
Flashback kisah Viona.
Viona berjalan dengan cepat, bahkan setengah berlari menuju rumahnya. Suasana malam ini begitu mencekam, hanya kegelapan yang terlihat membuat gadis cantik ini yang masih berusia 18 tahun ini bergidik ngeri. Entah apa yang dipikirkan nya, apa hewan buas, ataukah sosok astral yang menyeramkan yang akan muncul.
Tapi semua yang dipikirkan Viona salah. Tidak ada hewan buah terlebih lagi sosok astral yang akan muncul, melainkan seorang pria muda yang akan menuntut haknya karena sudah membayar mahal atas tubuhnya. Seorang pria muda yang berusia 20 tahun sedang di bawah pengaruh obat perangsang dosis tinggi karena ulah teman-teman yang mengerjai dirinya. Kini pria itu sedang bersembunyi dari teman-teman nya di sebuah tempat yang penuh dengan lampu kerlap kerlip dan wanita malam, tubuhnya bergetar hebat karena menahan reaksi obat yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Dan seorang wanita paruh baya menghampirinya dan menawarkan sebuah keperawanan kepadanya, tentu dengan harga yang tinggi. Karena efek obat itu terus menerus bereaksi, pria muda itu tak basa basi lagi baginya berapapun uang yang di minta tak masalah baginya, yang terpenting bisa melampiaskan efek obat yang sudah membuat gairahnya bergejolak. Lalu pria itu diantar ke sebuah rumah dan di minta untuk menunggu di sana, karena sebentar lagi wanita itu akan datang.
Viona yang sudah masuk ke dalam rumah tersebut langsung saja di serang oleh pria itu. Tangannya membekap mulut Viona, sehingga Viona tidak sanggup lagi mengeluarkan suara apapun. Pria itu mengunci pintu kamarnya. Segera pria itu menyalurkan hasratnya yang sudah tidak terkendali.
Viona menangis ketakutan dan memohon kepada pria yang ada di hadapannya. Lampu kamar yang di matikan membuat kamar itu begitu gelap dan Viona tidak bisa melihat jelas wajah pria yang menyerang tubuhnya.
Viona yang hanya seorang gadis tidak dapat membuat perkawanan yang berarti. Teriak pun tidak bisa, tidak ada yang bisa Viona lakukan untuk mempertahankan harga dirinya. Hingga pada akhirnya tubuh mungil Viona berhasil di tindih oleh tubuh pria itu. Pakaian yang menutupi tubuh Viona kini sudah robek tidak karuan dan terlempar di lantai.
Pria itu mulai meraba bagian sensitif milik Viona, Viona yang sudah tidak berdaya hanya bisa pasrah. Dan Viona mengerang kesakitan saat ada benda keras yang berusaha memaksa masuk ke dalam bagian sensitif nya. Sesuatu yang sangat berharga bagi seorang wanita, kini hilang begitu saja dengan pria yang tidak ia kenal.
Viona menangis, air mata membasahi tempat tidur, Vione juga merintih kesakitan saat pria itu memaksakan benda keras miliknya berkali-kali menghujam masuk sampai bagian terdalam milik Viona. Rasa sakit yang tidak terkira saat benda keras itu berhasil masuk menembus sesuatu yang menghalanginya di dalam.
Pria itu berhenti sejenak saat berhasil menembus sesuatu di dalam. Dirinya berhasil mendapatkan sesuatu yang sudah dia bayar mahal. Hawa nafsunya semakin meningkat, dan semakin menggebu untuk menyalurkan hasratnya.
2 jam berlalu, reaksi obat tersebut mulai hilang. Setelah pria itu berkali-kali melepaskan benihnya di dalam tubuh Viona. Viona yang masih lemas tak berdaya, rasa lelah membuat matanya kini terpejam. Walau kondisi ruangan itu gelap Viona sempat melihat wajah pria itu sekilas, pria muda yang tampan. Viona pun tertidur, pria itu mencium lembut kening Viona, "Maaf kan aku," itu ucapan terakhir dari pria tersebut sebelum pergi dari rumah itu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hari ini Bram sengaja tidak pergi ke kantor karena dirinya ingin pergi ke makan mendiang istrinya. Bram sampai di makan Dilla. Dia menaburkan bunga mawar dan meletakkan bunga anggrek di atas nisannya, "ini aku bawakan bunga anggrek kesukaanmu, bunga yang melambangkan pesona dirimu."
Bram membersihkan makam istrinya. Dirinya tidak perduli sinar mentari yang menyengat, pria itu duduk diam meratapi nisan istrinya.
...Ada sesak di dada yang tidak bisa di tahan, saat rasa rindu yang begitu besar tidak terbalaskan. ...
...Ingin sekali berjumpa walau hanya sebentar saja....
