MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Dua Puluh Satu : Tetapi tidak mendapat restu


__ADS_3

Setelah kembalinya Bram ke Jakarta, banyak hal yang Bram pikirkan. Sepertinya dia harus terbuka pada Herdi, agar Herdi lambat laun bisa menerima dirinya sebagai menantunya. Karena Bram ingin memberitahu kalau Kanaya juga memiliki perasaan yang sama kepada dirinya. Setelah mendengar kabar kalau Herdi dan lainnya sudah kembali ke Jakarta, Bram memutuskan mengajak Pandu dan Herdi untuk bertemu di kantornya.


"Aku menunggu kalian sekarang di kantorku, sekarang!" Bram pun mengirimkan pesan itu kepada Pandu dan juga Herdi. Kini dirinya duduk dengan gelisah, menunggu kedua sahabatnya datang. Dengan secangkir kopi hangat yang menemani di ruang kerjanya.


Brakkkk.....!!


"Ada apa kamu menyuruh kami untuk datang kesini, pakai kata sekarang lagi. Udah ngga tahan kamu ya?" tanya Herdi.


"Apa kalian tidak bisa membuka pintu kantorku dengan halus, apa kalian sengaja mau merusak kantorku," seru Bram.


"Salah sendiri, kamu kan tahu kita ini baru sampai. Bukannya nyuruh istirahat malah kamu paksa kami untuk datang kesini," kesal Pandu.


Bram jadi terdiam ketika dua sahabatnya itu datang. Bram jadi berpikir kembali, apa dia harus mengatakannya atau tidak. Masalah first kiss dirinya bersama Kanaya yang terjadi tanpa di rencanakan.


"Menurut kalian, jika seorang pria dan wanita melakukan first kiss, ehmm.....terus mereka berdua saling membalas kecupan itu, menurut kalian mereka saling mencintai tidak?" ucap Bram perlahan.


"Apaan sih maksudnya?" tanya Herdi yang menatap Pandu karena dirinya tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Bram.


Pandu diam dan seolah berpikir, menelaah, mencermati dan meresapi apa yang di ucapkan oleh Bram.


"Kamu habis lakukan kecupan pertama sama seorang wanita?" terus ngapain kamu cerita kalau cuma gitu doang. Kamu tidur dengan banyak wanita saja kita biasa aja, apalagi cuma sekedar sebuah kecupan.


"Bukan begitu, maksudku," ucap Bram.


"Lantas apa?" sahut Herdi yang tampak tidak sabar dengan ucapan Bram.


"Seorang pria dan wanita saling kiss, terus wanita dan pria saling membalas kiss itu, jadilah kiss itu lebih dalam lagi, jadi kedua orang ini sama-sama menikmati permainan kiss itu...hmmm, mengerti kan?" ucap Bram.


"Kalau menurutku tergantung siapa wanita itu. Karena rasa-rasanya hampir semua wanita yang kamu kiss pasti membalas permainan mu kan?" jawab Pandu.


"Iya juga sih, tapi wanita ini beda. Dia adalah wanita yang biasa menolak ku, mungkin dia terlihat tidak suka padaku, tapi pada saat ada momen yang tidak terduga terjadilah first kiss itu, dan dia membalasnya," tutur Bram.


"Kalau seperti itu, kemungkinan dia suka padamu tapi tentang sikapnya mungkin dia punya satu alasan kenapa dia jadi bersikap menolak seperti itu," ucap Herdi.


"Kalau denganmu bagaimana, Ndu?" tanya Bram.


"Aku setuju dengan Herdi, dia suka padamu," jawab Pandu.


"Hmm, Bram. Apa kamu sudah move on yah dari putriku? aku tidak akan menerima mu karena kamu sudah berbuat begini pada wanita lain baru kamu masih mengejar-ngejar putriku," ucap Herdi.

__ADS_1


"Justru itu, Her. Sebenarnya yang inginku ceritakan. Aku melakukan first kiss bersama Kanaya waktu di resort Bali."


"Apa...?" teriak Herdi.


Brakkkkkk!!


Herdi menggebrak meja kerja Bram. Dirinya yang tadi duduk berhadapan dengan Bram, kini sudah bangkit dari duduknya dan sudah berada di hadapan Bram, mencengkram kerah baju Bram dengan sangat kuat, sehingga Bram yang tadinya duduk sampai terangkat berdiri.


"Jangan gila kamu, Bram. Apa yang kamu lakukan pada putriku, apa saja? Katakan padaku, apa kau sudah merusak putriku?" bentak Herdi.


Pandu mengusap punggung Herdi, berusaha menenangkan sahabat nya itu. Membujuk Herdi agar tidak melakukan kekerasan pada Bram.


"Her, tenang. Kita dengarkan penjelasan Bram dulu."


Herdi melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Bram. Dan duduk kembali berhadapan dengan Bram dengan wajah yang emosi.


"Katakanlah, aku akan mendengarkan," ucap Herdi.


"Waktu malam itu sehabis makan malam di resort, aku masuk ke kamar Kanaya, awalnya kami hanya mengobrol, lalu aku memeluknya, dan mengecup bibirnya yang mungil." Bram menatap Herdi yang tampak semakin emosi, "tapi kalian harus tahu, Kanaya membalas kecupan itu."


