
Bram, Pandu, Aldo dan Herdi keluar ruangan. Pertemuan telah usai, Aldo lebih dulu pamit karena masih ada janji dengan teman-temannya. Pandu mulai melaksanakan rencananya bersama Bram. Pandu meraih ponselnya yang berada di saku celana, Pandu seakan men-dial sebuah nomor dan pura-pura menelpon putrinya yang berada di hotel.
"Hallo sayang, maaf ayah baru telpon karena baru selesai meeting. Ada apa kamu dari tadi menelpon ayah?" ucap Pandu yang seakan-akan sedang berbicara dengan putrinya di telepon.
"Owh...Kanaya, sebentar ayah tanyakan pada om Herdi dulu." Pandu menjauhkan ponselnya dan bertanya pada Herdi, "Her, dimana Kanaya. Alissa ingin berjalan-jalan bersama Kanaya di Bali," ucap Pandu.
"Alissa ada di Bali juga, aku pikir kamu datang seorang diri," ucap Herdi.
"Alissa langsung saja hubungi Kanaya, tadi katanya dia mau keliling Bali, tapi ngga tau udah pergi belum," ucap Herdi kembali.
"Tapi, kamu ijinkan dia pergi jalan-jalan bersama Alissa, kan?" tanya Pandu untuk memastikan.
"Sudah pasti, kenapa harus melarang, mereka sudah besar. Sekarang bukan saatnya lagi untuk melarang-larang mereka," ucap Herdi.
Pandu kembali mendekatkan ponselnya ke telinga, "sayang, kata Om Herdi kamu langsung saja hubungi Kanaya, tadi dia juga mau berkeliling di Bali," ucap Pandu.
"Baiklah, hati-hati yah kalian berdua," ucap Pandu sebelum mematikan telepon nya dan memasukkan kembali ke dalam sakunya.
"Apa rencanamu setelah ini, Her?" tanya Bram.
Herdi berpikir sejenak, " Hmmm, sepertinya aku akan menyusul Anna yang sedang berkumpul bersama teman-teman lamanya."
"Kalau begitu aku akan ikut Pandu saja," ucap Bram.
"Aku......Hmmm aku tidak ingin kemana-mana," jawab Pandu singkat.
Bram seperti anak kecil yang mengedipkan sebelah matanya secara berulang-ulang. "Kamu lupa, tadi kamu bilang mau pergi mencari parfum. Aku ikutlah denganmu... aku juga ingin membeli parfum untuk diriku, biar pujaan hatiku klepek-klepek sama aku," ucap Bram sambil melirik ke arah Herdi, sontak Herdi melotot mendengar ucapan Bram barusan.
"Heeee, ampun deh ampun. Aku hanya bercanda, Her. Jangan marah gitu dong bapak mertua sama calon mantu," ucap Bram yang kembali memangcing emosi Herdi.
"Braaammmmm..........," teriak Herdi kesal.
"Sudah-sudah sebaiknya kamu pergi saja, Her. Cepat susul Anna, daripada kamu terlalu lama bersama Bram bisa gila nanti kamu," saran Pandu.
"Aku pergi dulu ya, sampai ketemu nanti di resort. Kamu pulang ke resort kan?" tanya Herdi pada Bram.
"Hmmmm, sepertinya malam ini aku ingin tidur bersama Pandu, kasihan dia sendirian di tempat tidur, lebih baik bersamaku," ucap Bram dengan nada manja kepada Pandu.
"Ihhhh, jijik aku," ketus Pandu.
Herdi pun tertawa melihat sikap kedua sahabatnya itu, Herdi pun berlalu dari sana dan segera menyusul Anna.
Anna yang sudah selesai makan, saat ingin beranjak dari duduknya tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Bram," ucap Kanaya.
__ADS_1
"Halo...," sapa Kanaya.
"Kamu dimana, sayang?" tanya Bram.
"Aku sedang berada di Tanah Lot, ada apa Bram," tanya Kanaya kembali.
"Kamu tunggu aku di sana, kita ketemuan di pintu masuk Tanah Lot. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang indah," ucap Bram.
"Ta-tapi,...."
"Aku menuju kesana, sampai jumpa." Bram mematikan sambungan teleponnya.
