
Jarum jam sudah menunjukkan ke angka 7, mobil Aldo melaju menuju restoran Akira, tempat bertemunya Bram dan Viona yang tidak di ketahui oleh Bram. Viona duduk berdampingan dengan Putri. Wanita yang berparas cantik dengan rambut coklat bergelombang yang dibiarkan terurai indah. Terlihat sangat cantik dan anggun dengan menggunakan dress midi berwarna putih yang melekat pada tubuhnya.
Aldo dan Kanaya masuk ke dalam restoran bersama, mereka melangkah menuju meja yang berada di dekat jendela besar. Aldo sengaja memilih meja di dekat jendela yang menampilkan view pemandangan laut yang indah di malam hari.
"Selamat malam," sapa Viona dan Putri yang ikutan menyapa Aldo dan Kanaya.
"Malam juga," sahut Kanaya dan Aldo. "Kalian sudah lama di sini?" tanya Aldo.
"Enggak kok, baru saja," jawa Viona dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya.
Kanaya juga menyapa Putri dengan lembut. Semuanya telah duduk di kursinya masing-masing. Kanaya tersenyum manis memandang sosok wanita yang duduk berhadapan dengannya, Viona dan Kanaya adalah seumuran, tentunya keduanya sama-sama berparas cantik hanya lebih manis Kanaya tentunya.
"Sayang....bagaimana menurutmu? Viona inilah yang akan aku jodohkan dengan papa. Dulu Viona hampir menikah dengan papa, hanya saja karena aku tidak menyetujuinya akhirnya papa membatalkannya, dan kini aku sudah berubah untuk mendukung hubungan mereka," tutur Aldo.
Kanaya terkejut dengan penuturan Aldo barusan, tapi dirinya masih berusaha bersikap tenang dan tersenyum sambil mengangguk. "Viona wanita yang muda dan cantik, sangat cocok dengan Om Bram."
Ingin rasanya Kanaya pergi dari sana, karena Kanaya tidak suka dengan niat Aldo untuk menjodohkan Bram bersama wanita itu. Kegelisahan yang menghampiri Kanaya semakin menjadi, saat dirinya mengingat apa yang terjadi pada dirinya dan calon papa mertuanya saat di Bali. Ingin rasanya Kanaya memberitahukan itu semua pada Aldo dan Viona, agar mereka membatalkan perjodohan ini. Tapi itu hanyalah keinginan hati dari Kanaya dan tidak mungkin ia lakukan itu semua, biarlah itu akan menjadi rahasia.
"Apa papa akan datang?" tanya Kanaya yang mulai penasaran, dan berharap Bram tidak akan datang malam ini.
"Pasti datang, mungkin masih ada pekerjaan penting yang harus di selesaikan papa. Putri yang sabar yah?" ucap Aldo sembari mengelus-elus puncak kepala Putri. Walaupun sebenarnya Aldo takut kalau papanya tidak akan datang karena saat tadi di makan papanya jelas menolak hadir. Tapi Aldo masih berharap papanya akan datang.
"Iya, om," jawab Putri sambil tersenyum.
Dua puluh menit pun berlalu, Bram belum juga menampakkan batang hidungnya. Aldo mulai cemas kalau papanya benar-benar tidak akan datang. Jika benar begitu, maka gagal semua rencana yang sudah ia rencanakan. Aldo berpikir harus menelpon papanya itu. Tapi Aldo mulai ragu kalau dia telpon takutnya papa akan curiga kenapa dirinya terlalu memaksa kehadiran papanya. Aldo menahan rasa kesalnya.
"Aldo...," seru Bram.
"Akhirnya papa datang juga, sudah lama kita menunggu papa di sini." Seketika wajah Aldo berubah menjadi sumringah. Kini dia bisa melanjutkan rencana perjodohannya.
"Papa....," seru Putri yang langsung berdiri dan berlari menghampirinya serta memeluk pria yang baru saja tiba.
__ADS_1
Bastian sama terkejutnya dengan Kanaya, Kanaya membulatkan kedua matanya, dan meyakinkan apa yang dia dengar barusan tidaklah salah, "Papa," batin Kanaya yang merasa heran dengan sebutan itu.
Bram yang menatap wajah Kanaya tahu betul bahwa pujaan hatinya kini merasa terkejut dengan yang di lakukan anak rempuan tersebut. Bram langsung melepaskan pelukan anak tersebut dan memandangnya lebih dalam.
"Apa papa lupa padaku? aku Putri yang dulu sering papa gendong kemana-mana. Dulu usia Putri masih 4 tahun saat papa sering menggendong Putri. Apa papa ingat?" tanya Putri sambil memegang wajah anak tersebut dengan kedua tangannya. Bram seperti berpikir sejenak memikirkan kembali tentang anak perempuan yang ada di hadapannya. Bram yang kini berlutut di depan anak itu menatap kedua matanya dan beralih menatap wanita yang ada di samping Aldo, langsung Bram mengigat jelas siapa anak tersebut.
"Kamu sudah besar, Nak. Maafkan aku yang lupa, kini kamu sudah tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik," ucap Bram sambil memberikan kecupan di kening Putri.
Viona tampak tersenyum melihat Bram yang tidak berubah terhadap putrinya. Viona pun berdiri dan menghampiri Bram yang masih bersama Putri.
"Hai...Bram. Lama kita tidak bertemu, apa kamu masih padaku. Mantan calon istrimu" ucao Viona dengan senyuman manis di wajahnya.
"Hah?" Bram tercengang.
"Haruskan aku mengingatkan kembali saat kita hampir menikah dulu?" beber Viona.
