harus segera ke bandara. Aku titipkan Kanaya padamu, terima kasih atas semua bantuan mu dan juga Alissa," Bram melihat Alissa dan berterima kasih padanya.
"Aku bisa apa, andai Kanaya tidak memiliki perasaan yang sama padamu, tidak mungkin aku membantumu?" jawab Pandu.
__ADS_1
"Karena semua sudah siap, bagaimana kalau kita langsung ke resort Om Herdi," ajak Alissa.
Bram memeluk kembali sahabatnya itu sebelum dia pergi. Tak lupa Bram memeluk Kanaya dengan erat, dan mendaratkan sebuah kecupan di keningnya. Bram melangkah pergi menjauh, sampai sosoknya masuk ke dalam lift dan tak terlihat lagi.