Kanaya belum selesai bicara namun telepon sudah di matikan. Kanaya berjalan santai mengikuti langkah kakinya. Beberapa saat tanpa terasa Kanaya sudah berada di pintu masuk Tanah Lot. Bram pun sudah berada di sana. Br keluar dari mobil, "kita tidak akan pulang, tapi kita akan pergi berlibur sebentar."
Kanaya mengernyit, "Mau berlibur...? Kemana?? jangan aneh-aneh Bram.Nanti jika ayah dan Aldo tahu yang ada kalian bertengkar lagi."
"Sudah, itu semua sudah di atur oleh Pandu, jadi aman. Yang terpenting kamu mau ikut bersamaku berlibur," ucap Bram.
"Ta-tapi, mai kemana, jauh tidak?" tanya Kanaya.
Bram merangkul bahu Kanaya, "Ada deh.....itu kejutan untukmu."
Bram menggandeng Kanaya menuju mobil mewah berwarna putih. "Pandu membantuku untuk bisa membawamu berlibur sebentar. Pandu ijin kepada Bram kalau kamu pergi bersama Alissa keliling Bali."
"Apa.....Alissa ada di Bali?" ucap Kanaya.
"Kalau sampai ayah tahu kalian membohonginya, tamat lah kalian semua," ucap Kanaya.
"Mangkanya rahasia ini jangan sampai bocor. Aku akan membawamu berlibur ke tempat yang aman, jadi tidak ada yang akan tahu," tutur Bram.
Bram membukakan pintu untuk sang pujaan hati. Kanaya masuk ke dalam mobil kemudian di susul oleh Bram. Mobil segera melaju menuju Hideout Bali. Bram mengajak Kanaya berlibur di Hideout Bali, sebuah tempat liburan yang menawarkan sensasi menikmati privat di Villa Bambu.
Bram yang mengetahui Kanaya sangat suka yang berbau alam, sudah pasti tempat liburan kali ini sangatlah cocok dengan Kanaya, di mana untuk pertama kalinya Bram dan Kanaya akan mencoba sensasi unik bermalam di rumah bambu dan langsung berteman dengan alam. Rumah Bambu Air ini yang terletak di pegunungan Gunung Agung Bali. Rumah bambu yang dibuat untuk para traveler yang ingin menikmati sisi lain Bali. Menginap di Rumah Bambu Bali ini langsung menghadap hutan dan sungai. Sudah pasti Bram dan Kanaya bisa merasakan sensasi unik tinggal di tengah hutan Bali dan berteman langsung dengan alam. Duh, mau!!
Kamar tidur dalam rumah bambu Bali juga didesain sangat cantik. Di dalam kamar tidur juga tersedia 1 king bed, dan juga bisa ditambah dengan 1 lagi kasur untuk di lantai. Tapi Bram sudah pastikan, khusus untuk kamar yang dia pesan hanya ada 1 king bed saja.
Villa bambu yang tempatnya jauh dari keramaian, menjadikan tempat ini lebih privat. Sangat cocok untuk Bram dan Kanaya yang sedang berlibur secara sembunyi- sembunyi. Dan juga pemandangan yang disuguhkan sesaat setelah membuka mata pun juga sangat menawan. Tak perlu jauh-jauh untuk menikmati sungai dan pemandangan hijau. Cukup keluar dari rumah dan menikmatinya dari teras, lho. Sempurna bukan!
Kanaya menghela napas. "Hah....kamu itu yah. Tapi memang sepertinya aku butuh liburan untuk saat ini, melupakan semua masalah yang sedang terjadi."
Bram tersenyum mendengarnya. Kini Kanaya tidak lagi membantah apa yang di ucapkan Bram, Kanaya sudah menjadi anak yang penurut. Lagian seharian ini Aldo belum ada lagi menghubunginya.
Sekitar 1 jam 45 menit perjalanan, barulah Kanaya dan Bram sampai di Hideout Bali. Mereka berdua di sambut oleh bawahan Bram yang semuanya berbaju hitam. Kanaya menatap takjub akan suasana asri di sana. Udara yang segar bersih serta pemandangan hutan, sungai, dan alam yang sangat indah. Salah satu bawahan Bram menunjukkan villa bambu yang sudah mereka persiapkan untuk Bram dan Kanaya.