"Apa papa lupa sama Viona, Aldo lah penyebab papa dan Viona gagal menikah dulu," sahut Aldo. "Kita lanjutkan nanti lagi keterkejutan malam ini, sebaiknya kita makan malam dulu. Pasti Putri sudah lapar kan," ucap Aldo dengan sangat ramah, karena kini hatinya sedang berbunga-bunga.
"Jadi gini sayang, dulu papa itu hampir menikah dengan Viona, hanya saja aku tidak setuju saat itu. Karena aku masih sekolah, aku bisa habis di bully kalau punya mama tiri yang usianya lebih muda dariku," ujar Aldo, setelah semuanya selesai makan malam.
"Benar-benar dijebak aku sama anak sialan ini. Jadi ini rencananya dia malam ini. Menghadirkan kembali Viona di dalam hidupku, diantara hubunganku dan Kanaya. Bisa-bisanya tidak terpikir olehku kalau anakku sendiri mempunyai rencana sebusuk ini pada papanya sendiri," batin Bram.
"Papa." Aldo mengagetkan papanya yang sejak tadi menatap ke arah Viona. "Jangan di oandangin terus pah, belum halal. Buruan di halalin pah, biar ga direbut orang."
Wajah Viona memerah dan tertunduk malu, mendengar ucapan Aldo. Bram menatap wajah Viona yang tertunduk malu lalu beralih menatap wajah pujaan hatinya, Kanaya. Kanaya yang sejak tadi berusaha tidak memandang wajah Bram membuat Bram kesal.
"Menurutmu sayang.....bagaimana? Apakah Viona cocok menjadi ibu mertuamu?" tanya Bram.
"Hah..!" Kanaya terkejut dengan perkataan Bram. Kanaya heran kenapa dirinya harus mendapat pertanyaan seperti itu. Sudah jelas Kanaya tidak menyukai pertanyaan itu. "Kenapa aku? Harusnya papa tanya Aldo?" jawab Kanaya yang berusaha menghindar dengan pertanyaan yang tidak ingin dia jawab.
"Kalau Aldo sudah pasti setuju, karena semua ini rencana dia. Jadi, kini papa mau bertanya kepada calon mantu papa," tutur Bram.
__ADS_1
"Iya sayang.....kamu jawab tuh pertanyaan papa. Kalau aku jelas setuju. Masa kamu enggak mau punya mama mertua cantik dan muda," ujar Aldo sambil menyenggol lengan Kanaya dengan tubuhnya, seakan memberi kode kalau Kanaya harus menyetujui perjodohan ini sama seperti dirinya.
Kanaya bingung mau menjawab apa, karena kini hati dan ucapannya jelas berbeda, walau hatinya sakit dan tidak setuju tapi dia tidak bisa apa-apa dan tetap harus mengatakan setuju.
"Kalau aku terserah papah saja, karena yang menjalani kehidupan papa dan Viona. Kanaya sebagai calon menantu hanya bisa mendukung rencana kalian, jawab Kanaya.
"Baiklah, papa setuju dengan usulan Aldo," ucap Bram.
Kanaya pun tersedak, segera Aldo menyodorkan minuman ke pada kekasihnya itu, "Kamu baik-baik saja sayang," ucap Aldo yang tampak khawatir, tangannya tidak berhenti mengelus-elus punggung Kanaya.
"Aku tidak apa-apa, maaf," ucap Kanaya pelan.
Kanaya terkejut dengan jawaban Bram barusan. Sungguh Kanaya tidak menyangka, kata-kata itu akan keluar dari mulut Bram. Kanaya pikir Bram akan menolak perjodohan ini. Ternyata dirinya salah menebak. Dengan mudahnya Bram menerima perjodohan ini, tanpa berpikir atau mengatakan sesuatu padaku Kanaya secara pribadi dulu.
Aldo merasa sangat bahagia malam ini, mendengar semua rencananya berjalan dengan lancar. Akhirnya papa tidak akan mengejar-ngejar Kanaya lagi, kini hubunganku dengan Kanaya akan baik-baik saja, Aldo berpikir begitu.
"Sekarang, bagaimana denganmu Vi? Apa kamu mau melanjutkan rencana kalian yang gagal dulu?" tanya Aldo memastikan.
Viona mengangguk malu, "aku juga setuju," sahut Viona pelan.
"Asikkkkk......akhirnya Putri sebentar lagi akan punya papa. Putri bahagia karena yang akan menjadi papa Putri adalah Papa Bram. Putri sayanggg......banget sama Papa Bram." Putri pun berdiri menghampiri Bram dan memeluk tubuhnya selayak seorang anak bersama papanya.
"Kita akan tentukan tanggal pernikahannya nanti, yang terpenting semuanya sudah setuju," ucap Aldo.
"Aku ikut saja, semua terserah Bram dan Aldo." Wajah Viona masih terlihat memerah karena malu dan bahagi menjadi satu.
Aldo memeluk papah nya dengan bahagia, tanpa tahu apa yang papanya rasakan. Yang terpenting bagi Aldo papanya tidak mengganggu hubungannya lagi, dan Aldo sudah menggantikan sosok Kanaya dengan Viona untuk papanya.
Aldo, Viona, dan putri pun tertawa bahagia bersama, mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan dua orang yang masih berada di sana. Bram sejak tadi tidak berhenti menatap Kanaya yang tetap menunduk membuat Bram sangat geram.
"Apa aku harus membocorkan kejadian waktu di Bali, agar kamu bisa menatap sekarang," kesal Bram dalam hati.
__ADS_1