
Bram kini sudah berada di hadapan Kanaya, tubuhnya lebih dekat dengan tubuh Kanaya, Kanaya reflek mundur ke belakang menghindar dari Bram. Namun Bram terus saja melangkah mendekati Kanaya. Sampai Kanaya pun tidak bisa kemana-mana lagi karena tubuhnya sudah mentok di dinding. Bram menempelkan kedua telapak tangannya di dinding tepat di samping kiri dan kanan kepala Kanaya yang membuat dirinya terkurung tak bisa bergeser kemanapun.
"Aku sangat mencintai mu Kay, tidak pernah sebelumnya aku jatuh cinta kepada seorang wanita sampai seperti ini. Entah kenapa dirimu membuatku tergila-gila. Kamu harus menjadi milikku dan hanya milikku," ucap Bram dengan lantang.
Kanaya mendorong tubuh Bram agar menjauh dari dirinya. Lalu Kanaya menggeser tubuhnya ke samping agar tidak searah dengan Bram. "Om Bram kan sudah tahu, aku ini sudah punya pacar dan pacar Kanaya itu putranya om, Aldo. Jadi Kanaya ini calon mantu om, jadi tolong om jangan seenaknya aja mau menjadikan Kanaya kekasih."
Kanaya kesal kepada Bram, Bram selalu seenaknya saja mengungkapkan perasaannya. Bram pun tertawa mendengar ucapan Kanaya barusan. Karena Bram tidak akan pernah menyetujui hubungan Aldo dan Kanaya.
Kanaya hendak pergi keluar dari kamar, namun Bram melingkarkan tangannya di pinggang Kanaya, dan Bram mendekatkan bibirnya di telinga Kanaya.
"Aku benar-benar jatuh cinta padamu Kanaya, kamu adalah hal terindah yang hadir di dalam hidupku. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah menyerah untuk dapat memilikimu, mesti harus berjuang melawan anakku sendiri." Bram mengecup kecil daun telinga Kanaya.
Kanaya membulatkan kedua matanya, ia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Bram barusan padanya. Kanaya berusaha melepaskan tubuhnya dari tangan Bram yang melingkar di perutnya, namun Bram bukannya melepaskan tapi malah semakin erat membawa tubuh Kanaya dalam pelukannya.
"Om Bramm....!" teriak Kanaya. "Tolong lepaskan Kanaya, om."
Bram tertawa melihat reaksi Kanaya yang sedikit panik. "Kamu adalah satu-satunya wanita yang selalu menolak kehadiranku, biasanya tidak ada wanita yang mau menolak diriku bahkan mereka lah yang mengejar-ngejar diriku. Kamu adalah wanita yang berbeda dan itu lah yang membuatku sangat tertarik padamu."
Bram melepaskan tangannya dari perut Kanaya,"aku tidak akan berbuat macam-macam pada wanita yang aku cintai. Aku akan sabar menunggu sampai tiba waktunya kamu menjadi muhrimku," tutur Bram perlahan tapi jelas. Perkataan ini membuat Kanaya menjadi luluh. Karena Bram yang ia tahu dan kenal seorang casanova, playboy, dengan mudahnya dia bisa tidur bersama wanita yang berbeda setiap saat dan lain-lain. Tapi kini Bram tidak melakukan itu kepadanya. "Apakah Om Bram sungguhan jatuh hati padaku.....? Akhh.....tidak mungkin, Om Bram yang begitu tampan dan kaya raya bisa jatuh hati padaku wanita biasa-biasa saja, karena di luar sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik dariku kan,"batin Kanaya berusaha terus menolak perasaan yang mulai muncul dalam hati Kanaya.
Bram membelai rambut Kanaya, "Ayo kita keluar," ajak Bram yang meraih tangan Kanaya dan menggenggam nya dengan erat. Kanaya dan Bram pun keluar dari dalam kamar bersamaan, Bram terlihat sangat hati-hati saat dirinya dan Kanaya turun dari tangga, seakan takut Kanaya terjatuh dari tangga yang sudah biasa Kanaya lewati. Heeeeee.....Seperti seorang ayah yang menuntun putrinya turun dari tangga.