...Mungkin saat ini yang hanya bisa ku lakukan cuma menahan rasa rindu itu, sampai tiba saatnya nanti ada pertemuan dan melepaskan rasa ini. ...
__ADS_1
...Andai dirimu masih ada di sini, Dilla. ...
...Kamu pasti akan menjadi tempatku berkeluh kesah saat ini. ...
...Putra kita Aldo..........
"Papa...!!" seru Aldo.
"Aldo?? kamu kok ada di sini?"
"Aldo cari-cari papah sejak pagi, ponsel papa ga aktif, Aldo ke kantor pun papa ngga ada. Aldo sudah biasa menebaknya, pasti papa di makam mama," ucap Aldo.
Aldo langsung berjongkok di samping papa nya, sambil memegang nisan mamanya, Aldo menatap sedih. Semua kenangan bersama mama nya dulu teringat kembali. Aldo di kaget kan dengan sentuhan tangan Bram di pundaknya, "ada apa kamu mencari papa?"
"Aldo mau bicara sebentar sama papa, kalau papah sudah selesai di sini," ucap Aldo.
"Kalau begitu, mari kita bicara di mobil." Bram bangun berdiri di samping putranya.
Bram pun melangkah menjauh dari makan Dilla, meninggal Aldo di sana sendiri. Kembali Bram menoleh ke makan istrinya, melihat putranya tertunduk sambil mencium batu nisan yang tertulis nama istrinya. Bram pun kembali meneruskan langkahnya menuju mobil.
"Maafkan Aldo yang sampai saat ini belum bisa membuat mama dan papa bangga sama sama Aldo. Maafkan sikap Aldo, Ma. Mama mengerti niat Aldo kan. Aldo bukan bermaksud melawan papa, tidak berbakti pada papa, tapi..... Aldo tidak bisa melepaskan cinta Aldo dan merelakannya bersama papa. Aldo mencintai Kanaya, Ma. Kalau mama masih ada di sini bersama Aldo, pasti mama akan bahagia memiliki calon menantu seperti Kanaya. Ma....maafkan Aldo yang akan menjodohkan papa, Aldo terpaksa ma. Semoga perjodohan ini berjalan dengan lancar," tutur Aldo sembari menghapus air mata yang lolos begitu saja memebasahi pipinya.
"Aldo......, buruan!"
"Iya.....Pa." Aldo menoleh ke arah papanya yang sudah berada jauh di sana.
Aldo mengirimkan doa untuk mamanya sebelum pergi meninggalkan makam dan bergegas menghampiri papanya. Aldo bersandar di pintu mobilnya berhadapan dengan papanya. Aldo sedikit gugup ingin membicarakan soal pertemuan nanti malam. Sedangkan Bram hanya diam menunggu apa yang akan di ucapkan oleh Aldo.
"Nanti malam kita akan makan malam bersama Kanaya!" ucap Aldo.
"Papa tidak berminat,"sahut Bram.
__ADS_1
"Pokoknya Aldo tidak mau tahu, papa harus datang nanti malam pukul 7 di restoran Akira, Aldo tunggu." Setelah mengucapkan itu Aldo langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya, dan melakukan mobilnya dengan cepat. Karena Aldo tidak ingin mendengar penolakan dari papanya.
Bram manarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Melihat mobil putranya sudah pergi meninggalkannya. Bram pun masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari sana, sepanjang jalan Bram hanya memikirkan ucapan putranya. Sudah pasti jika ia hadir nanti malam itu akan menyulut rasa cemburunya lagi. Bram yang tengah galau memutar sebuah lagu di mobilnya, lagu yang tanpa sengaja sangat pas dengan dirinya saat ini. Lagu seorang penyanyi pria yang berjudul Cinta karena Cinta.
...Aku hanyalah manusia biasa...
...Bisa merasakan sakit dan bahagia...
...Izinkan ku bicara...
...Agar kau juga dapat mengerti...
...Kamu yang buat hatiku bergetar...
...Rasa yang telah ku lupa kurasakan...
...Tanpa tahu mengapa...
...Yang kutahu inilah cinta...
...Cinta karena cinta...
...Tak perlu kau tanyakan...
...Tanpa alasan cinta datang dan bertahta...
...Cinta karena cinta...
...Jangan tanyakan mengapa...
...Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara...
__ADS_1
Lirik lagu yang sama dengan keadaan yang di rasakan nya kini, bagaimana bisa hatinya menjelaskan, jika hatinya sudah memilih Kanaya sebagai ratu di hatinya. Rasa cinta dan sayang yang telah lama tidak pernah Bram rasakan semenjak kepergian istrinya kini kembali ia rasakan saat bersama Kanaya. Kini Bram serasa kembali seperti saat ia muda dulu, yang akan berjuang mengejar cintanya.