"Apa?" ucap Pandu.


"Benar aku tidak berbohong, kami saling bermain dan membelit pada malam itu," ucap Bram meyakinkan.


Semakin kuat Herdi memijat keningnya, sakit kepalanya semakin bertambah. "Cukup, Bram. Kepalaku makin sakit ini."


"Terus... apa lagi yang terjadi?" Pandu jadi penasaran.


"Ku bilang cukup, apa kamu tidak dengar, Ndu!" ketus Herdi.


"Tapi kita kan harus tahu endingnya Her, apa endingnya kita harus menghabisi Bram atau tidak? itu semua kan tergantung apa yang terjadi di akhir cerita," ucap Pandu.


"Ya, ada benarnya juga katamu," Herdi menyingkirkan tangannya yang sejak tadi memijat keningnya. "Teruskan, apa yang kamu lakukan pada putriku selanjutnya?" tanya Herdi.


"Ya.....selanjutnya aku langsung pergi meninggalkan Kanaya di kamarnya sendiri. Aku takut kebablasan Her. Aku mencintainya tulus, jadi tidak mungkin aku akan berbuat seperti itu. Itu sebabnya aku menceritakan ini padamu biar kamu tahu kami saling mencintai," tutur Bram.


"Akh....ngga seru kalau cuma begitu," ucap Pandu yang duduk kembali ke kursinya tampak kecewa dengan endingnya.


Bugggggg!!

__ADS_1


Punggung Pandu kena pukulan dari Herdi. "Trus kamu mau endingnya hot, Bram merusak putriku, gitu mau mu?"


"Bu-bukan begitu Her. Jangan salah paham," ucap Pandu.


Kini mereka bertiga tampak serius, perbincangan mereka pun menjadi lebih serius. "Aku bingung, tadi kata Bram Kanaya membalas kecupan itu, berarti Kanaya juga menyukai dirimu."


"Benar," sahut Bram dengan tegas.


"Tapi.........,"


"Tapi...apa, Her?" ucap Bram dan Pandu.


" Tapi aku tidak bisa menerima dirimu sebagai menantunya, Bram," ucap Herdi.


"Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa menerima diriku sebagai menantumu? Katamu kamu akan menyerahkan semua pilihan pada putriku," kesal Bram.


"Iya kenapa sih, Her. Putrimu saja memilih Bram. Masa kamu tidak bisa menerima kenyataan itu? Harusnya kamu senang putrimu menikah dengan pria yang dia cintai, tampan, dan sukses, walau sudah berumur sih....." ucap Pandu.


"Nah itu dia yang aku tidak setuju, perbedaan usia kalian. Kamu sudah berumur Bram. Nanti di saat sudah menikah mempunyai anak banyak, terus tiba-tiba si Bram habis umur bagaimana? Putri kecilku jadi janda, terus cucu-cucuku jadi anak yatim di usia mereka yang masih kecil. Menyedihkan kalau itu terjadi," tutur Herdi.


"Haaahaaaahaaa........" Pandu tertawa geli, tak henti-hentinya dia tertawa. "Sumpah ini gokil abis, Bramm ingat kamu sudah tua, bau tanah kasian istri dan anak-anak mu nanti," ejek Pandu.


"Tega sekali kalian berdoa umurku pendek. Kalau umur itu tidak ada yang tahu, tapi kalau soal cinta aku harus buktikan dengan cara bagaimana lagi, agar kamu merestui hubungan kami?" tanya Bram.


"Sudahlah, lebih baik kamu di jodohkan dengan temannya Aldo saja," ucap Herdi.


Bram pun membulatkan kedua matanya, "Aku tidak akan setuju dengan itu. Aku sangat mencintai Kanaya dan tidak akan menikah dengan wanita lain selain Kanaya."


"Semua terserah Padamu," ucap Herdi.


"Kamu berkenalan saja dulu dengan temannya Aldo itu, kita kan tidak tahu hati akan memilih siapa. Siapa tahu cocok," ucap Pandu.


"Sudahlah, aku malas melanjutkan pembicaraan ini, aku mau pulang." Bram pun bangkit dari kursinya dan melangkah melewati kedua sahabatnya yang masih duduk di ruang kerjanya. Kedua sahabatnya itu menatap kepergiannya, " Hei...kamu yang menyuruh kami kesini, sekarang kamu tinggalkan kami seenaknya begini," seru Herdi.


Bram tak menoleh sedikit pun. Pandu dan Herdi menghela nafas, dan beranjak pergi mengikuti Bram.


Bram sudah masuk ke dalam mobil, saat Pandu dan Herdi sampai di lobi. Bram melaju dengan sangat kencang. Di dalam mobil Bram marah-marah sendiri. Dia sangat kesal akan kedua sahabatnya itu, yang setuju akan perjodohan itu. Padahal aku tidak menginginkan perjodohan itu terjadi. Semua karena Aldo, Aldo yang mempunyai usul seperti itu.


"Herdi benar-benar gila, masa aku didoakan cepat wafat, dan membiarkan putrinya jadi janda." Bram melajukan mobilnya menuju perusahaan putranya. Dia ingin meminta putranya untuk stop dengan ide perjodohan itu.

__ADS_1


__ADS_2