Bram membukakan pintu mobil untuk Kanaya, lalu dengan cepat Bram menyusul masuk kedalam. Bram pun siap mengantar tuan putri kemana saja. Mesin mobil sudah dinyalakan dan Bram pun. segera berlalu dari kediaman Kay.
"Bagaimana kalau kita pergi makan dulu," ucap Bram.
__ADS_1
"Hemmm....boleh banget tuh om, Kanaya juga laper tadi tidak sempat masak untuk sarapan," tutur Kanaya.
"Bisa tidak kalau saat kita sedang jalan berdua seperti ini kamu tidak memanggilku om.....cukup dengan namaku saja, Bram!!" pinta Bram kepada Kanaya.
"Tapi Kanaya sudah biasa memanggil seperti itu. Sulit untuk merubahnya," Jawab Kanaya.
"Kumohon, sayang!!" Bram melepaskan satu tangannya dari stir dan meraih tangan Kanaya yang berada di atas kakinya. Bram menggenggam tangan. itu dengan lembut.
"Baiklah akan aku coba, o-eh Bram." Kanaya menutup mulutnya dengan satu tangannya lagi, tertawa karena begitu asing di ucapkan dan di dengar saat dia memanggil Bram saja.
Setelah kurang lebih 30 menit mobil Bram berhenti tepat di depan restoran bintang lima. Bram segera keluar dari dalam mobil dan berlari kecil menuju Pintu mobil yang berada di sisi satunya, dan membukakan pintu untuk Kanaya. Bram dan Kanaya masuk ke dalam restoran beriringan. Sampainya di dalam pelayan langsung mengantarkan keduanya menuju meja makan yang sesuai dengan permintaan Bram di dekat jendela kaca besar, agar dirinya dan Kanaya bisa menatap keindahan pantai dari sana. Restoran bintang lima yang terletak di dekat pantai.
Dengan romantisnya Bram menarik kursi yang akan di duduki oleh Kanaya, Kanaya pun tersenyum mendapat perlakuan romantis dari Bram."Terima kasih," ucap Kanaya.
"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Bram.
Bram hanya tersenyum saat makanan datang dan siap di sajikan di atas meja makan mereka berdua. Prinsip Bram dia tidak masalah dengan apapun asalkan wanita yang di cintai nya merasa bahagia. Terlebih masalah uang Bram sangat royal akan hal itu. Namun sayangnya Kanaya tidak teliti dengan menu makanan yang ia pesan. Ia hanya memperhatikan daftar harga saja tanpa memperhatikan menu apa yang akan tersaji. Kanaya sangat tidak suka seafood, raut wajahnya mulai berubah saat melihat makanan yang disajikan di hadapannya. Kanaya menelan liurnya sendiri, dia berfikir keras bagaimana cara menghabiskan makanan itu. Kedua matanya kembali membulat saat Kanaya melihat makanan dan penutup dan minuman yang ia pesan semuanya berasa coklat. Kanaya sangat tidak suka dengan coklat.
"Bagaimana ini?" batin Kanaya yang mulai kebingungan. Tidak mungkin jika ia tidak memakan makanan yang ia pesan sendiri. terlebih lagi harganya semua makanan itu yang paling mahal disini. "Tamatlah lah riwayat ku kali ini, senjata makan tuan."
Kanaya menatap Bram yang sedang asik menyantap makanan yang ada di hadapannya. Sebuah Seared Stockyard Rib Eye with Mushroom Sauce, sungguh lezat makanan itu. Sampai-sampai air liur Kanaya hampir menetes, dirinya terlalu fokus melihat Bram yang sedang makan.
"Kamu tidak makan, sayang?" tanya Bram yang sedang melihat ke arahnya.