"Wah.....indah sekali villa ini. Aku seperti benar-benar berada di sebuah pedesaan sesungguhnya, hidup menyatu dengan alam secara langsung. Di sini juga sangat privat yah, jadi kita bebas melakukan apapun." Kanaya menatap kagum bangunan villa bambu dan pemandangan di sekelilingnya.
__ADS_1
"Ayo kita masuk, sekarang," ucap Bram.
"Owh.....ya, astaga gimana aku bisa lupa, Bram. Aku kan tidak bawa baju ganti," ucap Kanaya.
"Sssttttttt........tenang sayang, aku sudah persiapkan semuanya untukmu," ucap Bram.
Kanaya pun terkejut mendengar itu. "Kamu....udah siapin untuk-ku, hah...... bagaimana bisa?" ucap Kanaya. "Masa Bram tau semua ukuran pakaian dalam ku?" batin Kanaya.
"Jangan syok gitu dong, sayang. Tenang bukan aku kok yang pergi beli. Aku kan belum tahu ukuranmu. Tapi kalau kamu mau kasih tahu sekarang, aku akan pergi beli lagi untukmu. Hehehe......." Bram pun tertawa geli.
"Brammmmmmmmmmm!!" seru Kanaya sambil menyubit perut pria paruh baya yang berdiri di sampingnya.
"Aa-ampun Kay, ampun......ngga kok, aku minta tolong Alissa tadi untuk membelikan semua kebutuhanmu. Katanya tubuhmu dan tubuh Alissa satu ukuran. Begitu dia bilang," tutur Bram menjelaskan kepada pujaan hatinya.
"Iya...ya..ya, sultan mah bebas. Apa aja bisa dilakukan dengan begitu mudahnya," ucap Kanaya.
Bram tertawa geli mendengar ucapan Kanaya barusan, "Apa?? Sultan.....ngeri ya. Tapi, Kay. Ada satu hal yang belum bisa aku lakukan, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa."
"Hahh.....apa itu?" tanya Kanaya.
"Menjadikan kamu sebagai muhrimku," jawab Bram.
"Ihh......apaan sih Brammmmm." Tak henti-hentinya Kanaya mencubit perut Bram.
"Tuh kan, coba lihat merah-merah kan perutku," ucap Bram sambil menunjukkan pada Kanaya.
"Ya....maaf. Siapa suruh kamu menggodaku terus sejak tadi," sahut Kanaya.
"Aku tidak menggodamu, yang ku katakan itu semuanya kebenaran kok," ucap Bram.
"Brammmmm," lirih Kanaya.
Bram membawa Kanaya ke dalam pelukannya. Dia mengecup kening Kanaya. Bram sudah sangat mencintai Kanaya. Dia sudah tergila-gila pada calon menantunya itu.
"Aku akan berusaha keras agar kamu bisa menjadi milikku seutuhnya," batin Bram.
"Bramm....andai saja tidak ada perbedaan diantara kita, andai saja kita seumuran, andai saja ayahku setuju, namun semuanya hanya dalam kata andai. Sikap manismu seperti ini sangat membuatku tersentuh dan semakin sulit untukku membuang perasaan yang kini muluk tumbuh di hatiku," batin Kanaya.
"Tubuhku mulai lengket, sebaiknya aku membersihkan diri dulu," ucap Kanaya.
"Apa kita bisa bersama-sama membersihkan diri," canda Bram.
"Brammmmmm.....!" lirih Kanaya.
Bram hanya tersenyum melihat reaksi Kanaya. "Mandilah sana duluan, setelah itu baru aku."
__ADS_1
Kanaya pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sudut kamar. Kanaya pun terkejut melihat ruangan mandi di Villa bambu itu, karena memang tidak setengah-setengah dalam mengusung tema menyatu dengan alam.
"Benar-benar keren, baru ini aku mencoba sensasi mandi di outdoor bathroom. Biasanya aku hanya mandi dengan empat dinding di sekeliling, tapi tidak dengan di rumah bambu ini, aku akan merasakan pengalaman yang unik untuk pertama kalinya mandi dengan dinding beranyamkan bambu dan pepohonan di sekitarnya, serta saat menatap ke atas hanya langit luas berwarna biru lah yang ku lihat, tidak ada yang namanya atap apalagi plafon. Hmm, benar-benar luar bisa indahnya,"ucap Kanaya.