"I-iya, ini baru mau makan. Tadi begitu asik aku melihatmu menyantap makanan itu," kilah Kanaya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Kanaya pun meraih sendok dan garpu di hadapannya dan memulai untuk makan. Perlahan di sendok nya seafood yang sudah terpotong itu, setelah satu sendok seafood mendarat tepat di dalam mulutnya Kanaya berusaha untuk mengunyah makanan itu tanpa memikirkannya. Namun sayang nya tidak bisa. Kanaya memuntahkan kembali makanan itu ke dalam tisu yang buru-buru ia ambil. Lalu meraih minuman miliknya, dan kembali Kanaya ingin memuntahkan, Kanaya bangkit dari duduknya dan berlari menuju toilet. Disana Kanaya memuntahkan semua minuman yang ia hisap dari gelas miliknya tadi.
Bram merasa heran dengan sikap Kanaya, "Ada apa dengan dia, apakah dia sakit?" pikir Bram.
Setelah Kanaya kembali dari toilet dan duduk kembali di kursinya. Wajah Kanaya berubah menjadi pucat.
"Kamu baik-baik saja, sayang? Ada apa, apa makanan mu tidak enak? ayo katakanlah padaku. Biar aku tegur pemilik restoran ini," ucap Bram yang mulai bangkit dari duduknya dan berniat mencari manager restoran ini. Namun Kanaya dengan cepat mencengkram tangan Bram dan menghentikan langkahnya. "Ada apa sayang?"
Kanaya menunduk malu, ia bingung harus bagaimana, tapi sepertinya dia harus jujur pada Bram daripada harus memaksakan dirinya untuk makan makanan itu.
"Ada apa, kamu sakit?" Bram kembali bertanya pada Kanaya, kali ini Bram mulai khawatir pada gadis yang berada di hadapannya, Bram memegang pundak Kanaya dan menatap wajahnya lebih dekat.
"Bram.......! Maaf kan aku," ucap Kanaya pelan dan masih menunduk tidak berani menatap wajah Bram.
"Bram meraih dagu Kanaya dan diangkatnya agar Kanaya bisa melihat wajahnya. "Katakan sayang ada apa?" ucap Bram dengan penuh perhatian.
Sikap Bram yang begitu baik dan lemah lembut membuat Kanaya semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku, sebenernya aku tidak suka dengan seafood dan semua yang berbau coklat," ungkap Kanaya.
"Terus, kenapa sayang. Kenapa kamu memesan makanan ini jika kamu tidak suka. Itu akan menyiksa dirimu sendiri jika memaksa untuk memakan nya. Sudah tidak perlu di makan lagi, aku pesankan makanan lain yah." Bram pun memanggil pelayan dan memesan makanan yang sama dengan dirinya yaitu Seared Stockyard Rib Eye with Mushroom Sauce.
Setelah pelayan itu pergi, Kanaya kembali menatap ke arah Bram dengan penuh rasa bersalah. "Aku sengaja memesan makanan paling mahal di sini agar kamu menjadi ilfil dan benci padaku karena aku sudah seperti cewe matre," ucap Kanaya.
Tanpa di duga reaksi yang diberikan oleh Bram membuat Kanaya terkejut. Bram tidak marah sedikit pun malah dirinya tertawa geli.
__ADS_1
"Untuk apa kamu lakukan hal bodoh seperti itu, aku itu tulus cinta sama kamu, apapun yang kamu lakukan tidak membuatku benci padamu. Jadi tolong jangan siksa dirimu untuk memaksa makan makanan itu lagi," pinta Bram.
Kanaya pun mengangguk. Setelah makanan yang di pesan oleh Bram sudah tiba dan di sajikan di hadapan Kanaya, Bram meminta pelayan untuk membawa semua makanan yang tidak di sukai oleh Kanaya. Setelah itu Bram dan Kanaya kembali menyantap makanan mereka dengan nikmat.